mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseimbangan Yang Dipulihkan
Cahaya dari Bintang Penyusun yang muncul di langit menyinari seluruh kuil dengan cahaya keemasan yang menyilaukan. Setiap titik cahaya dari bintang itu menyambung ke tubuh masing-masing Pendekar—ke Yang Fei dengan kekuatan Angin, Zhou Yu dengan kekuatan Air, Wu Jing dengan kekuatan Api, Xie Lan dengan kekuatan Tanah, dan Su Yin dengan kekuatan Cahaya. Semua energi itu berkumpul ke dalam tubuh Liu Wei, membuat Pedang Angin Birunya bersinar seperti matahari kecil.
Zhang Feng melihatnya dengan wajah penuh kemarahan dan ketakutan yang tersembunyi. “Tidak mungkin! Tidak ada yang bisa menyatukan kekuatan semua Bintang Penyusun selain saya!”
Liu Wei berdiri tegak, tubuhnya mengapung sedikit di atas tanah karena kekuatan yang luar biasa yang mengalir di dalamnya. Matanya menyala dengan cahaya keemasan, dan suara baritanya terdengar seperti suara banyak orang yang bersatu. “Kamu salah, Zhang Feng. Kekuatan Bintang Penyusun tidak dimiliki oleh satu orang saja—kita adalah satu kesatuan yang bekerja sama untuk menjaga keseimbangan dunia.”
Saat itu, rantai yang mengikat Huang Rong dan Chen Long pecah dengan sendirinya. Kekuatan dari Bintang Penyusun mengalir ke dalam tubuh mereka, membuat mereka kembali kuat dan berdiri tegak. “Kita akan membantu kamu, Liu Wei!” teriak Huang Rong dengan suara yang kuat, sementara api menyala kembali di tangannya.
Chen Long juga mengangkat tangannya, dan air dari sekitar kuil mulai mengelilinginya. “Keseimbangan harus dipulihkan!”
Pasukan Bayangan Hitam mulai terlihat terkejut dan ragu. Beberapa dari mereka bahkan mulai mundur ketika melihat kekuatan yang dikeluarkan oleh Pendekar Bintang Penyusun yang sudah bersatu sembilan orang. Namun Zhang Feng dengan cepat mengendalikan mereka dengan energi gelapnya yang kuat.
“Tidak seorang pun akan melarikan diri!” jeritnya dengan suara yang menggema. “Kita telah datang sejauh ini—kemenangan akan menjadi milik kita!”
Zhang Feng mengangkat kedua tangannya ke atas langit, dan sebuah gerbang kegelapan besar terbuka di atasnya. Dari dalam gerbang itu, makhluk-makhluk kegelapan dengan bentuk yang mengerikan mulai muncul—tubuh mereka hitam pekat dengan mata yang menyala seperti bara api. Mereka menyerang dengan kekuatan yang luar biasa, menghancurkan apa saja yang ada di depan mereka.
“Semua orang bersiap!” teriak Liu Wei sambil mengayunkan Pedang Angin Birunya. Cahaya dari pedangnya membentuk seperti pelangi yang luas, melindungi kuil dan teman-temannya dari serangan makhluk kegelapan.
Huang Rong dan Wu Jing bekerja sama, mengeluarkan lautan api yang menyala dengan warna ungu tua—gabungan kekuatan Api Muda dan Api Kuno. Api itu membakar makhluk kegelapan yang mendekati dari arah depan, membuat mereka menjadi debu yang terbawa angin.
Chen Long dan Zhou Yu juga bekerja sama, mengendalikan aliran air yang membentuk seperti sungai besar yang membanjiri makhluk kegelapan dari arah samping. Air itu tidak hanya membunuh mereka, tetapi juga membersihkan jejak energi gelap yang mereka tinggalkan.
