NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan yang tak diharapkan

Kini waktu menunjukkan pukul dua belas siang, tugas Viola sudah sepenuhnya selesai berkat bantuan Clara.

“Terimakasih ya kak sudah dibantuin,” ucap Viola sungguh-sungguh.

“Iya, kamu hati-hati pulangnya. Takut ketemu Alvian di jalan,” jahil Clara.

“Ih amit-amit jabang bayi,” sahut Viola cepat.

Clara terkekeh pelan, entah kenapa rasa hangat menjalar di tubuhnya setiap berbicara dengan Viola.

Jadi seperti ini rasanya kalau punya adik yang bisa dijahili batin Clara.

Ia menatap punggung Viola yang mulai menjauh dari depan pagar rumahnya, lalu berbalik hendak masuk ke dalam sampai suara deringan telepon membuatnya berhenti, Clara buru-buru meraih ponselnya, keningnya berkerut saat melihat nomor tak dikenal, setelah beberapa detik menimbang akhirnya ia mengangkat panggilan itu.

“Selamat siang, Clara ini saya Raisa Maheswari.”

“Iya Bu Raisa, ada apa?”

“Apa lusa kita bisa bertemu?”

“Apa esai saya harus ada yang direvisi?” tanya Clara sedikit tegang.

“Bukan itu. Saya ingin membahas soal kontrak eksklusif yang kemarin saya tawarkan.”

Clara terdiam sejenak, sebenarnya ia ingin menerima tawaran itu, tapi beberapa minggu ke depan jadwalnya padat karena ujian semester dan pekerjaan paruh waktunya.

“Kalau lusa saya tidak bisa Bu, setelah kuliah pagi saya harus langsung bekerja.”

“Hm. Kalau malam bagaimana? Kamu pulang kerja jam berapa? Biar sopir saya menjemput.”

“Nanti saya kabari lagi ya Bu,” jawab Clara hati-hati.

“Baik, saya tunggu kabarnya.”

Panggilan terputus, Clara menatap layar ponselnya beberapa detik, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tawaran itu terasa seperti pintu besar yang sedikit terbuka.

Di tempat lain, di ruang kerja Aksara Langit yang luas dan dipenuhi rak buku tinggi, Raisa menurunkan ponselnya dengan wajah serius, Budi yang sedari tadi berdiri di samping meja kerjanya memperhatikan dengan alis terangkat.

“Bu Raisa, tidak biasanya Anda terburu-buru seperti ini,” ucap Budi pelan.

Raisa mengetuk pelan sandaran kursinya, “Kamu tidak lihat dia sedang viral di media sosial? Responsnya terlalu besar untuk ukuran sebuah esai.”

Budi langsung membuka aplikasi TokTok, wajahnya berubah saat melihat jumlah tayangan dan komentar yang terus bertambah.

“Saya kira hanya saya yang terkesan dengan cara penulisannya.”

“Penulis yang tulisannya terasa hidup itu jarang, Budi. Terlambat sedikit saja, bisa jadi penerbit lain yang lebih dulu mengamankan dia.”

Budi mengangguk paham.

“Lagipula,” lanjut Raisa pelan, menatap keluar jendela.

“anak itu belum sadar seberapa besar potensinya. Justru karena dia belum matang, kita harus lebih cepat.”

Setelah makan siang, Clara duduk di lantai ruang tamu sambil mengelap pigura-pigura foto orang tuanya karena tadi pagi ia tak sempat membersihkan rumah. Debu tipis menempel di sudut bingkai kayu yang mulai kusam.

“Kadang Clara kangen sama kalian,” gumamnya pelan.

Ia memandangi foto ayah dan ibunya yang tersenyum berdampingan, lalu menaruhnya kembali dengan hati-hati.

“Banyak yang ingin Clara ceritakan… tapi kalian enggak ada.”

Kenangan perlahan menariknya mundur.

Ia kembali menjadi anak kecil berusia sepuluh tahun.

“Ayah, dorongnya yang kencang!” teriak Clara kecil di atas ayunan kayu yang tergantung di bawah pohon mangga halaman rumah.

Pak Imam tertawa dan mendorong ayunan itu lebih tinggi.

“Jangan kencang-kencang, nanti Clara jatuh,” tegur Bu Anita dari atas tikar bercorak oranye, warna favoritnya.

Pak Imam langsung memperlambat dorongan.

“Ih ibu enggak seru,” protes Clara kecil saat ayunannya tak lagi melambung tinggi.

“Sini Clara sayang, makan buah dulu,” panggil Bu Anita sambil menepuk-nepuk tikar.

Clara dan ayahnya duduk di sampingnya.

“Yah, cita-cita Clara udah ganti,” ucap Clara kecil sambil memakan potongan mangga manis yang dipetik ayahnya.

“Sekarang ganti jadi apa?” tanya ayahnya lembut.

“Clara mau jadi penulis, sama seperti ibu.”

