NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Lima

Sepuluh menit kemudian—tepat seperti ancaman Pak Han—Feli keluar dari pagar rumahnya dengan napas terengah-engah. Ia sudah rapi dengan blouse kasual, rambut yang masih sedikit basah di ujungnya, dan aroma sabun bayi yang segar, menggantikan aroma nasi uduk tadi.

Feli langsung masuk ke mobil dan memakai sabuk pengaman dengan gerakan cepat. "Oke, Pak! Rekor! Sembilan menit lima puluh detik. Ayo jalan, nanti meeting-nya bubar!"

Pak Han tidak menyalakan mesin. Ia malah asyik membalas pesan di ponselnya dengan santai, lalu menyandarkan punggung ke jok sambil menatap Feli yang masih panik.

"Nggak usah buru-buru. Barusan Pak Lee kasih kabar, meeting-nya udah telat kalau kita berangkat sekarang," ucap Pak Han enteng, suaranya sedatar aspal jalanan.

Feli melongo. "Hah? Terus? Ya sudah saya turun lagi ya? Saya mau lanjut tidur."

"Eh, enak aja," Pak Han langsung mengunci pintu mobil secara otomatis. "Udah ada Pak Lee yang back up di sana. Dia memang paling bisa diandalkan kalau soal menghadapi klien."

Feli mengerutkan kening, mulai merasa ada yang tidak beres. "Terus kalau udah ada Pak Lee, kenapa saya harus mandi secepat kilat sampai saya hampir kepeleset di kamar mandi, Pak? Bapak mau saya ngapain sekarang?"

Pak Han memutar kemudi, memutar balik mobilnya meninggalkan area perumahan Feli. "Antar saya ke mall aja. Ada sesuatu yang harus saya beli sekarang juga."

"Ke mall?" Feli mengulang kalimat itu dengan nada sangsi. "Pak, ini hari Sabtu. Bapak jemput saya di alun-alun, nyuruh saya mandi dalam hitungan detik, bilang mau meeting penting, dan sekarang kita ke mall? Bapak lagi nggak 'sakit' kan?"

"Saya butuh pendapat orang kedua untuk beli barang. Dan karena kamu udah wangi dan udah ada di sini, ya udah, kamu saja," jawab Pak Han tanpa dosa.

"Bilang saja Bapak males ke mall sendirian kan?" tebak Feli telak.

"Feli, bonus kamu masih berlaku. Kamu mau dapet uang cuma buat nemenin saya belanja, atau mau saya suruh balik ke kantor buat rekap laporan tahun lalu?"

Feli langsung terdiam dan menyandarkan kepalanya. "Mall mana, Pak? Yang AC-nya paling dingin ya, saya masih emosi soal mandi sepuluh menit tadi."

Pak Han terkekeh, kali ini lebih lepas. "Terserah kamu. Pilih saja yang paling banyak tempat makannya. Saya masih berutang sarapan yang layak buat kamu, gara-gara nasi uduk kamu saya ganggu tadi."

Feli hanya bisa geleng-geleng kepala. Modus operandi Pak Han memang luar biasa. Judulnya kerja, aslinya jalan-jalan.

Di dalam mall, Feli benar-benar merasa seperti maneken hidup. Pak Han membawanya berkeliling dari butik pakaian high-end hingga gerai parfum yang aromanya sanggup membuat pusing kalau tidak terbiasa. Anehnya, Pak Han sama sekali tidak melirik kemeja pria atau jam tangan. Matanya justru sibuk memilah-milah gaun dan sepatu hak tinggi.

​"Pak, yang ini warnanya terlalu mencolok. Orang yang mau Bapak kasih hadiah ini, tipe yang suka jadi pusat perhatian atau yang kalem elegant gitu?" tanya Feli sambil memegang sebuah dress satin warna merah menyala.

​"Yang elegan. Tapi kadang dia suka nggak sadar kalau dia itu menarik," jawab Pak Han pendek sambil menyodorkan sepasang sepatu heels berwarna nude. "Coba pakai ini. Ukuran kaki kamu 38, kan?"

​Feli menerima sepatu itu dengan dahi berkerut. "Kok Bapak tahu ukuran kaki saya?"

​"Saya nggak sengaja lihat pas kamu lagi naik kursi buat ambil file kemarin." jawab Pak Han cepat, meski telinganya sedikit memerah. "Udah, cepat pakai. Saya mau lihat cocok atau enggak."

​Setelah bolak-balik masuk ruang ganti dan menyemprotkan berbagai jenis parfum ke pergelangan tangannya sampai indra penciumannya mati rasa, Feli akhirnya tidak tahan untuk bertanya.

​"Bapak mau beliin pacar Bapak ya?" tanya Feli ragu-ragu saat mereka sedang menunggu antrean di kasir parfum.

