Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab spesial 7 : Cahaya di ujung pesisir
Malam itu, alam seolah tahu bahwa sebuah sejarah baru sedang ditulis di atas tanah pesisir yang bersahaja ini. Langit di atas kami tampak begitu pekat, namun bintang-bintang bersinar dengan ketajaman yang ganjil, seolah ribuan mata malaikat sedang mengawasi rumah kecil kami dari kejauhan. Udara tidak sedingin biasanya; ada kehangatan yang merayap di antara deburan ombak yang tenang, membawa aroma melati liar yang tumbuh di samping rumah.
Di dalam kamar yang dindingnya dipenuhi rak buku kayu buatan tangan—tempat ribuan kata dan gambar disimpan—aku merasakan gelombang itu datang. Ia bukan lagi kontraksi palsu yang datang dan pergi seperti janji manis Jakarta, melainkan sebuah dorongan purba yang kuat, menuntut jalan keluar ke dunia. Aku mencengkeram lengan Biru yang sejak tadi tidak sedetik pun beranjak dari sampingku, tangannya yang hangat adalah satu-satunya jangkarku.
"Biru... sudah waktunya," bisikku di antara deru napas yang mulai tidak beraturan.
Biru, pria yang dulu bisa mengarahkan ratusan orang dalam satu set pemotretan besar tanpa berkedip, kini terlihat pucat di bawah sinar lampu minyak. Namun, ketegasan seorang Biru Laksmana Langit muncul dalam bentuk yang paling lembut. Ia tidak panik. Dengan sigap ia membantuku bangkit, memanggil Mak Bidan, dan menyiapkan air hangat, sementara ia terus membisikkan doa-doa kecil di telingaku—sebuah mantra penenang yang lebih ampuh dari obat mana pun.
Proses itu adalah perjuangan paling sunyi namun paling riuh yang pernah kualami. Di tengah remang cahaya yang menciptakan bayangan lembut di dinding, aku melihat Biru berlutut di ujung tempat tidur. Ia meninggalkan kamera mahalnya di sudut ruangan, membiarkannya berdebu. Baginya, momen ini terlalu suci untuk dilihat dari balik lensa buatan manusia. Ia ingin merekamnya dengan mata telanjang, dengan seluruh jiwanya yang kini telah utuh.
"Ayo, Aruna... sedikit lagi. Kamu adalah fajar, Na. Kamu cahaya paling kuat yang pernah aku kenal," suaranya parau, memberikan kekuatan yang mengalir ke setiap sarafku seperti aliran listrik.
Tepat saat adzan subuh mulai berkumandang dari kejauhan, menyatu dengan irama ombak yang pecah di pantai, suara tangisan itu meledak. Suara itu melengking tinggi, memecah kesunyian rumah kami, menggetarkan debu-debu di rak buku, dan seketika seolah menghentikan putaran waktu di seluruh semesta.
Seorang bayi laki-laki, berkulit kemerahan dengan jemari kecil yang menggenggam udara seolah ingin meraih bintang, diletakkan di dadaku. Bau ketuban yang khas, aroma keringat, dan rasa syukur yang meluap bercampur menjadi satu air mata yang tumpah. Biru menangis. Aku belum pernah melihatnya menangis seperti itu—bahkan tidak saat ia kehilangan kejayaan perusahaannya. Ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang baru menemukan jalan pulang, menciumi tanganku dan kening bayi kami berulang kali dengan rasa takzim.
"Dia di sini, Na. Dia benar-benar di sini," bisiknya dengan suara yang pecah oleh kebahagiaan.
Kami memberinya nama Fajar Samudra Langit. Nama yang merangkum seluruh semesta kecil yang kami bangun. Fajar untuk Aruna yang selalu menjadi cahaya saat Biru kehilangan arah; Samudra untuk tempat kami menemukan kedamaian yang luas; dan Langit sebagai pengingat bahwa ia tidak akan pernah memiliki batas untuk bermimpi, sejauh apa pun ia ingin terbang nanti.
