NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 14: PERAWAT DENGAN MASA LALU

Tiga hari setelah insiden dengan Rangga, suasana mulai kembali tenang. Arka sudah pulang dari rumah sakit dan tinggal sementara di rumah Rafa dengan kamar khusus yang penuh dengan buku dan mainan baru, upaya Laras untuk membuatnya merasa aman. Aisha menetap di kamar tamu, atas desakan Laras yang kini lebih terbuka.

"Makan malam bersama keluarga," undang Laras malam itu. "Semuanya. Termasuk kamu, Aisha."

Makan malam pertama mereka di meja yang sama: Rafa di kepala meja, Laras di sebelah kanannya dengan Arkana di kursi bayi, Nadia dan Arka berjejer, dan Aisha di sebelah kiri Rafa. Meja yang penuh dengan sejarah rumit, tapi malam itu diisi dengan tawa Nadia yang cerita tentang sekolah dan celoteh Arkana yang mulai bisa mengucap "ka-kak" sambil menunjuk Arka.

"Kamu sudah jadi panutan, Arka," kata Laras sambil menyuapi Arkana bubur. "Dia selalu cari kakaknya kalau bangun tidur."

Arka tersipu senang. "Arka ajarin dia main bola nanti, kalau udah gede."

Kebahagiaan sederhana. Setelah badai, muncul pelangi yang rapuh.

Tapi Aisha masih merasa ada yang mengganjal. Perkataan Rangga di kantor polisi. "Ada orang lain yang lebih membenci mereka." Siapa? Dan mengapa?

---

Keesokan paginya, saat Aisha sedang membantu Laras menjemur pakaian di halaman belakang, telepon rumah berdering. Laras mengangkat.

"Halo? Iya, ini rumah Rafa. Siapa ini? PERAWAT? Dari rumah sakit mana? Untuk Arka?"

Telinga Aisha langsung menangkap kata "perawat". Dia mendekat.

Laras mendengarkan dengan wajah berkerut. "Tapi Arka tidak ada janji kontrol hari ini. Dan kita punya perawat home care yang sudah terjadwal. Data siapa? NURUL? Tidak, saya tidak kenal."

Aisha mengambil alih telepon. "Halo, ini ibunya Arka. Bisa saya tahu siapa yang memberi informasi jadwal kontrol?"

Suara di seberang terdengar ramah, profesional. "Dari data rumah sakit daerah, Bu. Ada notifikasi bahwa Arka perlu kontrol rutin pasca kejadian traumatis. Saya perawat khusus psikologi anak, Nurul. Bisa datang jam 11."

"Tidak perlu. Kami punya psikolog sendiri. Terima kasih." Aisha menutup telepon.

Laras melihatnya. "Aneh ya? Biasanya rumah sakit telepon dari nomor resmi, bukan ponsel pribadi."

"Mungkin kesalahan data," kata Aisha, tapi hatinya tidak tenang.

---

Jam 11 kurang sepuluh, bel rumah berbunyi. Dari kamar atas, Arka yang sedang main dengan Nadia berteriak: "Ada tamu, Bun!"

Aisha melihat dari jendela. Seorang wanita berusia sekitar 50-an, berkerudung, membawa tas medis, berdiri di pagar. Dia tersenyum ramah.

Laras membuka pintu. "Iya?"

"Halo, saya Nurul, perawat dari rumah sakit. Telepon tadi pagi tentang kontrol Arka."

"Kami sudah bilang tidak perlu," kata Laras tegas.

"Oh, maaf. Mungkin ada kesalahan koordinasi. Tapi karena saya sudah datang, bolehkah saya cek tekanan darah Arka saja? Cuma 5 menit. Gratis, program rumah sakit."

Tawaran itu masuk akal. Tapi Aisha merasa ada sesuatu yang familiar dengan wajah wanita itu. Dia pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi di mana?

"Boleh saya lihat ID perawat dan surat tugas?" tanya Aisha, ikut mendekat.

Nurul mengangguk, mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya. Foto yang sama. Nama: Nurul Sari. ID perawat terdaftar. Tampak valid.

Laras melirik Aisha, lalu mengangguk. "Baik. Tapi hanya 5 menit."

Mereka mengizinkannya masuk. Arka turun dengan Nadia. Nurul tersenyum manis pada Arka. "Halo, Arka. Namaku Tante Nurul. Boleh cek tensi?"

