“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elios Leopold
...“Mati di tempat atau menjadi anak buahku!” — Elios Leopold...
Prang!
Gelas yang Martin pegang mendadak lepas dari genggamannya. Ia tak menyangka Elios akan melakukan sesuatu di luar perintahnya. Tubuh tuanya mendadak bergetar dengan sangat hebat.
“Mademoiselle sedang berada di tempat yang aman saat ini, Monsieur,” ucap Andrew untuk mengurangi kekhawatiran Martin.
“Anak itu,” Martin memegang sisi meja untuk menopang tubuhnya yang terasa terlalu sulit untuk berdiri dengan seimbang. “Sudah kukatakan untuk menyelamatkan dirinya. Tapi dia lebih memilih mengorbankan dirinya demi aku dan Lea.”
Martin memijat kepalanya yang sakit. Lehernya begah dan rasanya tercekik. Membayangkan kehilangan Elios saja sudah membuat dadanya terbakar. Apa lagi jika memang harus kehilangan anak angkatnya itu?
“Ajukan negosiasi dengan Klan Ferguso. Tanyakan apa yang mereka inginkan asalkan Elios kembali dengan selamat.”
“Baik, Monsieur.”
...****************...
Byurrr!
Anak buah Robert menyiramkan air dingin ke tubuh Elios yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan yang terikat ke belakang. Seluruh tubuhnya memar dan luka-luka akibat pukulan bertubi-tubi yang ia terima. Sudut bibirnya dan hidungnya memiliki darah kering. Semua itu karena pelampiasan amarah Robert padanya.
Robert menjambak rambut Elios dan membuat kepala pria itu mendongak ke atas. “Ck! Seekor anjing seperti kau, berani-beraninya membunuh adikku yang berharga?!”
Kemudian ia membuang kepala Elios dengan sekuat tenaga. Puntung rokok menyala yang ia pegang saat ini ditekankan ke dada Elios sampai bara itu padam. Elios meringis kesakitan.
“Bunuh saja aku.”
“Hah? Kau pikir aku akan membiarkan kau mati begitu saja?” sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Elios. “Aku akan membuat kau mati secara perlahan, Doberman De Guelle.”
Elios hanya terkekeh pelan sambil mencoba mengangkat kepalanya yang sudah terlalu pusing karena pukulan dan tamparan. Bukannya mengamuk, marah atau memohon belas kasihan. Tapi dia berbuat sebaliknya? Tentu saja hal tersebut memancing amarah Robert.
Pria dengan kepala plontos itu mengeluarkan pistol dari kantong celananya, kemudian ia todongkan ke kepala Elios. Matanya melotot seperti ingin keluar. Urat di sekujur tubuhnya menegang dengan segenap emosi yang sudah tak tahu ingin disalurkan seperti apa.
“Sekali lagi kau tertawa, kau akan mati!” ancam Robert dengan nada yang penuh penekanan.
“Lakukanlah. Aku sudah tak sabar bertemu Betrand,” Elios menyeringai dengan bibir yang terluka dan berdarah-darah.
Sesaat sebelum Robert menarik pelatuk senjata apinya, David datang mendekat ke arahnya. Ada panggilan yang baru saja ia terima dan masih menggantung.
“Monsieur De Guelle ingin berbicara dengan Anda,” ucapnya sambil menyerahkan ponselnya pada Robert.
Robert terkekeh dan mendadak merasa sedikit bahagia karena pria tua yang gila itu lebih dulu menghubunginya.
“Ada apa Monsieur De Guelle yang terhormat ini menghubungiku?” tanya Robert dengan angkuh sambil pistol yang ia pegang ia tekankan ke kepala Elios.
“Katakan, apa yang kau mau agar Elios kembali padaku?” ucap Martin di sebrang telfon.
Robert mendadak tertawa terbahak-bahak. Kemudian ia menoyor kepala Elios menggunakan pistol tadi. “Aku benar-benar tak habis pikir dengan kau dan cucumu itu. Memangnya sepenting apa anjing ini bagi Klan De Guelle?”
“Katakan saja apa yang kau inginkan?” Martin terlalu malas untuk berbasa basi dengan anak muda itu.
“Baiklah. Aku ingin menjadi pemilik resmi dari bisnis pemasok senjata api yang selama ini dikelola De Guelle.”
Mendengar permintaan Robert yang tak masuk akal, Elios mendadak marah. Meski sudah tak berdaya, ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan keinginannya pada Martin.
“Monsieur, tolong jangan lakukan permintaan itu!”
“Diam kau, bangsat!” lagi, Robert menoyor kepala Elios menggunakan pistol di tangannya.
Selang beberapa detik kemudian, Martin kembali bersuara. Sepertinya ia sudah menggunakan waktunya untuk berfikir dan mengambil keputusan.
“Baiklah. Kalau memang itu yang kau inginkan. Aku akan menyuruh orang hukum De Guelle menyiapkan semua berkas-berkasnya.”
“Amazing!” girang Robert tak menyangka. “Jika tahu seperti ini, sebaiknya tak perlu ada pertumpahan darah di antara kita.”
