Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH DETIK
03:15 AM. Mercusuar Tanjung Karang, 5 Kilometer dari "The Nest".
Udara malam di puncak tebing terasa tajam seperti sembilu. Raka merayap di antara semak belukar yang basah oleh embun, tubuhnya menyatu dengan kegelapan berkat lapisan Liquid Shadow yang kini telah dikalibrasi ulang oleh Liana. Di depannya, sebuah mercusuar tua berdiri angkuh, namun fungsinya bukan lagi sebagai penuntun kapal, melainkan sebagai antena parasit yang menyedot data dari satelit Aether 1.
Di telinganya, suara Liana terdengar melalui frekuensi radio yang sangat rendah, selembut bisikan di bantal.
"Raka, kau sudah di posisi? Aku melihat tiga sinyal drone patroli model HK 2 berputar di radius lima puluh meter darimu. Mereka punya pemindai panas, jadi jangan biarkan jantungmu terlalu bersemangat melihatku lewat kamera drone, ya?"
Raka tersenyum tipis di balik masker taktisnya. "Fokus, Li. Aku sedang tidak melihatmu, aku sedang melihat kematian yang melayang di udara."
"Sama saja, Sayang. Tanpa aku, kau tidak akan tahu kapan harus bernapas," sahut Liana dengan nada nakal yang tetap terjaga meski jemarinya pasti sedang menari gila di atas keyboard. "Oke, dengarkan. Aku akan menyuntikkan interferensi pada radar mereka selama sepuluh detik. Itu jendela waktumu untuk mencapai panel distribusi di dasar menara. Siap?"
Raka menarik napas panjang, merasakan dinginnya udara mengisi paru parunya. "Hitung mundur."
"Tiga... dua... satu... Go!"
Raka melesat. Ia bukan lagi manusia, melainkan bayangan yang membelah malam. Drone di atasnya berputar bingung, sensor mereka menangkap gangguan statis yang diciptakan Liana. Dalam delapan detik, Raka sudah menempel di dinding beton mercusuar yang kasar. Ia menarik sebuah peledak termit kecil dari sabuknya dan memasangnya tepat di sambungan kabel utama.
"Peledak terpasang. Aku menuju puncak untuk antena cadangan," lapor Raka sambil mulai memanjat tangga besi eksternal yang sudah berkarat.
"Raka, hati hati. Angin di atas sana mencapai 40 knot. Jangan sampai kau terbang ke laut sebelum aku sempat mentraktirmu lobster kedua," suara Liana terdengar sedikit lebih tegang sekarang.
Raka mencapai balkon puncak mercusuar. Di atas sana, sebuah antena parabola hitam besar mendengung pelan, memancarkan gelombang yang tidak terlihat namun mematikan bagi privasi dunia. "Aku sudah di puncak. Pemandangannya bagus, Li. Aku bisa melihat lampu markas kita dari sini."
"Benarkah? Apa kau bisa melihatku sedang merindukanmu?"
Raka terkekeh pelan sambil memasang kabel bypass ke modul antena. "Aku bisa merasakan detak jantungmu lewat transmisi ini, Li. Kau cemas."
Ada jeda sejenak di seberang sana. Suara ketikan Liana melambat. "Tentu saja aku cemas. Menghancurkan antena itu akan memicu protokol reboot sistem Yudha. Itu artinya dia akan menyadari keberadaan kita dalam hitungan detik. Aku hanya punya jendela tiga puluh detik untuk masuk ke celah keamanannya sebelum satelit itu mengunci kembali."
Raka berhenti sejenak, tangannya memegang kabel pemicu. "Li, dengarkan aku. Jika sesuatu terjadi, jika sistemnya melakukan counter hack..."
"Tidak akan," potong Liana tegas. "Aku sudah bilang, kan? Aku adalah Ratu di sini. Kau urus bagian ledakannya, aku urus bagian jiwanya. Sekarang, lakukan!"
"Meledak dalam tiga... dua... satu."
BOOM!
Ledakan termit di dasar menara memutus aliran listrik secara instan, disusul oleh muatan elektromagnetik di puncak menara yang melumpuhkan parabola tersebut. Mercusuar itu seketika gelap gulita.
"Sistem reboot dimulai! Tiga puluh detik dimulai sekarang!" teriak Liana.
Raka terjun payung dari balkon mercusuar, parasut hitamnya mengembang hanya beberapa detik sebelum ia menyentuh semak semak di bawah. Sambil berlari menuju titik jemput, ia terus mendengarkan laporan Liana.
"Detik ke 5... aku masuk ke gerbang pertama. Yudha mulai membangun firewall cadangan. Sial, dia cepat sekali!"