​Pak Han diam sejenak, menatap botol parfum dengan aroma vanilla mixed with citrus di tangannya. "Calon pacar, lebih tepatnya."

​Feli manggut-manggut, "Oh... keren juga ya. Belum jadi pacar aja, Bapak udah kasih sebanyak ini. Pasti ceweknya cantik banget."

​Ia lalu menatap tumpukan belanjaan di tangan Pak Han. "Tapi, emangnya ukuran calon pacar Bapak sama kayak saya? Dari tadi Bapak nyuruh saya nyobain terus. Kalau nanti pas dikasih ternyata kesempitan atau kegedean, kan sayang, Pak."

​Pak Han mengalihkan pandangannya dari kasir, menatap Feli lekat-lekat dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu ini bawel banget. Fokus aja pilih yang bagus-bagus."

​"Ya beda dong, Pak! Kan tiap orang punya selera sendiri—"

​"Feli," potong Pak Han sambil melangkah maju ke kasir. "Stop protes. Habis ini kita makan. Kamu boleh pesan apa aja, saya yang bayar. Anggap saja upah karena sudah jadi model dadakan."

​Feli langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Oke, demi makanan gratis dan bonus, batinnya. Namun, ia tidak menyadari kalau Pak Han sedari tadi terus mencocokkan aroma parfum yang ia beli dengan aroma sabun bayi yang menguar dari rambut basah Feli.

Mobil Pak Han akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kost Feli. Di kursi belakang, kantong-kantong belanjaan bermerek itu tampak penuh sesak. Feli sudah bersiap untuk turun dan mengucapkan terima kasih, tapi ia tertegun saat melihat Pak Han turun dan membukakan pintu bagasi serta pintu belakang.

​Tanpa banyak bicara, Pak Han menurunkan semua kantong belanjaan—mulai dari gaun, sepatu, hingga kotak parfum—dan meletakkannya di teras kost Feli yang sempit.

​Feli melongo, mematung di samping pintu mobil. "Pak, kok malah diturunin di sini? Bapak mau nitip dulu? Eh, tapi kost saya nggak aman-aman banget lho Pak kalau buat barang mewah begini."

​Pak Han merapikan kemejanya, lalu berdehem keras. Ia tidak berani menatap mata Feli langsung. "Enggak, buat kamu aja."

​Feli berkedip berkali-kali. "Hah, gimana, Pak?"

​"Iya, itu buat kamu aja semuanya. Telinga kamu nggak kemasukan air pas mandi tadi, kan?" jawab Pak Han ketus, pertahanan gengsinya mulai naik.

​"Tapi... tapi tadi katanya buat calon pacar Bapak?" Feli menunjuk tumpukan barang itu dengan jari gemetar. "Ini maksudnya gimana? Bapak mau saya yang kasih ke dia? Saya nggak tahu rumahnya, Pak!"

​Pak Han menghela napas panjang, terlihat gemas sekaligus salah tingkah. Ia memasukkan tangan ke saku celana, berdiri tegak mencoba mempertahankan wibawa bosnya yang mulai retak.

​"Feli, kamu ini pintar kalau bikin laporan, tapi kenapa sekarang jadi lemot banget?" Pak Han melirik ke arah lain, memperhatikan kucing tetangga yang lewat. "Tadi saya bilang apa? Calon pacar, kan? Ya kalau sekarang barangnya saya kasih ke kamu, berarti kamu tahu artinya apa."

​Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Feli. Wajahnya perlahan memanas, merah padam sampai ke telinga. "Bapak... bercanda ya? Ini pasti konten prank buat masuk ke grup kantor?"

​"Nggak ada kerjaan banget saya bikin prank," semprot Pak Han cepat. "Barang-barang itu kan kamu sendiri yang pilih. Kalau nggak suka, ya simpen aja. Kalau kegedean, ya makan yang banyak biar muat. Intinya, itu punya kamu."

​Feli masih berdiri kaku, jantungnya marathon lagi, lebih kencang daripada sepuluh putaran di alun-alun tadi. "Tapi Pak, ini kan mahal-mahal banget... Saya nggak enak..."

​"Makanya, biar enak, besok-besok kalau saya ajak jalan jangan banyak protes," gumam Pak Han. Ia lalu berbalik menuju pintu kemudi, tapi sebelum masuk, ia menoleh sedikit. "Dan satu lagi. Bau parfumnya cocok di kamu. Lebih baik daripada bau keringat kamu yang tadi."

​"PAK HAN!" teriak Feli, antara kesal dan salting brutal.

​Pak Han hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh, lalu masuk ke mobil dan melesat pergi, meninggalkan Feli yang berdiri di antara tumpukan barang mewah dan perasaan yang mendadak berantakan.

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!