Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Mati karena Lembur, Bangun sebagai Selir Tak Resmi
Song An mati di depan layar komputer.
Bukan karena kecelakaan tragis, bukan juga karena pembunuhan. Ia mati dengan cara paling menyedihkan yang bisa dibayangkan seorang karyawan kantoran: kelelahan karena lembur berturut-turut.
Jam di pojok layar menunjukkan pukul 02.47 pagi. Kantor sudah sepi sejak dua jam lalu. Lampu lantai lain dimatikan. AC masih menyala dingin, tapi Song An sudah tidak merasakannya.
Tangannya masih di atas keyboard, kursor berkedip di file Excel yang belum tersimpan.
“Kelar sedikit lagi… habis ini pulang…” ujar Song An
Itu kalimat terakhir yang terlintas di kepalanya karena tiba tiba dadanya terasa sesak, pandangannya mengabur, lalu gelap. Tidak ada teriakan. Tidak ada orang yang menyadari. Bahkan satpam pun baru menemukannya pagi hari, dalam posisi duduk rapi seolah tertidur.
Dan begitulah akhir hidup Song An di abad ke-21.
—
Saat ia membuka mata kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah bau aneh.
Bukan bau AC kantor. Bukan bau kopi sachet. Bukan juga bau karpet lama tapi ini bau kayu, dupa tipis, dan kain bersih.
Song An mengerjapkan mata pelan.“Langit-langit…?”
Yang ia lihat bukan lampu neon, melainkan balok kayu dengan ukiran sederhana. Tirai tipis bergoyang pelan karena angin. Cahaya matahari masuk lembut dari jendela besar.
“Ini… rumah siapa?” tanyanya lagi, Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa ringan dan asing. Saat menurunkan pandangan, ia melihat dirinya mengenakan pakaian panjang berwarna pucat, lengan lebar, kain halus yang jelas bukan baju kantor.
“Sebentar.” Song An duduk mendadak.
Rambut panjang hitam jatuh ke depan bahunya lalu ia menatap rambut itu lama.
“…rambut siapa ini?” Panik mulai naik.
Ia meraba kepalanya. Rambut panjang. Sangat panjang. Terikat setengah dengan pita kain dadanya naik turun cepat.“Tenang, Song An. Jangan panik. Mungkin ini… mimpi sebelum mati?”
Ia mencubit lengannya sendiri.“Sakit.” Ia menepuk pipinya. “Sakit juga.”
Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Kalau ini mimpi, detailnya keterlaluan.”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pintu kamar terbuka pelan.
Seorang gadis muda masuk dengan pakaian mirip seragam pelayan drama sejarah. Begitu melihat Song An duduk, gadis itu langsung menunduk.
“Selir Song sudah bangun.”uhar sang pelayan sopan
Song An membeku. “…siapa?”
Pelayan itu mendongak, jelas terkejut. “Selir Song… apakah Anda merasa tidak enak badan?”
Song An menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
“Ya, Selir.” jawab pertanyaan itu bingung
Kepala Song An mendadak pusing. Bukan pusing sakit, tapi pusing karena otaknya berusaha mengejar situasi.
“Selir… Song?” Pelayan itu menunduk lagi. “Maaf jika pelayan lancang. Apakah perlu memanggil tabib?”
Song An mengangkat tangan. “Tunggu. Tunggu. Jangan panggil siapa-siapa dulu.”
Pelayan itu ragu, tapi mengangguk.
Song An mengusap wajahnya.“Oke. Aku mati karena lembur. Bangun-bangun di tempat aneh. Ada pelayan. Ada istilah selir.”
Ia menoleh ke pelayan. “Sekarang aku mau tanya. Jawab jujur.”
“Baik, Selir.” jawab pelayan
“Ini… zaman apa?” Tanya Song An
Pelayan itu terlihat semakin bingung. “Ini… tahun kesembilan pemerintahan Kaisar Shen.”
Jawaban itu membuat Song An ingin rebahan lagi. “Kaisar?”
“Iya.”
“Bukan presiden?” tanya Song An
“Presiden…?” Pelayan itu tampak tidak mengerti.
Song An menatap langit-langit. “Oke. Jelas bukan mimpi biasa.”
Ia menarik napas panjang lagi.“Pertanyaan berikutnya,” katanya. “Aku ini… selir apa?”
Pelayan itu ragu sejenak sebelum menjawab pelan, “Selir bayangan.”
“…apa?” seru Song An tidak percaya
“Selir bayangan, Selir. Statusnya… tidak tercatat resmi di arsip utama istana.” jelas sang pelayan
Song An menoleh tajam. “Jadi aku ini selir tapi tidak resmi?”
“Iya.”
“Tidak punya gelar?”
“Tidak.”
“Tidak punya istana sendiri?”
“Kamar ini saja, Selir.”
Song An menatap sekeliling kamar. Kecil, bersih, tapi jelas bukan tempat mewah.
Ia tertawa kecil, kering.“Bagus sekali.”
Pelayan itu makin bingung. “Selir?”
“Tenang. Aku tidak marah.” Justru anehnya, Song An merasa… lega.
Di drama-drama yang pernah ia tonton, selir biasanya penuh intrik, saling menjatuhkan, berebut perhatian kaisar.
Tapi kalau statusnya bahkan tidak penting, berarti kemungkinan besar “Aku bisa hidup tenang, kan?” gumamnya.
Pelayan itu tidak menjawab karena tidak mengerti.
Song An berdiri dari ranjang.“Namamu siapa?” tanyanya.
“Pelayan ini bernama Mei.”jawab pelayan itu
“Oke, Mei. Kita anggap hari ini aku amnesia total.”
Mei terkejut. “Amnesia apa itu?”
