Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paus Biru dan Anak Ayam
Tiga tahun berlalu...
Sore itu, suasana rumah Pram terasa lebih hidup dari biasanya. Rea sudah berdandan rapi dengan dress selutut berwarna pastel, rambutnya di kuncir kuda dua. Di garasi, Pram sibuk memanaskan mesin mobil, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.
Rencana mereka sebenarnya sederhana. Umma dan Baba menyuruh Pram mengajak Rea ke mall untuk merayakan satu pencapaian kecil yang terasa sangat besar bagi keluarga mereka. Rea resmi naik ke kelas tiga SMA. Dan yang paling mengejutkan sekaligus membanggakan, ia berhasil meraih juara tiga di kelasnya.
Seumur hidup, baru kali ini Rea menembus peringkat tiga besar.
Umma sampai berkali-kali mengulang cerita itu ke tetangga, ke teman kantornya, sementara Baba hanya tersenyum puas sambil menepuk pundak Rea. Sayangnya, kesibukan membuat mereka berdua tak bisa ikut. Maka mandat pun jatuh ke tangan Pram, mereka menyuruh Pram untuk mengajak Rea makan enak, bebas pesan apa saja, dan yang paling penting rayakan dengan sungguh-sungguh.
Rea sudah duduk manis di kursi depan ketika mobil perlahan bergerak keluar pagar.
Namun, baru beberapa senti roda bergulir, sebuah motor trail berhenti tepat di depan mobil mereka.
Mesinnya meraung pelan, terdengar gagah dan sedikit berisik.
Sejenak Rea merasa tidak asing dengan motor itu.
“MAU KE MANA, CALON DOKTER?” Suara itu datang lebih dulu, nyaring dan penuh semangat.
Joshua.
Ia berteriak sambil tertawa lebar dari atas motor di jok penumpang, sementara pengendara di depannya masih mengenakan helm full face hitam, tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan satu kakinya menapak mantap ke aspal.
Pram langsung mendesah. Menyembulkan kepalanya keluar jendela mobil. “Ya ampun, Jo. Pita suara kamu nggak pernah capek, apa?”
Rea justru membeku di kursinya.
Pengendara motor itu menurunkan kakinya sepenuhnya, lalu perlahan melepaskan helmnya.
Dan dunia Rea seolah berhenti sebentar.
Deg!
Deg!
Kadewa.
Rambutnya cepak rapi, lebih pendek dari yang Rea ingat. Kulitnya terlihat lebih gelap, rahangnya lebih tegas, dan sorot matanya… berbeda. Bukan lagi teman kakaknya yang sering ia lihat lalu-lalang di rumah. Ini Kadewa yang lain. Kadewa yang baru saja keluar dari dunia bernama AAL.
Taruna.
“Ganggu nggak?” tanya Kadewa santai. Senyum tipis terbit di wajahnya, senyum yang dulu selalu berhasil membuat Rea salah tingkah dan sekarang, entah kenapa, terasa jauh lebih berbahaya.
senyumnya tambah manis berkali lipat.
Rea menelan ludah.
Ini pertama kalinya Rea bertemu Kadewa sejak ia masuk AAL.
Sudah berapa lama mereka tidak bertemu?
Coba Rea ingat.
Tiga tahun? Atau lebih?
Dan degup jantung yang sudah lama tidak ia rasakan kini kembali muncul seiring dengan senyum Kadewa mengembang lebar.
“Eh!” Pram yang baru benar-benar menyadari siapa pengendara motor itu langsung membuka pintu mobil dan melompat turun.
“Kadewa?!”
Ia menghampiri dua sahabatnya itu dan tanpa ragu langsung memeluk tubuh Kadewa erat.
“Ya ampun, Wa…” suara Pram sedikit tertahan. “Badanmu makin gede aja, gila... aku sampai pangling lho.”
Kadewa tertawa kecil sambil menepuk punggung Pram. “Dokter juga keliatan makin tinggi ya sekarang.”
