Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Paramitha Corp - Ruang CEO - Sore Hari
Anindita duduk di mejanya, mencoba fokus pada laporan keuangan kuartal pertama yang terbentang di hadapannya. Angka-angka terlihat blur, otaknya tidak bisa berkonsentrasi. Sudah seminggu sejak kejadian di rumah sakit, seminggu sejak konfrontasi dengan Zaverio, seminggu sejak dia melarang Kirana memberitahu Zaverio apapun tentangnya.
Tapi yang paling mengganggu—sudah seminggu Hardana tidak menghubunginya sama sekali.
Tidak ada telepon. Tidak ada video call. Bahkan pesan WhatsApp-nya hanya dibaca tapi tidak dibalas. Setiap kali Anindita bertanya pada Rania, jawabannya selalu sama: "Tuan Hardana sangat sibuk, Nyonya. Mohon pengertiannya."
Anindita mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit—sangat kecil, hampir tidak terlihat, tapi dia tahu bayinya tumbuh di sana. Dia sudah merencanakan untuk terbang ke Singapura minggu ini, memberitahu Hardana tentang kehamilan secara langsung, melihat reaksi bahagia suaminya.
TOK TOK TOK.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk."
Seorang kurir masuk dengan paket besar di tangannya. "Paket untuk Nyonya Anindita Kusuma."
Anindita mengerutkan dahi. Dia tidak ingat memesan apapun. "Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirim, Nyonya. Hanya alamat Anda."
Setelah menandatangani tanda terima, Anindita menatap paket cokelat itu dengan perasaan aneh—campuran penasaran dan was-was. Tangannya gemetar saat membuka paket tersebut.
Di dalamnya, sebuah amplop manila besar.
Anindita membukanya, dan beberapa lembar foto jatuh ke mejanya.
Jantungnya berhenti berdetak.
Foto pertama: Hardana menggendong Indira di pantai, gadis kecil itu tertawa ceria memeluk leher Hardana.
Foto kedua: Hardana berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita—wajahnya sengaja di-blur, tapi postur tubuhnya jelas terlihat.
Foto ketiga: Hardana mencium kening wanita itu di sebuah restoran mewah, sementara Indira duduk di kursi tinggi di samping mereka, tersenyum.
Foto keempat: Hardana, wanita itu dan Indira di depan hotel—terlihat seperti keluarga sempurna.
Tangan Anindita gemetar begitu hebat hingga foto-foto itu jatuh bertebaran di meja. Nafasnya tersengal, dadanya sesak. Ini tidak mungkin. Ini pasti salah. Ini pasti—
Matanya tertangkap oleh sesuatu di balik salah satu foto. Sebuah tulisan tangan dengan tinta hitam:
"Suamimu, Hardana Kusuma, akan menikah lagi pada tanggal 15 Januari pukul 18.00 di The Azure Bay Resort, Pulau Seribu. Apakah kau tidak akan datang? - Salam dari adik tersayangmu, Savitha."
Dunia Anindita runtuh.
Tanggal 15 Januari. Hari ini tanggal berapa? Berapa?!
Dengan tangan gemetar, Anindita meraih kalender di mejanya. Matanya membaca tanggal yang tercetak besar: 15 Januari 2026.
"Tidak... tidak... tidak..." Anindita bangkit dengan tergesa, melemparkan semua barang di mejanya dalam panik. "Di mana? Di mana undangan itu?!"
Undangan pernikahan dari Savitha. Undangan yang dia buang karena mengira itu hanya permainan jahat. Undangan dengan inisial HK & SP.
Hardana Kusuma & Savitha Paramitha.
"TIDAK!" Anindita berteriak, membuka laci demi laci dengan kasar, melemparkan dokumen ke lantai. "Ini tidak mungkin! Hardana tidak akan—"
Tapi suara Savitha bergema di kepalanya: "Ini kejutan yang kusiapkan khusus untukmu, Kak. Kalau kau tidak datang, kau akan menjadi orang paling bodoh selamanya."
Anindita akhirnya menemukan undangan itu—terlipat rapi di sudut laci bawah. Tangannya gemetar membukanya, membaca dengan mata yang hampir tidak bisa fokus karena air mata.
15 Januari 2026 - Pukul 18.00 WIB - The Azure Bay Resort, Pulau Seribu
HK & SP
Jam dinding menunjukkan pukul 16.00.
Dua jam. Dia hanya punya dua jam.
"KIRANA!" Anindita berlari keluar ruangannya, berteriak dengan suara yang nyaris histeris. "KIRANA!"
Kirana yang sedang di mejanya langsung berdiri, wajahnya pucat melihat majikannya yang terlihat kacau—rambut berantakan, mata merah, wajah pucat seperti mayat.
"Nyonya! Ada apa?!"
"Tanggal berapa sekarang?!" Anindita mencengkeram bahu Kirana, matanya liar.
"T-tanggal 15 Januari, Nyonya. Apa ada meeting yang saya lupakan, nyo—"
"JAM BERAPA?!"
Kirana terkejut dengan teriakan itu. "Jam 16.00, Nyonya. Anda baik-baik—"
"Siapkan mobil. SEKARANG. Kita harus pergi menuju The Azure Bay Resort, Pulau Seribu. SEKARANG!" Anindita sudah berlari menuju lift pribadi.
"Nyonya, hati-hati! Dan untuk apa kita kesana..." Kirana berlari mengikuti.
