NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih hangat dengan aroma nasi goreng yang baru matang.

Nadya, yang biasanya sulit bangun pagi, sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kakaknya yang sedang dalam masa pemulihan.

Linggar keluar dari kamar dengan langkah yang masih sedikit pelan.

Meskipun badannya masih terasa agak lemas, namun rona di wajahnya sudah jauh lebih baik dibandingkan kemarin.

"Mbak, sarapan dulu," seru Nadya sambil menata piring.

Linggar duduk di kursi makan, menatap adiknya dengan sayang.

"Tumben sekali sudah bangun sepagi ini,"

Nadya tersenyum tipis dan duduk di hadapan Linggar dengan raut wajahnya tampak sedikit ragu sebelum akhirnya bicara.

"Mbak, hari ini aku ada tugas kelompok besar dan mungkin, aku akan menginap. Tapi Mbak jangan berpikir macam-macam ya! Aku menginap di rumah Edwin, dan di sana ada orang tuanya lengkap. Kami butuh waktu semalaman untuk menyelesaikan proyek ini."

Linggar terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari adiknya.

Ia tahu Edwin adalah pria yang baik, tapi sebagai kakak sekaligus pengganti orang tua, ada rasa protektif yang muncul. Namun, ia juga sadar Nadya sudah dewasa.

"Jaga diri kamu baik-baik, Nad. Ingat pesan Mbak, jangan buat yang aneh-aneh. Jaga martabat kamu dan keluarga kita." ucap Linggar sambil menganggukkan kepalanya.

"Iya, Mbak. Nadya janji," jawab Nadya tulus sambil beranjak mendekat dan mencium pipi Linggar dengan sayang.

Tak lama kemudian, suara klakson motor terdengar dari depan pagar.

Edwin datang dengan senyum sopannya yang khas.

Ia tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa sebuah kantong plastik berisi kotak styrofoam hangat ada di tangannya.

"Pagi, Mbak Linggar. Ini saya bawakan bubur ayam langganan saya. Katanya Mbak lagi kurang sehat, bubur ini bagus karena teksturnya lembut," ucap Edwin sambil menyerahkan bungkusan itu.

"Terima kasih ya, Win. Repot-repot sekali," balas Linggar tersenyum.

"Sama-sama, Mbak. Saya berangkat dulu ya sama Nadya."

Setelah keberangkatan mereka, rumah kembali sunyi.

Linggar menatap bubur ayam di depannya, lalu beralih menatap jam dinding.

Ada rasa lega karena Nadya tidak akan ada di rumah malam ini, yang berarti rahasianya tentang pergi ke gym bersama sang CEO akan tetap aman. Namun, rasa gugup tetap tak bisa hilang.

Ia mulai membuka lemari pakaiannya, mencari baju olahraga yang paling longgar untuk menutupi bentuk tubuhnya yang ia anggap tidak sempurna itu.

"Sepertinya aku akan memakai ini saja," gumam Linggar sambil merapikan daster rumahannya.

Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu yang tegas mengejutkannya.

Ia mengintip dari balik jendela dan jantungnya hampir melompat keluar.

Mobil mewah Rangga terparkir di depan pagar, dan sang CEO berdiri di sana dengan gaya santai namun tetap terlihat sangat berkelas.

"Rangga?! Kenapa dia ke sini pagi-pagi begini?" bisik Linggar panik.

Pandangannya langsung tertuju pada meja ruang tamu, di mana terpajang foto keluarga besar dimana dirinya yang sedang merangkul Nadya.

"Jika Rangga melihat foto itu, habislah sudah." gumam Linggar.

Dengan gerakan kilat yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, Linggar berlari, menyambar bingkai foto itu, dan menyembunyikannya di dalam laci bawah televisi.

Setelah mengatur napas dan memastikan penampilannya tidak terlalu berantakan, ia membuka pintu.

"Selamat pagi, sekretarisku," sapa Rangga dengan senyum tipis.

Di tangannya terdapat tas kertas dari sebuah restoran organik ternama.

"Ini, aku bawakan makanan sehat. Dokter bilang kamu harus menjaga asupan nutrisi pasca keracunan obat diet kemarin."

Linggar terpaku, tidak menyangka bosnya akan menunjukkan perhatian sejauh ini ke rumah pribadinya.

"P-pagi, Pak... eh, Rangga. Terima kasih banyak. Anda tidak perlu repot-repot."

"Sudah kubilang jangan panggil Pak jika di luar kantor," potong Rangga sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Boleh aku masuk? Tidak sopan rasanya membiarkan tamu berdiri di depan pintu dengan menenteng makanan."

Linggar ragu sejenak, namun ia tidak punya alasan untuk menolak.

Ia menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Rangga masuk.

"Silakan masuk, maaf rumahnya kecil dan sedikit berantakan."

Rangga melangkah masuk dengan anggun, matanya menyapu ruangan yang terasa hangat dan harum aroma lavender tersebut.

Ia duduk di sofa, tepat di samping laci tempat Linggar menyembunyikan foto Nadya.

"Kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Rangga sambil meletakkan makanan di atas meja.

Linggar sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari Rangga.

Ia tidak mungkin akan menyebut nama Nadya karena Rangga mengenal nama itu sebagai kekasih digitalnya. Namun, ia juga tidak bisa bilang sendiri karena motor Edwin tadi sempat terlihat oleh tetangga.

"Nggak, Rangga. Ada adik saya, namanya Edwin," jawab Linggar cepat.

Ia kembali berbohong, menukar status Edwin yang sebenarnya adalah kekasih adiknya menjadi adiknya sendiri demi melindungi rahasianya.

