NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kabut Pagi

Kehidupan di losmen punya aromanya sendiri: bau oli, asap bus antar kota, dan harapan yang digoreng dalam minyak panas. Bagi Reza, kebisingan terminal Senen yang tidak pernah tidur adalah jam alarm yang jauh lebih jujur daripada alarm di ponselnya. Ia menyadari satu hal penting: orang yang tidak punya tujuan akan merasa bising itu mengganggu, tapi bagi orang yang sedang berjuang, bising itu adalah bukti bahwa roda ekonomi masih berputar.

Reza terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di punggungnya. Kasur losmen yang melandai di tengah itu sukses membuat tulang belakangnya terasa seperti dipelintir. Namun, begitu ia melihat Anya yang masih terlelap, rasa sakit itu mendadak jadi sekunder. Ia meraba sakunya, memastikan uang hasil kerja keras kemarin masih ada di sana. Aman.

Pagi ini, ia tidak langsung berangkat ke gudang. Ada satu hal yang mengganjal di kepalanya sejak semalam. Anya bilang pria yang menghamilinya pergi begitu saja, tapi ada sesuatu dalam nada bicara Anya yang terasa seperti dia sedang menyembunyikan sebuah ketakutan yang lebih besar daripada sekadar ditinggal pacar.

"Za..." Anya terbangun, suaranya serak. Ia mengucek matanya dan melihat Reza sudah berpakaian rapi dengan jaket kurirnya. "Sudah mau berangkat?"

"Iya. Tapi sebelum itu, aku mau tanya sesuatu," Reza duduk di tepi tempat tidur, menatap Anya lurus-lurus. "Anya, pria itu... siapa dia sebenarnya? Maksudku, kenapa kamu sampai se ketakutan itu semalam sampai bilang tidak tahu harus lari ke mana lagi?.

Anya terdiam. Ia menarik selimutnya lebih tinggi, seolah benda tipis itu bisa melindunginya dari pertanyaan Reza. "Dia bukan orang baik Za , Namanya Gery. Dia punya banyak koneksi... orang-orang yang mirip dengan penagih hutang yang datang ke apartemenmu kemarin."

Reza mengernyit. "Maksudmu, dia terlibat dunia hitam?"

"Dia menjalankan bisnis pinjaman online ilegal Za, Dan yang lebih buruk, dia menggunakan namaku sebagai salah satu direktur fiktif di perusahaannya. Aku baru tahu itu setelah aku hamil dan dia memintaku untuk menggugurkannya. Saat aku menolak, dia mengancam akan menjebloskan aku ke penjara atas kasus penipuan perusahaan kalau aku berani menuntutnya soal anak ini."

Darah Reza seolah berhenti mengalir sejenak. Jadi, masalahnya bukan hanya soal mantan istri yang hamil, tapi soal konspirasi kriminal yang bisa menyeret Anya ke balik jeruji besi. Inilah alasan kenapa Anya tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak hanya membawa aib, dia membawa bom waktu.

"Kenapa kamu tidak bilang dari awal?" tanya Reza, suaranya naik satu inci.

"Karena aku takut kamu akan mengusirku! Kamu sendiri sudah punya masalah hutang yang menumpuk, aku tidak mau menambah bebanmu dengan urusan penjara," Anya mulai terisak.

Reza berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Ia merasa seperti baru saja keluar dari lubang buaya, hanya untuk masuk ke mulut singa. Tapi, setiap kali ia melihat perut Anya, ia teringat pada dirinya sendiri yang berdiri di atas kursi biru tempo hari. Dunia sudah cukup jahat pada mereka berdua. Jika mereka tidak saling melindungi, siapa lagi?

"Dengar," Reza berlutut di depan Anya, memegang kedua tangannya. "Aku tidak akan mengusirmu. Aku sudah gagal mati sekali, artinya Tuhan sudah memberikan aku kesempatan hidup sekali lagi Dan mungkin itu untuk memastikan kamu dan anak itu aman."

"Tapi bagaimana dengan Gery? Dia orang kuat, Za."

"Sekuat-kuatnya orang, dia tetap butuh makan dan tidur. Kita akan pikirkan itu nanti. Sekarang, fokusmu adalah tetap di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku. Aku akan cari uang sebanyak mungkin hari ini. Kita butuh tabungan untuk pindah keluar kota kalau keadaan makin panas."

Reza mengecup kening Anya singkat sebuah gerakan yang terasa asing tapi alami lalu ia bergegas keluar.

Di gudang Budi, suasana lebih kacau dari biasanya. Ada penggerebekan kecil dari dinas perhubungan terkait izin parkir motor di pinggir jalan, membuat para kurir berhamburan. Budi terlihat sedang berdebat dengan salah satu petugas saat Reza datang.

"Woi, Budi! Mana motormu?" teriak Reza di tengah keributan.

"Ambil saja di belakang! Kuncinya di pot bunga!" sahut Budi tanpa menoleh.

