NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 30: it starting to be answered [END]

BULAN purnama terlihat indah dari kejauhan. Taburan bintang yang berkelap-kelip di gelapnya malam seolah menjadi lampu disko dengan bayangan dedaunan menjadi latarnya karena ditiup angin. Bangunan istana lain yang bersinar karena lampu-lampu sihir menerangi bagian gelap taman yang hanya mendapat cahaya remang-remang dari lampu taman. Semua pemandangan ini menyatu dalam kaca jendela besar di ruangan pribadiku.

Ruangan ini memiliki sisi bagian dalam jendela yang dapat menjadi tempat duduk untuk membaca ataupun sekadar bersantai sembari menikmati pemandangan alam. Disertai lilin beraroma terapi yang ada di beberapa sudut, aku dapat merilekskan tubuh karena nuansa ini menyajikan sebuah ketenangan di larut malam. Namun, malam ini pikiranku tidak mau bekerja sama dengan keinginanku yang ingin bersantai.

Aku menuang anggur dan memenuhi setengah bagian gelas ketika dua orang pria yang berada di ruangan ini tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah pembicaraan kami sebelumnya  berakhir; Hamon tidak lagi bersuara dan memutuskan untuk tidak beranjak dari ruangan ini.

“Maaf, bila saya lancang, tetapi mengapa Yang Mulia berpikir bahwa Anda juga akan melakukan apa yang Anda perbuat di kehidupan kedua Putri?”

Aku tidak langsung menjawab. Untuk sejenak, memori kembali terputar di kepaku disusul oleh sesuatu di dalam dada yang bergemuruh. Jauh di lubuk hati, aku meyakini akhir dari kehidupan kedua dan ketiga akan berbeda–tetapi di sisi lain aku juga merasa takut dengan apa yang mungkin terulang kembali. Adanya kemiripan hubunganku dengan Elora di masa lalu dan saat ini justru membuatku risau–karena meski kami merasa baik, tetap saja anak itu mati di tanganku.

“Itu karena kesamaan hubungan di kehidupan kedua dan saat ini tetap menemui akhir yang tragis.”

“Meski terdapat perbedaan?”

“Ya.”

Begitu aku membenarkan perkataannya, Hamon terdiam. Dia tidak lagi berkata apa-apa dan aku kembali meneguk anggur–berusaha mendamaikan dada yang terasa tidak nyaman dan gelisah. Ketika alkohol dengan konsentrasi tinggi itu mulai bekerja; aku mengingat sesuatu yang sering dikatakan manusia–bahwa perasaan takut kehilangan sesuatu itu muncul karena sudah terbiasa dengannnya.

“Sepertinya sekarang, Anda sudah merasakan posisi Anda sebagai seorang Ayah bagi Putri.”

Aku membenarkan. “Mungkin saja seperti itu.”

“Namun, ada hal yang dari dulu ingin saya tanyakan.” Aku menoleh dan dia melanjutkan, “Kenapa Yang Mulia membiarkan Putri di sisi Anda? Mengabaikan fakta bahwa Anda berdua memiliki ikatan takdir di masa lalu, apa yang membuat Yang Mulia akhirnya mengambil keputusan tersebut? Padahal, Anda membenci wanita.”

“Kau benar, aku membenci wanita karena dulunya aku sering disiksa oleh permaisuri.” Aku memberi jeda. “Namun, anak itu bukan wanita.”

“Maaf?”

“Elora, anak itu, dia bukan wanita melainkan seorang perempuan. Makanya, aku membiarkan dia berada di sekitarku.”

Selama beberapa detik, Hamon terlihat bingung–lalu tanpa disangka-sangaka, dia berjalan menuju meja kecil yang terdapat beberapa botol anggur; mengambilnya dan meneguknya langsung dari botol. “Anda memang benar. Meski saya tidak dapat mengerti jalan pikiran Yang Mulia, saya merasa pernyataan Anda benar.”

“Memang sudah seperti itu, kan?”

Di antara orang terdekat yang kupercaya mengemban tanggung jawab besar, Hamon adalah satu-satunya orang yang mampu bersikap fleksibel dan menyesuaikan diri dengan cepat. Mungkin karena terlalu sering bertukar pendapat dengannya dan didukung oleh sikap tidak takut mati yang pria itu miliki–-Hamon jadi menganggapku teman dan bertindak tidak sopan dan kurang ajar saat hanya berdua denganku. Namun, anehnya, aku justru merasa nyaman.

“Sejak awal, aku tidak berniat membiarkan dia di sisiku.” Aku mulai bercerita. “Penampilan yang sangat mirip denganku itu sangat kubenci. Makanya, aku berniat membunuhnya. Namun, aku tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini, di mana aku mengangkatnya sebagai putriku. Itu adalah sebuah kesalahan yang kuperbuat. Namun, anehnya aku tidak menyesalinya.”

Terdiam beberapa saat, aku kembali melanjutkan. “Semuanya seperti terjadi begitu saja, dimulai dari masalah keturunan hingga akhirnya dia muncul dan membuat masalah baru. Meski sekarang, masalah keturunan sudah tidak lagi menjadi pembahasan berkat dirinya.” Melihat Hamon yang terdiam, aku mencoba mengerti. “Kau pasti  bingung, kan? Aku pun juga tidak mengerti dengan situasi ini dan diriku sendiri.”

“Itu memang sedikit membingungkan.” Dia memberi jeda. “Namun, saya berpikir bahwa kehadiran Putri adalah anugerah. Persis seperti yang pernah Anda katakan, dia adalah hadiah. Meski memang di awal muncul masalah karena kehadiran beliau, saya berpikir itu adalah hal yang wajah karena kehidupan itu sendiri tidak bisa diprediksi.”