"JANGAN BANYAK TANYA! SIAPKAN MOBIL ATAU KAU AKAN KUPECAT!"
Kirana tidak pernah—tidak pernah sekalipun—melihat Nyonyanya seperti ini. Panik. Ketakutan. Seperti orang yang kehilangan kewarasannya.
Tanpa pikir panjang, Kirana mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan cepat ke nomor yang sudah sangat familiar:
"Tuan, keadaan darurat. Nyonya Anindita dalam keadaan yang tidak stabil. Kami menuju The Azure Bay Resort, Pulau Seribu. Tolong datang. Cepat."
Send.
...****************...
Perjalanan ke Pulau Seribu - Di dalam mobil
Anindita duduk di kursi belakang, tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menggenggam foto-foto itu, menatapnya berulang-ulang seolah berharap gambarnya akan berubah.
Tapi tidak. Setiap kali dia melihat, tetap sama.
Hardana dengan wanita lain. Hardana dengan Indira. Hardana yang terlihat... bahagia.
"Tidak... ini pasti salah..." Anindita bergumam, air matanya mengalir tanpa henti. "Hardana tidak akan melakukan ini. Dia mencintaiku. Dia bilang dia mencintaiku. Dia bilang aku adalah segalanya baginya. Dia tidak akan—"
Tapi bukti-bukti ada di tangannya. Foto-foto yang tidak bisa berbohong.
"Nyonya, tolong tenang," kata Kirana dari kursi pengemudi, matanya khawatir lewat kaca spion. "Anda hamil. Stress seperti ini tidak baik untuk—"
"AKU TAHU AKU HAMIL!" Anindita berteriak, tangannya memeluk perutnya protektif. "Tapi suamiku... suamiku akan menikah dengan wanita lain! Dengan adikku sendiri! Bagaimana aku bisa tenang?!"
Kirana menggigit bibir, menekan pedal gas lebih dalam. Speedometer menunjukkan 120 km/jam—berbahaya, tapi ini keadaan darurat.
Perjalanan yang biasanya dua jam, mereka tempuh dalam satu jam lima belas menit. Mobil melaju kencang melewati jalan tol, kemudian menyeberang dengan speed boat yang Kirana sewa dengan harga selangit agar pemiliknya mau berangkat segera.
Selama perjalanan, Anindita tidak bisa berhenti menangis. Tangannya terus mengusap perutnya, berbisik pada bayinya:
"Maafkan Mama, sayang. Papa... Papa kita mungkin tidak menginginkan kita. Tapi tidak apa-apa. Mama akan melindungimu. Mama berjanji."
...****************...
The Azure Bay Resort, Pulau Seribu - Pukul 17.50
Mobil berhenti kasar di depan resort mewah yang berdiri megah menghadap laut. Langit sore berwarna jingga keemasan, angin laut berhembus sejuk—seharusnya romantis, tapi bagi Anindita, ini adalah neraka.
Anindita turun dari mobil bahkan sebelum mobilnya benar-benar berhenti, hampir terjatuh karena tergesa. Kirana berlari mengikuti.
"Nyonya! Hati-hati!"
Tapi Anindita tidak peduli. Dia berlari—berlari dengan sepatu heels di pasir—menuju ballroom besar di tepi pantai di mana upacara pernikahan sedang berlangsung.
Musik orkestra terdengar dari dalam. Suara tawa. Suara tepuk tangan.
Anindita mendorong pintu besar ballroom dengan keras.
BRAK!
Dan dunianya hancur total.
Di sana, di altar yang dihiasi bunga mawar merah dan putih, berdiri Hardana—mengenakan tuxedo putih yang sempurna, tampan seperti pangeran dari dongeng—bergandengan tangan dengan seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin putih mewah.
Wanita itu berbalik, dan senyum licik mengembang di wajahnya.
Savitha Paramitha.
Adik tirinya. Wanita yang mencuri 100 triliun rupiah dua belas tahun lalu. Wanita yang menghancurkan hidupnya.
Dan sekarang, wanita yang merebut suaminya.
Di samping mereka, berdiri Indira dengan dress pink princess, memegang keranjang bunga. Gadis kecil itu tersenyum polos, tidak tahu bahwa kebahagiaan kecilnya adalah belati yang menusuk jantung Anindita.
Dan yang membuat semuanya seratus kali lebih menyakitkan—seluruh keluarga Kusuma ada di sana.
Bramantara Kusuma, ayah mertua Anindita, duduk di barisan depan dengan wajah dingin yang tidak menunjukkan emosi.
Lastri Kusuma, ibu mertuanya, tersenyum lebar sambil mengelap air mata bahagia—seolah ini adalah pernikahan yang paling dia tunggu-tunggu.
Darwan Kusuma, kakek dari Hardana, duduk dengan tongkatnya, mengangguk-angguk setuju.
Semua keluarga besar Kusuma ada di sana. Paman, bibi, sepupu. Semuanya merayakan pernikahan ini.
Semuanya... kecuali satu orang.
Zaverio Kusuma tidak ada di sana.
"APA-APAAN INI?!"
Teriakan Anindita menggema di seluruh ballroom. Musik berhenti. Semua kepala menoleh ke arahnya.
Anindita berjalan cepat menuju altar, matanya hanya tertuju pada Hardana—suaminya, pria yang tidur di sampingnya setiap malam, pria yang berjanji akan mencintainya selamanya.
"HARDANA!" teriaknya, suaranya serak karena menangis. "APA YANG KAU LAKUKAN?!"