Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Aera
"Kalau memang mengharapkan beasiswa, bapak berharap kamu bisa meningkatkan nilai kamu di semester ini. Biaya SPP di sekolah ini memang tergolong mahal, Aera. Kalau nggak mau beasiswanya di cabut, prestasi kamu nggak boleh turun, ya. Bapak hanya mengingatkan. Oh iya, pihak sekolah tidak menanggung biaya di luar SPP, ya. Dan satu lagi, jangan pernah membuat masalah di sekolah atau kamu akan kehilangan program beasiswa itu. Kamu sudah beberapa kali cari masalah untung saja kepala sekolah masih mempertahankan beasiswa kamu karena kamu berprestasi di bidang akademik dan olahraga. Tapi kali ini kalau kamu mencari masalah lagi kepala sekolah sudah memutuskan akan mencabut beasiswa kamu. Inget itu."
Pesan dari Pak Ganjar masih terasa hangat di pikiran Aera. Membuat cewek itu menghembuskan nafas berat sambil menggaruk kepalanya. Langkahnya terasa gontai setelah keluar dari ruang guru. Lagi dan lagi, masalah kali ini juga berkaitan dengan uang. Jika saja waktu bisa di putar, Aera ingin mengembalikan masa-masa kejayaan keluarganya sebelum berubah melarat seperti sekarang.
Dengan tatapan kosong, Aera melangkah keluar dari ruangan para guru. Pikirnya kalut. Tiba-tiba saja, dia berpikiran buruk jika seandainya presentasi nya turun dan tidak mampu membayar uang SPP di sekolah ini. Ya, ini memang salahnya sendiri karena selalu mencari masalah di sekolah ini.
Ahhh seperti nya ia harus mulai berubah.
"Heh, kamu," panggil seseorang, tepat saat ia keluar dari ruangan, Aera menoleh ke samping. Guratan yang semula layu, kini terlihat menonjolkan amarah. Dia kesal saat melihat seseorang laki-laki yang bersandar pada tembok dengan kedua mata yang terpejam. Leo. Sepertinya, cowok itu memang sengaja membuntuti nya. Tanpa basa-basi, Aera langsung menyemprot Leo.
"Ngap—"
"Gaji kamu."
Aera terkesiap saat Leo meraih telapak tangannya lalu meletakkan sebuah amplop putih di sana. Laki-laki itu menatapnya serius. Sepertinya, kali ini dia tidak akan melemparkan makian untuk Leo.
"Gaji sebulan. Aku bayar di awal. Tugas kamu mudah, cukup bersedia kalau aku butuh batuan. Ada banyak cewek yang aku temui. Tapi kayaknya cuman kamu yang paling cocok—" Leo menjeda ucapannya. "Jadi Babu."
Saat Aera hendak membuka mulut untuk mengucapkan terimakasih, Leo sudah terlebih dahulu menyerobotnya seolah tidak mengizinkan untuk berbicara, "nggak usah bilang makasih, dari awal kita sudah bermutualisme. Kamu menguntungkan buat aku dan aku menguntungkan buat kamu."
Aera ternganga. Leo itu cenayang, ya?
"Aku bukan cenayang,"
Aera terkejut, lagi.
"Gelagat kamu mudah ditebak." Leo tertawa kecil tapi hanya beberapa detik saja, sebelum kemudian kembali memasang wajah datarnya.
Aera kembali melongo, walau sekejap, tetapi... sungguh, cowok itu tertawa karenanya?
"Enggak banyak, tapi cukup buat nutupi kekurangan hidup kamu," pungkas Leo, karena tidak ingin berlama-lama lagi di sana, dia pun memutuskan untuk pergi dari hadapan Aera.
Setelah kepergian Leo, Aera buru-buru membuka amplop putih yang terlihat tebal itu. Saat itu juga, kedua matanya membulat ketika mendapati banyak lembaran uang seratus ribuan di sana.
Dengan kecepatan menghitung yang sangat lambat karena dari dulu dia lebih terbiasa memegang kartu debit maupun kredit, Aera terlihat antusias melakukannya. Dia tidak munafik kalau dirinya benar-benar sangat membutuhkan uang saat ini. Aera tidak peduli jika seandainya Leo melihat Dan mengklaim dirinya sebagai cewek yang mata duitan.
“Dua puluh juta. I-ini... serius?”
...----------------...
Sedangkan dari keluarga Maverick yaitu—Stella Maverick.
Tap... Tap... Tap...
Stella berlari menuruni anak tangga dengan langkah tergesa. Suara hentakan kakinya terdengar begitu cepat dan keras hingga membuat seluruh isi rumah terkejut, seolah ada seseorang yang sedang dikejar waktu.
Pembantu yang sedang memasak di dapur pun refleks menghentikan kegiatannya. Ia menoleh dengan wajah panik, jantungnya berdegup tak tenang.