"Oh, jadi kamu tinggal bersama adik laki-lakimu?" Rangga mengangguk-angguk paham.

"Baguslah, setidaknya ada pria yang menjagamu di sini. Mana dia? Aku ingin menyapanya."

"Dia, sedang keluar sebentar beli keperluan kampus," jawab Linggar dengan keringat dingin yang mulai muncul di pelipisnya.

"Begitu ya," Rangga membuka kotak makanan yang ia bawa—salad quinoa dan dada ayam panggang.

"Kalau begitu, makanlah ini sekarang. Aku ingin memastikan kamu punya tenaga sebelum kita mulai latihan di gym sore nanti. Jangan sampai kamu pingsan lagi dan membuatku harus menggendongmu di depan umum."

Linggar hanya bisa menunduk, memakan makanan sehat itu dengan perasaan campur aduk.

Ia merasa seperti berjalan di atas seutas tali tipis dimana satu kesalahan kecil saja, maka seluruh dunianya, sebagai Linggar sang sekretaris maupun 'Nadya' sang kekasih impian yang akan hancur seketika.

"Jadi kemarin kamu yang membopongku?" tanya Linggar pelan, wajahnya memanas hingga ke telinga.

Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut.

"Apa, tidak berat? Maksudku, tubuhku kan tidak sekecil wanita pada umumnya."

Rangga tertegun sejenak mendengar pertanyaan polos itu, lalu sedetik kemudian tawanya pecah.

Suara tawa yang berat dan renyah itu memenuhi ruang tamu Linggar yang mungil.

Rangga tertawa terbahak-bahak hingga harus menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Kenapa tertawa?" gumam Linggar semakin malu, merasa ingin menghilang dari sana.

Rangga meredakan tawanya, namun sisa-sisa senyum masih menghiasi wajah tampannya.

Ia menatap Linggar dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan tatapan mengejek, melainkan tatapan yang sangat jujur.

"Kamu tidak berat, Linggar," ucap Rangga dengan suara yang kini lebih lembut namun mantap.

"Percayalah, aku ini rutin angkat beban di gym. Mengangkat tubuhmu itu bukan masalah besar bagiku."

Rangga memajukan duduknya, sedikit mendekat ke arah Linggar.

"Lagipula, saat seseorang pingsan, yang ada di pikiran orang yang menolongnya adalah keselamatan, bukan berat badan. Jadi berhenti memikirkan hal itu. Aku membawamu karena aku ingin kamu selamat, titik."

Linggar terdiam saat mendengar perkataan dari Rangga.

Kalimat itu terasa jauh lebih tulus daripada ribuan kata manis yang ia terima dari pria-pria di aplikasi kencan yang hanya memuja foto Nadya.

Untuk pertama kalinya, Linggar merasa "fisiknya" tidak dipandang sebagai sebuah beban atau lelucon oleh pria di hadapannya.

"Sudah, habiskan makananmu. Setelah itu istirahat. Aku tidak mau melihat ada lingkaran hitam di bawah matamu saat aku menjemputmu nanti sore."

Linggar mengangguk patuh, menyuap saladnya dengan perasaan yang mulai menghangat. Namun, di sudut hatinya yang lain, sebuah kecemasan baru muncul.

Kemudian Rangga bangkit dari sofa, merapikan kemeja kasual yang dikenakannya sebelum melangkah menuju pintu.

Ia sempat berhenti sejenak, menatap Linggar dengan sorot mata yang sulit ditebak—seolah sedang mencoba menyinkronkan suara yang ia dengar dengan wajah di hadapannya.

"Aku pergi sekarang. Masih ada beberapa dokumen yang harus aku periksa di apartemen. Ingat, jam lima tepat aku sudah ada di depan pagarmu. Jangan membuatku menunggu."

Rangga mengusap puncak kepala Linggar sekilas—sebuah gerakan spontan yang membuat Linggar mematung—lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, "Istirahatlah lagi. Kamu butuh energi untuk nanti sore."

Linggar hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan kaku, tidak berani bersuara karena takut degup jantungnya yang kencang bisa terdengar oleh pria itu.

"I-iya, Rangga. Hati-hati di jalan."

Setelah mobil Rangga menjauh, Linggar segera mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.

Ia meluncur turun hingga duduk di lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Apa yang aku lakukan?" bisiknya pada diri sendiri.

Kebohongan ini semakin jauh. Ia sudah membohongi Rangga tentang identitasnya, tentang adiknya, dan kini ia mulai merasa nyaman dengan perhatian nyata yang diberikan Rangga di dunia nyata.

Linggar bergegas menuju kamarnya. Ia harus tidur, setidaknya agar wajahnya tidak terlihat terlalu kuyu. Namun, sebelum memejamkan mata, ia melirik ponsel rahasianya.

Ada satu pesan baru dari Rangga yang dikirim tepat saat pria itu berada di dalam mobilnya.

[Aku baru saja menjenguk sekretarisku. Entah kenapa, bicara dengannya mengingatkanku padamu. Aku jadi makin tidak sabar ingin bertemu denganmu secara langsung. Semoga kuliahmu lancar hari ini.]

Air mata Linggar menetes saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Rangga.

Ia merasa seperti sedang mengkhianati dirinya sendiri.

Ia dicintai sebagai 'Nadya' yang sempurna, tapi ia diperhatikan sebagai 'Linggar' yang bermasalah.

"Maafkan aku, Rangga. Maafkan aku," isaknya pelan sebelum akhirnya kelelahan membawanya ke dalam tidur yang gelisah.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!