“Katakan, kapan kau ingin—”
“Sekarang. Detik ini juga!” Robert mendadak serakah. Darah mudanya tak bisa dihentikan. Rasa tidak sabar yang berkobar-kobar begitu ia hampir mendapatkan apa yang inginkan.
“Baiklah. Aku akan menyiapkan segalanya. Datanglah ke Residence De Guelle bersama Elios.”
“Bagaimana kalau ini adalah jebakan?” Robert tak langsung percaya mentah-mentah dengan apa yang dikatakan Martin. Karena ia tahu, Martin De Guelle adalah mafia yang jauh lebih berpengalaman daripada dirinya.
“Lakukan apapun yang kau mau. Aku tak pernah mengingkari ucapanku.”
...****************...
Yang ditunggu-tunggu pun tiba. Elios dan Robert mendatangi Residence De Guelle. Tentu saja dengan anak buah Klan Ferguso. Dan Elios menjadi tawanan yang sangat berharga.
Di Residence De Guelle, Martin, Andrew, Brad dan Frank sudah berdiri di depan pintu utama. Mereka sudah tak sabar ingin bertemu dengan Elios yang kondisinya sudah tak tahu seperti apa saat ini. Yang jelas, mereka tahu... saat ini Elios sedang tidak baik-baik saja.
Mobil yang Robert dan Elios tumpangi tiba di Residence De Guelle. Pintu mobil di buka dari luar oleh anak buah Martin.
Robert turun dari mobil dengan sangat angkuh. Dan diikuti Elios yang harus dikeluarkan oleh anak buah Klan Ferguso. Pasalnya, kondisi Elios saat ini sudah sangat tak memungkinkan untuk ia berjalan. Jadi... mau tak mau Elios terpaksa dipapah oleh dua orang bertubuh kekar Klan Ferguso.
Melihat kondisi Elios yang menyedihkan, Martin tak tega. Ia melangkah maju ingin menggapai anak angkatnya itu. “Elios—”
“Eitsss....” Robert menghadang tubuh Elios. Kemudian ia mengeluarkan pistol dari saku celananya. Ia mengarahkan pistol tersebut ke arah kepala Elios. “Serahkan bisnis itu padaku.”
Mendapat aba-aba dari Martin, Andrew melangkah maju, memberikan kunci gudang yang selama ini menjadi markas De Guelle di pelabuhan. Selain markas, itu adalah tempat penyimpanan seluruh senjata tajam yang mereka impor dan ekspor dari berbagai negara hingga ke penjualan di sekitar area domestik.
Tak cukup dengan kunci gudang. Andrew juga menyerahkan seluruh dokumen-dokumen penting terkait bisnis senjata api yang Martin miliki. Hingga tiba di titik terpenting penyerahan bisnis tersebut—tandatangan dokumen pindah nama dan penyerahan antara kedua belah pihak.
Robert kesenangan sampai rasanya ingin gila. Di usianya yang terbilang muda, ia bisa merebut posisi Martin sebagai pemasok senjata api utama di kota itu. Dan sudah saatnya untuk tandatangan. Ia menyimpan pistol ke kantong celananya.
Di sela-sela kelengahan Robert, Elios berpura-pura pingsan dan melemaskan tubuhnya. Sampai-sampai kedua anak buah Robert yang memapahnya kebingungan. Pegangan dua anak buah itu melemah dan Elios terlepas dari pegangan tangan mereka—menabrak tubuh Robert sebelum jatuh.
Elios... Dobermen De Guelle. Pria itu jatuh dan ambruk ke lantai.
Di saat yang sama, Lea yang sejak tadi berdiam diri mengintip keadaan Elios dari sela-sela tangga lantai 2 bersama dengan Sovia, ia sudah tak sanggup menunggu. Saat Elios jatuh terjerembab ke lantai, ia langsung berlari menuruni lantai 1.
“Tidak! Elios! Bangun!” pekik Lea histeris.
Di saat yang sama, kegaduhan terjadi. Dan tanpa sepengetahuan Robert, saat menabrak tubuh Robert, Elios mencuri pistol dari kantong celananya.
Dor!
Saat itu juga, Elios menggunakan kesempatan yang ada. Ia menembak mati Robert tepat di depan David—ajudan Robert—dan para anak buah Klan Ferguso dengan posisi ia sedang terlentang di lantai.
Robert mati mengenaskan dengan sebuah tembakan tepat di dahi. Dua anak buah yang tadinya memapah dirinya, pria itu berusaha meraih Elios. Tapi siapa yang tak tahu Elios? Ia tak akan pernah mensia-siakan kesempatan hingga di titik darah penghabisan!
Dor! Dor!
Dua orang itu mati di tempat.
Brad dan Frank langsung mendekat ke arah Elios, membantu Elios berdiri dengan sisa tenaga yang Monsieur mereka miliki.
Kemudian, sesaat sebelum Elios jatuh pingsan, ia berpesan pada seluruh anak buah Klan Ferguso. “Monsieur kalian sudah mati! Pilihan kalian hanya ada 2. Mati di tempat atau menjadi anak buahku!”
Sesaat kemudian, Elios pingsan. Tentu saja eksekusi dilanjutkan oleh anak buah De Guelle—sesuai ucapan Elios tadi. Mati di tempat atau menjadi anak buah Leopold.
...****************...
Bersambung....