"Detik ke 12... aku melewati lapisan enkripsi biometrik. Raka, dia menggunakan pola suaramu sebagai sandi! Dia benar benar terobsesi padamu!"
Raka melompati sebuah batang pohon tumbang. "Jangan biarkan itu menghentikanmu, Li!"
"Detik ke 20! Firewall nya mulai menutup! Aku hampir sampai ke pusat kernel... sedikit lagi... ayolah, Sayang, buka pintunya untukku..."
Raka bisa mendengar napas Liana yang memburu. Di markas, Liana pasti sedang berkeringat dingin, matanya menatap ribuan baris kode yang mencoba menendangnya keluar.
"Detik ke 25! Sial, dia melakukan isolasi sistem! Raka, aku akan terperangkap jika aku tidak keluar sekarang, tapi aku belum mendapatkan koordinat server pusatnya!"
"Ambil datanya, Li! Jangan pedulikan keamanannya! Aku akan menjagamu dari sini!" Raka berteriak sambil melepaskan tembakan ke arah dua drone yang mulai kembali berfungsi dan mengejarnya.
"Detik ke 28... dapat! Aku dapat koordinatnya! Tapi sistemnya mengunci jalanku! Raka, aku tidak bisa memutus koneksinya!"
"Liana! Cabut kabel manualnya! Sekarang!"
Di markas, Liana dengan kasar merenggut kabel optik utama dari mejanya. Seluruh monitor padam seketika. Kesunyian total menyergap.
Raka sampai di pinggir pantai, tempat perahu cepat mereka disembunyikan. Ia menunggu dengan napas terengah engah, memegang radio komunikatornya dengan tangan gemetar. "Liana? Li? Jawab aku!"
Satu detik... dua detik... sepuluh detik yang terasa seperti keabadian.
"Ehem... apa kau baru saja berteriak seperti pria yang sedang ketakutan, Kapten?" suara Liana kembali terdengar, kali ini dengan nada lemas namun penuh kemenangan. "Aku baik baik saja. Dan aku punya koordinatnya. Yudha bersembunyi di sebuah server apung di Arktik. Siapkan jaket tebalmu, karena kita akan pergi ke tempat yang sangat dingin."
Raka terduduk di pasir pantai, tertawa lega sambil menatap langit malam. "Kau gila, Liana. Benar benar gila."
"Gila karenamu," balas Liana lembut. "Cepat pulang. Bimo sudah bangun dan dia marah karena aku merusak kabel optiknya. Aku butuh perlindunganmu... dan mungkin pelukan yang sangat lama."
Raka bangkit, mendorong perahunya ke air. "Aku dalam perjalanan. Jangan biarkan Bimo menyentuh cokelat panasku."
Setengah jam kemudian, Raka masuk ke markas dengan tubuh yang penuh debu dan sisa jelaga ledakan. Liana langsung berdiri dari kursinya dan berlari ke arahnya, menabrakkan tubuhnya ke pelukan Raka dengan kekuatan yang membuat pria itu hampir terjungkal.
"Kau berhasil," bisik Raka, membenamkan wajahnya di rambut Liana yang beraroma kopi.
Liana tidak menjawab, ia hanya memeluk Raka semakin erat. "Tiga puluh detik itu... aku benar benar berpikir aku akan kehilangan koneksi denganmu, bukan hanya dengan satelit itu."
Raka melepaskan pelukannya sejenak, memegang wajah Liana dengan kedua tangannya yang kasar. Ia mengusap air mata kecil yang menggantung di sudut mata Liana. "Kau tidak akan pernah kehilangan koneksiku, Li. Frekuensiku sudah terkunci padamu selamanya."
Liana tersenyum, senyuman manis yang membuat seluruh rasa lelah Raka menguap. "Janji?"
"Janji."
Bimo muncul dari balik rak server sambil memegang kabel yang putus. "Oke, momen mengharukan selesai. Sekarang, siapa yang mau membantuku memperbaiki kabel ini? Dan Raka, kau bau hangus. Mandilah sebelum kau mengotori sofa baruku!"
Liana tertawa, ia meraih tangan Raka dan menuntunnya menuju ruang tengah. "Ayo, Kapten. Mandi dulu, lalu kita lihat peta Arktik. Tapi sebelumnya..." Liana berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Raka. "...terima kasih sudah menjadi ksatria mercusuarku."
Raka hanya bisa tersenyum lebar, mengikuti langkah Liana. Di luar, fajar mulai menyingsing di atas pulau mereka. Perang melawan Yudha kini memiliki tujuan yang jelas, dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bukan lagi pihak yang diburu. Mereka adalah pemburu. Dan dengan Liana di sampingnya, Raka tahu bahwa tidak ada kode atau tuhan digital mana pun yang bisa menghentikan mereka.