Reza segera memacu motor bebek tua itu. Hari ini, targetnya bukan lagi seratus paket, tapi seratus lima puluh. Ia bekerja seperti kesetanan. Ia mengambil rute-rute yang paling sulit karena komisi di sana biasanya lebih tinggi. Ia masuk ke kawasan pergudangan pelabuhan yang berdebu, di mana truk-truk kontainer raksasa bisa melindas motornya kapan saja jika ia tidak waspada.

Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Reza menepi di bawah jembatan layang.

"Halo?"

"Reza Aditya. Lama tidak dengar suaramu," sebuah suara pria, berat dan sangat tenang, terdengar di ujung telepon.

Reza membeku. Ia mengenali suara itu. "Gery?"

"Wah, ingatanmu bagus juga untuk ukuran pecundang yang bangkrut. Aku dengar Anya ada bersamamu. Benar?"

"Dia tidak ada di sini. Jangan cari dia," jawab Reza, tangannya mencengkeram stang motor dengan kencang hingga buku jarinya memutih.

"Jangan bohong, Reza.. . Aku tahu kalian di daerah Senen. Losmen Melati, kan? Kamar 203?"

Jantung Reza seolah merosot ke perut. Bagaimana pria ini bisa tahu secepat itu?

"Dengar, Reza. Aku tidak butuh drama. Aku hanya ingin Anya menandatangani beberapa dokumen pelimpahan aset. Setelah itu, dia bebas mau melahirkan anak itu di kolong jembatan sekalipun, aku tidak peduli. Tapi kalau dia tidak kooperatif, aku bisa mengirim orang untuk menjemputnya... atau menjemputmu lebih dulu ".

"Kalau kau menyentuhnya, aku bersumpah..."

"Bersumpah apa? Mau gantung diri lagi? Aku tahu semua ceritamu Reza. Kamu itu bahan lelucon di kalangan teman-teman kita dulu. Si jenius startup yang gagal mati karena kurir ayam geprek. Lucu sekali."

Gery tertawa, suara tawa yang dingin dan merendahkan. "Aku beri waktu sampai besok sore. Bawa Anya ke alamat yang akan kukirimkan. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau losmen murah itu terbakar malam ini."

Telepon diputus.

Reza berdiri mematung di pinggir jalan yang bising. Ia merasa dunia kembali menyempit. Kemacetan di depannya seolah-olah menjadi tembok yang mengurungnya. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu itu tidak akan membantu.

Ia melihat tas paketnya yang masih penuh. Ia melihat uang di sakunya yang baru terkumpul sedikit. Ia melihat tali jemuran kuning yang selalu ia bawa di dalam tasnya.

Tiba-tiba, ia teringat pada Budi. Budi bukan sekadar kurir; dia orang lapangan yang sudah puluhan tahun hidup di jalanan Jakarta. Budi pasti tahu cara menghadapi orang-orang seperti Gery.

Reza memacu motornya kembali ke gudang, mengabaikan paket-paket yang seharusnya ia antar. Persetan dengan komisi hari ini. Nyawa Anya jauh lebih penting.

Sampai di gudang, ia menarik Budi ke pojok. "Bud, aku butuh bantuanmu. Bukan bantuan uang. Aku butuh koneksi."

Budi melihat wajah Reza yang pucat pasi dan langsung mematikan rokoknya. "Ada apa? Penagih hutang semalam balik lagi?"

"Lebih buruk dari itu. Ini soal orang yang menghamili Anya. Dia mengancam akan membakar losmen kami kalau kami tidak datang menemuinya besok."

Budi terdiam lama, menatap jalanan. "Gery, ya? Si raja pinjol itu?"

Reza terbelalak. "Kamu kenal dia?"

"Semua kurir di Jakarta tahu siapa dia, Za . Dia itu yang menguasai beberapa aplikasi pinjol yang sering kami antarkan dokumennya. Tapi dia punya satu kelemahan," Budi tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rahasia jalanan. "Dia sangat takut pada publikasi. Dia orang yang ingin terlihat bersih di depan investor-investor asingnya."

"Apa maksudmu?"

"Kamu kurir, kan? Kamu punya akses ke ribuan rumah di kota ini. Dan aku... aku punya ribuan teman kurir yang tersebar di setiap sudut Jakarta. Kalau kita ingin menjatuhkan orang seperti dia, kita tidak pakai otot. Kita pakai sistem pengiriman."

Budi menepuk bahu Reza. "Pulanglah.

Ambil Anya, bawa dia ke rumah ibuku di pinggiran Bogor malam ini. Biar aku yang urus sisanya di sini. Besok, kita akan kirim 'paket' spesial untuk Gery."

Reza menatap Budi dengan rasa haru yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Ternyata, di dunia yang ia kira sudah meninggalkannya, masih ada orang yang mau bertaruh untuknya.

Malam itu, dengan motor tua Budi, Reza membawa Anya keluar dari hiruk-pikuk Senen. Mereka menuju Bogor, menembus kabut malam yang dingin. Di belakangnya, Anya memeluk Reza erat, tidak bertanya ke mana mereka pergi, karena ia tahu bahwa selama ada Reza di depannya, jalanan yang gelap pun akan terasa seperti arah pulang.

Reza berjanji dalam hati: besok tidak akan menjadi hari di mana ia menyerah. Besok akan menjadi hari di mana ia melawan balik.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!