di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Labirin Cermin dan Iblis Hati
Dunia di balik gerbang cahaya itu sunyi.
Tidak ada suara angin, tidak ada suara air, bahkan suara langkah kaki mereka sendiri seolah diredam oleh kabut ungu tebal yang menyelimuti segala arah.
Ye Yuan dan Mu Bingyun berjalan berdampingan. Di tangan kiri Ye Yuan, Peta Naga Tulang memancarkan sinar keemasan yang membentuk benang tipis di lantai, menuntun mereka melewati lorong-lorong batu yang tampak identik.
"Jangan melihat ke dinding," peringatan Mu Bingyun memecah keheningan. Suaranya datar namun tegang. "Dinding-dinding ini terbuat dari Batu Mimpi Buruk. Jika kau menatapnya terlalu lama, jiwamu akan tersedot masuk dan terjebak dalam ilusi selamanya."
Ye Yuan mengangguk. Dia bisa merasakan tarikan aneh dari sudut matanya. Bayangan-bayangan masa lalu—wajah-wajah murid yang menghinanya, wajah gurunya yang sekarat—berkelebatan di dinding batu itu.
"Ilusi murahan," dengus Ye Yuan. Tekadnya yang ditempa oleh Sutra Asura sekeras baja. Dia mengabaikan bayangan itu dan fokus pada peta.
Namun, tiba-tiba benang emas dari peta itu terputus.
Ye Yuan berhenti mendadak. "Petanya mati."
"Apa?" Mu Bingyun menoleh cepat.
Peta kulit naga di tangan Ye Yuan meredup, lalu menjadi gelap total. Kabut ungu di sekitar mereka menebal, berputar-putar membentuk pusaran yang memusingkan.
"Kita masuk ke Zona Mati," kata Mu Bingyun, wajahnya memucat. "Area di mana hukum ruang dan waktu kacau. Peta tidak bisa membaca jalan di sini."
Tiba-tiba, kabut di depan mereka terbelah.
Bukan jalan keluar yang terlihat, melainkan sebuah cermin raksasa setinggi sepuluh meter yang menghalangi jalan.
Di dalam cermin itu, pantulan Ye Yuan dan Mu Bingyun terlihat jelas. Namun, ada yang salah.
Pantulan Ye Yuan tersenyum menyeringai, matanya merah darah sepenuhnya, memegang pedang yang meneteskan darah hitam.
Pantulan Mu Bingyun menangis darah, wajahnya retak seperti porselen pecah, dan pedangnya patah.
"Iblis Hati," bisik Mu Bingyun.
KREK!
Permukaan cermin itu retak.
Kedua pantulan itu melangkah keluar dari cermin!
[Bayangan Cermin (Mirror Doppelganger)]
Kekuatan: 100% dari Aslinya
Sifat: Tidak memiliki rasa sakit, tidak memiliki belas kasihan.
"Menarik," Ye Yuan mencabut pedang besarnya. "Aku selalu ingin tahu rasanya memukul wajahku sendiri."
Bayangan Ye Yuan (kita sebut Ye-Bayangan) juga mencabut pedang hitam tiruan. Aura yang dipancarkannya sama persis: Berat, brutal, dan haus darah.
Di sebelahnya, Bayangan Mu Bingyun (Mu-Bayangan) mengangkat pedang esnya. Suhu ruangan turun drastis.
"Ye Yuan," kata Mu Bingyun asli, menghunus pedang Bilah Beku-nya. "Bayangan ini meniru teknik kita. Jangan lengah."
BOOM!
Pertarungan pecah.
Ye-Bayangan menerjang Ye Yuan asli.
Mu-Bayangan menerjang Mu Bingyun asli.
TRAAANG!
Ye Yuan terpental mundur lima langkah. Tangannya kesemutan hebat.
"Sialan! Tenaganya benar-benar sama!" umpat Ye Yuan.
Ye-Bayangan tidak memberinya napas. Dia menggunakan Langkah Hantu Asura dan menebas membabi buta.
[Gaya Berat Asura: Pemenggal Naga!]
Ye Yuan asli menangkis dengan teknik yang sama. Dua pedang besar beradu, menciptakan gelombang kejut yang membuat dinding labirin bergetar. Mereka seimbang. Sama kuat, sama cepat.