Xie Lan mengangkat tanah yang besar dan membentuk seperti penjara batu yang mengurung kelompok makhluk kegelapan yang mencoba mendekati dari belakang. Batu-batu itu kemudian menyatu dengan tanah menjadi satu, menyembunyikan mereka selamanya di dalam bumi.
Yang Fei mengendalikan angin yang kuat, membentuk seperti siklon yang mengangkat makhluk kegelapan ke udara dan memecahkannya menjadi serpihan kecil. Anginnya juga membawa suara nyanyian yang damai, membuat sebagian dari Pasukan Bayangan Hitam yang masih memiliki hati yang baik sadar akan kesalahan mereka dan mulai melarikan diri.
Chen Mei dan Su Yin bekerja sama di altar kuil, mengumpulkan kekuatan Cahaya untuk membuat pelindung besar yang melindungi seluruh area kuil. Cahaya itu juga menyembuhkan luka-luka yang dialami teman-temannya dan meningkatkan kekuatan mereka.
Liu Wei menghadapi Zhang Feng yang sedang berjuang mengendalikan makhluk kegelapan yang mulai tidak terkendali. Beberapa makhluk bahkan mulai menyerang Pasukan Bayangan Hitam sendiri karena tidak bisa dibendung lagi.
“Lihatlah apa yang kamu lakukan, Zhang Feng!” teriak Liu Wei dengan suara yang kuat. “Kekuatan kegelapan yang kamu panggil tidak bisa kamu kendalikan. Mereka akan menghancurkan dunia ini beserta kamu sendiri!”
Zhang Feng melihat sekeliling dengan wajah penuh kepanikan. Makhluk kegelapan yang dia panggil memang mulai tidak terkendali, menyerang tanpa memandang pihak. Dia mencoba mengendalikan mereka dengan kekuatan tiga Batu Kekuatan yang dia miliki, tapi batu-batu itu mulai bergeming seolah tidak bisa menahan energi gelap yang terlalu banyak.
“Saya tidak akan kalah!” teriak Zhang Feng dengan histeris. Dia mencoba menyatu dengan semua kekuatan yang dia miliki, termasuk energi gelap dari gerbang kegelapan. Namun tubuhnya tidak mampu menahan kekuatan yang terlalu besar itu, dan dia mulai menyala dengan energi gelap yang menyakitkan.
Liu Wei melihatnya dengan rasa iba meskipun dia adalah musuhnya. “Zhang Feng, berhentilah sekarang juga! Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu!”
Tapi sudah terlambat. Energi gelap yang terlalu banyak membuat tubuh Zhang Feng mulai hancur. Sebelum dia benar-benar lenyap, dia melihat ke arah Liu Wei dengan ekspresi penyesalan yang jelas. “Maafkan aku… aku hanya ingin kekuatan untuk melindungi yang kubenci… tapi aku tersesat jalan…”
Setelah itu, tubuh Zhang Feng lenyap menjadi cahaya gelap yang kemudian terserap oleh gerbang kegelapan. Liu Wei dengan cepat mengangkat Pedang Angin Birunya dan menyerang gerbang itu dengan kekuatan semua Bintang Penyusun. Cahaya keemasan yang sangat kuat menghantam gerbang kegelapan, membuatnya bergetar dan akhirnya tertutup dengan suara ledakan yang besar. Makhluk kegelapan yang belum sempat keluar dari dalam gerbang ikut terjebak dan lenyap bersama dengan gerbang itu.
Setelah semua makhluk kegelapan hilang dan gerbang tertutup, keheningan menyelimuti seluruh area kuil. Pasukan Bayangan Hitam yang tersisa berlutut atau berlari pergi, menyadari bahwa mereka telah kalah. Langit kembali menjadi biru cerah, dan matahari muncul dengan terang setelah sekian lama tertutup oleh awan kegelapan.
Liu Wei turun ke tanah dengan perlahan, kekuatan yang luar biasa di dalam dirinya mulai mereda. Teman-temannya segera mendekatinya dengan wajah penuh kelegaan dan kegembiraan.