Suara langkah kaki itu terdengar tidak biasa—terlalu terburu-buru—membuatnya khawatir jika sesuatu telah terjadi pada tuan atau nona di rumah itu.
“Non Stella?” suara pembantu itu terdengar panik sambil keluar dari dapur, tangannya masih memegang sendok kayu. “Ada apa, Non? Kok larinya kayak dikejar sesuatu?”
"Bi, aku laper, hari ini bibi masak apa? " Tanya Stella dengan tangannya yang ia elus-elus ke arah perutnya.
"Aduh non, kenapa perut nya di elus-elus gitu, non Stella laper? " Tanya bi Marni,
“Hari ini bibi masak banyak ko, non Stella mau makan apa? Biar bibi yang bawain ke meja makan" ucapnya lagi.
"Bi, aku mau Dimsum seperti biasa ya." Jawab Stella.
"Oke non, tunggu di meja makan ya, nanti bibi bawakan secepatnya buat nona cantik Stella. " Ucap bi Marni sambil tersenyum ramah.
Akhirnya Stella pun berputar balik, ia berjalan menuju meja makan.
Setelah menyelesaikan rutinitas makan siangnya ia pun berputar balik ke kamarnya. Karena hari ini ia mau menyelesaikan tugas-tugas yang sempat ia lewatkan.
Cekrek....
Suara pintu terbuka.
"Huhhh…” Stella mengembuskan napas pelan.
Beban di kepalanya terasa begitu berat. Terlalu banyak yang harus ia pikirkan dan pendam sendiri. Mungkin bagi orang lain, hidup Stella terlihat menyenangkan—serba cukup, serba ada. Namun tidak bagi Stella. Ia merasa hidupnya dipenuhi penderitaan dan cobaan yang entah kapan akan berakhir.
Ada kalanya ia membenci dirinya sendiri karena merasa tidak cukup bersyukur. Padahal, di dalam hatinya, terlalu banyak kesedihan yang ia simpan rapat-rapat. Ingin rasanya Stella memeluk ibu dan ayahnya, menumpahkan semua isi hati dan masalah yang ia pendam. Namun, keinginan itu terasa mustahil.
“Andai saja nyokap dan bokap gue selalu ada di rumah,” gumam Stella lirih. “Mungkin gue nggak harus bingung harus cerita ke siapa…”
"Yaa Tuhan.... Beri Aku kebahagiaan sekali saja. " Ucapnya lagi, kali ini ia memohon untuk diberi hari-hari yang penuh kebahagiaan.
DREETT... DREETT... DREETT...
Saat Stella sedang melamun, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia penasaran, siapa yang meneleponnya. Dengan sedikit ragu, Stella mengangkat telepon itu dan melihat layar. Ternyata, yang menelepon adalah sahabat sejatinya—Aera.
“Hallo, Dog! Ada apa?” tanya Stella sambil tersenyum tipis.
“Anjay, dikira kembaran lo kali! Btw, lagi ngapain? Sibuk nggak?” jawab Aera dengan nada santai.
“Hemmm…” Stella menghela napas, masih bingung. “Enggak sih… kenapa emang?”
"Gini lho, nanti malam temenin gue keluar, yuk,” ajak Aera, berharap Stella mau menerima tawarannya.
“Kemana? Tumben banget ngajak keluar. Habisan open BO, ya?” Stella menyelanya sambil bercanda.
Mereka memang selalu begitu—ceplas-ceplos saat ngobrol. Sudah jadi kebiasaan mereka bertiga, jadi tak heran kalau Aera, Stella, dan Sheina selalu terlihat seperti teman yang sangat kompak.
“Temenin gue ke salon, deh. Mau nggak, please?” pinta Aera dengan nada manja.
“Hemmm… jawab dulu pertanyaan gue,” sahut Stella, menahan senyum. Alih-alih langsung setuju, Stella selalu suka menggoda Aera.
“Ckkk… lo nggak harus tau gue dapet duit dari mana, Stella. Jadi, lo mau nggak?” Aera mendesak sedikit, tapi tetap santai.
“Yaudah deh, ayo. Malam kan?” Stella akhirnya menyerah sambil tertawa.
"Iya El malam jam 07.30, nanti gue sama Sheina jemput kerumah Lo ya." Ucap Aera langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Eh Tungg— ckkk... kebiasaan banget ini anak belum juga selesai ngomong udah main matiin aja." Gerutu stella kesal, Karena sambungan telepon nya tiba-tiba Aera matikan.
...----------------...
Akhirnya Aera dan Sheina pun tiba di depan rumah Stella, dengan Aera memakai baju Kaos putih yang di lapisi dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana hitam panjang sedangkan, Sheina memakai baju kaos biru dan celana mini berwarna putih di tambah topi biru yang ia pakai di atas kepalanya. mereka pun turun dari mobilnya dan menghampiri rumah Stella,
niat nya sih ingin berpamitan terlebih dahulu kepada orang tuanya stella.
