NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyembunyikan Fakta

Nina tak bisa lagi berkata-kata, melihat bagaimana sibuknya rumah yang baru ditempatinya keesokan paginya.

Beberapa pekerja rumah mulai melakoni pekerjaannya masing-masing. Ada yang khusus memasak, membersikan rumah, mencuci, menata kebun.

Biasanya di rumah kontrakannya, Nina melakukan segalanya sendiri dan itu sudah biasa untuknya, yang sibuk sebelum subuh. Walau tinggal seorang diri kala itu. Tapi karena sudah terbiasa, Nina menjalaninya dengan suka cita.

Tapi sekarang?

Setiap kali dirinya hendak memegang satu pekerjaan rumah, mereka mengambil alih dan memintanya untuk istirahat saja. Istirahat apanya???

Alhasil, Nina hanya bisa diam di kursi ruang makan sambil melihat para pekerja sibuk lalu-lalang.

Hari masih gelap padahal, tapi orang-orang itu begitu bersemangat pada hari pertama bekerja.

Sempat Nina bertanya, kapan mereka datang. Seingatnya, sebelum dirinya tidur. Nina masih sendirian di rumah yang mereka sebut sebagai mansion. Jawaban mereka bervariasi, Ada yang datang dari jam sepuluh malam, sebelas malam hingga paling terakhir datang pada pukul tiga dini hari.

Tentu jam segitu, Nina sudah terlelap dan bangun tepat pukul tiga dini hari untuk melaksanakan ibadah sepertiga malam terakhir.

Lalu suami kontraknya, sempat mengatakan akan bekerja sepanjang malam untuk melakukan rapat virtual dengan para bawahannya dari berbagai negara di ruang kerja pria itu. Nina tentu tau di mana letaknya, Rama memberitahunya kemarin.

"Cup ... Pagi ... Sayang ..."

Perbuatan Ammar membuat Nina terkejut. Dia mengusap jilbabnya yang tadi dikecup pria itu. Nina mendesis sebal, rasanya tak nyaman didekati pria beristri.

"Kalau ada sarapan yang kamu inginkan, kamu bisa beri tahu Bibi Tuti." Ammar mengedikan dagunya kearah perempuan dengan penampilan rapih kemeja dan rok selutut serba hitam, serta celemek berwarna putih di pinggang.

Nina memaksakan senyumnya, dia terpaksa bangkit menghampiri perempuan bernama Tuti yang berdiri di sisi meja yang berseberangan dengannya. Nina menyalami, dan tak lupa menyembuhkan namanya. Walau mood-nya mulai kurang bagus beberapa saat yang lalu, sebagai bentuk kesopanan. Dia melakukan hal tersebut.

Nina kembali duduk dan mendengarkan penjelasan dari Tuti yang mengaku sebagai mantan pengasuh Ammar sejak bayi. Dengan kata lain, Tuti adalah mantan Tenaga Kerja Wanita Indonesia di negara asal Ammar.

Intinya sekarang Tuti akan melayani istri serta calon anak mantan tuan mudanya. Mendengar itu, sontak Nina memegangi perut dibalik jilbab ungu tua yang dikenakannya.

Satu tanda tanya cukup besar di dalam kepala Nina. Bukankah dirinya hanya istri kontrak, Kenapa diperlakukan seolah Nina adalah istri Ammar sebenarnya?

Nina mengelus kembali perutnya yang membuncit. Sebenarnya malas sekali mendengar penjelasan tentang masa kecil suami kontraknya. Menurutnya tidak ada untungnya buat dia, toh kurang dari setahun Ammar akan menjatuhkan talak padanya. Jadi untuk apa repot-repot tahu-menahu latar belakang pria itu. Tapi demi menghormati orang yang lebih tua, Nina bersandiwara. Dia pura-pura tersenyum, tertawa dan bahkan terkejut.

Yang lebih membuatnya semakin heran, Ammar ikut menimpali dan banyak tertawa ketika Tuti mengungkit kenakalannya kala masih balita hingga menjelang masa remaja.

Dari penjelasan Tuti, Nina jadi tau kalau suaminya itu memiliki satu kakak perempuan yang bahkan sudah memiliki beberapa cucu. Jadi mengapa Ammar yang notabenenya sudah kepala empat, baru berpikir memiliki seorang pewaris?

Bagaimana dengan istri asli Ammar?

Apa perempuan itu, memiliki masalah kesehatan?