Joshua pun turun dari motor, memutar mata. “Pelukannya kelamaan. Aku iri, tau.”
Rea masih duduk di dalam mobil.
Tangannya mencengkeram ujung tas kecil di pangkuannya. Pandangannya tertuju ke sosok Kadewa yang kini dipeluk Pram dan untuk sesaat, ia hanya bisa menatap, diam.
Tidak ada yang tahu.
Bahwa bagi Rea, pertemuan sore itu bukan sekadar kebetulan.
Itu adalah awal dari degup lama yang kembali hidup diam-diam, tenang, dan tetap ia simpan sendiri.
"Kita pada mau main lho. Kamu mau kemana?" Tanya Kadewa menoleh sejenak ke mobil yang Pram naiki tadi. Ia belum tahu ada sosok Rea di dalam sana.
"Kita mau ke mall, Ngerayain Rea yang dapat juara tiga. Mau makan-makan disuruh Umma sama Baba." Jawaban Pram sambil nyengir santai.
“Hah?” Joshua langsung membelalakkan mata. “Adek kesayanganku dapet juara?”
Belum menunggu jawaban, ia sudah berlari kecil ke arah mobil Pram dan mengetuk kaca jendelanya tiga kali berturut-turut.
Joshua yang lebih dulu menyadari keberadaan Rea.
Tok!
Tok!
Tok!
Rea yang duduk di dalam sempat berjengkit sedikit, lalu refleks menoleh dan menurunkan kaca jendela.
Wajahnya muncul di sana, dengan senyum canggung dan refleks melirik ke arah Kadewa yang berdiri tak jauh dari situ.
“Beneran kata Pram, Re?” Joshua bertanya heboh, setengah membungkuk agar sejajar dengan wajah Rea. “Kamu dapet juara tiga?”
Rea mengangguk pelan. “Iya, Ko.”
“Pinter banget adekku ini. Nggak sia-sia Ko Jojo ini ngebesarin kamu dari jaman masih bocil, doyan nangis, sama susah makan.”
“Ko!” Rea protes, pipinya memerah.
Joshua terkekeh. "Gak bisa ini, gak bisa. Ini sejarah nasional! Aku sama Kadewa ikut ya? Kita jadi tim sorak. Gimana, Wa? Kita ikut ya? Sekali-kali loh ini. Apa lagi udah pasti kita makan pakai duit Baba Aditya. Kapan lagi coba ngerasain duit bapak masinis."
Kadewa yang masih duduk di atas motornya hanya melirik Pram sekilas, lalu ke arah Rea yang masih duduk manis di kursi penumpang. "Kalau gak ngerepotin sih, boleh aja. Kebetulan aku juga lapar," tidak lupa setelah mengatakan itu Kadewa nyengir, memperlihatkan gigi rapihnya.
Dan begitulah akhirnya, rencana makan berdua antar kakak-adik itu berubah menjadi rombongan empat orang yang kini berjalan menyusuri lorong Mall Surabaya yang padat.
Kadewa berjalan di depan, memimpin barisan dengan langkah tegap. Kaos polo hitam yang ia kenakan tampak sangat pas di tubuhnya yang kini lebih berisi dan berotot. Kulitnya yang semakin gelap terbakar matahari laut membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih dewasa.
"Dek, kita mau makan apa nih?" Tanya Pram sambil melirik adiknya.
Rea yang sejak tadi hanya diam, mengekor sambil sesekali meremas dressnya kebiasaan gugupnya setiap ada Kadewa, mendongak. "Ehm… terserah, Mas."
"Otakmu isinya cuma terserah ya, Re? Pantesan pipimu nggak tirus-tirus," celetuk Joshua sambil tertawa jahil.
"Ko Jo!" Rea merengut, membuat pipinya semakin bulat menggemaskan.