Di sisi lain, Mu Bingyun juga kesulitan. Mu-Bayangan menggunakan teknik es tingkat tinggi yang sama persis.
"Hujan Jarum Es!"
"Perisai Teratai Beku!"
Dua wanita cantik itu bertarung seperti tarian kematian yang mematikan. Bunga-bunga es meledak di udara, saling menetralkan.
"Kita tidak akan menang begini!" teriak Ye Yuan sambil menahan pedang Ye-Bayangan yang menekan lehernya. "Stamina mereka tidak terbatas, stamina kita terbatas!"
"Lalu apa rencanamu?!" balas Mu Bingyun, napasnya mulai memburu.
Mata Ye Yuan menyipit. Dia melihat Mu-Bayangan yang sedang menyiapkan mantra besar.
"Tukar lawan!" teriak Ye Yuan.
"Apa?"
"Aku urus bayanganmu! Kau urus bayanganku! Elemen kita saling berlawanan!"
Tanpa menunggu persetujuan, Ye Yuan meledakkan Qi di kakinya.
[Langkah Hantu Asura: Ledakan Samping!]
Dia melepaskan diri dari Ye-Bayangan dan melesat menuju Mu-Bayangan yang sedang fokus pada Mu Bingyun asli.
Mu-Bayangan terkejut. Dia adalah tipe petarung jarak jauh/teknik. Tiba-tiba ada tank seberat satu ton yang menerjangnya.
"Mati kau, Nenek Sihir Palsu!"
Ye Yuan mengayunkan pedang besarnya yang kini terbakar oleh Api Bintang Dingin.
BLAARR!
Pedang Ye Yuan menghancurkan perisai es Mu-Bayangan dalam satu hantaman. Perisai itu, yang didesain untuk menahan serangan tajam/cepat Mu Bingyun, tidak kuat menahan daya hancur berat Ye Yuan.
"Krak!"
Mu-Bayangan terpental, pertahanannya hancur berantakan.
Di sisi lain, Mu Bingyun mengerti maksud Ye Yuan.
Ye-Bayangan yang kehilangan targetnya (Ye Yuan asli), kini berhadapan dengan Mu Bingyun.
Ye-Bayangan mengayunkan pedang besarnya dengan lambat namun mematikan.
Mu Bingyun tidak menangkis. Dia menari.
Kecepatannya jauh di atas Ye Yuan (Tingkat 9 vs Tingkat 4). Dia meliuk menghindari tebasan berat itu dengan mudah.
"Kau kuat, tapi kau lambat dan kasar," desis Mu Bingyun dingin.
Dia melesat masuk ke celah pertahanan Ye-Bayangan yang terbuka lebar setelah mengayun.
[Seni Pedang Awan Biru: Tusukan Jantung Beku!]
JLEB!
Pedang ramping Mu Bingyun menusuk tepat di jantung Ye-Bayangan. Qi es meledak di dalam tubuh bayangan itu, membekukannya dari dalam.
Bersamaan dengan itu, Ye Yuan menyusul Mu-Bayangan yang terpental.
"Tebasan Pembelah Gunung!"
SPLAT!
Ye Yuan membelah Mu-Bayangan menjadi dua bagian sebelum dia sempat merapal mantra lagi.
Kedua bayangan itu pecah menjadi kepingan kaca, lalu menghilang menjadi asap ungu.
Cermin raksasa di depan mereka hancur berkeping-keping.
Jalan terbuka kembali. Peta Naga Tulang di tangan Ye Yuan bersinar lagi.
Ye Yuan jatuh terduduk, napasnya ngos-ngosan. "Hah... Hah... Memukul wajahmu sendiri ternyata melelahkan."
Mu Bingyun menyarungkan pedangnya. Dia menatap Ye Yuan dengan pandangan baru.
"Ide yang bagus," pujinya pelan, sangat pelan hingga hampir tidak terdengar. "Elemen api dan beratmu adalah kelemahan gaya bertarungku. Dan kecepatanku adalah kelemahan gaya bertarungmu."
