NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Kunjungan Mama Reni

Mobil memasuki area Rose Residence saat matahari mulai condong ke barat. Kompleks itu tenang seperti biasa, rapi, eksklusif, dan seolah terisolasi dari hiruk-pikuk luar.

Begitu pintu apartemen terbuka, langkah Renan terhenti.

Ayuna yang berada tepat di belakangnya ikut berhenti, nyaris menabrak punggungnya.

Ruang tamu itu tidak kosong.

Di atas meja marmer yang biasanya hanya berisi vas bunga dan majalah, kini tersusun rapi berbagai kantong belanja, kotak vitamin, susu ibu hamil, bantal penyangga kehamilan, hingga beberapa brosur rumah sakit. Dan di sofa, duduk seorang wanita dengan punggung tegak, wajahnya tenang namun penuh perhatian.

“Mama?” Renan bersuara lebih dulu.

Mama Reni menoleh. Senyumnya langsung merekah begitu melihat mereka. “Kalian sudah pulang.”

Ayuna terpaku. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Renan bergeser setengah langkah ke depan, berdiri sedikit di depan Ayuna, seolah itu sudah menjadi refleks yang tak perlu dipikirkan.

“Kenapa Mama ada di sini?” tanyanya terkendali. “Kenapa telepon dulu kalau mau datang?”

Mama Reni meliriknya sekilas. Tatapannya tidak tajam, tidak pula tersinggung, hanya penuh pemahaman.

“Apa masalahnya Mama bertamu ke rumah kalian? Mama tahu hari ini kalian pergi periksa kandungan,” jawabnya ringan.

“Mama tentu ingin tahu hasilnya dong.”

Renan membuka mulut hendak menanggapi, tetapi Mama Reni lebih dulu mengangkat tangan.

“Renan,” katanya datar namun tegas. “Pergilah ke dapur. Buatkan teh. Atau lakukan apa saja.”

“Kan ada Mbak Yeni.”

"Oh, ya, Mama lupa kasih tahu kamu kalau Mbak Yeni cuti. Anaknya lagi sakit," sela Mama Reni.

Ayuna melangkah sejajar dengan Renan. "Mama, bagaimana kalau saya yang buatkan teh?" ucapnya.

Mama Reni berjalan menuju Ayuna dan meraih tangannya. "Tidak Ayuna. Biarkan Renan yang buat teh. Kamu pasti lelah setelah di luar seharian. Bumil harus lebih banyak istirahat."

Ia menuntun Ayuna untuk duduk di sofa bersamanya. "Meskipun Mama tahu Renan tidak pernah masuk dapur. Tapi, dia juga harus belajar." Lanjutnya menatap Renan sambil memberi kode.

Renan tak bergeming. "Apa sih yang Mama inginkan. Mama kan nggak suka teh."

Renan tahu Mamanya telah menerima Ayuna, tapi nalurinya menolak membiarkan mereka sendirian, terutama saat Ayuna sedang rapuh.

Mama Reni jengkel melihat putranya yang tidak koperatif. "Mama ingin bicara dengan menantu Mama,” ungkap Mama Reni. “Tanpa kamu mengganggu.”

Renan terdiam. Ia menoleh ke arah Ayuna. Ayuna mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.

Dengan langkah berat yang tak sepenuhnya ia sembunyikan, Renan akhirnya berbalik menuju dapur.

Dapur itu sunyi.

Renan menyalakan lampu tanpa ragu. Langkahnya langsung menuju lemari, membuka laci yang tepat, mengambil dua cangkir tanpa berpikir.

Gerakannya tenang dan alami.

Ia mengisi ketel, menyalakan kompor, lalu mengambil teh celup dari rak.

Saat air mendidih, ia meletakkan teh celup ke dalam cangkir, lalu menuangkan air panas perlahan.

Uap tipis naik.

Dalam diam, pikirannya melayang singkat ke rumah sempit yang dulu ia sewa, ke pagi-pagi dingin tanpa sarapan, ke teh murah yang dulu ia buat untuk menahan lapar.

Jika dia adalah Renan yang dulu, tuan muda kedua Morris yang hidupnya selalu diurus orang lain. Ia bahkan tidak akan tahu harus mulai dari mana.

Namun, pahitnya hidup telah mengajarinya bahwa dapur adalah tempat pertama seseorang belajar bertahan.

❀❀❀

Keheningan menyelimuti ruang tamu setelah suara langkah Renan menjauh.

Setelah Renan pergi, Mama Reni kembali fokus pada Ayuna.

“Bagaimana hasil pemeriksaannya?”