Kadewa yang ada di depan melambatkan langkahnya. Ia berbalik badan, berjalan mundur beberapa langkah hanya untuk menatap Rea sambil tersenyum miring, senyum playboy ramah yang selalu berhasil membuat Rea lupa cara bernapas.
Hais!
"Jangan dengerin Joshua," ucap Kadewa santai. "Pipi bulat itu tandanya bahagia."
Pipi Rea sempat bersemu, ia semakin menundukkan wajahnya semakin dalam.
Sementara Joshua mendengus kecil sambil memutar bola matanya malas. "Yang pasti lah, Re. Mau makan apa jangan bilang terserah lagi," ucap Joshua tak sabar mengabaikan Kadewa.
Rea sempat terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Ia menatap lantai sebentar, lalu mengangkat wajahnya.
“Gimana kalau Korean food?” ujarnya pelan. “Lagi pengen juga.”
Joshua langsung bertepuk tangan. “Nah! Itu baru jawaban anak juara.”
Pram mengangguk setuju. “Oke. Korean food.”
“Ada tempat Korean food baru di lantai atas. Katanya enak.” ujar Kadewa lagi.
Joshua mengangkat alis. “Wih, Taruna punya rekomendasi. Biasanya makanan tentara nggak neko-neko, lho.”
Kadewa melirik singkat, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Justru karena itu. Sekali-sekali perlu yang ribet."
“Kalau Rea mau, kita ke sana,” tambahnya, kembali menatap Rea.
Tatapan itu tidak lama. Tidak intens. Tidak istimewa.
Tapi cukup untuk membuat jantung Rea berdetak sedikit lebih cepat.
Bisa gak Kadewa jangan sebaik itu?
Gak kuat Rea, gak kuat!
Bisa-bisa makin cinta ini!
“O-oke,” jawabnya cepat, lalu buru-buru menunduk seolah takut reaksinya terbaca.
Mereka semua berjalan menuju lift dan kali ini Pram yang memimpin jalan.
Di dalam lift, posisi mereka terbentuk tanpa direncanakan.
Pram dan Joshua berdiri di depan, sibuk berdebat soal menu dan tingkat kepedasan. Rea berada di tengah. Kadewa di sampingnya.
Terlalu dekat.
Rea bisa mencium samar aroma sabun Kadewa yang sudah berubah dari yang terakhir kali ia kenal, dulu aroma sabun itu sangat begitu mahal, tapi kini tidak jauh berbeda dengan aroma miliknya hanya saja aroma itu sudah bercampur aroma angin laut atau mungkin itu cuma perasaannya saja. Bahu Kadewa hampir menyentuh lengannya. Hampir.
Lift bergerak naik perlahan dan berhenti dengan bunyi denting pelan.
Ting!
Pintu terbuka, dan percakapan Pram serta Joshua langsung mengalir keluar lebih dulu. Mereka berjalan cepat, masih memperdebatkan apakah tteokbokki seharusnya pedas atau pedas banget.
Rea melangkah menyusul, tapi tanpa sengaja langkahnya sedikit melambat.
Kadewa ikut memperlambat langkahnya.
Bukan disengaja. Bukan juga direncanakan.
Hanya kebetulan dua orang itu akhirnya berjalan sejajar.
“Pegangan,” ucap Kadewa datar, nyaris seperti perintah ringan.
Rea terkejut. “Eh?”
Kadewa menunjuk ke depan dengan dagunya. “Rame. Nanti kepisah.”
Mall memang sedang padat. Orang lalu-lalang, anak kecil berlari, suara tawa bercampur musik toko.
Rea ragu sepersekian detik.
Lalu, dengan gerakan kecil yang nyaris tak terlihat, ia memegang ujung kaus Pram yang masih terlihat beberapa langkah di depan.
Kadewa melihat itu sekilas.
Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi ia tak berkomentar apa-apa.
Mereka tiba di restoran Korean food yang dimaksud. Antreannya tidak terlalu panjang. Pram langsung maju ke kasir, Joshua sibuk membaca menu sambil mengeluh lapar.