Beberapa minggu berlalu, dan kehidupan di rumah kami berubah total. Tidak ada lagi keheningan absolut yang dulu kami cari saat pertama kali melarikan diri dari Jakarta. Kini, rumah kami penuh dengan suara-suara kehidupan yang jujur: gemerincing mainan dari kulit kerang, langkah kaki tetangga yang datang membawa nasi kuning dan doa, serta celoteh anak-anak nelayan yang mengintip dari jendela, ingin melihat "adik baru" mereka yang kelak akan bermain pasir bersama.
Sore itu, aku duduk di kursi goyang di teras, menggendong Fajar yang baru saja terlelap dengan tenang. Biru duduk di lantai, bersandar pada kakiku. Ia baru saja selesai mencuci beberapa lembar pakaian bayi—pekerjaan yang dua tahun lalu mungkin mustahil dibayangkan dilakukan oleh seorang direktur kreatif yang tangan dinginnya hanya menyentuh kontrak-kontrak miliaran.
"Kadang aku masih tidak percaya," Biru memulai, matanya menatap garis cakrawala yang mulai memerah. "Dulu kita adalah dua orang yang paling sibuk mencari 'makna' di tumpukan naskah dan jepretan kamera mahal. Kita berlari mengejar sesuatu yang kita sendiri tidak tahu apa, sampai kita hampir kehilangan diri kita sendiri."
Aku mengusap rambutnya yang kini makin sering terpapar matahari dan berbau angin laut. "Sekarang kamu sudah menemukannya?"
Biru mendongak, menatapku dengan tatapan yang begitu jernih, lalu menatap Fajar yang bernapas teratur dalam dekapanku. Ia tersenyum, sebuah senyum yang sangat penuh, sangat tuntas. "Aku menemukannya di sini. Di rumah yang kadang bocor kalau hujan deras, di desa yang tidak ada di peta majalah mode dunia, dan di dalam pelukanmu. Ternyata sukses itu sederhana, Na. Sukses itu adalah saat kamu tidak ingin berada di tempat lain selain di tempat kamu berdiri sekarang."
Aku yang dulu adalah seorang editor senior yang kaku, yang selalu menuntut struktur kalimat sempurna dan logika yang tajam, akhirnya mengerti. Cerita terbaik dalam hidup tidak butuh penyuntingan berulang kali. Cerita terbaik adalah yang dibiarkan mengalir apa adanya, dengan segala kekurangan, guratan luka, dan kesederhanaannya yang murni.
Matahari perlahan tenggelam di balik garis laut, namun bagi kami, ini bukan sebuah akhir. Pagar kayu kami masih berdiri, galeri tanpa dinding kami semakin penuh dengan foto-foto kehidupan desa yang bersahaja. Namun di bagian paling utama, ada satu bingkai baru yang belum lama dipasang Biru. Bukan foto nelayan atau pemandangan laut, melainkan foto bayangan kami bertiga yang memanjang di atas pasir pantai—sebuah siluet keluarga yang utuh.
Di bawahnya, terdapat tulisan tangan Biru yang tegas dan tidak lagi ragu:
"Kami memilih untuk tidak lagi menjadi besar di mata dunia, agar kami bisa menjadi segalanya bagi satu sama lain."
Aruna dan Biru telah selesai dengan pencarian mereka. Mereka telah pulang ke pelukan satu sama lain, ke dalam dekapan laut yang jujur, dan ke dalam cahaya fajar yang tidak akan pernah padam oleh badai mana pun.
Dahulu, hatiku adalah musim dingin yang tak berujung, tempat di mana tawa hanyalah gema dari kehampaan. Lalu kamu datang—bukan sebagai badai, tapi sebagai cahaya fajar yang sabar. Terima kasih telah mencairkan bekuku tanpa membuatku merasa hancur.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...