NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bu bidan, kapan mau nikah?

Andini menangis terisak-isak di atas ranjang. Sementara Arga berjalan mondar-mandir sambil berusaha menghubungi mantan istrinya.

"Kenapa nomornya nggak aktif terus?" gumam Arga, ia menoleh ke arah Andini dengan ekspresi tak berdaya, lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Nomor ibu nggak aktif, Dini. Mungkin hp ibu rusak dan belum dibenerin, jadi susah dihubungi," kata Arga berusaha memberi pengertian.

"Andini mau ibu, Ayah. Andini mau ketemu ibu," isak Andini. Ia kembali berbaring dan memeluk boneka kesayangannya.

Arga mendudukkan tubuh di kursi dengan lemah. Andai tahu alamat Bima, dia tidak akan pikir panjang mencari Nadira.

"Nanti kita temui ibu, ya. Tapi, kamu harus sembuh dulu," ucap Arga sambil mengusap rambut panjang putrinya.

"Dini kenapa, Mas?"

Rini muncul masih dengan daster panjang dan hijab instan. Ia mendekat ke arah ranjang, dan menatap wajah basah Andini.

"Bu bidan, Andini mau ketemu ibu. Tapi, kata ayah nomor ibu nggak aktif," sahut Andini di sela isak tangisnya yang semakin terdengar pilu.

Rini melirik sesaat ke arah Arga yang nampak bingung juga cemas. Ia kemudian tersenyum pada Andini. "Ibu Dini pasti sedang sibuk, makanya belum bisa dihubungi."

Dengan lembut, Rini mengusap punggung tangan Andini.

"Ibu bilang dia mau nikah dengan ayah Bima, Bu bidan. Apa setelah nikah, ibu bakal lupain Dini?" tanya Andini, sorot matanya memancarkan ketakutan akan kehilangan.

"Seorang ibu nggak mungkin bisa lupain anaknya di manapun dia berada, Dini. Kamu sendiri tau, ibu kamu mau nikah, itu artinya dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahan."

"Sekarang, Dini doain aja, supaya kesibukan ibu Dini cepat selesai dan bisa telpon Dini lagi," kata Rini memberikan pengertian dengan hati-hati.

"Dini sakit, tapi ibu nggak ada sama Dini. Biasanya, ibu yang temenin Dini. Meskipun sambil marah-marah karena Dini selalu main ujan-ujanan," cerita Andini, kini tangisnya sedikit reda.

Rini membimbing Andini untuk duduk dan memberikan pelukan hangat. Dia tidak bisa bicara banyak, ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.

Bahkan wanita yang kini dia panggil ibu, adalah ibu angkatnya.

"Mas Arga, kalo Mas Arga mau kerja pergi aja. Dini biar saya yang jaga," kata Rini penuh pengertian.

Arga menggeleng cepat. "Nggak perlu, Rin. Nanti merepotkan. Kamu juga pasti harus kerja," tolak Arga merasa tak enak hati.

"Nggak papa, Mas. Saya akan berangkat setelah ibu datang nanti. Lagian, saya kerja hanya sampai Dzuhur. Setelah itu saya akan pulang."

"Dini, biar saya yang temenin," kata Rini lagi.

Arga menatap wajah putrinya yang pucat dan sembab. Dia mengusap puncak kepala Andini sambil tersenyum getir.

"Kamu nggak papa Ayah tinggal?"

Andini mengangguk pelan. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang sang bidan.

"Ya udah, tapi jangan repotin Bu bidan. Harus nurut. Kalo waktunya minum obat, kamu harus mau, jangan nolak. Biar cepet sembuh," pesan Arga tegas namun lembut.

"Andini nggak bakal ngerepotin kok, Mas. Dini anak yang pintar dan cerdas," kata Rini sambil tersenyum tulus.

"Makasih ya, Rin. Kalo gitu saya titip Dini sebentar. Saya akan bawakan dia makanan dan jajanan sebelum pergi kerja. Biar dia anteng," ujar Arga seraya bangkit dari duduknya.

"Jangan, Mas! Nggak usah!" cegah Rini.

"Ke-kenapa?" Arga mengurungkan niat untuk melangkah pergi.

"Dini jangan dulu dikasih jajan. Lebih bagus makan buah-buahan. Jadi nggak usah dibawain makanan atau jajanan. Nanti biar saya saja yang buatkan dia bubur," ujar Rini.

Ia merasa prihatin pada duda beranak satu itu, mengerti pasti tidak mudah menjadi ayah sekaligus ibu.

"Kalo gitu saya belikan buah saja. Dini mau buah apa?" tanya Arga kembali memandang wajah putrinya dengan tatapan khawatir.

