Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Nggak Kelihatan
Kevin duduk di tepi ranjang Cantika.
Anaknya tidur pulas. Napasnya kecil, teratur.
Rambut hitamnya nempel di dahi. Damai banget.
Terlalu damai buat anak yang tumbuh tanpa ibu di sampingnya.
Kevin usap pelan rambut itu.
“Kalau Ayah bisa milih…” gumamnya lirih,
“Ayah pengen kamu tumbuh tanpa luka.”
Tapi hidup nggak pernah sesimpel itu.
Kevin udah lama berhenti nanya kenapa Siska pergi. Pertanyaan itu cuma bikin luka lama kebuka lagi. Sekarang yang dia pegang cuma dua hal:
Tanggung jawab.
Dan cinta.
Dia matiin lampu kamar Cantika, lalu jalan ke ruang tengah.
Rumah itu besar.
Terlalu besar buat dua orang.
Sunyinya kadang bikin dada sesak.
Kevin duduk di sofa. Pejamkan mata.
Bayangan Siska muncul.
Senyumnya dulu.
Caranya yakin kalau cinta aja cukup buat lawan dunia.
Kevin buang napas panjang.
“Kenapa harus begini sih…” bisiknya pelan.
Di tempat lain, Siska kebangun tengah malam.
Dadanya sesak. Napasnya nggak teratur.
Mimpi itu datang lagi.
Kos sempit.
Tangisan bayi.
Kevin yang natap dia dengan mata kecewa.
Perasaan yang sama selalu datang:
Bersalah.
Takut.
Kosong.
Siska lihat tangannya sendiri.
Tangan yang dulu genggam tangan Kevin sambil janji nggak bakal nyerah.
Tangan yang akhirnya… dia lepas sendiri.
Dia bangun. Jalan ke jendela. Lihat lampu rumah tetangga yang masih nyala.
Dunia tetap jalan.
Seolah hidupnya yang berantakan itu nggak pernah ada.
“Ibu…” bisiknya pelan. Nggak jelas manggil siapa.
Dia tahu, ninggalin Kevin itu pilihannya sendiri.
Dan justru itu yang paling sakit.
Pagi datang.
Cantika bangun ceria seperti biasa.
“Ayah!” teriaknya sambil lari keluar kamar. Rambutnya berantakan, pipinya masih bantal banget.
Kevin langsung senyum.
“Bangun, Cantik?”
Cantika meluk kaki Kevin erat.
“Aku mimpi aneh.”
“Mimpi apa?”
“Ada ibu yang nyanyi buat aku.”
Kevin langsung diam.
“Ibu itu mirip aku,” lanjut Cantika polos.
“Rambutnya hitam.”
Kevin nelen ludah.
“Terus?”
“Ibu itu bilang aku harus jadi anak baik.”
Kevin peluk dia erat banget.
“Ibu kamu pasti senang dengar itu.”
Cantika nengadah.
“Ayah… ibu aku jauh ya?”
“Iya,” jawab Kevin pelan.
“Tapi ibu masih sayang aku?”
Kevin usap punggung kecil itu.
“Iya.”
Jawaban itu setengah harapan.
Setengah doa.
Kevin sendiri nggak tahu mana yang lebih kuat.
Di dapur rumah sederhana itu, Siska bantu ibunya masak.
Gerakannya pelan. Pikiran sering melayang.
Ibunya akhirnya nanya pelan,
“Kamu masih kepikiran dia?”
Siska diam dulu.
“Aku nggak tahu.”
Kalimat itu jujur banget.
“Kalau belum sembuh, jangan pura-pura kuat,” kata ibunya lembut.
Siska nunduk.
“Aku cuma capek, Bu.”
Capek jadi orang yang terus merasa bersalah.
Ibunya cuma angguk. Nggak maksa. Nggak menghakimi.
Siang itu, Siska buka laci lama.
Ambil satu foto.
Dia dan Kevin di depan kos kecil. Waktu itu mereka nggak punya apa-apa.
Tapi ketawanya lebar banget.
Nggak tahu hidup bakal sekeras apa.
Siska sentuh foto itu pelan.
“Aku salah…” bisiknya.
“Aku terlalu takut.”
Takut miskin.
Takut masa depan gelap.
Takut nggak bisa jadi ibu yang baik.
Dan ketakutan itu bikin dia lari.
Penyesalan selalu datang paling akhir.
Sore hari, Kevin ajak Cantika main di halaman rumah.
Cantika lari kecil, ketawa, nunjuk bunga warna-warni.
“Cantik suka rumah ini?” tanya Kevin.
“Iyaaa!” jawabnya riang. “Tapi rumah dulu juga enak.”
Kevin senyum tipis.
“Iya.”
Rumah dulu kecil.
Tapi hangat.
Cantika tiba-tiba nanya lagi,
“Kalau ibu datang, ibu bisa tinggal di sini?”
Langkah Kevin langsung berhenti.
Dia tatap anaknya. Wajah polos yang nggak tahu betapa rumitnya dunia orang dewasa.
“Kalau suatu hari ibu datang…” katanya hati-hati,
“Ayah nggak bakal marah.”
Cantika langsung senyum cerah.
“Aku mau peluk ibu!”
Kevin cepat-cepat alihin pandang. Matanya mulai basah.
Dia kuat di ruang rapat.
Tapi lemah banget kalau soal ini.
Malamnya, Kevin duduk sendirian di ruang kerja.
Dia buka buku catatan kecil.
Nulis.
Bukan soal angka.
Bukan soal proyek.
Tapi soal hal-hal yang nggak pernah dia ucapkan.
Rindu.
Marah.
Cinta yang dia simpan rapat-rapat.
Tulisan itu nggak buat siapa-siapa.
Cuma buat dirinya sendiri.
Di teras rumah orang tuanya, Siska duduk sendirian.
Angin malam dingin.
Dia meluk jaketnya sendiri.
Dia bayangin Kevin.
Bayangin anak yang pernah ada di rahimnya.
Anak yang nggak sempat dia besarkan.
Air matanya jatuh pelan.
“Aku pantas kehilangan…” bisiknya.
Kalimat itu berat.
Tapi dia masih mengucapkannya.
Hari-hari tetap jalan.
Nggak ada kabar.
Nggak ada pertemuan.
Tapi perasaan nggak pernah benar-benar diam.
Kevin belajar nerima bahwa hidupnya sekarang cuma tentang dia dan Cantika.
Siska belajar berdiri tanpa sandaran siapa pun.
Suatu malam, sebelum tidur, Cantika nanya lagi,
“Ayah… kalau aku udah gede nanti, aku boleh cari ibu?”
Kevin diam lama banget.
Lama sampai Cantika hampir mikir Ayahnya nggak dengar.
“Kalau itu yang kamu mau,” jawabnya akhirnya pelan,
“Ayah bakal temenin.”
Jawaban itu bukan cuma buat Cantika.
Tapi juga buat masa lalu.
Di tempat lain, Siska nutup mata sambil berdoa pelan.
“Kalau aku masih dikasih kesempatan…” bisiknya lirih,
“aku mau memperbaiki.”
Tapi hidup nggak selalu kasih kesempatan kedua.
Kadang…
yang dikasih cuma kesempatan untuk berubah.