Kami saling diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suara beberapa burung gagak yang melintas kemudian terdengar nyaring dalam kesunyian, membuatku tersadar pada tujuan awal datang ke ruangan ini, yaitu mencari jawaban dibalik siapa ‘orang bersinar’ yang dimaksud Elora. 

“Menurutmu, apa yang dimaksud dengan orang bersinar?”

Aku bertanya setelah memikirkannya beberapa menit tanpa jawaban. Kembali meneguk alkohol di tangan, aku menunggu Hamon mengeluarkan pendapat–sedangakn pria itu terdiam dengan air mukanya yang serius. Matanya lurus menatap sebotol anggur yang dia minum langsung dari botol beberapa saat lalu.

“Seseorang yang memiliki sinar?” Dia menjawab ragu, berpikir sejenak, sebelum mengganti jawabannya. “Tidak. Ini seperti julukan.”

Aku menoleh. “Julukan?”

“Seseorang yang terhubung dengan dewa atau kekuatan suci kebanyakan bersinar. Anak kecil pasti langsung terpana dengan pancaran sinarnya dan itu adalah hal pertama yang menarik perhatian. Jadi, mungkin saja Putri menamainya dengan julukan tersebut.”

“Itu terdengar cukup masuk akal.”

Aku kembali mengingat peristiwa demi peristiwa yang terjadi belakangan ini–juga perubahan yang ada pada diriku. Dimulai dari sakit kepala yang perlahan menjadi tidak muncul sesering dulu hingga saat aku meneteskan air mata karena merasa emosional. Perubahan-perubahan tersebut membawa pengaruh besar tanpa sempat kusadari–hingga membuat aku memperlakukan Elora seperti permata yang berharga.

“Kalau begitu, bagaimana menurutmu tentang bekas tebasan pedang di masa lalu yang tiba-tiba muncul di leher dan dadanya? Begitu pula dengan sakit yang anak itu rasakan baru-baru ini.”

“Apakah Anda sudah mempunyai dugaan?”


Aku mengangguk. “Sebuah peringatan. Entah itu mengingatkanku pada waktu hukumanku yang sudah tak lama lagi atau peringatan untuknya.”

“Maksud Anda peringatan untuk Puri?” Aku membenarkan. “Namun, apa yang dilakukan Putri hingga harus mendapat peringatan seperti itu?”

“Itulah yang sedang kucari tahu.”

Ekspresinya bercampur penasaran sekaligus resah. Dia menatapku dengan pandangan yang menuntut. “Apa yang menjadi dasar Anda menyimpulkan seperti itu? Ada ada sesuatu yang tidak Anda katakan kepada saya?”

Aku mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. “Ini hanya dugaanku, tetapi aku masih tidak yakin. Berdasarkan potongan memori di masa lalu, ada sebuah kalimat yang dikatakan Elora padaku. Satu-satunya kalimat yang paling jelas dan sering terngiang di kepalaku. Kalimat itu mengatakan bahwa dia akan melindungiku.”

Aku kembali melanjutkan. “Dugaan sementaraku bahwa orang yang menjadi lawan bicara Elora saat itu adalah orang bersinar–karena dari awal, yang mengutus Elora adalah dia. Jadi, aku harus mencari tentang orang bersinar itu sendirian.”

Hamon menegakkan tubuh; mengubah posisinya dari bersantai menjadi lebih serius dari sebelumnya. “Saya akan ikut bersama Yang Mulia,” katanya penuh tekad, tetapi aku menggeleng. “Tetapi–”

“Anak itu lebih butuh perlindunganmu daripada akku. Selain itu, hanya kau dan Duke of Astello yang bisa kupercaya mengenai keselamatannya. Berhubung Duke masih ada di Petunia, aku tidak punya pilihan lain selain memilihmu.” Sudut bibirku tertarik ke atas, tersenyum getir. “Lagipula, dia lebih nyaman denganmu dibanding denganku.”

“Itu tidak benar, Yang Mulia!” ujarnya tidak terima. “Putri pasti lebih menyukai Anda dibanding saya. Anda tidak boleh berpikir demikian.”

Aku mengulum senyum. “Namun, aku tak masalah dengan itu. Selama anak itu bahagian, maka itu bukan apa-apa bagiku.” Aku menyeringai sebelum menghabiskan anggur yang ada di gelas. “Kalau begitu, aku akan tenang ketika pergi ke wilayah Forsythia untuk memberi minum kegelapan.”

“Apakah akhir-akhir ini sakit kepala Anda datang lagi dengan lebih instensi?” Dia memandangku dengan risau. “Kalau benar demikian, Anda bisa memerintahkan saya untuk memindahkan para tahanan pelanggaran kategori sedang ke penjara bawah tanah istana.”

“Tidak perlu.” Aku meletakkan gelas di ambang jendela. “Dia suka berkeliling dan aku tidak ingin kami berpapasan secara tidak sengaja dengan penampilanku yang sedang bersimbah darah seperti dulu. Lagipula, sakit kepala sialan itu akhir-akhir ini sudah sangat jarang muncul, mungkin sebentar lagi akan hilang.”

“Apakah Anda telah membunuh ratusan orang tanpa sepengetahuan saya?” Hamon bertanya khawatir. “Atau selama saya beraada dalam masa hukuman dan pemulihan–Anda pergi membantai sebuah wilayah?”

Aku terkekeh kecil mendengar ketakutan Hamon yang terpancar jelas di wajahnya. “Setiap malam, ketika aku sudah tidur, anak itu memberikan obat  yang tidak  bisa diberikan oleh siapa pun. Jadi, sakit kepala itu perlahan hilang.”[]

1
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!