Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Artikel Sampah dan Wig Pelangi
PENULIS EROTIS MANIPULATIF: APAKAH JOHAN ALEXANDER KORBAN ATAU KOMPLOTAN
RATU EROTIKA DIBALIK KELUARGA ALEXANDER
SKANDAL RATU EROTIKA DIBALIK TOPENG PENULIS SEJARAH, SIAPA SEBENARNYA TUNANGAN ARSITEK JOHAN ALEXANDER?
IDENTITAS ASLI LADY VELVET TERUNGKAP! TERNYATA ADALAH TUNANGAN PALSU SANG ARSITEK TERNAMA
Itu adalah beberapa judul artikel yang Jennie lihat di internet, fotonya bersama Johan saat mereka berada di klub malam juga tersebar.
Di foto itu Jennie tampak sedang membisikkan sesuatu di telinga Johan, posisi yang terlihat sangat intim dan menipulatif dari sudut pandang kamera tersembunyi, dan narasinya jauh lebih kejam:
"Sumber menyebutkan bahwa si penulis cabul ini sengaja mendekati Johan Alexander untuk riset erotis novel terbarunya, dia menggunakan status "tunangan" sebagai kedok untuk memeras materi dan sensasi."
"Tidak mungkin..." bisik Jennie, napasnya mulai memendek. "Bagaimana mereka bisa tahu? Foto ini...."
Johan yang berdiri di sampingnya langsung merampas ponsel itu dari tangannya sebelum dia sempat membaca kolom komentar yang sudah dipenuhi caci maki.
"Gosip sampah! Jangan dibaca," ucap pria itu.
"Bagaimana ini, Mas? Siapa yang nyebar berita ini, aku saja tidak punya teman, apalagi musuh," ucap Jennie pada Johan yang sudah sibuk dengan tabletnya.
Lady Velvet adalah sosok yang bebas di atas kertas, sedangkan Jennie di dunia nyata adalah orang yang tertutup.
"Tenang, yang penting jangan buka ponselmu dulu, mereka tidak tahu apa-apa tentang kamu," balas Johan berusaha menenangkan Jennie, meskipun wajahnya terlihat tegang.
"Tidak tau apa-apa gimana? Mereka tahu nama asliku, tempat tinggalku, dan mereka juga bilang aku sengaja merayumu hanya untuk mengeruk hartamu!" ucap Jennie mulai histeris, dia berjalan mondar-mandir seperti orang linglung.
Di tengah rasa frustrasinya, ponselnya kembali berbunyi. Manda sang editor kembali muncul di layar ponselnya, dan Jennie segera mengangkatnya.
"Halo, Manda?"
"JEN! Kamu masih di apartemen, kan? Wartawan sudah berkumpul di lobi kantor! Sponsor utama novelmu marah besar dan berniat mundur dari proyek ini," jelas Manda.
Jennie mengusap kasar wajahnya, "Aku tidak bisa berdiam diri saja, Man! Aku akan ke kantor dan menjelaskan semuanya."
"Jangan sekarang! Kamu bakalan habis dikeroyok media!"
Tapi Jennie sudah tidak bisa berpikir jernih, dan dia merasa harus bertanggung jawab. Dia tidak mau editornya terkena masalah karena ulahnya, meskipun terkadang Manda menyebalkan meminta revisi ini itu, tapi Manda yang juga menyemangatinya hingga di titik ini.
Jennie mematikan telepon dan langsung berlari menuju pintu keluar. Johan yang melihat itu melebarkan kedua matanya. "Jennie! Mau kemana kamu!" teriaknya saat Jennie sudah membuka pintu dan keluar.
Dengan cepat pria itu mengejar Jennie yang ternyata masuk ke dalam unitnya sendiri, dan Johan pun menyusul masuk.
Jennie sedang berada di dalam kamar, dia tidak menyusul karena ada telepon masuk dari tim hukumnya yang dia perintahkan untuk mencari dalang dari gosip sampah ini.