Tuti sama sekali tidak menyinggung soal sosok istri pertama Ammar, Leticia.

Lalu obrolan itu berakhir ketika Tuti dipanggil oleh salah satu pekerja dari dapur. Sepertinya sarapan sudah siap.

***

Nina tengah mengamati pekerja yang sedang menanam beberapa bibit sayur di kebun belakang rumah, tepatnya di samping kanan-kiri jalan menuju paviliun para pekerja.

Ini atas perintah Bibi Tuti, katanya nyonya rumah harus makan sayur organik agar sehat, begitu juga dengan janin yang dikandungnya.

Sementara Ammar, entah dimana keberadaan pria itu. Yang jelas tadi setelah olahraga di salah satu ruangan, Ammar pergi tanpa mengganti baju olahraganya.

"Silahkan kudapannya, Nyonya!" salah satu pekerja dapur yang masih terlihat sangat muda, menyajikan buah-buahan potong.

"Terima kasih." Gumam Nina, dia beranjak dari tempatnya berdiri menuju ayunan kayu. Di sebelahnya ada meja kecil untuk menaruh kudapan itu.

Nina mulai menikmati kudapan yang disajikan untuknya. Pikirannya mulai mengingat kapan terakhir ada yang memotongkan buah untuknya?

Orang tuanya? Mereka sudah meninggal.

Keluarganya? Memangnya, Nina masih punya keluarga?

Bukankah ketika orang kekurangan, bahkan cenderung miskin. Saudara akan menjauh sejauh-jauhnya. Malu mungkin mengakui.

Sejak memutuskan bercerai, Nina yang kala itu adalah korban. Justru disalahkan. Mereka mengatainya karena tidak bisa mengurus diri padahal masih belia, sehingga ayah si kembar bosan dan berakhir berselingkuh darinya.

Sialnya, saudaranya tak ada satupun membelanya. Nina seorang diri, menghadapinya cemoohan. Dianggap istri tidak bisa mempertahankan suaminya.

Mata cokelatnya mulai berkaca-kaca, hanya karena potong-potongan buah yang diberikan pekerja dapur. Untungnya, saat ini hanya dirinya yang ada ditempat. Semua pekerja sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Mulai merasa lelah, Nina bangkit usai menghabiskan potongan-potongan buah itu. Dia mulai merasa lelah.

"Nyonya ..."

Nina yang hendak memencet tombol buka elevator, mengurungkan niatnya. Ketika Tuti datang menghampirinya. "Ada apa, Bi?" Keningnya berkerut.

"Kapan anda akan memeriksakan kehamilan?" Walau sudah menginjak kepala enam, Tuti masih terlihat energik. "Saya akan meminta supir mengantarkan anda." Tambahnya.

Nina berpikir sejenak, dia sedang berusaha mengingat jadwal kontrol satu bulan sekali di rumah sakit tak jauh dari Penthouse. Dia juga pernah mengunjungi bidan dekat kontraknya sekali. Jadi kemana sebaiknya Nina pergi nanti?

Tapi bukankah sebaiknya dia sendiri saja? Sepertinya Nina tak ingin mereka tau, jika janin yang dikandungnya adalah kembar.

"Tidak perlu, Bi! Saya bisa sendiri." Tolaknya mentah-mentah. "Saya akan istirahat, sekarang!" Nina memencet tombol di samping elevator dan langsung terbuka.

"Tapi nyonya ..." Tuti keberatan.

"Saya biasa sendiri." Nina tegas untuk ini. Dan pintu elevator tertutup, kepala pelayan itu belum sempat menanggapinya. Yang jelas terlihat raut wajah keberatan akan pernyataan Nina.

***

Seminggu setelah kepindahannya, jadwal Nina untuk kontrol. Dia ingat harus mengunjungi dokter di rumah sakit tempatnya pertama kali memeriksakan kehamilannya.

Pagi-pagi sekali Nina sudah bersiap, karena jarak rumah ini menuju rumah sakit cukup jauh. Dia tak membicarakan jadwalnya ini pada siapapun, dan memang tak ingin mereka tau.

Seminggu tinggal bersama pekerja, Nina tau mereka terutama Tuti pasti akan sangat cerewet. Jadi lebih baik, dia pergi diam-diam.

Nina menyembunyikan dompet dan buku merah muda miliknya dibalik jilbab besar yang dikenakannya. Banyak sekali keuntungan mengunakannya. Selain besarnya perut, dia juga bisa menyembunyikan barang seperti sekarang.