Arka mengangguk, duduk di kursi. Nurul melakukan prosedur standar dengan lancar seperti benar-benar perawat berpengalaman.

"Sekarang cek suhu ya," katanya, mengambil termometer digital. Saat mendekatkannya ke telinga Arka, Aisha melihat tato kecil di pergelangan tangan Nurul sebuah bunga matahari. Dan itu membuat kenangan melesat.

Bunga matahari. Aisha pernah melihat tato itu. Sepuluh tahun lalu. Di klinik tempat dia periksa kehamilan dulu. Pada seorang perawat muda yang membantunya saat dia pingsan karena anemia.

"Kamu..." gumam Aisha.

Nurul menoleh, senyumnya tetap. "Ada apa, Bu?"

"Kamu dulu kerja di Klinik Bunda Sejahtera? Di Kota J? Sepuluh tahun lalu?"

Wajah Nurul berubah sekilas kejutan yang cepat disembunyikan. "Oh, mungkin. Saya pernah kerja di beberapa klinik."

"Kamu yang pegang saya waktu saya pingsan. Kamu yang bilang... kamu bilang: 'Jangan khawatir, bayi kamu kuat.'"

Nurul berdiri, merapikan alat. "Wah, saya sudah lupa. Pasien banyak sekali."

Tapi Aisha yakin. Ini dia. Perawat yang membantunya dulu. Dan sekarang dia di sini. Kebetulan? Tidak mungkin.

"Selesai," kata Nurul. "Tekanan darah normal. Suhu normal. Arka sehat."

"Terima kasih," kata Laras. "Kami akan antar ke pintu."

Tapi saat Nurul berbalik untuk pergi, tas medisnya terbuka sedikit. Dan dari dalamnya, Aisha melihat sebuah bingkai foto mini foto seorang pemuda. Wajahnya... mirip Rangga.

Nurul cepat menutup tasnya. "Sampai jumpa."

Dan dia pergi.

---

Begitu pintu tertutup, Aisha menarik napas dalam. "Laras, kita punya masalah."

"Apa? Dia tampak normal saja."

"Dia bukan perawat jadwal. Dia perawat yang membantuku dulu di klinik. Dan... aku lihat foto Rangga di tasnya."

Laras membeku. "Rangga? Keluarga?"

"Mungkin ibunya. Atau bibinya. Wajahnya mirip."

"Tapi kenapa dia datang? Apa hubungannya dengan kita?"

Aisha memegangi kepalanya, berusaha mengingat. Sepuluh tahun lalu. Dia di klinik, hamil muda, sendirian, takut. Perawat Nurul membantunya, memberinya air, mendengarkan ceritanya. Aisha curhat tentang Rafa yang tidak tahu, tentang kehamilannya, tentang ketakutannya.

Dan Nurul berkata: "Laki-laki itu semua sama. Tidak bertanggung jawab. Kamu lebih baik urus sendiri saja."

Waktu itu, Aisha berpikir itu hanya nasihat. Sekarang... Apakah itu provokasi? Apakah Nurul sengaja mendorongnya untuk tidak memberi tahu Rafa?

"Kita perlu cari tahu tentang dia," kata Aisha. "Sekarang."

---

Mereka mulai mencari.

Rafa yang sedang di kantor ditelepon. Dia langsung pulang. Bersama-sama, mereka duduk di depan laptop, mencari nama "Nurul Sari".

Hasil pencarian pertama: berita duka. "Meninggal dunia: Rangga Aditya (25), putra tunggal Nurul Sari, meninggal akibat overdosis obat tiga tahun lalu."

"Rangga... anaknya?" Laras terkesiap.

"Bukan Rangga yang kita kenal," kata Rafa, menggulir. "Tapi mungkin... keponakan? Atau anak dengan nama sama?"

Tapi Aisha melihat foto almarhum di berita duka itu. Wajahnya sangat mirip dengan Rangga teman mereka. Hampir seperti kembar.

"Mungkin... anak kandungnya?" bisik Aisha. "Tapi Rangga kita tidak pernah bilang punya ibu."

Mereka mencari lebih dalam. Dan menemukan: Nurul Sari adalah mantan perawat yang dipecat lima tahun lalu karena malpraktik memberi obat salah dosis pada pasien anak. Pasien itu selamat, tapi mengalami kerusakan ginjal ringan.