Rea berdiri sedikit ke belakang.
Kadewa berdiri di sampingnya.
“Kamu sekarang udah SMA ya, Re?” ucap Kadewa tiba-tiba, nadanya santai, seolah pertanyaan itu baru saja terlintas di kepalanya.
“Iya, Mas,” jawab Rea cepat. “Ini naik kelas tiga.”
Kadewa meliriknya sekilas dari atas ke bawah, lalu terkekeh kecil.
“Hmm… tapi badanmu nggak ikut naik kelas, ya,” katanya ringan. “Segitu-segitu aja.”
Rea langsung menoleh, matanya membulat. “Mas!”
Kadewa tertawa pelan, jelas menikmati reaksinya. “Bercanda... Jangan galak-galak dong.”
Rea mendengus, pipinya terasa hangat. "Iish, nyebelin.”
Kadewa tidak langsung menjawab. Tawanya masih tersisa di wajahnya sebelum akhirnya, dengan gerakan refleks yang terlalu terbiasa, tangannya terangkat dan mengacak rambut Rea pelan, gemas, singkat, seolah itu hal paling wajar di dunia.
“Eh!” Rea refleks mundur setengah langkah, menutup kepalanya dengan kedua tangan. “Mas! Rambutku!”
“Maaf, maaf,” kata Kadewa cepat, masih tersenyum. “Kebiasaan.”
Rea menatapnya sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Jantungnya berdebar tidak karuan, padahal bagi Kadewa, itu mungkin cuma gerakan iseng tanpa makna.
Ia merapikan rambutnya sendiri, pura-pura kesal.
“Aku udah gedek tau. Jangan asal pegang-pegang.”
Kadewa mengangguk sok patuh. “Siap. Lain kali izin dulu.”
Rea terdiam.
Lain kali.
Dua kata itu saja sudah cukup membuat dadanya menghangat dengan cara yang tidak masuk akal. Dan seperti biasa, perasaan itu ia simpan rapat-rapat, tenang, di tempat yang tak seorang pun tahu.
“Dek, kamu mau pesan apa?”
Rea tersentak kecil, lalu menoleh ke arah Pram yang berdiri di depan kasir.
“Ehm…” Ia melangkah mendekat, membaca papan menu sebentar. Matanya menyapu cepat, jelas kebingungan. “Aku… samgyeopsal set aja, Mas. Yang biasa."
Setelah pesanan selesai, mereka pindah ke meja panjang di sudut restoran. Joshua langsung merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Capek juga jadi orang ganteng yang kelaperan,” keluhnya.
Pram mendengus. “Cuih, ganteng dari Hongkong. Mata sipit gak bisa melek begitu di bilang ganteng!"
Dan perdebatan antara Pram dan Joshua pun terjadi kembali.
Kadewa sendiri sudah duduk di seberang Rea. Lengan kaos polonya tampak mengetat, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk rapi.
Allahuakbar!
Rea buru-buru mengalihkan pandangan sebelum ketahuan menatap terlalu lama.
Pelayan mulai menata alat masak dan piring-piring kecil.
“Jadi,” Joshua menyenggol bahu Rea ringan, “juara tiga itu gimana rasanya?”
Rea tersenyum kecil. “Ya… senang, Ko. Awalnya nggak nyangka juga.”
“Pasti Mas Pram bangga,” godanya.
Pram melirik sekilas ke arah adiknya. “Yang penting dia usaha. Itu aja.”
Rea mengangguk pelan. Dadanya menghangat mendengar nada datar yang justru paling tulus itu yang kaluar dari bibir kakaknya.
Joshua lalu mengalihkan perhatiannya, menoleh ke arah Kadewa dengan ekspresi jahil khasnya.
“Kalau kamu gimana, Mas?” tanyanya. “Pendidikan di AAL menyenangkan nggak? Atau sekarang malah nyesel ninggalin hidup glamormu?”
