NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8

Sasya menatap layar ponselnya seolah benda itu baru saja mengeluarkan percikan api. Pesan dari Bu Sarah bukan sekadar ajakan minum kopi; itu adalah sebuah kode ancaman yang dibungkus dengan nada persuasif.

"Karier Pak Alkan dipertaruhkan karena gue?" Sasya berbisik lirih. Suaranya tenggelam di antara bising kipas laptop di lab yang mulai sepi.

Ia tahu, di dunia nyata, cinta tidak sesederhana coding yang jika salah tinggal di-undo. Ada variabel luar seperti kekuasaan, reputasi, dan masa depan. Sasya mengambil tasnya, mengabaikan kode yang belum sempat ia save. Ia harus menghadapi ini.

Sore itu Sasya dan Bu Sarah bertemu di kafe Sunshine..

Sore itu, langit di luar kafe berwarna abu-abu, seakan mendukung suasana hati Sasya yang mendung. Bu Sarah sudah duduk di pojok ruangan, terlihat sempurna seperti biasa dengan kemeja blus premium dan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

"Duduk, Sasya," ujar Bu Sarah tanpa basa-basi. "Saya pesan kopi hitam tanpa gula. Pahit, memang. Tapi kadang kita butuh sesuatu yang pahit untuk bangun dari mimpi."

Sasya duduk, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar gemetar. "Apa maksud Ibu soal masa depan Pak Alkan?"

Bu Sarah meletakkan ponselnya di meja. "Prof. Handoko, ayah saya, punya pengaruh besar di yayasan dan kementerian. Beliau sangat kecewa dengan sikap Alkan yang... katakanlah, terlalu protektif padamu. Saat ini, sedang ada pembahasan mengenai mutasi dosen untuk pengembangan kampus cabang di daerah terpencil. Nama Alkan berada di urutan teratas."

Dada Sasya terasa sesak. "Bapak dipindah karena saya?"

"Karena gosip yang kamu timbulkan, Sasya. Alkan itu berlian di fakultas ini. Kariernya harusnya di sini, jadi Dekan, bukan di pelosok hanya karena skandal kecil dengan mahasiswinya," Bu Sarah memajukan badannya. "Kalau kamu benar-benar peduli padanya, menjauhlah. Selesaikan skripsimu dengan dosen lain, atau setidaknya, buat dia membencimu agar dia kembali fokus pada jalurnya. Dengan begitu, ayah saya bisa membatalkan surat mutasi itu."

Sasya terdiam. Logikanya bertarung hebat. Di satu sisi, ia ingin egois dan terus berjuang. Di sisi lain, ia tidak ingin menjadi parasit bagi impian Alkan.

"Saya butuh waktu untuk berpikir, Bu," jawab Sasya singkat, lalu bangkit berdiri meninggalkan kopinya yang bahkan belum sempat ia sentuh.

Malam itu, Sasya tidak bisa tidur. Ia kembali ke sajadah, namun kali ini bukan untuk meminta agar Alkan menjadi miliknya.

"Ya Allah," isak Sasya dalam sujudnya. "Jika kehadiranku hanya menjadi penghalang bagi kebaikan yang bisa dia berikan pada dunia, maka ikhlaskanlah hatiku untuk mundur. Aku mencintainya, tapi aku lebih mencintai masa depannya."

Besoknya, Sasya melakukan sesuatu yang drastis. Ia mengirimkan email resmi ke Kaprodi (Kepala Program Studi) dengan tembusan ke Pak Alkan.

Subject: Permohonan Pergantian Dosen Pembimbing - Sasya Kirana

Isinya :

Sasya merasa ada ketidakcocokan metode bimbingan dan ingin mengganti pembimbing demi kelancaran kelulusannya.

Hanya butuh waktu sepuluh menit setelah email itu terkirim, ponsel Sasya berdering. Nama "Pak Alkan" muncul di layar. Sasya membiarkannya. Berdering lagi. Sampai sepuluh kali.

Hingga akhirnya, sebuah pesan singkat masuk dari pak Alkan

Pak Alkan:

"Lab Komputer 03. Sekarang. Jangan mencoba lari dari masalah, Sasya. Itu bukan algoritma yang saya ajarkan."

Sasya berjalan menuju lab dengan kaki gemetar. Di sana, Alkan berdiri membelakangi pintu, menatap deretan komputer yang mati. Saat Sasya masuk, Alkan berbalik. Wajahnya tidak datar lagi. Ada kemarahan yang tertahan, namun juga kesedihan yang mendalam.

"Apa-apaan email itu, Sasya?" tanya Alkan dingin.

"Saya cuma mau lulus tepat waktu, Pak. Saya rasa kita... terlalu banyak distraksi," jawab Sasya sambil menunduk, berusaha keras menahan air mata.

Alkan berjalan mendekat. Langkahnya terdengar mantap di lantai keramik. "Distraksi? Atau kamu baru saja bertemu Bu Sarah?"

Sasya tersentak. Alkan tahu?

"Kamu pikir saya selemah itu sampai harus dikasihani lewat pengorbanan konyol kamu?" suara Alkan naik satu oktav. "Sasya, dengar. Saya sudah bicara dengan Ayah kamu. Saya sudah menyiapkan jalan untuk kita. Dan kamu mau merusak semuanya hanya karena ancaman mutasi?"

"Tapi Pak, karier Bapak—"

"Karier saya milik Allah, bukan milik Prof. Handoko!" tegas Alkan. Ia berhenti tepat di depan Sasya. "Kalau saya harus mengajar di pelosok sekalipun, saya tidak keberatan, asalkan saya pergi dengan integritas. Dan asalkan... saya tidak pergi sendirian."

Sasya mendongak, matanya basah. "Maksud Bapak?"

Alkan menghela napas, berusaha meredam emosinya. "Selesaikan skripsi kamu. Jangan ganti pembimbing. Saya tantang kamu untuk sidang dalam waktu dua minggu lagi. Jika kamu lulus dengan nilai sempurna, saya akan membuktikan pada mereka semua bahwa hubungan profesional kita tidak bisa digoyahkan oleh gosip murahan."

Ia menjeda sejenak, menatap Sasya dengan tatapan yang sangat dalam. "Dan setelah yudisium, bersiaplah. Karena saya tidak akan mengirim email revisi lagi, tapi surat undangan."

Sasya terpaku. Pak Alkan baru saja melakukan overriding terhadap semua keraguan di hatinya.

"Bapak... nggak takut dipindah?"

"Selama ada sinyal internet buat saya riset dan ada kamu buat saya ajak diskusi, lokasi bukan variabel yang penting, Sasya."

Sasya tersenyum di tengah tangisnya. Ia baru menyadari, bahwa di balik sikap kaku dosennya, ada keberanian yang melampaui logika manusia biasa.

"Baik, Pak. Dua minggu. Saya akan selesaikan semuanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!