Ginjal. Kata itu seperti alarm.

"Pasien itu... siapa?" tanya Laras.

Rafa mencari nama pasien. Dan ketika muncul, dunia mereka berhenti.

Nama pasien: "Arka" (nama samaran untuk perlindungan identitas). Usia: 3 tahun. Diagnosa: Gagal ginjal stadium awal. Kejadian: Overdosis obat imunosupresan karena kesalahan perawat.

"Tidak mungkin..." Aisha berbisik, tubuhnya gemetar. "Arka? Pasien itu Arka?"

"Tapi Arka kita baru ketahuan sakit ginjal umur 6 tahun," kata Rafa.

"Kecuali... dia sudah sakit sejak kecil, dan kita tidak tahu." Aisha menutup wajah. "Atau... ini bukan Arka kita."

Tapi ada catatan kaki: "Pasien kemudian meninggal dunia setahun kemudian akibat komplikasi."

Jadi bukan Arka mereka. Tapi kebetulan yang mengerikan. Nama yang sama. Penyakit yang sama. Dan perawat yang sama Nurul terlibat.

---

Telepon berdering. Nomor tidak dikenal. Rafa mengangkat dengan speaker.

"Rafa?" suara Nurul lebih dingin dari tadi, tanpa keramahan palsu.

"Ya. Kamu siapa sebenarnya?"

"Aku ibu dari Rangga yang mati karena overdosis. Dan aku tahu... kalian yang menyebabkan kematiannya."

"APA? Kami tidak kenal anakmu!"

"Tapi kalian kenal keponakanku. Rangga yang kalian kirim ke penjara sekarang. Dia seperti anakku sendiri setelah anak kandungku meninggal. Dan sekarang... kalian mengambil dia juga."

Jadi benar. Rangga (teman mereka) adalah keponakan Nurul. Dan anak kandung Nurul juga bernama Rangga meninggal karena overdosis. Nurul menyalahkan mereka untuk kedua kejadian itu.

"Kami tidak menyebabkan overdosis anakmu!" bantah Aisha.

"TIDAK LANGSUNG! Tapi kalian adalah bagian dari sistem yang merusak hidup kami! Anakku dipecat karena kesalahan kecil! Dia depresi! Lalu overdosis! DAN KEPONAKANKU SEKARANG DIPENJARA KARENA KALIAN!"

"Keponakanmu yang mengancam kami! Yang mau bunuh anak kami!" teriak Rafa.

"KARENA KALIAN MERUSAK HIDUPNYA DULU! DIA CERITA PADAKU TENTANG AISHA DAN KAMU! TENTANG BAGAIMANA KALIAN BERDUA MENGHANCURKAN HATINYA!"

Nurul menarik napas berat. "Sekarang, aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan sepuluh tahun lalu."

"Apa?" tanya Aisha, takut.

"Saat kamu hamil, aku harusnya memberimu obat aborsi. Atau... memberimu obat yang membuat janinmu cacat. Tapi waktu itu aku masih punya hati. Sekarang... tidak lagi."

Telepon diputus.

---

Kengerian menggantung di ruangan itu.

Nurul bukan hanya sekutu Rangga. Dia musuh lama yang bahkan tidak mereka ketahui. Dia pernah memegang nasib Aisha dan Arka di tangannya sepuluh tahun lalu. Dan sekarang, dia kembali untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

"Arka," bisik Aisha tiba-tiba. "Dia cek Arka tadi. Dengan termometer. Dengan tensimeter. APA DIA BERI SESUATU?"

Mereka berlari ke kamar Arka. Anak itu sedang asyik menggambar dengan Nadia.

"Arka, kamu merasa baik-baik saja?" tanya Rafa, memeriksa dahi dan lehernya.

"Baik, Ayah. Kenapa?"

"Tante perawat tadi... dia kasih apa? Suntik? Atau obat?"

"Enggak. Cuma cek. Tapi... dia kasih permen waktu mau pergi. Bilang jangan bilang siapa-siapa."

PERMEN.

"Di mana permennya?" tanya Aisha panik.

Arka mengeluarkan dari saku sebuah permen lolipop merah, masih terbungkus. "Arka belum makan. Janji sama Bunda ga boleh makan permen dari orang asing."

Anaknya patuh. Itu menyelamatkannya.

