NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Rumah Baru

[Tantangan: Buka dan Bersihkan Rumah]

[Status: Sedang Berlangsung…]

[Hadiah: 200 Juta Rupiah + Kartu Ajaib]

Panel itu tiba-tiba muncul tepat di depan matanya, bersamaan saat Pak Satpam sedang menjelaskan arah. Gerard membeku, matanya terbelalak menatap udara kosong yang jelas tidak terlihat oleh orang lain. Dadanya berdebar kencang—hadiah baru, dan lebih besar lagi.

"Hey, Mas?" Sentuhan di pundaknya—tepat dan agak keras—membuatnya tersentak. Pak Satpam menatapnya dengan tatapan bingung. "Kok melamun sih? Paham nggak arahnya?"

Gerard mengangguk cepat, spontan. Tapi kemudian alisnya berkerut, wajahnya menunjukkan kebingungan yang tulus. "Iya, Pak? Maaf, tadi sampai mana?"

"Haish…" Pak Satpam menggeleng, lalu dengan sabar menunjuk lagi. "Ya sudah, dengarkan baik-baik. Lurus terus, belok kanan di belokan kedua. Rumah nomor 3 itu yang paling ujung, dekat rumah pagar hitam yang tinggi itu. Sudah jelas?"

Kali ini Gerard menyimak dengan fokus penuh. "Jelas, Pak. Terima kasih banyak." Ia memberi hormat kecil lalu melajukan motornya perlahan, matanya menyusuri setiap rumah yang berlalu. Suasana di sini tenang dan terawat, jauh berbeda dari kegaduhan yang ia tinggalkan. Sebuah kerinduan akan "tempat" yang aman kembali menyergapnya, mengingatkannya pada rumah masa kecil yang telah lama hilang.

Setelah belokan kedua, ia memasuki blok yang lebih sepi. Dan di sana, di ujung jalan, berdiri sebuah rumah sederhana berlantai satu dengan pagar putih tinggi. Dari kejauhan pun terasa kokoh dan damai.

Jantungnya berdegup kencang saat ia mendekat dan turun dari motor. Di tangannya sudah ada setumpuk kunci yang muncul entah dari mana—salah satunya, kunci kecil berwarna perak yang sudah penuh goresan, ternyata adalah kunci pagar. Dengan sedikit usaha, borgolnya terbuka. Ia mendorong daun pagar hanya cukup untuk memasukkan motornya ke dalam.

"Baik," gumamnya, penuh semangat. Ia memarkir Vario-nya dengan hati-hati di halaman depan.

Halamannya ternyata cukup luas—bisa untuk satu mobil dan beberapa motor. Teras keramiknya juga lapang. Tapi di sisi lain, rumput liar tumbuh subur dan tak terurus, membuat sebagian halaman terlihat liar dan kurang nyaman dipandang.

"Pantas misinya suruh bersihkan…" Gerard tersenyum kecut, mengerti sekarang. Tapi prioritas pertamanya adalah melihat bagian dalam rumah. Rumput liar bisa nanti. Dengan langkah penuh harap, ia berjalan menuju pintu depan, mengabaikan kekacauan di halaman untuk sesaat. Kuncinya yang lain berdering ringan di genggamannya.

Gerard memasukkan kunci utama—kunci berukuran lebih besar berwarna cokelat yang kusam—ke dalam lubang pintu. Ada bunyi klik yang memuaskan saat kunci berputar. Ia mendorong pintu kayu itu perlahan.

Udara yang sedikit pengap dan berdebu menyambutnya, bercampur aroma kayu tua dan plester yang sudah lama tak dihuni. Namun, di balik itu, ada potensi yang terasa nyata.

Ruangan pertama yang ia masuki adalah ruang tamu yang sederhana namun lapang. Dindingnya dicat warna krem muda yang sudah kusam di beberapa bagian, tetapi strukturnya masih bagus. Sebuah jendela besar dengan teralis besi menghadap ke teras, membanjiri ruangan dengan cahaya pagi yang keemasan. Lantai keramik berwarna abu-abu pucat terasa dingin di bawah sepatunya, tetapi bersih dari kerusakan.

Di sebelah kiri, terdapat pintu terbuka yang mengarah ke sebuah kamar tidur utama. Kamarnya cukup luas untuk sebuah tempat tidur susun, lemari pakaian built-in berlapis kayu, dan sebuah meja kecil di dekat jendela. Karpet tipis berwarna cokelat tua masih tergeletak di lantai, tetapi sudah penuh debu.

