"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_25
“Gimana, Ren?”
Bagas, Bayu, dan Ardi nyaris bersamaan berhamburan menghampiri Narendra yang baru saja menuruni tangga lantai dua. Wajah pria itu tegang, rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
“Gue mau ke Bandung sekarang,” ucap Narendra singkat, nyaris tanpa intonasi.
“Gue ikut,” sahut Bagas tanpa ragu.
“Gue juga,” sambung Bayu, langkahnya maju satu tapak.
Narendra menatap mereka bergantian. “Kalau kalian ikut semua, gimana kerjaan di sini?”
Bayu mendengus keras. “Muka gila. Lu pikir kita bakal lebih mentingin kerjaan daripada urusan keluarga?”
Sebelum Narendra sempat menanggapi, Ardi memberanikan diri bicara. “Kalau Pak Bagas sama Pak Bayu sibuk, biar saya saja, Pak, yang menemani bapak ke Bandung—”
Ucapan Ardi terputus oleh dua pasang mata yang langsung menajam ke arahnya.
“Kita nggak sibuk, Ar,” kata Bagas dan Bayu serempak, nada mereka tinggi dan tegas.
Ardi refleks menciut, mulut nya kembali tertutup rapat.
Narendra menarik napas panjang, mencoba menata pikirannya yang kacau. “Oke. Tapi kita nggak bisa pergi semua. Harus ada yang standby di sini. Jaga rumah. Persiapan kalau… kalau terjadi sesuatu yang nggak kita inginkan.”
Kalimat terakhir keluar dengan susah payah. Dada Narendra terasa sesak, seolah udara mendadak terlalu berat untuk dihirup.
Bayu mengangguk pelan. “Kalau gitu, gue sama lu yang berangkat ke Bandung. Bagas sama Ardi standby di sini. Jaga rumah.”
Bagas hendak menyela, tapi Bayu lebih dulu melanjutkan, “Bini gue asli Bandung. Gue punya banyak koneksi di sana. Siapa tahu nanti kita butuh bantuan. biar lebih gampang atasinnya,"
“Tapi istri lu lagi teler-telernya, Bay,” Bagas mengingatkan. “Masa mau lu tinggal?”
“Iya, tapi aman. Nyokap mertua gue di sini,” jawab Bayu mantap.
Narendra mengangguk. “Oke. Kita berangkat sekarang.”
“Saya akan siapkan beberapa pengawal untuk mengawalan Anda, Den,” ujar kepala pengawal keluarga Rusdiantoro. “Sisanya akan tetap standby di sini. Menjaga rumah dan Non Rayna serta Non Fatma.”
Narendra hanya mengangguk. Tak ada tenaga untuk bicara lebih. Ia langsung melangkah menuju mobil.
---
Angin sore menerpa wajahnya ketika deru mesin jet pribadi berwarna hitam doff sudah terdengar dari kejauhan dan siap mendarat di landasan bandara.
Bayu sudah lebih dulu berdiri di sana, jasnya terbuka, ponsel menempel di telinga. Begitu melihat Narendra mendekat, Bayu segera mematikan sambungan.
“Flight clearance sudah beres,” lapornya singkat. “Pilot bilang kita bisa langsung take off. Estimated flight ke Bandung nggak sampai satu jam.”
Narendra mengangguk, dadanya masih terasa sesak. “Makasih, Bay.”
“Tenang, Ren,” ujar Bayu akhirnya, memecah keheningan. “Mas Raka pasti baik-baik aja.”
Narendra menghela napas kasar. “Gue nggak bisa bayangin, Bay. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Mas Raka… istrinya lagi hamil sekarang. Gimana nasib anaknya kalau sampai ayahnya kenapa-kenapa?”
Ia mengusap wajahnya kasar, frustasi.
“Hus,” Bayu menegur. “Istighfar. Jangan mikir yang aneh-aneh.”
Narendra terdiam sejenak, lalu bergumam, “Gimana kalau ini kejadian sama gue, Bay? Rayna hamil, terus gue kecelakaan… gue nggak bisa bayangin kalau gue ada di posisi Mas Raka sekarang.”
Bayu spontan menoleh. “Astaghfirullahaladzim. Itu mulut beneran minta diplester, ya? Udah dibilang suruh istighfar, malah makin barbar omongannya. Kalau ada wali lewat terus doa lu dikabulin gimana?”
Narendra tersentak. “Astaghfirullahaladzim.”
“Lagian,” Bayu mendengus, “lu bilang nggak bakal nyentuh Rayna. Terus bini lu bisa hamil gimana, bambank? Kawin suntik?”