Aisha mengambil permen itu. "Kita harus tes ini. Ke lab."

Tapi sebelum mereka bisa bergerak, telepon berdering lagi. dr. Arman.

"Rafa, ada perkembangan aneh. Data medis Arka di sistem kami... ada yang mencoba akses tadi pagi. Dari akun perawat bernama Nurul Sari. Tapi dia sudah tidak kerja di sini sejak lima tahun lalu. Aku sudah blokir, tapi dia mungkin sudah lihat data terbaru Arka termasuk jadwal minum obat, dosis, jenis imunosupresan."

"Artinya dia tahu cara melemahkan Arka," kata Rafa, pucat.

"Lebih buruk. Jika dia tahu detail obat Arka, dia bisa berikan obat yang kontraindikasi yang bisa memicu penolakan ginjal akut."

---

Kepanikan menyebar.

Mereka langsung bawa Arka ke rumah sakit untuk tes darah darurat. Hasilnya: belum ada tanda-tanda keracunan atau interaksi obat. Tapi Nurul tahu jadwal minum obat Arka jam 8 pagi dan 8 malam. Dan sekarang sudah jam 4 sore.

"Kita harus ubah jadwal. Ubah jenis obat sementara," kata dr. Arman. "Dan Arka harus dirawat inap untuk observasi 24 jam."

Laras yang datang membawa Nadia dan Arkana, setengah menangis. "Ini tidak akan berakhir, ya? Satu per satu orang datang ingin menyakiti kita."

"Kita akan hadapi," kata Rafa, memeluk istrinya. "Bersama."

Tapi Aisha berdiri di jendela ruang rawat Arka, memandangi parkiran rumah sakit. Di antara mobil-mobil, dia melihat seorang wanita berkerudung Nurul berdiri menatap ke atas. Langsung menatap ke jendela kamar Arka.

Mereka saling tatap. Nurul mengangkat tangan, memberi isyarat seperti sedang menyuntik. Lalu dia pergi.

---

Malam itu, polisi datang ke rumah sakit untuk mengambil laporan. Tapi Nurul menghilang seperti asap. Tidak ada alamat tetap. Tidak ada aktivitas finansial terkini. Seperti hantu.

Arka harus diinfus dan diawasi ketat. Aisha tidak mau meninggalkan sisinya. Rafa dan Laras bergantian menunggu, membawa makanan dan pakaian bersih.

Pukul 21.00, saat Aisha sendirian di ruangan, Arka terbangun.

"Bunda... Arka mimpi buruk."

"Mimpi apa, sayang?"

"Mimpi ada bunda-bunda pakai baju putih, kasih Arka obat pahit. Terus ginjal Ayah di perut Arka nangis."

Metafora anak yang mengerikan. Aisha membelainya. "Hanya mimpi."

"Tapi Arka ngerasa... ada yang perhatiin kita. Dari luar."

Aisha menengok ke jendela. Gelap. Tapi ada cahaya senter kecil berkedip dari gedung parkir seberang. Satu, dua, tiga kedip. Seperti kode.

Dia memencet tombol panggil perawat. "Tolong, cek gedung parkir seberang. Ada yang mencurigakan."

Tapi ketika satpam mengecek, tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah senter tertinggal di lantai, dan di sebelahnya sebuah suntikan kosong dengan label: "Cyclosporin dosis tinggi."

Cyclosporin. Itu obat imunosupresan yang diminum Arka. Tapi dosis tinggi bisa meracuni ginjalnya.

Nurul mengirim pesan: "Aku bisa masuk kapan saja. Aku tahu semua jadwal jaga. Aku tahu semua sistem keamanan. Aku pernah kerja di sini."

---

dr. Arman langsung pindahkan Arka ke ruang isolasi dengan keamanan tambahan. Hanya keluarga inti yang boleh masuk. Dan semua obat harus melalui pemeriksaan tiga tahap.

Tapi ketakutan sudah merasuk. Bagaimana melawan seseorang yang tahu sistem rumah sakit lebih baik daripada mereka? Yang punya motif balas dendam yang dalam?

Rafa menelepon pengacara, meminta perlindungan maksimal. Laras menghubungi keluarga besarnya, meminta doa dan dukungan. Aisha... Aisha hanya duduk memegangi tangan Arka, berbisik: "Bunda tidak akan biarkan apapun terjadi padamu. Tidak lagi."

