Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Satu Hari Milik Kita"
Keesokan paginya, Rea terbangun dengan perasaan yang sangat ringan. Kamar mereka masih temaram karena gorden belum dibuka. Ia merasakan lengan kekar Galen masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah takut Rea akan menghilang jika dilepaskan.
"Mas... sudah pagi," bisik Rea sambil mencoba membalikkan badannya.
Galen hanya bergumam tidak jelas dan justru semakin menenggelamkan wajahnya di leher Rea. "Lima menit lagi, Bunny. Masih ingin seperti ini."
Rea tersenyum kecil, rasa canggungnya perlahan mulai terkikis oleh kemanjaan Galen yang terus-menerus. Ia memberanikan diri mengusap rahang tegas suaminya. "Mas Galen manja banget sih, katanya Senior Tukang Kebun, nanti anak buah Mas di kebun nungguin lho."
Galen membuka matanya, menatap Rea dengan pandangan yang begitu dalam. "Biarkan saja mereka menunggu. Hari ini Mas ingin menghabiskan waktu hanya bersamamu di rumah."
Galen benar-benar menepati janjinya. Hari itu, ia membatalkan semua pertemuan penting. Ia lebih memilih duduk di ruang tengah bersama Rea. Galen membiarkan Rea sibuk mencoba resep kue baru di dapur, sementara ia duduk di meja makan sambil pura-pura sibuk dengan laptopnya, padahal matanya terus mengikuti gerak-gerik Rea.
"Mas, cobain ini!" Rea menyodorkan sesendok brownies yang masih hangat ke mulut Galen.
Galen menerimanya dengan senang hati. "Enak sekali. Kamu sepertinya sengaja mau membuat Mas jadi gemuk supaya tidak ada wanita lain yang melirik Mas, ya?" goda Galen.
"Ih, Mas Galen percaya diri sekali!" Rea tertawa, namun pipinya merona merah.
Sore harinya, Galen mengajak Rea ke perpustakaan pribadi mansion yang sangat luas. Di sana terdapat sofa besar yang menghadap ke taman. Galen duduk sambil membaca buku, sementara Rea berbaring dengan kepala di pangkuan Galen.
Tangan besar Galen terus mengusap rambut Rea dengan lembut, sesekali jemarinya bermain di pipi istrinya. Suasana begitu damai, sangat kontras dengan kenyataan bahwa di luar gerbang mansion, ada kesibukan lain yang tidak mereka pedulikan saat ini.
"Rea," panggil Galen pelan.
"Ya, Mas?"
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini, ya? Tetaplah di samping Mas, apa pun yang terjadi nanti," ucap Galen dengan nada yang sedikit berat, seolah ada kekhawatiran yang ia sembunyikan.
Rea mendongak, menatap mata suaminya yang tampak serius. "Rea mau pergi ke mana, Mas? Rea kan sudah punya Mas Galen. Mas jangan bicara yang aneh-aneh ah."
Galen tersenyum lega, ia membungkuk dan mencium kening Rea dengan penuh perasaan. "Terima kasih, Bunny."
Malam itu mereka habiskan dengan menonton film bersama. Galen terus memanjakan Rea, menyuapinya camilan, dan memeluknya seolah Rea adalah harta paling berharga. Galen ingin Rea merasa sangat dicintai, agar jika suatu saat rahasianya terbongkar, cinta itu cukup kuat untuk membuat Rea bertahan.
Keesokan paginya
Galen yang sedang fokus menatap layar televisi langsung menoleh saat aroma harum mentega dan roti panggang menyeruak masuk ke ruang TV. Ia melihat Rea berjalan mendekat sambil membawa piring berisi beberapa croissant yang tampak sangat renyah dan berwarna cokelat keemasan.
"Mas, ini camilannya. Baru saja matang," ucap Rea sambil meletakkan piring itu di meja depan Galen.
Galen menarik tangan Rea hingga gadis itu terduduk di sampingnya. "Kamu tidak lelah, Bunny? Dari pagi sudah sibuk di dapur terus," gumam Galen sambil mengambil satu croissant dan menggigitnya. Matanya terpejam sejenak menikmati rasa yang sempurna. "Ini jauh lebih enak daripada buatan koki profesional manapun."
Rea tertawa kecil, merasa bangga pujian suaminya. "Mas Galen berlebihan. Rea kan baru belajar di kampus kemarin."
Galen meletakkan kembali kuenya, lalu menarik Rea untuk bersandar di dadanya. "Rea, besok Mas ada urusan di luar kota selama dua hari. Kamu di rumah saja, jangan keluar tanpa Leon, mengerti?"
Rea mendongak, wajahnya berubah sedikit sedih. "Yah... Mas pergi lagi? Apa kebun di luar kota juga lagi bermasalah?"
Galen terdiam sejenak, mengelus pipi Rea dengan ibu jarinya. "Iya, ada beberapa 'cabang' yang harus Mas tinjau langsung. Tapi Mas janji akan pulang secepatnya."
Malam itu, Galen terus memeluk Rea dengan sangat erat, seolah berat untuk meninggalkan istrinya. Sementara itu, di balik ketenangan tersebut, Galen sebenarnya sedang menyiapkan rencana besar untuk menghabisi musuh-musuhnya yang mulai bergerak mendekati wilayahnya. Ia ingin saat ia pergi, rumah ini benar-benar menjadi benteng yang tak tertembus bagi Rea.
"Mas..." bisik Rea pelan saat mereka sudah di tempat tidur.
"Ya?"
"Hati-hati ya. Jangan sampai terluka lagi karena duri mawar atau apa pun itu. Rea tunggu Mas di rumah," ucap Rea tulus sebelum akhirnya terlelap.
Galen hanya menatap wajah istrinya dalam kegelapan. Bukan duri mawar yang Mas hadapi kali ini, Rea. Tapi Mas akan pastikan Mas kembali padamu tanpa setetes darah pun di baju ini, batin Galen sambil mengecup kening Rea untuk terakhir kalinya sebelum fajar tiba.