Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Bodoh
Malam itu, Stasiun Gambir mulai mendingin, namun sisa-sisa kegaduhan sore tadi masih membekas di benak setiap orang. Bagi Rea, setiap langkah yang ia ambil menuju pintu keluar terasa seperti berjalan di atas panggung di mana semua lampu sorot mengarah padanya. Ia merasa semua petugas keamanan dan staf stasiun yang berpapasan dengannya memberikan senyum yang bermakna ganda.
"Mas Kadewa, AWAS!"
Suara itu seolah masih memantul-mantul di dinding lorong stasiun, mengejek Rea yang kini menunduk dalam-dalam sambil mempercepat langkah menuju area parkiran stasiun.
“Hoi.”
Satu panggilan ringan membuatnya refleks berhenti.
Rea menoleh dan mendesah kecil.
Maya berdiri beberapa langkah di depannya, sudah berganti jaket tipis di luar seragam, ID card masih menggantung di leher. Di sampingnya ada Dimas dengan wajah yang tampak siap meledeknya.
"Mau pulang bareng kita gak, Re?" Tanya Maya dengan senyum tipis yang tampak polos di permukaan, tapi penuh arti di baliknya.
Rea menoleh singkat. "Gak, aku udah pesen taksi online, kayaknya udah sampai di depan. Aku mau cepet-cepet balik. Udah capek banget."
“Capek kerja,” sambung Dimas cepat, lalu mencondongkan badan sedikit, “atau capek jadi announcer viral internal satu stasiun?”
Rea langsung menatapnya. “Dimas.”
“Eh, aku kan nanya baik-baik,” Dimas mengangkat kedua tangan, pura-pura merasa terancam. “Soalnya jarang banget, loh, dengar suara announcer Gambir naik satu oktaf dan manggil nama orang pakai… panggilan personal.”
Maya terkekeh pelan. “Personal banget malah.”
Rea mendengus, lalu melangkah lagi, berharap godaan itu berhenti. Sayangnya, dua rekannya justru menyamai langkahnya.
“Tenang aja, Re,” lanjut Maya santai. “Nggak ada yang nge-judge. Justru… salut.”
“Salut?” Rea berhenti dan menoleh heran.
“Ya iya,” kata Dimas tanpa dosa. “Baru kerja bareng dua hari, eh udah cinlok aja.”
Maya dan Dimas langsung tertawa lepas, jelas menikmati momen itu, terutama saat melihat wajah Rea yang semakin memerah, nyaris senada dengan lampu peron.
“Beneran, kan,” Dimas masih tertawa. “Kalian ada sesuatu. Atau memang udah cinlok. Lihat tuh pipimu. Merah banget.”
“Cie…” Maya menimpali panjang, sengaja menyenggol lengan Rea beberapa kali dengan suaranya sengaja dibuat menggoda. “Rea. Ciee…”
Hais, apa lah orang berdua ini.
Belum sempat Rea membalas, Dimas sudah menirukan suara pengumuman dengan dramatis. Ia menegakkan badan, mengangkat tangan seolah memegang mikrofon.
“Mas Kadewa, AWAS!”
Nada paniknya dibuat persis seperti suara Rea siang tadi.
Sedetik hening, lalu tawa mereka pecah bersamaan, lebih keras, lebih puas.
Benar-benar rekan kerja jahanam.
Namun tawa itu terhenti mendadak begitu mereka tiba di area parkiran.
Bukan karena lelah.
Bukan karena sadar kelewatan.
Melainkan karena seseorang sudah berdiri di sana.
Kadewa.
Pria itu sudah berdiri di samping mobil SUV hitamnya, menyandarkan punggung pada kap mesin dengan tangan bersedekap. Ia sudah membuka kemeja dinasnya menyusahkan kaos dalaman Jersey berwarna army yang melekat ketat, menonjolkan hasil latihan kerasnya sebagai anggota Kopaska.
Pandangan Kadewa terangkat tepat saat mereka berhenti melangkah.
Dan dua sudut bibirnya mengembang begitu saja dengan mudah.