Tok....tok.... tok...
Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar, menampakkan sosok seorang laki-laki yang sama sekali tidak mereka kenali.
Posturnya tegap, wajahnya tampan dengan sorot mata yang tegas—memancarkan kesan gagah dan berwibawa.
Aera dan Sheina saling pandang. Keduanya belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Jantung Aera berdegup lebih cepat, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.
“Apa ini ayah kandungnya Stella?”
Pikiran itu terlintas begitu saja di benaknya, meski belum ada satu pun jawaban yang pasti. Sosok asing itu berdiri di ambang pintu, seolah membawa sesuatu yang akan mengubah keadaan mereka setelahnya.
"Keluarga Maverick emang ganteng-ganteng ya." Celetuk Sheina dengan tatapan berbinar melihat sosok laki-laki di hadapannya itu.
"Stttt... Permisi om. " salam Aera kepada sosok laki-laki tersebut.
“Hmmm… itu om, kami berdua kesini mau ketemu dengan anak om." ucapnya lagi.
Laki-laki yang baru saja membuka pintu itu sontak terkejut ketika mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan om. Alisnya terangkat, wajahnya jelas menunjukkan kebingungan.
“Om?” ulangnya pelan, menatap Aera dan Sheina bergantian.
“Iya, Om,” jawab Aera dengan senyum ramah—lebih tepatnya senyum pura-pura. “Stella, anak Om. Dia ada di dalam, nggak, Om?”
Wajah laki-laki itu langsung berubah. Rahangnya mengeras, sorot matanya menajam.
“Siapa yang kamu sebut Om?” tanyanya dingin.
Aera mengerjap polos. “Om, lah. Siapa lagi? Emang dari tadi kita ngobrol sama siapa kalau bukan sama Om?” jawabnya santai, seolah itu hal paling masuk akal di dunia.
Laki-laki itu menghela napas pendek, jelas tidak terima.
“Apa wajah saya terlihat setua itu sampai Anda memanggil saya Om?” ucapnya dengan nada tersinggung.
Sheina yang sejak tadi diam langsung menunduk, menahan tawa. Sementara Aera justru mengangkat alis, menatap laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Situasi di depan pintu itu mendadak canggung—dan terasa semakin aneh.
Laki-laki tersebut hanya menampakkan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berubah, yaitu Datar.
Sangat menyeramkan,
"Om, Stella nya ada di dalem?" Kali ini Sheina lah yang membuka suara.
Orang yang di depannya ini sama sekali tidak menjawab dan masih berekspresi kan datar. pertanyaan yang Sheina tanyakan tidak di jawab pun merasa kesal.
Kenapa menjadi diam seribu bahasa begini apakah ucapannya tadi kurang sopan.
"Hmmm… Maaf ya Om, saya tanya sekali lagi Stell—" belum selesai Aera menyelesaikan ucapannya tiba-tiba orang yang di tunggu Aera pun akhirnya menampakkan wajahnya.
"GUA DISINI!" teriak seseorang itu, Ia dia Stella orang yang Aera dan Sheina tunggu dari tadi.
"Yaaa… itu dia orang nya." ucap Sheina sambil tersenyum lebar.
"Ayok berangkat." ajak Stella kepada sahabatnya itu.
Aera dan Sheina pun hanya mengangguk mengiyakan tapi rasanya tidak sopan kalau mereka berdua tidak berpamitan terlebih dahulu kepada orang tuanya stella.
"Om… berhubung Stella nya udah ada, jadi saya izin bawa anak om keluar dulu ya sebentar cuman 30 menit doang, ko. om suerr deh. "Ucap Aera, Sambil mengacungkan dua jarinya keatas.
Stella yang mendengar ucapan Aera pun mengerut keningnya pertanda bingung, Stella bingung siapa yang Aera sebut om padahal yang di depannya ini abang nya Stella bukan ayahnya.
Stella yang sedari tadi berusaha menahan tawanya akhirnya menyerah. Bibirnya bergetar sebelum suara tawa itu pecah begitu saja, lepas dan puas.
“Prepttt—HAHA! Aduh… HAHA—”
Ia sampai membungkuk sedikit, memegangi perutnya sendiri. Matanya berair karena terlalu keras tertawa.
Baginya, ini momen yang benar-benar langka. Stella tak pernah menyangka ada orang yang berani memanggil kakak kandungnya Om tanpa langsung kena amarah. Biasanya, satu kata saja yang tidak disukai Danu Mavetrick, suasana bisa langsung berubah dingin.
Namun kali ini… laki-laki itu hanya diam.