Kadewa terkekeh kecil, satu alisnya terangkat. “Glamor versi kamu itu tidur siang dan nongkrong, kan?”
Joshua pura-pura tersinggung. “Hei, itu bagian dari perawatan mental, ya.”
Kadewa menggeleng pelan, lalu ia mulai membalik daging di atas panggangan. “Capek, iya. Keras, jelas. Tapi nyesel? Nggak.” lalu daging yang sudah matang di potong dengan ukuran yang pas, dibagi rata ke piring-piring kecil. Bibirnya masih tetap lanjut berbicara dengan nada ringan, “Kalau nyesel, aku nggak bakal betah sejauh ini.”
Pram yang duduk di sebelahnya mengangguk kecil, seolah membenarkan perkataan Kadewa.
Lalu satu piring kecil didorong ke arah Rea.
“Nih,” katanya singkat.
Tidak berapa lama mereka sudah selesai lalu keluar dari restoran dengan perut kenyang dan langkah yang lebih santai. Suara tawa Joshua masih terdengar, bercampur dengan suara pengunjung mall.
“Gila, kenyang banget,” Joshua menepuk perutnya sendiri. “Ini baru namanya perayaan yang layak. Kenapa gak dari dulu aja sih, Re dapat juaranya? Dari SD kek, biar aku dapat traktiran dari Baba Aditya tiap tahun dua kali."
Pram baru saja hendak menimpali ketika tiba-tiba langkahnya melambat. Alisnya berkerut, lalu ia berhenti total.
“Bentar,” katanya sambil menoleh ke mereka bertiga. “Aku ke toilet dulu. Kebelet.”
Joshua langsung tertawa. “Mas calon Dokter kalah sama kandung kemih sendiri.”
“Diem,” balas Pram singkat. “Kalian tunggu di sini aja. Jangan ke mana-mana.”
Pram berbalik cepat menuju toilet terdekat, meninggalkan Rea, Joshua, dan Kadewa berdiri di area kosong dekat pintu keluar mall.
Rea mengedarkan pandangan, sedikit kikuk. Mall mulai lebih ramai, suara langkah dan obrolan orang berlalu-lalang mengisi ruang di antara mereka. Tepat di samping tempat mereka berdiri, deretan mesin capit boneka berderet rapi, lampu warna-warni berkedip pelan.
“Oh?” seru Joshua , matanya berbinar. Ia menunjuk ke arah mesin-mesin itu. “Rea, mau main nggak?”
Rea mengikuti arah jari Joshua. Boneka-boneka berbagai bentuk memenuhi kaca bening mesin itu. Lucu. Berwarna-warni. Menggemaskan.
Joshua menyeringai. "Tenang, Ko Jojo yang trakhir?”
Rea sudah membuka mulut hendak menolak, tapi bibirnya yang sudah terbuka itu terkatup kembali saat matanya menangkap satu boneka di sudut mesin.
Seekor paus kecil berwarna biru.
Pakai topi pelaut putih.
Dan entah kenapa di lengannya ada gambar jangkar kecil.
Rea menelan ludah. Dadanya terasa aneh, seperti ditekan pelan dari dalam. Boneka itu terlalu mirip...
Kadewa.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan, tapi sudah terlambat. Senyum kecil tanpa sadar muncul di bibirnya.
Joshua menyadari perubahan itu. “Mau gak nih, gratis loh. Anggap aja hadiah dari aku buat kamu yang perdana dapat juara tiga.”
Rea ragu sepersekian detik, lalu mengangguk kecil. “Mau…”
Joshua langsung full senyum mengisi kartu permainan dan tanpa berlama-lama langsung men tap kartu itu dan menyerahkan tuas ke Rea. “Ayo. Coba.”
Rea mendekat ke mesin, jari-jarinya sedikit gemetar saat memegang tuas. Ia menargetkan satu boneka yang paling dekat, bukan paus itu, ia terlalu gugup untuk langsung mengincarnya.