“Udah pulang, Re,” ucapnya ringan. “Yuk, bareng.”
Rea menelan ludah.
Kalau saja tanah parkiran itu bisa membuka diri, ia tak akan ragu menghilang saat itu juga.
Di sampingnya, Maya dan Dimas saling melirik, senyum mereka merekah penuh arti.
Baru saja mereka menggoda Rea.
Dan kini, semesta seolah ikut mengiyakan semua godaan itu.
"Aku bisa pulang sendiri, Pak Letnan. Aku mau pulang bareng mereka, taksi online kami juga kayaknya udah mau sampai," Dusta Rea meluncur rapi.
Setidaknya menurut versinya sendiri.
"Hah? Bareng kita?" Maya menoleh, memasang wajah bingung yang dibuat-buat.
Dimas ikut menyahut tanpa ragu. "Lah, enggak. Tadi kan kamu bilang mau pulang sendiri. Aku jadi sama Maya doang, lagian kosan kita juga searah. Taksi kita juga udah di parkiran timur, bukan di sini."
Rea melirik mereka tajam.
Kompak banget sih ni orang berdua jadi pengkhianatnya.
Benar-benar gak bisa di ajak kerja sama.
Kadewa yang mendengar itu hanya menaikkan satu alisnya, lalu tersenyum miring, jenis senyum yang membuat Rea tahu bahwa pria itu sedang memenangkan peperangan ini tanpa perlu menembakkan satu peluru pun.
"Tuh, denger kan? Temenmu searah, kita juga searah meskipun beda tujuan," ucap Kadewa santai. Ia melangkah mendekat, aura militernya yang kuat membuat Maya dan Dimas otomatis memperbaiki posisi berdiri mereka, sedikit lebih tegak karena rasa hormat refleks pada seragam yang di kenakan pria itu, walau sekarang hanya pakai Jersey saja.
"Duluan ya, Pak Letnan! Re, sukses ya koordinasi lanjutannya!" Dimas memberi hormat main-main, lalu menarik lengan Maya untuk segera kabur sebelum Rea sempat melempar tasnya ke arah mereka.
Jangan sampai Rea ngamuk.
"Daaah, Re! Pak Kadewa, titip ya!" teriak Maya sambil tertawa cekikikan di kejauhan.
Kini, hanya tersisa Rea dan Kadewa di area parkiran yang mulai sepi. Suara jangkrik di sela-sela beton stasiun dan deru kendaraan di kejauhan menjadi latar belakang keheningan yang canggung.
"Masuk, Re. Kayaknya udah mau hujan," perintah Kadewa.
Tapi Rea tetaplah Rea.
"Aku bisa pulang sendiri. Taksiku kayaknya udah datang," keukuhnya. Pokoknya hari ini ia tak boleh kalah.
"Dimana?" Kadewa menoleh kesana kemari mencari taksi yang di maksud Rea.
Rea menjadi salah tingkah dan gugup. Masalahnya dia pun tidak tahu taksinya yang mana dan malah saat mengecek ponselnya, pesan dari sopir taksi masuk meminta maaf kalau dia akan sampai lama karena sedang kejebak macet.
Lantas karena tak mendapat jawaban, Kadewa menghela nafas dan menegakkan tubuh. "Taksimu mungkin nyangkut karena macet, ini jam pulang kerja. Dan... Apa kamu lupa kalau aku udah janji sama Pram untuk jaga kamu. Masuk, Re. Jangan bikin aku lapor ke Mas mu kalau adiknya susah diatur."
Hais, ini manusia atau cenayang, sih? Tahu aja kalau taksinya kejebak macet.
Apa lagi itu pakai ngancem-ngancem.
Tapi jujur Rea cukup takut.
Takut di seret pulang ke Surabaya.
Rea menghela napas panjang dan dengan langkah gontai, ia berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, aroma maskulin Kadewa kembali menyergapnya, aroma yang mulai ia hafal luar kepala, meskipun ia benci mengakuinya.