---

Tengah malam, saat jaga berganti, seorang perawat baru masuk wajahnya tertutup masker, topi menutupi rambut. Dia mendekati tempat tidur Arka.

Aisha yang tadinya tertidur di kursi, terbangun karena firasat. "Siapa kamu?"

"Perawat jaga malam," jawab suara wanita yang sengau.

"Boleh lihat ID?"

Perawat itu mengeluarkan kartu foto yang sama dengan perawat yang biasa jaga. Tapi matanya... mata Nurul. Aisha mengenalinya.

"KELUAR!" teriak Aisha, berdiri menghalangi. "KAMU NURUL!"

Nurul melepas masker. Senyum tipis. "Pintar. Tapi terlambat."

Dia mengeluarkan semprotan dari saku semprotan yang biasa dipakai untuk desinfektan, tapi isinya... "Chloroform," bisik Nurul. "Cukup buat bikin kamu tidur sebentar."

Aisha berteriak, tapi Nurul sudah menyemprot. Dunia gelap.

---

Ketika Aisha sadar, dia terikat di kursi di sudut ruangan yang sama. Mulutnya disumpal. Di depan matanya: Nurul sedang berdiri di samping tempat tidur Arka, memegangi infus.

"Jangan khawatir," bisik Nurul. "Aku tidak akan bunuh dia. Aku hanya akan... membuat ginjalnya rusak perlahan. Seperti anakku dulu yang menderita perlahan sebelum mati."

Dia menyuntikkan sesuatu ke dalam infus. Cairan bening.

Air mata Aisha mengalir. Dia meronta, tapi ikatan kuat. Tidak. Tidak lagi. Setelah segalanya, setelah perjuangan panjang, Arka akan mati di depan matanya?

Tapi kemudian pintu terbuka. Bukan Rafa atau perawat. Tapi Laras. Dengan pistol air di tangan pistol mainan Nadia.

"JAUHI ANAKKU!" teriak Laras, menyemprotkan air ke wajah Nurul.

Nurul terkejut, mundur. Itu memberi waktu bagi Rafa dan dua satpam yang datang dari belakang Laras untuk menahan Nurul.

"KAMU PIKIR AKU TIDAK SIAGA?" teriak Laras, masih menggigil. "AKU LIHAT DARI MONITOR KAMERA! AKU LIHAT KAMU MASUK!"

Ternyata Laras memasang kamera kecil di ruangan setelah kejadian sore. Dan dia mengawasi dari ruang perawat sepanjang malam.

Nurul berhasil dilumpuhkan, diborgol. Cairan di infus segera diganti. Arka tidak sadar, tapi stabil.

Aisha dilepaskan, langsung memeluk Laras. "Terima kasih... terima kasih..."

"Kita keluarga," bisik Laras, menangis. "Aku tidak akan biarkan dia sentuh anak kita. Anak kita SEMUA."

---

Nurul dibawa polisi. Kali ini dengan bukti kuat: percobaan pembunuhan, penyusupan, pemalsuan identitas. Dia tidak akan keluar dalam waktu lama.

Tapi di mobil polisi, Nurul masih tersenyum. "Masih ada yang lain. Dendam tidak pernah sendirian."

Apakah ini benar-benar berakhir? Atau hanya babak baru?

---

Kembali di ruang isolasi, Arka terbangun. "Ayah... Bunda... Ibu Laras... kenapa semua pada nangis?"

"Karena kami senang," kata Rafa, memeluk ketiga wanita dalam hidupnya Aisha, Laras, dan Arka di tempat tidur. "Karena kami masih bersama."

Malam itu, mereka semua tidur di ruang itu Rafa di kursi, Laras dan Aisha bersebelahan di sofa kecil, tangan mereka saling menggenggam tanpa disadari. Musuh jadi sekutu. Sekutu jadi keluarga.

Dan di luar, bulan bersinar tenang, seolah berjanji bahwa badai kali ini benar-benar telah berlalu.

---

(Tapi di rumah sakit jiwa tempat Nurul akan ditahan, seorang perawat lain menerima pesan anonim: "Proyek Nurul gagal. Giliranmu sekarang. Target: bayi Arkana." Perawat itu mengangguk, lalu menatap foto bayi di ponselnya foto Arkana yang tidak sengaja diunggah Laras di media sosial.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!