Capit turun.
Meleset.
“Yah...” Joshua menghela napas dramatis. “Nggak apa-apa. Ulang.”
Percobaan kedua.
Capit hampir mengenai boneka… lalu terlepas.
Rea menggigit bibirnya. “Aku nggak jago beginian, Ko.”
“Gak papa, Re. Saldonya masih banyak. Coba aja terus sampai dapat,” Joshua menyemangati.
Percobaan ketiga.
Capit mencengkeram, terangkat sedikit lalu jatuh lagi.
Rea mundur selangkah, bahunya merosot. “Udah deh, Ko…”
“Eits,” suara Kadewa akhirnya terdengar. Ia yang sejak tadi hanya mengamati, kini melangkah mendekat. “Sini.”
Kadewa mengambil kartu permainan itu dari telapak tangan Joshua begitu saja.
“Mas?” Rea menoleh, kaget.
Kadewa melirik ke dalam mesin. “Kamu maunya yang mana?”
Rea terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia ragu, lalu mengangkat tangan perlahan, menunjuk ke sudut mesin.
Yang paus biru.
Kadewa mengikuti arah jarinya. Ia mengangguk kecil. “Yang itu, ya.”
Ia memegang tuas, fokusnya berubah. Wajahnya mendadak serius, seperti sedang menjalankan misi penting. Joshua mencondongkan tubuhnya ke kaca mesin, ikut tegang.
Capit bergerak.
Turun.
Mencengkeram tepat di tubuh boneka paus itu.
Terangkat.
Dan tidak terlepas.
“Eh!” Joshua berseru.
Boneka itu jatuh tepat ke lubang pengambilan dengan bunyi pelan.
Berhasil.
Joshua bersorak kecil. “GILA. Sekali doang!”
Tidak lupa dengan wajah songongnya Kadewa menaik turunkan alisnya dan senyum angkuh penuh kesombongan tentunya di tujukan untuk si Joshua.
Setelah itu Kadewa membungkuk, mengambil boneka itu, lalu berdiri tegak. Ia merapikan topi pelaut boneka itu yang peot sejenak, lalu menyodorkannya pada Rea.
“Nih.”
Rea menatap boneka paus di tangannya. Topi pelautnya miring sedikit. Jangkar kecil di lengannya jelas terlihat.
Benar-benar mirip Kadewa.
“Makasih, Mas,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
“Sama-sama, Reani cantik.” balas Kadewa sambil tersenyum, lalu berjalan mendekati Joshua yang sudah heboh mengajak mereka pindah ke mesin capit boneka lain.
Sementara itu, Rea masih mematung, menatap punggung Kadewa sambil mengeratkan pelukannya pada boneka itu, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke wajahnya.
“Re! Sini main lagi!” seru Joshua dari dekat mesin yang ada di tengah. “Pumpung saldonya masih ada. Pram juga kayaknya belum kelar pipis. Nih, Wa. Kamu aja lagi yang main.”
Rea yang masih berdiri di tempat mereka sebelumnya pun berlari kecil ikut mendekat. Sementara itu, Kadewa sudah lebih dulu mengambil kartu permainan dari tangan Joshua dan mentap nya kembali.
“Kamu mau boneka apa lagi, Re?” tanyanya santai, seolah hal itu bukan apa-apa. “Biar aku capitin lagi. Gini-gini aku jago lho urusan capit mencapit."
Rea sejenak menatap Kadewa yang tersenyum sambil tak mengalihkan pandangannya dari boneka yang ada di dalam mesin kaca itu lalu beralih menatap ke depan ke arah mesin kaca itu juga. Deretan boneka, warna-warni, lucu, tapi entah kenapa, tak ada satu pun yang benar-benar menarik perhatiannya.
Yang tadi…
yang paus biru itu…
rasanya sudah cukup.