Mobil SUV itu meluncur membelah jalanan Jakarta yang memang cukup padat karena jam pulang kerja. Selama sepuluh menit pertama, tidak ada yang bicara. Rea hanya menatap lampu-lampu jalanan yang berpendar di kaca jendela seolah-olah itu adalah hal paling menarik di dunia.
"Laper nggak?" tanya Kadewa santai, memecah kesunyian.
"Nggak," jawab Rea cepat.
"Boong," sahut Kadewa enteng. "Suara perut nggak bisa di mute pakai tombol kayak mikrofon di ruanganmu tadi, Re."
Rea mendengus pelan, tapi tetap tidak menoleh. "Aku mau langsung pulang."
Kadewa tidak mendebat, ia justru menyentuh layar audio mobilnya. Sebuah melodi piano mulai mengalun lambat, mengisi kabin dengan nuansa melankolis yang kental.
Lagu Ada Band – Manusia Bodoh.
Berputar disana.
Suara musik itu memenuhi ruang sempit di antara mereka. Vokal Donnie Sibarani masuk ke bait pertama.
Dahulu terasa indah... tak ingin dilupakan... bermesraan selalu jadi satu kenangan manis...
Kenangan manis itu seperti racun yang merayap di ingatan Rea. Masa di mana ia selalu menatap pria yang ia anggap sebagai pusat semestanya, mencurahkan satu nama sampai penuh di dalam buku diarynya, tertawa karena candaan pria itu, dan merasa dunianya indah selama yang menempati adalah orang yang tengah menyetir di sampingnya.
Tiada yang salah... hanya aku, manusia bodoh... yang membiarkan semua ini permainkan ku berulang kali...
Rea meremas tali tasnya semakin kuat. Entah mengapa lirik lagu itu seolah menampar wajahnya.
Bukankah dia memang manusia bodoh?
Dia yang membiarkan perasaannya tumbuh liar untuk pria yang hanya menganggapnya adik kecil. Dia yang membiarkan harapan-harapan semu mempermainkan hatinya selama bertahun-tahun.
Kadewa yang tetap fokus pada kemacetan Jakarta, sesekali mengetuk setir mengikuti irama, sama sekali tidak sadar bahwa setiap bait lagu yang di putarnya itu adalah belati bagi wanita di sampingnya.
Lalu, bagian reff yang sangat menyakitkan itu terdengar, memenuhi setiap sudut mobil yang sempit.
Mencoba bertahan hidup hati... layaknya karang yang dihempas sang ombak... jalani hidup dalam buai belaka... serahkan cinta tulus di dalam takdir...
Dada Rea terasa sesak, seolah pasokan oksigen di dalam mobil itu habis. Ia ingat bagaimana ia mencoba bertahan hidup di Jakarta selama tujuh tahun ini, mencoba menjadi karang yang kokoh agar tidak hancur saat mengingat masa lalu. Tapi kenyataannya, dia hanya menjalani hidup dalam buai belaka, berpura-pura sudah sembuh padahal hatinya masih porak-poranda.
Tak ayal tingkah lakumu buatku putus asa... kadang akal sehat ini tak cukup membendungnya...
Rea memejamkan mata erat, namun air mata yang ia tahan mulai mendesak keluar. Lirik itu sangat akurat. Tingkah laku Kadewa, kebaikan pria itu, perhatiannya, dan bahkan kehadirannya yang tiba-tiba di Jakarta, membuatnya putus asa. Akal sehat Rea menyuruhnya lari, tapi hatinya justru tak sanggup membendung rasa sakit yang datang tiba-tiba.
Hanya kepedihan yang lalu tiba-tiba datang padaku... dia jiwa... tega menari indah di atas tangisanku...
Bait itu adalah puncaknya. Dia jiwa yang dimaksud Rea adalah sosok Kadewa tujuh tahun lalu. Pria yang dengan bahagianya berpelukan dan berciuman dengan Nadin di depan AAL, sementara tidak jauh dari keduanya saat itu, Rea menangis sendirian melihat dunianya runtuh. Kadewa menari indah dengan cintanya, tanpa pernah tahu bahwa di detik yang sama, dunia yang Rea bangun hancur lebur sepenuhnya.
