“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
"Aku tidak bisa, Ayah. Elio baik-baik saja di sini. Dia punya segalanya di Milan." Jeremy memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut nyeri.
Bagaimana tidak, suara di seberang telepon sana terdengar begitu tenang, tapi memiliki otoritas yang sama sekali tidak bisa dibantah.
Joko, mertuanya, seorang ningrat dari Yogyakarta yang masih memegang teguh tradisi dan martabat keluarga.
"Segalanya? Uangmu mungkin punya segalanya, Jeremy. Tapi apakah anak itu punya detak jantung di rumahnya? Aku dengar laporan dari pelayan setiamu. Elio tumbuh tanpa sentuhan. Dia haus kasih sayang. Apa kau ingin membunuh mentalnya pelan-pelan seperti kau mengurung dirimu sendiri dalam duka?"
"Itu berlebihan, Ayah. Aku hanya sibuk," bantah Jeremy ketus.
"Sudah enam tahun, Jeremy. Stella sudah tenang di surga. Sekarang dengarkan aku, kalau kau tidak bisa menemukan ibu untuk Elio dalam waktu dekat, bawa Elio ke Jogja. Biar dia tinggal bersamaku di sini. Ada Ayu, adik tiri Stella, dia masih lajang dan sangat telaten. Ayu bisa menjaga Elio lebih baik daripada tumpukan uangmu itu."
Darah Jeremy mendidih mendengar ucapan Joko.
"Menikah lagi bukan solusi. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan Elio pergi ke Indonesia," ujar Jeremy.
"Kalau begitu, buktikan padaku kau bisa mengurusnya! Jika dalam sebulan tidak ada perubahan, aku sendiri yang akan terbang ke Milan dan menjemput cucuku secara paksa. Aku tidak mau peninggalan putriku hancur di tangan pria kaku sepertimu!" Joko memberi ultimatum.
Klik!
Sambungan terputus.
Jeremy membanting ponselnya ke atas meja kerja.
"Sial! Menikah, menikah, dan menikah! Apa mereka pikir mencari istri itu seperti membeli saham?" gerutunya frustrasi.
Bayangan Ayu, adik tiri mendiang istrinya yang lemah lembut namun membosankan di matanya, sama sekali tidak membantu.
Tiba-tiba, wajah Cahaya yang sedang marah-marah justru melintas di benaknya. Jeremy menggeleng kuat.
"Gila. Aku benar-benar sudah gila!"
*
*
Sementara itu, di depan gerbang sekolah yang ramai...
"Nah, jagoan. Kita sudah sampai. Belajar yang rajin ya?" Cahaya turun dari mobil dan merapikan kerah seragam Elio.
Elio tersenyum lebar, senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada Jeremy pagi ini.
"Iya, Mommy! Eh... maksud Lio, Kak Aya!" bocah itu tertawa kecil, lalu tiba-tiba berjinjit dan mencium pipi Cahaya dengan penuh kasih sayang. "Nanti Kak Aya yang jemput sama Kak Alvin lagi, kan?"
Cahaya memeluk Elio erat dan membalas kecupan di keningnya. "Iya, Sayang. Kak Aya janji. Sekarang masuk, ya?"
Elio melambaikan tangan dengan riang sampai menghilang di balik gerbang.
Alvino yang bersandar di pintu mobil, memperhatikan adegan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bangga, tapi lebih banyak rasa cemburu yang mengusik hatinya.
"Ay, kamu sadar tidak?" tanya Alvino saat Cahaya kembali ke mobil.
"Sadar apa, Vin?" Cahaya memasang sabuk pengaman, masih tersenyum mengingat tingkah lucu Elio.
"Kalian itu benar-benar seperti ibu dan anak kandung. Chemistry kalian itu keterlaluan untuk ukuran pengasuh dan majikan," ucap Alvino sambil menghidupkan mesin mobil. "Aku cemburu, Ay. Aku merasa kamu lebih banyak menghabiskan perasaanmu buat anak itu daripada buat aku belakangan ini."
Cahaya tertawa renyah, ia menjangkau pipi Alvino dan menariknya gemas.
"Aduh, pangeran aku ini mulai lagi deh! Jangan cemburu sama anak kecil, Vin. Itu namanya profesionalisme pekerjaan. Aku kan harus bikin dia nyaman."
"Profesionalisme tidak sampai pakai hati yang dalam begitu, Cahaya," gumam Alvino sambil menatap jalanan di depan. "Aku takut, lama-lama kamu bukan cuma sayang sama anaknya, tapi juga sama bapaknya."
Cahaya terdiam sebentar. Ia
teringat wajah frustrasi Jeremy di meja makan tadi. Entah kenapa, ada rasa nyaman yang aneh saat ia membela Elio, sebuah perasaan memiliki yang seharusnya tidak boleh ada.
"Nggak akan, Vin. Tuan Jeremy itu monster es, mustahil aku bisa nyaman sama pria kaku dan dingin begitu," sahut Cahaya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari ia meyakinkan Alvino.
"Tipeku kan kamu, yang nggak pernah bikin aku nangis," ucap Cahaya lagi.
Alvino hanya tersenyum tipis, tapi hatinya tetap tak tenang. Ia tahu Cahaya adalah gadis yang sangat tulus, dan ketulusan itu adalah hal paling berbahaya jika berhadapan dengan pria hancur seperti Jeremy Sebastian.
"Pokoknya janji ya, Ay. Selesai kontrak ini, kamu berhenti. Aku nggak mau kamu terlalu jauh masuk ke drama keluarga mereka," pinta Alvino.
"Iya, Alvin sayang, sekarang ayo buruan ke kampus, kita sudah hampir telat kelas Profesor Rossi!"
Mobil putih itu melaju, meninggalkan aroma stroberi dan tawa yang sayangnya tak bisa didengar oleh Jeremy, yang saat ini sedang menatap kosong ke arah jendela kamarnya, memikirkan ancaman mertuanya dan posisi Cahaya di hatinya.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