NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Panggilan Kerja

Sudah beberapa hari Zivara tinggal jauh dari keluarga bibinya.

Meski kini hidup seorang diri, Vara justru merasakan kedamaian yang selama ini ia rindukan. Rumah kecil dan sederhana itu menjadi saksi bahwa akhirnya ia bisa bernapas lega, tanpa rasa takut, tanpa tekanan. Tak ada lagi kata-kata kasar yang harus ia dengar, tak ada lagi perintah yang memaksanya patuh dan menunduk diam.

Untuk pertama kalinya, Zivara merasa benar-benar bebas.

Sesekali, bayangan masa lalu memang masih menyelinap ke benaknya. Tahun-tahun yang dipenuhi luka, pengkhianatan, dan fitnah yang mengharuskannya pergi tanpa sempat membela diri. Namun Zivara memilih berdamai dengan semua itu. Luka tersebut ia simpan, bukan untuk melemahkan, melainkan sebagai pelajaran agar ia tumbuh lebih kuat dan mampu bertahan menghadapi hidup.

Pagi ini, saat sedang membersihkan rumah, ponsel Zivara tiba-tiba berdering.

Ia menghentikan kegiatan nya dan menatap layar ponsel. Sebuah nomor asing tertera di sana.

“Siapa ya?” gumam Vara ragu.

Hampir saja ia mengabaikan panggilan tersebut, sampai ingatannya melayang pada wawancara beberapa hari lalu. Asisten Om anak kecil yang tak sengaja ia temui, sempat mengatakan bahwa pihak perusahaan akan menghubunginya jika ia diterima bekerja.

Jantung Zivara berdegup semakin kencang. Ia berharap firasatnya kali ini tidak salah.

Dengan napas tertahan, Vara akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Halo… selamat pagi,” ucapnya pelan.

“Selamat pagi. Apakah benar ini dengan Nona Zivara Amaira?” tanya suara di seberang.

“Iya, saya sendiri,” jawab Zivara. Suaranya sedikit bergetar, tak mampu menyembunyikan ketegangannya.

“Kami dari Perusahaan Wisesa ingin menyampaikan bahwa Nona Zivara telah diterima bekerja di perusahaan kami.”

“Benarkah? Saya diterima?” tanya Vara, ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar.

Senyumnya mengembang sempurna. Matanya berkaca-kaca. Tidak menyangka jika ia diterima bekerja di perusahaan besar itu.

“Iya, Nona. Anda diterima. Mulai besok pagi, Nona sudah bisa mulai bekerja.”

“Ba-baik,” ucap Zivara terbata, suaranya sarat akan kebahagiaan. “Terima kasih banyak. Besok saya akan datang.”

Panggilan pun berakhir.

Zivara menatap ponselnya beberapa detik, seolah memastikan bahwa semua ini nyata. Lalu ia menengadah, senyum penuh syukur terukir di wajahnya.

“Terima kasih, Tuhan,” bisiknya lirih. “Kau benar-benar memudahkan jalanku.”

Semangat baru mengalir dalam dirinya. Zivara kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda dengan hati riang dan wajah cerah.

Setelah semuanya selesai, ia segera meraih ponselnya kembali untuk menghubungi Mona. Vara tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini.

Begitu Mona mengangkat panggilan, Vara langsung menyampaikan kabar gembiranya.

“Kabar baik, Mon,” ucap Zivara tak mampu menyembunyikan antusiasmenya. “Aku diterima kerja. Di Perusahaan Wisesa.”

“Serius? Syukurlah!” seru Mona di seberang. “Selamat, Vara. Aku ikut bahagia.”

“Terima kasih,” jawab Zivara tulus. “Ini benar-benar awal yang baru buat aku. Terima kasih juga, berkatmu aku bisa bekerja di sana.”

“Sama-sama. Aku hanya menyampaikan saja,” balas Mona. “Semua ini tidak lepas dari usaha kamu sendiri.”

Nada suaranya terdengar bangga. Mona tahu, masuk ke perusahaan itu bukanlah hal yang mudah.

“Besok aku sudah mulai masuk kerja,” kata Zivara penuh semangat. “Aku janji, gaji pertamaku nanti aku akan mentraktirmu.”

“Benar, ya. Aku tunggu janjimu,” ucap Mona tak kalah antusias.

Mereka tertawa bersama. Hati Vara dipenuhi kebahagiaan. Meski keluarganya tak lagi menganggap keberadaannya, Tuhan masih mengirimkan orang-orang baik dalam hidupnya.