"Lagunya dalam juga ya," komentar Kadewa tiba-tiba, suaranya membelah melodi sedih itu. "Tentang seseorang yang terlalu tulus sampai akhirnya malah tersiksa sendiri."
Rea tidak menjawab. Ia justru memalingkan wajah sepenuhnya ke arah jendela, menempelkan keningnya pada kaca yang dingin agar Kadewa tidak melihat matanya yang sudah berkaca-kaca.
Tapi sampai kapankah ku harus menanggungnya? Kutukan cinta ini...
"Pak Letnan..." suara Rea terdengar serak, hampir pecah.
"Ya?" Kadewa melirik kecil.
"Bisa matikan lagunya? Berisik," ketus Rea, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak gemetar.
Kadewa mengernyit heran, namun ia tetap meraih layar monitor mobil dan mematikan audionya. Kabin itu mendadak sunyi senyap, meninggalkan gema lirik terakhir yang seolah masih berputar-putar di kepala Rea...
Kutukan cinta ini... bersemayam dalam kalbu.
“Kenapa, Re?” tanya Kadewa pelan. “Kamu nggak suka lagunya, atau…”
Ia menggantung kalimatnya, membaca perubahan suasana di antara mereka.
“…atau liriknya terlalu mirip sama kisah asmaramu?”
Rea tertawa kecil, tawa getir yang kering.
“Mas Kadewa kebanyakan mikir. Aku cuma capek. Aku mau tenang sampai apartemen.”
Kadewa terdiam sejenak. Pandangannya jatuh pada profil samping wajah Rea yang tampak lebih dewasa dan keras dibanding tujuh tahun lalu. Rasa penasaran yang sejak kemarin menghantuinya kini semakin menuntut jawaban.
“Kenapa kamu pindah ke Jakarta, Re?” tanyanya tiba-tiba, dengan suara rendah.
Rea sedikit tersentak, lalu kembali menguasai diri. “Cari suasana baru. Memangnya kenapa lagi?”
“Pram bilang tujuh tahun lalu kamu sampat mau masuk universitas Airlangga, biar dekat sama orangtua," Lanjut Kadewa. "Setahu ku kamu memang kayak gitu, kamu itu tipe yang nggak bisa jauh dari keluarga. Kenapa nekat merantau sejauh ini?"
Rea menatap jendela. Tertawa kecil yang cukup pahit di telinganya sendiri. “Orang tumbuh dewasa, Pak. Rasa nyaman di rumah itu ada masanya habis. Aku cuma mau tempat di mana aku bisa berkembang dan mandiri.”
Atau tempat di mana aku nggak perlu lihat kamu gonta-ganti perempuan yang bagi kamu cuma buat have fun, tambahnya dalam hati.
“Mandiri,” ujar Kadewa pelan, “atau lari?”
Kalimat itu menghantam tepat sasaran.
Rea menoleh tajam. Ada luka yang belum sembuh di matanya.
“Kenapa Mas Kadewa sok tahu banget, sih?”
Kadewa tidak langsung menjawab.
Ia tetap menatap jalanan di depan, kedua tangannya mantap di setir. Lampu merah memantul di kaca depan, memberi semburat merah pada rahangnya yang mengeras.
Mobilnya berhenti bergerak.
“Aku nggak sok tahu,” ucapnya akhirnya, tenang tapi berat. “Aku cuma ngerasa kamu nggak lagi lari ke sesuatu, Re. Tapi kamu lari dari sesuatu.”
Rea terkekeh pendek. “Wah, analisisnya dalem banget. Kanapa Pak Letnan gak jadi psikolog aja?”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Kadewa menghela napas pelan.
"Tapi itu benar kan?" tanya Kadewa pelan tak menjawab pertama Rea.
"Apa lagi waktu kamu tiba-tiba blokir nomor aku tanpa alasan, aku pernah tanya ke Pram. Tapi Pram juga gak tahu apapun soal itu. Malah dia mikir aku yang buat salah sama kamu. Apa iya? Apa memang aku punya salah di masalalu, Re? Atau di Bumi Moro tujuh tahun lalu, waktu kamu nganter berkas ku disuruh Pram, kamu bukan kesasar. Tapi... terjadi sesuatu yang aku nggak tahu dan itu berhubungan sama aku?"