Dan justru itulah yang membuat Stella semakin tak bisa berhenti tertawa.
“Astaga… kalian ini…” gumamnya di sela-sela tawa, masih sesekali terbahak.
Sheina dan Aera saling pandang, lalu menatap Stella dengan wajah sama-sama kebingungan.
“Stella, kenapa lo ketawa?” tanya Sheina heran.
“Iya,” sambung Aera, mengernyit. “Ada yang lucu, ya?”
Stella mengusap sudut matanya, berusaha menenangkan napasnya yang masih tersengal. Ia menoleh ke arah laki-laki di sampingnya—yang sejak tadi berdiri dengan wajah datar.
“Kenalin,” ucap Stella akhirnya, masih menahan senyum.
“Ini bukan ayah gue.”
Ia menunjuk laki-laki itu santai.
“Ini kakak kandung gue. Danu Mavetrick.”
Hening sejenak.
Aera membeku.
Sheina menelan ludah.
Dan perlahan, tatapan mereka beralih pada Danu—yang kini mengangkat satu alis, tatapannya tajam namun tenang.
“Sekarang,” ucapnya datar, “masih mau manggil saya Om?”
Aera kaget ternyata yang ada di depannya sedari tadi itu kakak kandung nya Stella. Yaitu—Danu Maverick.
Aera menelan ludah keras-keras. Senyum tipis yang tadi masih bertahan langsung menghilang dari wajahnya.
Ia melirik Sheina sekilas, berharap temannya itu bisa membaca situasi—sayangnya, Sheina sama tegangnya.
“E-eh…” Aera berdeham, mencoba terdengar tenang. “Kayaknya… panggilan ‘Om’ tadi bisa kita lupakan, ya.”
Danu Mavetrick memiringkan kepalanya sedikit. Tatapannya masih tertuju pada Aera, tajam namun tidak sepenuhnya dingin. Ada sesuatu di wajahnya—antara menahan kesal dan menahan tawa.
“Lupakan?” ulangnya pelan. “Menarik.”
Stella kembali terkikik kecil, jelas menikmati keadaan itu. “Bang, jangan galak-galak amat. Itu kejadian langka, tau. Nggak semua orang berani manggil lo om.”
“Dan kamu senang sekali, ya?” balas Danu tanpa menoleh.
“Banget,” jawab Stella cepat, masih menyeringai.
Sheina akhirnya angkat suara, mencoba menengahi. “Maaf ya, Kak Danu. Kami beneran nggak tahu kalau Kakak… kakaknya Stella.”
Danu menghela napas pelan. Bahunya sedikit mengendur.
“Sudahlah,” ucapnya akhirnya. “Anggap saja saya belum mendengar apa-apa.”
Aera langsung mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Terima kasih, Kak.”
Namun sebelum suasana benar-benar mencair, Stella tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menepuk dahinya pelan. “Eh, ini kita jadi berangkat nggak?” ucapnya cepat. “Ayo berangkat, nanti keburu malam.”
Sheina dan Aera langsung tersadar. Ekspresi santai yang sempat muncul seketika menghilang, digantikan rasa cemas yang sejak tadi menunggu muncul kembali.
“Iya, bener,” sahut Sheina.
Akhirnya mereka pun berpamitan pergi, Danu yang melihat nya hanya diam saja tidak mengeluarkan satu kata pun.
Danu hanya berdiam diri sambil memperhatikan punggung Stella dan temannya, sampai mereka berdua benar-benar pergi.
...----------------...
Di dalam mobil...
“Gila ya, gue malu banget. Sumpah,” ucap Sheina sambil fokus menyetir mobilnya, sesekali menggeleng kecil.
“Lagian salah kalian juga,” sahut Stella yang duduk di sebelahnya. “Kenapa nggak nanya gue dulu?”
“Hey, Maemunah,” sela Aera dari kursi belakang. “Mana sempat gue nanya lo? Orang kita udah keburu di depan pintu rumah lo.”
“Iya, tapi kan kalian bisa nunggu aja di depan gerbang,” balas Stella. “Ngapain harus nyamperin segala sih!”
“I-ya,” Sheina akhirnya ikut buka suara, nadanya sedikit defensif tapi bercanda. “Gue kan teman yang baik hati dan tidak sombong. Masa iya datang ke rumah orang tanpa izin? Sudah seharusnya gue minta izin dulu sama orang tua lo, kan.”
Stella terkekeh kecil. “Izin sih izin… tapi malah manggil kakaknya Om.”
“Jangan diungkit lagi,” potong Aera cepat. “Harga diri gue jatuh barusan.”
Stella tertawa kecil, meski di balik itu matanya masih menyimpan rasa cemas. Candaan mereka perlahan mereda seiring mobil melaju semakin jauh—menuju satu tempat yang sejak tadi membebani pikiran mereka semua.