Narendra memilih diam. Balada obat perangsang yang berujung adegan mantap-mantap itu terlalu rumit untuk dijelaskan di saat seperti ini.
---
Pukul lima sore, mereka tiba di RSUD Bandung. Suasana rumah sakit lengang, lampu-lampu neon memantul dingin di lantai keramik. Beberapa perawat berlalu-lalang, dan segelintir keluarga pasien tampak duduk dengan wajah letih.
“Gue tanya resepsionis dulu,” ujar Narendra pada Bayu.
“Iya, gue tunggu di sini.”
Narendra melangkah ke meja resepsionis. “Sus, tadi siang apa ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini?”
“Oh, ada, Pak,” jawab resepsionis ramah sambil mengotak-atik komputer. “Sebentar, saya cek datanya dulu.”
Belum sempat Narendra bernapas lega, seorang pria berseragam polisi lalu lintas mendekat. “Sus, apa sudah ada keluarga korban kecelakaan yang datang?”
“Saya keluarganya, Pak,” jawab Narendra cepat tanpa memastikan, apakah keluayyang di maksud itu dirinya atau bukan
Wajah polisi itu sedikit melunak. “Alhamdulillah. Akhirnya ada juga keluarga yang datang. Mari, Pak, silakan ikut saya.”
Narendra berbalik ke arah Bayu yang masih berdiri tak jauh dari situ. “Gimana, Ren?” tanya Bayu cemas.
“Bapak polisi ini yang nangani kecelakaannya Mas Raka,” jawab Narendra. “Kita diminta ikut.”
“Silakan, Pak,” ujar polisi itu lagi sambil menunjuk ke sebuah ruangan di ujung koridor.
Narendra berhenti mendadak. Tubuhnya gemetar hebat saat melihat pintu ruangan yang ditunjuk.
“Maaf, Pak… ini maksudnya gimana?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
“Keluarga Bapak ada di dalam, Pak. Silakan masuk,” ulang polisi itu dengan nada datar.
Kaki Narendra seketika lemas. Bayu sigap memapah tubuh sahabatnya yang hampir ambruk.
“Bay… Mas Raka, Bay…” lirih Narendra, napasnya terengah.
“Lu kuat, Ren. Lu harus kuat,” ucap Bayu, meski suaranya sendiri bergetar. Dadanya ikut sesak melihat Narendra serapuh ini.
“Gue harus apa, Bay?” tangis Narendra pecah. “Gue harus bilang apa ke Rayna, ke Mamah, ke Mbak Fatma… ke anak yang ada di kandungan Mbak Fatma? Dia bahkan belum sempat lihat ayahnya…”
Air mata mengalir deras di pipinya.
“Allah lebih sayang sama Mas Raka, Ren,” ujar Bayu pelan. Tanpa sadar, air matanya sendiri ikut menetes.
“Selama tiga puluh tahun gue hidup,” lanjut Narendra terisak, “cuma satu keinginan gue yang nggak pernah terpenuhi—punya saudara. Sampai akhirnya gue nikah sama Rayna. Dan saat itu, gue ngerasain gimana rasanya punya saudara. Walaupun kita belum lama kenal, belum akrab… tapi gue udah nganggep Mas Raka sama Mbak Fatma kayak kakak gue sendiri, Bay…”
Tangisnya makin sesenggukan.
“Maaf, Pak,” ujar polisi itu lagi dengan suara lebih lembut. “Mari saya antar. Jenazah sudah dimandikan. Kata pihak rumah sakit, kalau keluarga sudah datang, kepulangan jenazah bisa segera diurus.”
“Ren,” Bayu menepuk bahu sahabatnya. “Ayo. Kita harus masuk. Nggak baik membiarkan jenazah terlalu lama.”
Dengan langkah tertatih, Narendra berusaha berdiri. Kakinya terasa tak lagi mampu menopang tubuhnya sendiri. Bayu setia memapahnya.
“Mari, Pak,” ujar polisi itu sekali lagi.
Namun baru saja mereka melangkah, seorang polisi lalu lintas lain menghampiri.
“Selamat malam, Ndan,” sapa polisi kedua sambil memberi hormat.
“Malam,” jawab polisi pertama. “Gimana? Keluarga korban kecelakaan yang dari Solo sudah datang?”
Narendra dan Bayu langsung saling berpandangan.
“Maaf, Pak,” Bayu menyela, suaranya menegang. “Tadi Bapak bilang apa? Keluarga korban kecelakaan yang dari Solo?”
plisss dong kk author tambah 1 lagi