Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 (twenty one)
Jakarta di tengah malam terlihat seperti lautan lampu yang tak berujung, namun bagi Ratna, kota ini hanyalah sebuah medan perang yang penuh dengan titik buta. Mereka tidak menggunakan helikopter untuk kembali terlalu mudah dilacak. Sebaliknya, mereka menggunakan speed boat nelayan yang melaju kencang menembus ombak Teluk Jakarta, mendarat di pelabuhan tikus dekat kawasan industri.
"Teguh, periksa amunisi. Kita hanya punya satu kesempatan," ujar Ratna sambil mengenakan rompi taktis hitam yang ia ambil dari simpanan lama di Pangkalan 09.
Gedung Agro Santara berdiri angkuh di pusat bisnis Jakarta, sebuah menara kaca 50 lantai yang dijaga oleh pasukan Black Cobra di setiap sudutnya. Di lantai paling atas, di bawah lampu neon yang menyilaukan, Siska menunggu.
(Infiltrasi: Jalur Bawah Tanah)
"Hendra, kau masih di sana?" Ratna berbisik melalui mikrofon tenggorokan.
"Selalu, Bu. Saya sudah mematikan sistem alarm di Sektor Parkir B-3 selama 60 detik. Begitu kalian masuk, saya akan membekukan lift logistik. Kalian harus memanjat lewat lorong kabel," suara Hendra terdengar stabil meski ada nada tegang.
Ratna dan Teguh bergerak seperti bayangan. Mereka masuk melalui saluran pembuangan limbah gedung mengingatkan Ratna pada pelarian mereka di Semarang. Namun kali ini, mereka tidak merangkak untuk kabur, mereka merangkak untuk menyergap.
Saat mencapai lantai 45, tempat "Gudang Hitam" berada, suasana berubah menjadi steril dan sunyi. Dinding-dindingnya terbuat dari baja tahan ledakan.
"Bu, lihat itu," Teguh menunjuk ke arah pintu kaca besar.
Di dalam sebuah ruangan kedap suara, Bagas duduk di kursi medis dengan selang infus menempel di lengannya. Wajahnya pucat, namun matanya tetap terbuka, menatap kosong ke langit-langit. Di sampingnya, Siska sedang memeriksa data di tabletnya, ditemani oleh Jenderal Arman yang tampak gagah dengan seragam kebesarannya.
Brak!
Ratna meledakkan pintu akses menggunakan thermal paste. Ia melangkah masuk dengan tenang, senapan serbu tersampir di bahunya, namun matanya hanya tertuju pada satu orang: Jenderal Arman.
"Jenderal," sapa Ratna dengan nada yang sangat formal, seolah-olah ia masih berada di barak militer masa lalunya. "Saya tidak menyangka pria yang dulu bersumpah setia pada panji negara kini menjadi pelayan organisasi kriminal."
Arman tertawa kecil, suara beratnya menggema di ruangan itu. "Ratna, atau siapa pun jiwa yang ada di dalam tubuh itu... dunia ini tidak butuh pahlawan. Dunia ini butuh keteraturan. Dan Sangkala memberikan keteraturan itu lewat seleksi genetik. Yang kuat memimpin, yang lemah... dieliminasi."
"Dan anak itu? Bagas? Dia dianggap lemah hanya karena dia lahir di hutan?" tanya Ratna, tangannya perlahan mendekati detonator digital di saku rompinya.
"Dia adalah subjek tes yang sempurna," sela Siska dengan senyum kemenangan. "Darahnya murni, belum terkontaminasi oleh polusi kota. Gennya akan menjadi dasar dari virus Project Hydra."
"Sudah cukup bicaranya," sahut Ratna dingin. "Teguh, ambil Bagas!"
Pertempuran pecah. Teguh melepaskan tembakan pengalih perhatian ke arah lampu ruangan, mengubah suasana menjadi remang-remang. Ratna menerjang ke arah Siska dengan gerakan bela diri yang sangat cepat perpaduan antara kelincahan tubuh wanitanya dan teknik membunuh militer kuno.
Duak!
Tendangan Ratna mendarat telak di dada Siska, namun Siska jauh lebih kuat dari kelihatannya. Ia menggunakan sepasang tongkat listrik untuk menangkis serangan Ratna. Di sisi lain, Jenderal Arman mengeluarkan pistol berlapis emasnya, mengincar kepala Ratna.
"Sekarang, Hendra! Aktifkan pemancar!" teriak Ratna.
Di atas meja kontrol, liontin perak milik Sarah yang sudah dihubungkan ke sistem utama mulai bersinar biru. Angka hitung mundur muncul di semua layar di seluruh gedung:
05:00.
"Hentikan sinyal itu!" teriak Arman panik. Ia tahu jika sinyal itu terkirim, seluruh kekaisaran Sangkala akan runtuh dalam semalam.
Pasukan Black Cobra mulai menyerbu masuk ke ruangan. Ratna dan Teguh kini terkepung di tengah-tengah ruang kontrol yang sempit. Ratna menarik Bagas dari kursi medis, melindunginya di balik meja baja sementara peluru berseliweran di atas kepala mereka.
"Ibu... kau datang," bisik Bagas lemah.
Ratna mengusap kepala bocah itu sekejap. "Jenderal tidak pernah meninggalkan prajuritnya, Bagas. Tetaplah merunduk."
Siska melompat melewati meja, mencoba meraih liontin itu. Namun Ratna lebih cepat. Ia menangkap tangan Siska, memutarnya dengan paksa hingga terdengar bunyi tulang patah. Siska menjerit, namun amarahnya justru membuatnya semakin buas. Ia menghantamkan kepalanya ke wajah Ratna, membuat Ratna terhuyung.
[01:30...]
"Tinggal satu setengah menit!" teriak Teguh yang kini beradu fisik dengan dua penjaga.
Tiba-tiba, suara Sarah terdengar melalui sistem pengeras suara gedung. Rupanya Hendra telah meretas jalur audio. "Ratna, kau harus mengaktifkan protokol terakhir. DNA-mu adalah kuncinya. Letakkan tanganmu di atas scanner itu!"
Ratna melihat scanner genetik di samping liontin. Jika ia melakukan itu, datanya akan terkirim, namun sistem keamanan gedung akan meledakkan ruang kontrol sebagai protokol "penghancuran diri" otomatis.
"Bu! Jangan lakukan itu!" teriak Teguh yang melihat indikator merah menyala di dinding.
Ratna menatap Bagas, lalu menatap ke arah Jakarta di luar jendela kaca yang pecah. Ia tersenyum tipis senyum seorang jenderal yang siap untuk pengorbanan terakhir.
"Teguh, bawa Bagas keluar lewat jalur kabel. Ini perintah!"