"Belikan jeruk aja, Mas." Bukan Andini yang menjawab, tapi Rini.

"Oh, iya." Arga mengangguk.

"Kalo gitu Ayah pulang dulu. Ingat, jangan bicara sembarangan pada Bu bidan," bisik Arga lalu mengecup pipi putrinya.

Arga segera pergi meninggalkan kediaman Bidan Rini. Setelah kepergian ayahnya, Andini mendongak, menatap wajah Rini dari bawah.

"Bu bidan..." Nada suaranya mendayu.

Rini menunduk dan tatapan mereka bertemu. Keduanya saling melempar senyuman.

"Kenapa? Kamu udah lapar? Bu bidan buatkan bubur sekarang, ya," tawar Rini sambil menangkup pipi Andini yang chubby dan memerah.

Andini menggeleng cepat. "Bu bidan kapan mau nikah?" tanyanya dengan ekspresi polos dan begitu tenang.

"Nikah?" Rini tertawa kecil.

"Bu bidan masih muda, Dini. Belum ada niatan nikah dalam waktu dekat," jawab Rini dengan sederhana.

"Oh..." Mulut Andini membentuk lingkaran.

"Bu bidan nanti nikahnya sama siapa?" tanya Andini lagi, matanya berkedip cepat.

Rini tersenyum lebar. "Kenapa kamu begitu pengen tau kapan Bu bidan nikah?" Ia balik bertanya.

Andini langsung tersipu malu dan menyembunyikan wajah di pelukan Rini.

"Dini ada apa?" tanya Rini lagi, dia berusaha melihat wajah gadis kecil itu, namun Andini semakin menenggelamkan wajah di perutnya.

Andini menggeleng cepat. "Nggak papa, Bu bidan. Tapi, kalo nanti Bu bidan sudah siap nikah, kasih tau Dini, ya," ucap Dini. Suaranya teredam, namun cukup terdengar di telinga Rini.

Rini tersenyum tipis. Ia lalu membimbing Andini untuk kembali membaringkan tubuh. "Istirahat dulu di sini, ya. Bu bidan bikinin kamu bubur dulu di dapur."

Andini mengangguk. Ia memejamkan mata sambil memeluk boneka kelincinya. "Kalo aku minta Bu bidan jadi istri ayah, nanti ayah pasti marahin aku."

"Nggak papa deh. Yang penting Bu bidan nggak bakal nikah dalam waktu dekat. Semoga aja mereka nanti saling suka, dan aku jadi punya ibu baru yang baik dan cantik kayak Bu bidan," batin Andini sambil mesem-mesem sendiri.

 

"Arga!"

Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundak Arga yang tengah menggali saluran irigasi dengan cangkul.

Arga mendongak dan segera naik ke atas. "Pak kades," sapanya sambil tersenyum ramah.

"Saya pikir kamu nggak kerja hari ini karena anak kamu sedang sakit," kata Pak kades sambil mengawasi pekerja lain.

"Pak kades tau? Andini tadi malam demam, tapi sekarang sudah mendingan. Dia masih di rumah bidan Rini. Maaf, tadi saya datang terlambat karena harus membujuk dia minum obat dulu," tutur Arga sambil memandang wajah serius Pak kades.

Pak kades manggut-manggut. "Saya denger dari temen kamu. Tadinya saya mau titipin upah kerja kamu, siapa tahu kamu butuh buat bayar biaya perawatan anak kamu. Tapi, karena kamu di sini... biar saya kasih langsung saja."

Pak kades mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku celana.

"Apa nggak papa, Pak kades? Yang lain kan belum dibayar?" tanya Arga, nampak sungkan menerima bayarannya itu.

Pak kades menarik tangan Arga dan meletakan amplop itu dengan tegas. Selanjutnya, ia menepuk pundak Arga sedikit keras.

"Kamu sudah sangat bertanggung jawab memastikan orang-orang yang kamu bawa bekerja dengan giat dan jujur. Bahkan pengecoran jalan juga jadi lebih cepat berkat kamu."

"Saya hanya membantu mengarahkan saja, Pak kades. Mereka memang orang-orang yang giat dan jujur. Mereka udah terbiasa bekerja di lapangan seperti ini," jawab Arga, rendah hati. Ia merasa pujian itu terlalu berlebihan untuknya.

Pak kades menatap Arga dengan binar berbeda. "Arga, setelah pengecoran jalan di sini, kebetulan saya butuh orang untuk mengawasi proyek tanah kosong di desa kita."

"Rencananya mau dibuatkan bendungan."

"Bagaimana jika kamu saja? Daripada saya harus cari orang lagi yang belum pasti saya percayai?" tawar Pak kades.

"Gajinya jelas beda," lanjut Pak kades menekankan.

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!