Pak Imam tersenyum bangga. “Kalau begitu belajar yang rajin ya, biar cita-citanya tercapai.”

“Nih makan lagi buahnya, biar tangannya sehat buat nulis,” Bu Anita menyodorkan garpu kecil berisi mangga.

Clara kecil mengangguk mantap.

Kenangan itu memudar perlahan.

Waktu kembali ke masa kini. Clara telah selesai mengelap semua pigura. Rumah itu sunyi. Ia berdiri dan menatap kursi kayu tua di sudut ruang tamu yang mulai retak di beberapa bagian.

“Mungkin sudah saatnya dibuang,” ucapnya pelan.

“Maaf ya Ayah… nanti Clara ganti yang baru, biar rumah peninggalan kalian terasa hidup lagi,” gumamnya sambil menyapu pandangan ke sekeliling rumah yang mulai termakan usia.

Belum sempat ia melangkah ke dapur, terdengar suara ketukan pintu.

Tok… tok… tok…

Clara mengernyit. Ia tak merasa punya janji dengan siapa pun siang ini.

Ia berjalan ke pintu dan membukanya.

Di depannya berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah tak pernah ramah, neneknya. Di sampingnya, Tante Sinta, dengan senyum yang terlalu manis untuk terasa tulus.

“Clara… lama enggak ketemu. Gimana kabarnya sekarang?” tanya Tante Sinta dengan suara lembut yang dibuat-buat.

Clara terdiam sesaat. Jantungnya tidak berdebar. Tidak juga takut. Hanya ada sesuatu yang dingin merayap naik dari perut ke dadanya. Bertahun-tahun tak pernah ada kabar. Bertahun-tahun tak pernah ada kunjungan. Dan sekarang mereka berdiri di depan rumahnya.

“Mau sampai kapan kamu membuat nenek berdiri di depan pintu?” suara neneknya terdengar tajam, superior seperti dulu.

Dulu Clara kecil selalu menunduk jika mendengar nada itu. Bahkan menatap wajah neneknya pun ia tak berani. Tapi Clara yang sekarang berbeda. Waktu telah mengajarinya banyak hal termasuk memahami bahwa sebagian orang hanya datang saat ada yang bisa diambil.

Ia teringat hari pemakaman ayah dan ibunya. Bukan tangisan yang paling ia ingat, melainkan suara bisik-bisik tentang warisan. Usaha tekstil ayahnya diambil oleh saudara-saudara ayahnya dengan alasan anak tertua harus membantu keluarga besar. Emas dan tabungan milik ibunya berpindah tangan dengan dalih dikelola oleh orang yang lebih tua. Yang tersisa untuk Clara hanya rumah ini dan kenangan.

Clara membuka pintu sedikit lebih lebar. “Silakan masuk nek,” ucapnya sopan.

Nenek Murni dan Tante Sinta masuk ke dalam rumah, mata mereka berkeliling menilai setiap sudut dengan tatapan sinis seolah sedang memeriksa barang titipan, bukan rumah seorang cucu.

“Silakan duduk, Clara bikinkan minum dulu,” ujar Clara sopan lalu berjalan ke dapur.

Sepeninggal Clara, mereka duduk agak enggan di kursi kayu tua yang mulai berderit.

“Bu, kenapa enggak minta Clara jual rumah ini? Rumahnya besar tapi enggak terawat, sayang kalau hancur. Tanahnya juga luas,” bisik Sinta pelan namun cukup jelas terdengar dari dapur yang tak terlalu jauh.

“Suruh dia ngekos aja. Mahasiswa kan biasanya ngekos. Sendirian begini… siapa tahu bawa laki-laki ke rumah,” lanjutnya tanpa rasa malu.

Murni terdiam, tampak mempertimbangkan ucapan anaknya.

Tak lama kemudian Clara kembali membawa dua gelas es teh dan sepiring kue kering.

“Silakan diminum, Nek… Tante. Di luar pasti panas,” ucap Clara dengan senyum halus yang tidak dibuat-buat. Sopan. Terlatih sejak kecil.

“Tadi nenek lihat dari ponsel, kamu menang kompetisi menulis?” tanya Murni.

“Iya, Nek. Alhamdulillah,” jawab Clara tenang.

“Clara, ada baiknya nenek saja yang simpan uangnya. Kamu kan tinggal sendirian di rumah ini. Takut ada maling,” kata Sinta dengan nada seolah penuh perhatian.

“Lingkungan di sini sangat aman, Tante. Tidak pernah ada kemalingan,” jawab Clara tetap lembut.

“Ibumu dulu juga keras kepala,” potong Murni tiba-tiba. “Lihat apa yang terjadi, dia meninggal tanpa mewariskan apa pun untukmu.”

Kalimat itu seperti jarum tipis yang menusuk pelan. Clara terdiam sejenak. Dadanya menghangat oleh kesal yang ingin meledak, tapi ia menarik napas perlahan.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!