Ia mengangkat bahu kecil. “Terserah, Mas aja.”
Kadewa baru menoleh hanya sekilas ke arahnya, seolah memastikan ia tidak bercanda. Dan Rea yang paham menganggukkan kepalanya.
Membuat Kadewa langsung mengalihkan pandangannya kembali menyapu isi mesin. Matanya berhenti pada satu boneka di sudut.
Seekor anak ayam kecil berwarna kuning.
Paruhnya mungil.
Matanya bulat.
Kadewa menggeser tuas perlahan, fokusnya kembali mengeras seperti sebelumnya. Gerakannya tenang, terukur.
Capit bergerak.
Turun.
Mencengkeram.
Boneka ayam itu terangkat, sempat bergoyang sedikit, lalu jatuh ke lubang pengambilan.
Joshua berseru lagi, setengah tidak percaya.
“JANCOK. KAMU MESIN APA GIMANA, SIH?”
Kadewa menoleh dengan wajah yang makin songong, senyum puas tersungging di sudut bibir. Ia terkekeh kecil, lalu membungkuk mengambil boneka itu dari mesin.
Ia menyodorkannya pada Rea.
“Nih, Re,” katanya santai. “Lihat bibirnya. Mirip kamu kalau lagi cemberut.”
Rea terdiam sepersekian detik.
Apa katanya?
Bibirnya mirip Rea kalau lagi cemberut?
“MAS!”
Rea tentu memprotes.
Bibirnya tidak semengerucut itu ya kalau lagi marah!
Tapi walaupun protes tubuhnya tak bisa berbohong, Rea suka di ledek suebegitunya oleh Kadewa. Lihat saja pipinya langsung memerah dan satu tangannya tetap reflek menerima boneka itu, lalu menatap kedua boneka di tangannya, paus biru dan anak ayam kuning.
Dua hadiah kecil.
Dari Kadewa.
Dari Mas pausnya.
Dan tentu itu sangat berarti untuk Rea.
Walaupun yang satu... Katanya mirip Rea kalau lagi cemberut.
Nggak papa.
Asal itu dari Kadewa, nggak papa.
Joshua di samping Kadewa tampak tertawa ngakak. “Fix. Aku dukung pernyataan itu, Wa.”
Sementara Kadewa hanya tersenyum saja. Dan setelah sekian lama Pram baru muncul.
"Lama banget sih, Pram kayak ngeluarin air kencing setoren." Protes Joshua.
“Ngantri,” jawab Pram singkat. Lalu menepuk tangan sekali. “Udah kan, yuk balik.”
Ketiganya mengangguk, lalu melangkah ke arah lift untuk turun.
Sambil menunggu pintu lift terbuka, Rea menatap Kadewa yang berdiri di sampingnya sekilas. Hanya sepersekian detik. Setelah itu ia buru-buru menunduk, mengeratkan pelukan pada dua boneka di tangannya, paus kecil bertopi pelaut dan anak ayam kuning yang masih terlihat lucu dan polos.
Jujur sedikit banyaknya boneka itu memang mirip Rea.
“Makasih, Mas,” ucapnya pelan.
Kadewa mengangguk singkat, tanpa tambahan kata apa pun.
Pintu lift terbuka. Ketiga pria yang kini sudah beranjak dewasa itu masuk ke dalamnya sambil mengobrol ringan.
Sementara Rea masih berdiri di luar lift sejenak, sebelum akhirnya ikut melangkah masuk. Senyum kecil tersungging samar di bibirnya, senyum yang lebih banyak ia tujukan pada pikirannya sendiri.
Mungkin bagi Kadewa...
Dua boneka ini hanya hasil dari sebuah permainan iseng.
Tapi bagi Rea,
itu adalah dua perasaan kecil yang tanpa sadar ia bawa pulang.
Satu yang ia simpan sebagai kenangan,
dan satu lagi yang diam-diam akan ia peluk sebagai teman tidur.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