Sedangkan Mona, ia pun turut bahagia. Bahagia karena bisa membantu sahabatnya bangkit dari masa sulit.

---

Zivara berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan napas tertahan.

Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang rapi, dipadukan dengan rok hitam selutut, serta sepatu pantofel hitam sederhana. Rambutnya ia ikat rendah agar terlihat profesional, sementara wajahnya hanya berikan sedikit riasan tipis. Sederhana, namun pantas untuk hari pertamanya bekerja di perusahaan besar.

Setelah yakin dengan penampilannya, Zivara meraih tas kerjanya dan melangkah keluar dari kamar.

Sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri untuk sarapan. Ia tak ingin hari pertamanya terganggu hanya karena perut yang keroncongan. Usai itu, barulah Zivara berangkat menuju Perusahaan Wisesa dengan menggunakan angkutan umum.

Belum tepat pukul delapan pagi, Zivara sudah tiba di depan gedung perusahaan.

Ia berhenti sejenak, menatap bangunan megah di hadapannya. Gedung itu menjulang tinggi, lebih dari sepuluh lantai, dengan desain modern, yang menggambarkan kegagahan nya. Baru kali ini ia benar-benar menyadari betapa besar perusahaan tempatnya akan bekerja.

Zivara menarik napas dalam-dalam.

Ini hari pertamaku. Aku tidak boleh membuat kesalahan.

Dengan langkah mantap, ia masuk ke dalam gedung.

“Permisi,” ucap Zivara sopan pada resepsionis. “Saya pegawai baru dan diminta datang hari ini. Sebelumnya, saya harus menemui siapa, ya?”

“Nona bisa langsung ke lantai tujuh. Di sana, Nona akan bertemu dengan kepala bagian,” jawab resepsionis ramah.

“Baik, terima kasih,” ucap Zivara sambil tersenyum.

Ia pun melangkah menuju lift.

Di dalam lift, Zivara tidak sendirian. Beberapa karyawan lain turut masuk dan keluar di lantai yang berbeda. Ke lantai dua, tiga, dan seterusnya. Hingga akhirnya, hanya tersisa beberapa orang yang menunggu lantai berikutnya, termasuk dirinya.

Tiba-tiba, seorang wanita sebaya dengannya menyapa dengan senyum ramah.

“Kamu orang baru, ya?”

“Iya,” jawab Zivara. “Hari ini hari pertama saya.”

“Kenalin, aku Yuanita. Panggil saja Nita,” ucap gadis itu sambil mengulurkan tangan.

Zivara membalas uluran tangan wanita itu. “Aku Zivara. Panggil saja Vara.”

“Kamu ke lantai berapa?” tanya Nita.

“Lantai tujuh,” jawab Zivara.

“Sama dong!” seru Nita senang. “Berarti kita satu bagian.”

Lift berhenti di lantai tujuh, dan mereka keluar bersama.

“Nita, aku mau ke ruangan kepala bagian dulu, ya,” ucap Zivara.

“Iya. Aku ke tempat dudukku dulu,” balas Nita. “Tenang saja, kepala bagiannya baik kok. Jangan gugup.”

Zivara tersenyum kecil, lalu melangkah menuju ruangan yang dimaksud. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.

“Permisi,” ucapnya sopan saat pintu dibuka. “Maaf, Bu. Saya Zivara Amaira, disuruh menemui Anda.”

“Oh, jadi kamu Zivara,” ucap seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah. “Perkenalkan, saya Rosalina. Panggil saja Bu Rosa. Saya kepala bagian pemasaran.”

Zivara langsung merasa lebih tenang. Wajah dan sikap Bu Rosa sesuai dengan yang Nita katakan, hangat dan bersahabat.

Setelah menjelaskan tugas-tugas yang akan diemban Zivara, Bu Rosa mengajaknya keluar ruangan untuk menunjukkan tempat kerjanya.

“Zivara, ini tempatmu,” ucap Bu Rosa sambil menunjuk sebuah meja kerja. “Semoga kamu bisa bekerja sama dengan yang lain.”

Bu Rosa lalu menoleh pada para karyawan.

“Semuanya, saya perkenalkan karyawan baru kita. Semoga kalian semua bisa bekerja sama sebagai tim yang solid.”

Zivara menunduk sopan. “Terima kasih, Bu.”

Setelah Bu Rosa kembali ke ruangannya, beberapa rekan kerja menyapa Zivara dengan ramah. Sambutan hangat itu membuat hatinya tenang.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!