"hilang ingatan" jawab Song An
Dan itu membuat Mei terkejut tapi tidak berani bertanya lebih lanjut
“Iya. Jadi kalau aku bertanya hal bodoh, jangan heran.” ujar Song An
Mei langsung panik. “Haruskah memanggil tabib...."
“Tidak. Aku hanya lupa aturan-aturan kecil.” Song An melirik pakaiannya. “Seperti… apa aku harus berlutut ke semua orang?”
Mei mengangguk ragu. “Kepada Yang Mulia, iya.”
Song An menghela napas panjang. “Capek juga hidup baru ini.”
Ia berjalan ke jendela. Dari sana terlihat taman istana yang luas. Bangunan-bangunan megah. Pelayan berlalu-lalang. “Mei.”
“Iya, Selir.” jawab Mei
“Sejujurnya, selir bayangan itu biasanya ngapain?” tanya Song An
Mei berpikir. “Menunggu dipanggil. Tidak banyak keluar kamar. Tidak ikut jamuan besar.”
Song An tersenyum tipis. “Surga.”
Mei menatapnya heran.
Song An menepuk tangan pelan. “Baik. Tujuan hidup baruku jelas.”
“Apa itu, Selir?” Tanya Mei
“Makan cukup, tidur cukup, dan tidak mati lagi karena kelelahan.”jawab Song An dengan bahagia
Mei mengangguk, meski jelas tidak paham.
—
Masalah pertama muncul satu jam kemudian.
Mei datang tergesa-gesa. “Selir Song! Ada perintah mendadak.”
“Apa?”
“Yang Mulia Kaisar… berjalan ke taman belakang. Semua selir yang berada di area diwajibkan memberi salam.”
Song An menegang.“Kaisar?”
“Iya.” jawab Mei
Song An menelan ludah, "Oke. Ini momen penting. Kaisar. Penguasa tertinggi. Orang yang bisa memenggal kepala tanpa perlu alasan. Tapi aku harus ikut?”
“Selir berada di jalur taman, jadi—iya.” jawab Mei
Song An mengangguk pelan. “Baik.”
Ia mengikuti Mei keluar kamar. Sepanjang jalan, ia melihat beberapa wanita berpakaian indah berdiri rapi di sisi jalan, wajah serius, postur sempurna.
“Kenapa mereka tegang sekali?” bisiknya.
Mei berbisik balik, “Yang Mulia terkenal dingin dan tidak suka kesalahan.”
“Hebat. Baru hidup lagi sudah diuji.” keluh Song An lalu langkah kaki mendekat. Suasana mendadak sunyi.
“Yang Mulia datang!” Semua orang langsung berlutut.
Song An ikut berlutut… lima detik terlambat.
Dan itu pun dengan posisi canggung.
“Aduh…” Lututnya langsung protes. “Kenapa lantainya keras sekali…”
Mei meliriknya panik.
Song An mencoba menahan, tapi refleks modernnya menang.
Ia menggeser posisi, sedikit mengangkat lutut, lalu menghela napas kecil.“Maaf ya… lama tidak olahraga.”
Suara langkah berhenti tepat di depannya.
Song An bisa merasakan aura dingin di udara.
Seseorang berdiri di hadapannya.
Ia tahu, tanpa perlu melihat, itulah Kaisar Shen.
“Siapa yang berbicara?” Suaranya rendah, datar, dan tenang.
Semua selir menunduk lebih dalam.
Mei hampir menangis ketakutan.
Song An mengangkat kepala sedikit sangat sedikit dan berkata refleks, “Itu saya.”
Sunyi.
Bahkan burung pun seolah berhenti berkicau.
Mei menutup mata.
“Kau?” tanya sang kaisar.
“Iya.” Song An lalu buru-buru menambahkan, “Yang Mulia.”
Ia baru sadar jika saat ini ia menatap langsung wajah kaisar.
Pria itu tampan dengan cara dingin. Wajah tegas, mata tajam, ekspresi nyaris tanpa emosi.
“Apa namamu?” tanya Kaisar Shen.
“Song An.”
“Selir?”
“Selir bayangan.” jawab Song An
Kaisar Shen mengerutkan kening tipis. “Selir bayangan?”
“Iya. Yang tidak penting.” jawab Song An dengan santai tapi begitu kalimat itu keluar, Song An langsung menyesal. “…maksud saya, tidak tercatat.”
Beberapa pejabat di belakang kaisar tampak terkejut.
Kaisar Shen justru menatapnya lebih lama. “Kenapa kau tidak berlutut dengan benar?”
Song An jujur. “Lantai keras.”
Semua orang terkejut lagi.
Mei ingin pingsan.
Kaisar Shen diam.
Lalu sangat pelan sudut bibirnya bergerak sedikit. “Hanya itu alasannya?”
“Iya... Memangnya apa lagi?” jawab Song An
“Bukan karena tidak hormat?” tanya kaisar Shen
“Tidak. Saya cuma pegal.” jawab Song An jujur
Hening panjang.
Lalu Kaisar Shen berkata, “Berdiri.”
Song An berdiri, bingung.
“Kau aneh.” ujar kaisar
Song An menatap kaisar “Terima kasih?”
“Itu bukan pujian.” ujar kaisar
“Tidak apa-apa.” jawab Song An
Untuk pertama kalinya sejak naik takhta, Kaisar Shen merasa… terhibur.“Pergilah,” katanya singkat.
Song An membungkuk asal, lalu berjalan pergi sambil berbisik, “Syukurlah.”
Di belakangnya, Kaisar Shen menatap punggungnya.“Selir bayangan…” Ia mengulang pelan.
"Menarik." Dan tanpa disadari Song An, hidup tenangnya di istana resmi berakhir sejak hari itu.
Bersambung