Deg!
Jantung Rea seolah berhenti berdetak mendengar nama tempat itu disebut. Bumi Moro. Nama tempat yang selama tujuh tahun ini ia hapus dari peta ingatannya, kini diucapkan Kadewa dengan nada yang begitu intimidatif.
Rea meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berusaha keras menjaga napasnya agar tidak terdengar memburu.
"Pak Letnan terlalu banyak nonton film detektif," sahut Rea, suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Aku memang tersesat sore itu. Hujan deras, aku nggak tahu jalan ke AAL, dan hp ku mati. Itu aja. Jangan membuat narasi seolah-olah ada drama besar di balik keteledoranku."
Kadewa tidak melepas pandangannya dari jalanan, tapi rahangnya mengeras. "Kalau memang cuma karena tersesat, kenapa reaksimu setelah hari itu seolah aku ini wabah penyakit? Kamu menghilang, blokir semua akses, bahkan nggak mau datang ke acara pelantikanku. Dua kali Rea, dua kali."
Rea tertawa getir. Matanya mulai memanas namun ia menolak untuk menangis di depan pria ini.
"Terus kalau iya, kenapa?" Ia akhirnya menoleh penuh, menatap Kadewa tanpa sisa basa-basi.
“Kalau aku menghilang, kenapa? Kalau aku ngeblokir, kenapa? Kalau aku nggak datang ke acara pelantikan Mas, kenapa?” Suaranya naik, tertahan, tapi tajam.
“Apa hubungannya?! Mas juga bukan siapa-siapa aku. Bukan saudara. Bukan Mas ku.” Dadanya tampak naik turun. “Kenapa itu mengganggu, Mas?!”
Deg!
Kadewa membeku.
Benar-benar diam.
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantamnya tanpa memberi ruang untuk menghindar. Otaknya kosong. Tak ada jawaban yang siap ia ambil.
Rea benar.
Kalau pun Rea menghilang darinya, memangnya kenapa?
Kalau Rea memblokirnya, memangnya apa haknya keberatan?
Ia bukan kakaknya seperti Pram.
Bukan saudara.
Ia bukan siapa-siapa.
Lalu kenapa sikap cuek dan jutek Rea setelah tujuh tahun tak pernah bertemu itu terasa begitu sangat mengganggunya?
Kenapa jarak itu terasa seperti hukuman?
Kenapa ia merasa… kehilangan sesuatu karena itu?
Kadewa menelan ludah. Mobil tetap melaju, tapi di dalam dirinya, sesuatu berhenti bekerja.
Kadewa pun tidak tahu kenapa semua ini mengganggunya.
Mungkin karena selama ini ia sudah menganggap Rea seperti adik sendiri, seseorang yang harus ia jaga, ia pastikan baik-baik saja.
Namun kini, melihat Rea menolak label itu dengan begitu tegas, membuatnya sadar akan satu hal yang jauh lebih tidak nyaman, ia tidak siap jika Rea benar-benar menarik garis… dan menempatkannya di sisi yang sama sekali asing.
"Karena aku nggak suka ditinggal tanpa penjelasan, Re," jawab Kadewa akhirnya, suaranya kini lebih rendah, lebih parau. "Aku prajurit. Aku lebih suka menghadapi musuh yang nyata daripada harus menerka-nerka kesalahan apa yang aku buat sampai orang yang paling aku jaga tiba-tiba menganggapku musuh."
Rea memalingkan wajah kembali ke jendela. Air matanya kini benar-benar jatuh, mengalir tipis di pipinya, namun ia segera menghapusnya dengan punggung tangan sebelum Kadewa sempat melihat.
"Jangan merasa jadi pahlawan, Pak. Aku nggak pernah minta dijaga," desis Rea pelan.