"Kerja sama tim, Guru," Ye Yuan menyeringai. "Kita pasangan yang serasi, kan?"
Mu Bingyun memutar bola matanya, tapi tidak marah. "Jangan melunjak. Jalan masih panjang."
Mereka bangkit dan melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati labirin cermin, lorong batu berubah menjadi jembatan gantung yang membentang di atas jurang gelap gulita.
Dan di ujung jembatan itu, terdapat sebuah pintu gerbang emas raksasa yang setengah terbuka.
Cahaya keemasan yang menyilaukan memancar dari dalamnya.
"Kita sampai," kata Mu Bingyun, matanya berbinar. "Aula Harta Naga."
Mereka berdua mempercepat langkah.
Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam aula itu, langkah mereka terhenti oleh pemandangan yang megah sekaligus mengerikan.
Aula itu sebesar stadion bola. Lantainya dipenuhi tumpukan emas, permata, dan senjata kuno yang menggunung.
Tapi bukan itu yang penting.
Di tengah aula, melingkar di atas tumpukan harta terbesar, terdapat kerangka seekor naga asli sepanjang seratus meter. Tulang-tulangnya bersinar seperti giok putih.
Dan di tengah tengkorak naga itu, melayang setetes darah berwarna merah delima yang memancarkan tekanan seorang Raja.
[Darah Naga Asli]
"Itu dia..." Ye Yuan menelan ludah. Pedang di dalam Dantian-nya bergetar gila-gilaan, ingin keluar.
"Tunggu," Mu Bingyun menahan Ye Yuan.
"Kenapa?"
"Lihat di bawah tengkorak itu."
Ye Yuan menyipitkan mata.
Di bawah tengkorak naga, duduk bersila sesosok mayat kering (mumi) yang mengenakan jubah compang-camping berlambang Sekte Pedang Surgawi model kuno (ratusan tahun lalu).
Mumi itu memegang sebuah pedang berkarat di pangkuannya.
Dan tiba-tiba, mata mumi itu terbuka. Menyala hijau hampa.
"Siapa..." suara parau terdengar dari tenggorokan kering mumi itu. "...yang berani mengganggu tidur Leluhur?"
Aura yang memancar dari mumi itu... Inti Emas (Golden Core)! Meskipun sudah lemah dan membusuk, sisa kekuatannya masih jauh di atas Pembentukan Fondasi.
Ye Yuan dan Mu Bingyun saling pandang. Wajah mereka pucat.
"Itu... Itu adalah Tetua Agung Pendiri Sekte yang hilang 300 tahun lalu!" bisik Mu Bingyun horor. "Dia tidak mati... dia menjadi Penjaga Mayat (Corpse Puppet)!"
Dan saat itu juga, suara ledakan terdengar dari arah pintu masuk labirin di belakang mereka.
"Hahaha! Aku mencium bau harta karun!"
Gu Tian, Yan Lie, dan ribuan kultivator lainnya akhirnya berhasil menembus labirin dan tiba di aula.
Situasi menjadi mimpi buruk.
Di depan ada Mayat Hidup Inti Emas.
Di belakang ada Ribuan Musuh.
Ye Yuan tertawa getir. "Guru Mu... sepertinya kita benar-benar pasangan yang serasi dalam hal kesialan."
Mu Bingyun menghunus pedangnya, wajahnya serius.
"Berhenti bicara omong kosong. Bersiaplah untuk bertarung sampai mati."
[Bersambung ke Bab 34]
Poin Ringkas Bab 33:
Mental Battle: Ye Yuan dan Mu Bingyun menghadapi Doppelganger (Bayangan Cermin) yang memiliki kekuatan setara.
Strategy: Mereka menang dengan cara bertukar lawan (Ye Yuan vs Mu-Bayangan, Mu Bingyun vs Ye-Bayangan) untuk memanfaatkan kelemahan elemen/gaya bertarung.
Bonding: Hubungan kerja sama mereka semakin solid.
Discovery: Menemukan Aula Harta Naga dan Darah Naga Asli.
Cliffhanger: Terjepit di antara Mayat Hidup Leluhur Sekte (Boss Inti Emas) dan Pasukan Pengejar (Gu Tian dkk).