Sepuluh menit kemudian Jennie keluar dari kamar, Johan yang masih berbicara dengan tim hukumnya langsung terdiam seribu bahasa saat melihat penampilan Jennie, dan saat iu juga dia mematikan sambungan telepon.
Jennie memakai wig rambut palsu berwarna pelangi, entah dari mana wanita itu dapatkan. Wajahnya tertutup masker hitam besar yang hampir sampai ke matanya, dan yang paling parah dia memakai kaca mata hitam super gelap yang ukurannya besar.
"Jen, kamu mau kemana pake begituan?" tanya Johan dengan mata yang tak berkedip, kelakukan Jennie terkadang memang diluar nalar dan membuatnya mengelus dada.
"Aku sedang melakukan penyamaran! Kalau aku pake wig dan masker orang-orang gak bakal tahu kalau aku Jennie," jawab Jennie. "Aku harus ke kantor sekarang juga."
Johan memijat pelipisnya, "Kamu tidak bisa keluar dengan penampilan seperti itu, kamu malah akan menarik banyak perhatian!"
Jennie menggeleng ribut, "Tidak akan! Pokoknya aku harus pergi!"
Dia menyambar tasnya dan berlari menuju pintu, "Aku pergi dulu! Jangan kangen!" serunya penuh percaya diri.
Tapi karena kacamata hitamnya terlalu gelap serta wig pelanginya yang terus melorot menutupi pandangan, Jennie kehilangan arah.
DUG!
"Aduh!"
Bukannya memegang gagang pintu, dahi Jennie malah menghantam daun pintu yang keras itu. Dia terpental sedikit kebelakang, tangannya refleks memegangi dahinya yang berdenyut nyeri.
Wig pelanginya miring ke kanan menutupi telinga, dan kacamata hitamnya melorot sampai ke ujung hidung.
Johan menatap matanya sejenak, berusaha menahan tawa sekaligus merasa kasihan. Dia berjalan mendekat dan melepaskan kacamata hitam itu dari wajah Jennie.
"Bukan pintunya yang salah, kamu yang terlalu panik sampai hilang fokus," kata Johan pelan. Dia merapikan wig pelangi itu sebelum akhirnya menariknya sampai lepas dari kepala Jennie.
"Kembaliin wignya! Aku harus pergi, Mas!" pinta Jennie mencoba meraih rambut palsu itu.
"Tidak! Kamu tidak akan kemana-mana," balas Johan dan menarik Jennie dengan tegas namun tetap lembut dan menyeretnya kembali ke sofa.
"Tapi----"
"Aku sudah menyuruh timku untuk membereskan masalah ini, dan kamu jangan berani-berani keluar dari gedung ini sebelum semuanya mereda," ancam Johan dan kembali merampas ponsel Jennie.
"Kenapa ponselku diambil juga?!" protes Jennie.
"Karena setiap kali kamu melihat notifikasi, tanganmu gemetaran. Kamu cuma bakal menyakiti diri kamu sendiri kalau terus lihat komentar orang-orang yang gak kamu kenal," ucap Johan.
"Tapi mereka tahu identitas Lady Velvet, Mas. Mereka bahkan menganggapku wanita nakal yang manfaatin kamu," isak tangis Jennie akhirnya pecah.
Johan menarik masker Jennie dan membawanya ke dalam pelukan hangat, dia membiarkan wanita itu menangis di dadanya.
"Biarkan mereka ngomong apapun, yang penting aku tahu kamu tidak seperti yang mereka bicarakan," bisik Johan sambil mengusap rambut Jennie.
"Karena novelmu sudah hampir selesai, setelah ini istirahatlah sementara waktu dan nikmati hidupmu sebagai Jennie tanpa harus memikirkan naskah-naskah yang membuat otakmu berpikir keras itu. Aku ada di sini untuk menjagamu."
Jennie terdiam, tidak menyangka momen seperti ini akan terjadi dihidupnya yang selalu sendiri ini. Momen di mana ada seseorang yang menenangkan dan melindunginya dari jahatnya dunia.
Bersambung