Keheningan kembali menyelimuti. Mobil SUV itu akhirnya memasuki lobi apartemen Rea. Sebelum Rea sempat membuka pintu, Kadewa menekan tombol central lock, mengunci pintu mobil secara otomatis.
"Mas!" Rea menoleh marah.
"Bumi Moro, tujuh tahun lalu," ucap Kadewa tanpa menoleh, tak memperdulikan teriakan Rea, matanya menatap lurus ke depan. "Aku nggak tahu itu apa, tapi aku yakin kunci dari semua ini terjadi di sana. Ya kan, Re?"
Deg!
Rea membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut suaranya terdengar oleh Kadewa. Nama tempat itu seperti mantra terkutuk yang sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan yang ia bangun di Jakarta. Ia merasa seperti ditarik kembali ke sore yang basah itu, ke aroma tanah yang terkena hujan, dan ke rasa hancur yang pertama kali ia rasakan.
"Nggak ada kunci apa pun di sana," sahut Rea, suaranya bergetar namun ia berusaha membuatnya tetap tajam. "Aku cuma kesasar. Berapa kali aku harus bilang?"
Kadewa perlahan memutar tubuhnya, menatap Rea dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Kalau cuma tersesat, kamu nggak akan ngeliatku seolah-olah aku ini pelaku kriminal setiap kali kita ketemu sekarang. Ada sesuatu yang kamu liat, atau sesuatu yang kamu dengar sore itu di Bumi Moro, yang bikin kamu benci aku sampai tujuh tahun."
"Aku nggak benci Mas!" potong Rea cepat, terlalu cepat hingga terdengar seperti pengakuan. "Aku cuma... aku cuma mau hidup tenang. Buka pintunya, Mas. Aku mau turun."
Kadewa tidak bergerak. Jarinya masih berada di dekat tombol kunci. "Kamu lari ke Jakarta, kamu ganti nomormu, kamu menjauhi aku padahal kamu masih kontekan sama Jojo... itu bukan mau hidup tenang, Re. Itu namanya menghukum aku untuk kesalahan yang bahkan aku nggak tahu apa."
Rea tertawa getir, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos satu tetes di sudut matanya. "Kesalahan? Mas Kadewa nggak pernah salah. Mas itu sempurna. Mas itu kebanggaan semua orang. Yang salah itu aku. Aku yang terlalu bodoh karena dulu menganggap Mas—"
Kalimat itu menggantung. Terpotong. Tak sanggup dilanjutkan.
Karena bagaimana mungkin ia mengaku?
Bagaimana mungkin Rea mengakui bahwa bocah ingusan tiga belas tahun lalu itu pernah mencintai Kadewa sedalam itu, lalu hancur setelah enam tahun kemudian hanya karena satu sore di depan AAL. Karena satu pemandangan yang tak pernah ia siap lihat. Kadewa dan Nadin... Saling bercumbu mesra.
Kadewa menangkap jeda itu.
“Karena apa, Re?” desaknya pelan, tapi menusuk.
Rea menelan ludahnya kasar. Tangannya mengepal, meremas tali tas, lalu suaranya pecah.
“Buka pintunya! Aku mau turun!” ia memilih tak menjawab dan memilih kabur, tangisnya benar-benar pecah kali ini.
Kadewa menatap Rea yang kini sudah benar-benar hancur di depannya. Bahu gadis itu bergetar hebat, menahan tangis yang selama tujuh tahun ini ia paksa telan bulat-bulat. Melihat Rea seperti itu, ada rasa sakit asing yang menjalar di dada Kadewa, rasa sakit yang jauh lebih perih daripada luka tembak atau latihan fisik paling berat yang pernah ia lalui.
Perlahan, Kadewa menarik jarinya dari tombol kunci.
Klik!
Suara kunci yang terbuka terasa seperti garis pemisah yang kembali dipertebal. Tanpa menunggu sedetik pun, Rea membuka pintu mobil dan keluar. Ia berlari masuk ke dalam lobi apartemen tanpa menoleh lagi, membiarkan rintik hujan yang mulai turun membasahi kemeja putih yang ia kenakan.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