"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PILIHAN SANG ALGOJO RAHIM
Suara deru air laut yang mulai masuk ke celah-celah reaktor nuklir kapal selam Ouroboros menciptakan harmoni kematian yang mengerikan. Aku berlutut di atas lantai logam yang panas, memegangi perutku yang kini tidak lagi terasa seperti rahim, melainkan tungku pembakaran. Cahaya perak yang memancar dari kulitku mulai meredup, berganti dengan urat-urat hitam yang menjalar cepat ke arah jantungku.
"Yati! Cepat ambil ini!" Kak Surya berteriak, melemparkan tabung berisi cairan biru pekat itu ke arahku. Tubuhnya yang setengah biotik tampak berasap, sirkuitnya mulai terbakar akibat radiasi di dalam ruangan.
Aku menangkap tabung itu dengan tangan gemetar. Dingin. Cairan di dalamnya tampak tenang, namun aku tahu itu adalah racun mematikan yang dirancang khusus untuk memusnahkan kehidupan artifisial.
"Jika aku menyuntikkan ini... dia akan mati, kan?" suaraku nyaris hilang, tertutup suara ledakan di sektor belakang.
"Bukan hanya dia, Yati! Nanocore itu sudah menyatu dengan tulang belakangnya! Membunuh inti itu berarti menghentikan jantung bayi itu secara paksa!" Surya mendekat, matanya memancarkan rasa sakit yang sama denganku. "Tapi jika kau tidak melakukannya, dia akan meledakkan tubuhmu sebagai kepompong untuk lahir sebagai monster yang akan mengendalikan seluruh satelit di bumi!"
Aku menatap cairan biru itu, lalu menatap perutku. Aku bisa merasakan gerakan kecil di dalam sana. Bukan gerakan mesin, tapi sebuah tendangan lemah yang terasa sangat manusiawi. Seolah-olah nyawa di dalam sana sedang memohon: Ibu, tolong jangan bunuh aku.
"Aku tidak bisa, Kak... aku seorang ibu..." air mataku jatuh, menguap saat menyentuh kulit perutku yang panas.
"PILIH, YATI! ATAU KITA SEMUA MATI SEKARANG!" Stevanus asli tiba-tiba menerjang dari balik reruntuhan, mencoba merebut tabung biru itu. Dia tidak ingin janin itu mati; dia menginginkan kekuatan di dalamnya, meskipun itu berarti mengorbankan nyawaku.
Aris bangkit dengan sisa kekuatannya, menahan kaki Stevanus hingga mereka berdua berguling di atas lantai yang mulai tergenang air setinggi lutut. "Widya! Lakukan sekarang! Jangan biarkan pengorbanan kita sia-sia!"
Aku mengangkat tabung itu, jarumnya berkilat tajam di bawah lampu darurat yang berkedip merah. Tanganku mengarah ke pusat cahaya di perutku. Ini adalah momen paling hancur dalam hidupku. Aku telah menanggung penindasan Stevanus, pengkhianatan Ayah, dan pahitnya dunia, hanya untuk berakhir menjadi algojo bagi anakku sendiri.
"Maafkan Ibu, Nak..." bisikku, menutup mata rapat-rapat.
JLEB!
Aku menyuntikkan cairan itu. Bukan ke perutku.
Aku menusukkan jarum itu ke paha Stevanus yang sedang bergulat dengan Aris.
"AAARRGHHH!" Stevanus asli meraung. Cairan biru itu menyebar di sistem sirkuit organiknya, menciptakan reaksi berantai yang mengerikan. Tubuhnya mulai membiru, dan sirkuit perak di wajahnya meledak satu per satu.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Surya kaget.
"Jika dia ingin kekuatan ini, biarkan dia memikul racunnya!" aku berteriak, memaksakan diriku berdiri. "AI! Alihkan seluruh energi Nanocore di tubuhku ke sistem pembuangan darurat Stevanus!"
Sebagai inang, aku baru menyadari bahwa aku memiliki otoritas suara. Cahaya perak di perutku mendadak berpindah secara liar, mengalir melalui udara dan masuk ke tubuh Stevanus yang sedang sekarat akibat virus biru. Tubuh Stevanus menjadi wadah pembuangan energi yang berlebih.
KRAAAKKK!
Dinding kaca ruang kendali pecah sepenuhnya. Air laut menghantam kami dengan kekuatan ribuan ton.
Dalam pusaran air yang menghancurkan itu, aku melihat tubuh Stevanus meledak menjadi partikel cahaya, sementara Aris hanyut tertelan kegelapan. Aku merasa tubuhku ditarik oleh arus kuat ke arah lubang pembuangan.
Namun, sebelum aku kehilangan kesadaran, sebuah tangan kecil tangan bayi yang kulitnya bersinar perak keluar dari sebuah celah dimensi di dalam air dan menarik bajuku.
Aku menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri di dalam air seolah-olah dia bernapas di sana. Wajahnya adalah perpaduan antara aku dan Aris. Dia tersenyum dan berbisik di dalam benakku: "Terima kasih telah memilihku, Ibu. Tapi Ayah masih hidup di dalam mesin ini. Kita harus menjemputnya di tahun 1999."
1999? Sebelum aku dilahirkan? Dunia di sekitarku mendadak memutih, dan suara ombak berganti menjadi suara tangisan bayi di sebuah lorong rumah sakit tua.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...