Ayuna menarik napas kecil. “Baik, Ma. Dokternya bilang semuanya normal.”

Bahunya sedikit mengendur saat mengucapkannya, seolah baru sekarang benar-benar berani mengakui rasa lega itu.

“Syukurlah,” ucap Mama Reni pelan.

Ia mengangguk kecil, lalu bertanya lagi, lebih hati-hati.

“Usia kandungan kamu sekarang berapa?”

“Sekitar delapan minggu,” jawab Ayuna.

Ia meraih ponselnya dari tas, lalu membuka galeri. Jemarinya sedikit gemetar saat memperlihatkan layar itu.

“Ini hasil USG-nya, Ma.”

Mama Reni mendekat. Pandangannya tertuju pada layar, gambar hitam putih dengan titik kecil di tengahnya.

“Detak jantungnya sudah terdengar,” lanjut Ayuna lirih.

“Dokternya bilang kuat dan teratur.”

Wajah Mama Reni langsung berubah. Ada kelegaan yang jelas, nyaris emosional.

“Alhamdulillah…” napasnya terdengar lebih panjang dari sebelumnya.

Ia menatap layar itu beberapa detik lebih lama, lalu menoleh kembali pada Ayuna.

“Kamu hebat,” katanya pelan, tulus.

Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil, senyum seseorang yang sedang kembali ke masa lalu.

“Mama ingat waktu pertama kali hamil Revan,” katanya pelan.

“Mama muntah hampir setiap pagi. Tidak kuat mencium bau apa pun. Bahkan parfum ayahnya membuatku pusing.”

Ayuna mendengarkan dengan saksama.

“Waktu hamil Renan,” lanjut Mama Reni, “justru berbeda. Mama lebih sering diam. Lebih sensitif. Sedikit saja emosi, Mama bisa menangis.”

Ia terkekeh lirih. “Papa mereka sampai bingung harus bersikap seperti apa.”

Ayuna tersenyum tipis.

“Kehamilan itu bukan cuma tentang tubuh,” ujar Mama Reni, kini menatapnya lebih serius. “Tapi juga hati. Banyak hal lama akan ikut naik ke permukaan.”

Kalimat itu membuat Ayuna terdiam.

Mama Reni meraih tangannya. Genggamannya hangat dan mantap.

“Apa pun yang terjadi antara kamu dan Renan sebelum ini,” katanya pelan namun jelas, “tidak perlu kamu telan sendirian.”

Mama Reni bisa melihat dari interaksi dan sorot mata Ayuna bahwa ia memeiliki masalah dengan Renan.

Mama Reni mengenal putranya terlalu baik. Renan tidak pernah pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Ia keras, protektif, dan sering salah memilih cara. Emosinya tidak meledak, tapi disimpan, lalu diubah menjadi tindakan yang penuh perhitungan.

Dia tidak tahu bagaimana perempuan selembut dan selugu Ayuna bisa menarik perhatian putranya. Sifat Ayuna yang pendiam tidak akan cocok dengan Renan yang bertindak cepat dan sering kali tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Ayuna menunduk. “Saya akan berusaha, Ma.”

“Kehamilan memang tidak pernah sederhana,” jawab Mama Reni. “Tapi kamu tidak sendiri.”

Ia mengusap punggung tangan Ayuna perlahan. “Dan Renan, dia memang keras, terlalu protektif, dan sering salah cara. Tapi dia tidak pernah main-main kalau sudah menyangkut keluarganya.”

Ayuna mengangguk pelan.

“Mama tidak tahu apa yang kalian alami,” lanjut Mama Reni. “Mama hanya berharap kamu tidak memendam segalanya sendirian. Kamu harus lebih terbuka. Terlebih kepada Renan. Beritahu dia secara langsung jika kamu punya masalah atau pertanyaan.”

Saat itu, suara langkah terdengar dari arah dapur.

Mama Reni melepas genggaman Ayuna dan tersenyum tipis, seolah percakapan barusan adalah sesuatu yang cukup mereka berdua saja.

Renan berhenti di ambang pintu, membawa dua cangkir teh. Pandangannya langsung tertuju ke arah Ayuna.

"Jangan hanya berdiri di sana,” ujar Mama Reni. “Sajikan tehnya dan kamu boleh duduk.”

Renan menurut, ia meletakkan satu cangkir di atas meja di depan Mama Reni dan cangkir lainnya di depan Ayuna. Ia meletakkan nampan di bawah meja, lalu duduk di sisi Ayuna.

Ayuna meliriknya sekilas. Ia tidak menyangka Renan akan benar-benar membuat teh.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Anonymous: oke lah tak apa.. menarik juga
total 8 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!