Nina beralasan ingin pergi jalan-jalan ke taman komplek, tentu saja Tuti meminta dua pekerja mengikutinya. Seperti yang sudah-sudah. Ini bukan pertama kali Nina izin keluar, mungkin ini yang ketiga kalinya dalam seminggu. Dia beralasan ingin melihat aktivitas orang-orang. Jadi sebuah PR untuknya, agar membuat dua pelayan itu lengah.

Suasana Taman pagi itu cukup ramai, walau ini bukan hari libur. Sepertinya ada anak-anak TK sedang bermain di sana, sehingga pada ibu-ibu pun menjaga mereka. Bersama guru tentunya.

"Mbak Ro, bisa saya minta tolong belikan jus buah naga di ujung jalan sana?" Pintanya pada pelayan yang lebih muda darinya. Sepertinya berusia setahun lebih tua dari si kembar. Nina memanggilnya dengan sebutan 'mbak', sebagai bentuk menghargai.

Rosa nama pelayan berkaus hijau itu, menurut. Tuti sudah memberinya uang untuk jajan Nyonya besarnya. Lalu tersisa Ida bersama Nina.

Keduanya duduk di bangku taman, secara berdampingan. Nina yang mempersilahkan. Dia bukan majikan sombong yang menjaga jarak dengan pekerjanya. Nina ingat dari mana dirinya berasal.

"Teh ... Kok saya pengen makan telur gulung ya?" Nina sengaja mengelus perutnya. Kali ini di luar jilbabnya. "Kayaknya saya ngidam deh!" tentu ini sebuah kebohongan. Dalam hati Nina meminta maaf pada anak-anaknya.

"Tapi nyonya, Bu Tuti melarang saya untuk membeli itu. Kata beliau, soal jajanan biar koki yang akan memasak."

Tuti berpesan, hanya boleh membeli makanan di toko atau stand. Bukan dari pedagang kaki lima.

"Saya mau sekarang, Teh!" Nina merengek. "Teteh mau, kalau anaknya Tuan Ammar ileran?"

Seminggu ini, Nina mengamati perilaku para pekerja di rumah. Dia tau perempuan berambut ikal itu, begitu mempercayai mitos.

"Baiklah Nyonya! Tapi mohon jangan adukan pada Bu Tuti, atau saya akan dalam masalah."

Nina tersenyum dan menunjukkan jempolnya.

Begitu Ida meninggalnya seorang diri. Dengan langkahnya yang cepat, Nina setengah berlari menuju tukang ojek yang sudah menantinya. Tadi ketika memesan jus pada Rosa, dia membuka aplikasi hijau untuk memesan ojek online. Nina sudah banyak belajar, tentang ponsel pintar pemberian Damian.

Urusan dua pelayanannya, biar dipikirkan nanti. Andai mereka mendapatkan hukuman, Nina pasti akan membelanya.

Dan disinilah Nina sekarang, mengantri bersama ibu-ibu lainnya. Hampir semua diantarkan oleh suami masing-masing, mungkin hanya dirinya yang datang sendirian.

Nina diam, sama sekali tak ingin diajak berbincang oleh mereka. Dia membangun batas, begitu ada yang menyapanya. Nina hanya ingin kehidupan pribadinya tak diketahui.

Ketika namanya dipanggil, Nina mengembuskan napas lega. Setidaknya urutannya tak terlalu buncit, sehingga bisa bertemu dokter lebih cepat.

Setelah berbincang soal keluhan yang terjadi selama sebulan kebelakang, dokter mempersilahkannya menuju ranjang pemeriksaan. Di sana sudah ada alat untuk melihat keadaan anak-anak di dalam rahimnya.

Tertera dua kantong yang telah berkembang dibandingkan bulan lalu. Nina mendengarkan dengan seksama, penjelasan dari dokter tentang kondisi kehamilannya.

Intinya kandungannya sehat, dan tak ada masalah apapun. Lega rasanya mendengarnya.

Dokter kembali memberikan vitamin dan beberapa wejangan untuknya. Ketika mereka kembali duduk berhadapan, terhalang meja.

Nina berterima kasih dan undur diri. Dokter mengingatkannya untuk membuat jadwal pemeriksaan bulan depan.

Begitu Nina membuka pintu, mata cokelatnya melebar. Dia terkejut dengan adanya sosok di hadapannya.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!