Dari ruang tamu, ia menuju ke bagian tengah rumah. Ada sebuah lorong kecil yang mengarah ke dua pintu lainnya. Yang pertama adalah kamar mandi. Saat ia menyalakan saklar, lampu neon berkedip-kedip lalu menyala terang, memamerkan kamar mandi dengan kloset duduk, bak mandi/wastafel sederhana, dan keran yang tampak masih layak pakai. Masih ada sisa lapisan kapur di sudut-sudutnya, tapi secara umum terlihat fungsional.

Pintu di seberangnya mengarah ke dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan sederhana. Ada sebuah meja kayu panjang dengan dua bangku, sebuah kompor gas dua tungku di atas meja dinding, dan sebuah bak cuci piring di bawah jendela. Kabinet-kabinet kayu di atasnya terlihat kokoh walau catnya sudah pudar. Tidak ada kulkas atau peralatan listrik lainnya, hanya ruang kosong yang menunggu untuk diisi.

Yang paling membuatnya terkesan adalah bagian belakang rumah. Sebuah pintu kaca geser dari dapur membuka ke sebuah backyard kecil yang tertutup pagar. Areanya tidak terlalu luas, dipenuhi rumput liar dan semak-semak yang liar, tetapi mendapatkan sinar matahari yang cukup. Sebuah pohon jambu kecil tumbuh di sudutnya, dan sebuah keran air luar terlihat di dekat dinding.

Tidak ada furnitur, tidak ada dekorasi. Rumah ini ibarat kanvas kosong—lapang, solid, tetapi membutuhkan sentuhan, pembersihan, dan kehidupan. Namun bagi Gerard, yang melihatnya dengan mata berbinar, ini bukan kekurangan. Ini adalah kesempatan. Setiap debu yang beterbangan, setiap sudut yang gelap, terasa seperti sebuah janji. Janji untuk memulai dari nol, dengan caranya sendiri.

Dia berdiri di tengah ruang tamu yang sunyi, menghirup dalam-dalam aroma rumah barunya. Lalu, senyum lebar merekah di wajahnya. "Ini…," bisiknya, suaranya bergetar sedikit oleh emosi, "ini rumah."

Setelah puas berkeliling dalam rumah, Gerard keluar dan duduk berjongkok di teras yang berdebu. Pandangannya menyapu halaman yang dipenuhi ilalang tinggi. Alisnya berkerut sambil tangan mengelus dagu, pikirannya berputar mencari cara untuk membereskan semua ini.

Tapi masalah utama muncul.

"Aku nggak punya peralatannya," gumamnya pelan, penuh perhitungan. Ia menghela napas berat, lalu melirik ke motor Vario-nya yang terparkir rapi. "Butuh banyak barang. Motorku cuma ini. Mau sewa mobil, tapi nggak punya hape, apalagi kenalan. Apa harus bolak-balik aja, ya?"

Menurut panduan singkat dari Sistem—begitu ia mulai menyebut panel transparan itu—bensin motornya sudah full dan akan otomatis terisi ulang secara berkala. Jadi bolak-balik ke toko material bukan masalah biaya bensin. Tapi tetap saja, repot. Membosankan. Membuang waktu.

Saat pikirannya masih berkecamuk, suara lembut terdengar dari balik pagar.

"Permisi…!"

Seorang wanita mengetuk pelan pada gembok yang masih menggantung di pagar. Suaranya ramah, penuh keperluan.

Gerard langsung bangkit. "Tunggu, ya!" Ia berjalan cepat ke pagar, mendorong daunnya terbuka cukup untuk melihat tamu tak terduga itu.

Seorang wanita, lebih pendek darinya, tampak agak terkejut, lalu segera menyunggingkan senyum tipis yang membuat matanya menyipit ramah. "Halo, Kak!"

"Hai," balas Gerard, berusaha terdengar ramah meski suaranya masih terdengar kaku.

Suasana sempat menggantung canggung, sebelum wanita itu kembali berbicara. Matanya sempat mengintip ke dalam halaman sebelum jarinya menunjuk dengan sopan.

"Kakak pasti penghuni baru ya? Aku lihat tadi," katanya, dengan keramahan khas tetangga yang baik hati. "Rumahnya lumayan banyak rumput liar. Kebetulan, aku punya beberapa peralatan kebun yang mungkin bisa dipinjamkan."

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!