“Kita berhasil!” teriak Wu Jing dengan senyum lebar. “Dunia telah diselamatkan!”
Su Yin mendekati Liu Wei dengan wajah yang lembut. Tubuhnya yang tadinya memudar mulai kembali normal berkat kekuatan penyembuhan dari Bintang Penyusun. “Kamu telah melakukan yang benar, Liu Wei. Kamu tidak hanya menyelamatkan dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuatan sejati datang dari persatuan dan cinta terhadap sesama.”
Huang Rong mengangguk dengan senyum. “Kita telah kehilangan banyak orang dan tempat yang berharga karena kesalahan Zhang Feng. Tapi sekarang kita punya kesempatan untuk memulihkan segalanya dan membangun masa depan yang lebih baik.”
Chen Long menunjuk ke arah altar kuil. “Batu Kekuatan yang dicuri oleh Zhang Feng sudah kembali ke altar. Mereka muncul lagi setelah gerbang kegelapan tertutup.”
Ketika mereka melihat ke arah altar, mereka melihat Lima Batu Kekuatan bersinar dengan cahaya masing-masing di atas altar—Batu Angin berwarna putih, Batu Air berwarna biru, Batu Api berwarna merah, Batu Tanah berwarna coklat, dan Batu Cahaya berwarna keemasan. Di tengahnya, Batu Utama yang tadinya ada di dalam diri Liu Wei sekarang juga berada di altar, bersinar dengan cahaya semua warna.
“Batu Utama telah kembali ke tempatnya,” kata Su Yin dengan penuh rasa kagum. “Ini menunjukkan bahwa keseimbangan dunia telah dipulihkan. Namun kita tetap harus menjaganya dengan baik agar tidak terjadi lagi kesalahan seperti sebelumnya.”
Liu Wei berdiri dan melihat ke arah semua teman-temannya—Chen Mei, Zhou Yu, Wu Jing, Xie Lan, Yang Fei, Su Yin, Huang Rong, dan Chen Long. Mereka adalah keluarga baru baginya, keluarga yang terbentuk dari perjuangan bersama dan tujuan yang sama.
“Saya tidak bisa melakukan ini sendirian,” ucap Liu Wei dengan suara penuh rasa syukur. “Terima kasih kepada kalian semua. Tanpa bantuan kalian, semuanya tidak akan mungkin terjadi.”
Chen Mei menyentuh bahunya dengan lembut. “Kamu adalah pemimpin yang hebat, Liu Wei. Sekte Bintang Penyusun akan terus ada untuk menjaga keseimbangan dunia, denganmu sebagai Pendekar Utama yang baru.”
Liu Wei mengangguk dengan tegas. “Kita akan bekerja sama untuk melindungi dunia ini. Kita akan membangun sekolah untuk mengajarkan seni bela diri dan nilai-nilai yang benar kepada generasi muda. Kita akan memastikan bahwa kekuatan tidak akan pernah disalahgunakan lagi.”
Di atas langit, pola Bintang Penyusun bersinar dengan sangat terang—sembilan bintang yang saling terhubung, mewakili sembilan Pendekar yang telah bersatu untuk menyelamatkan dunia. Setiap bintang memiliki kecerahan sendiri, namun bersama-sama mereka menciptakan cahaya yang lebih kuat dan indah.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memberikan warna jingga dan oranye yang indah pada langit. Semua orang berdiri bersama-sama di halaman kuil, melihat ke arah dunia yang telah mereka selamatkan—dunia yang penuh dengan harapan dan kesempatan untuk masa depan yang lebih baik.
Perjalanan panjang dan penuh bahaya telah berakhir, namun perjuangan untuk menjaga keseimbangan dunia akan terus berlanjut. Dan mereka siap menghadapinya bersama-sama, sebagai satu keluarga yang tidak akan pernah terpisahkan.