Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perebutan hak asuh
Darian meraih tangan Queenora, menggenggamnya erat, seolah untuk menahan diri, sekaligus untuk memberi tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa melepaskannya lagi… tetapi kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah……
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.” Bisikan Darian nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada pada Queenora.
Tangan besarnya masih menggenggam tangan gadis itu, jemarinya mengunci erat, seolah mencoba menahan badai yang berkecamuk di dalam dirinya. Matanya menatap bibir Queenora yang sedikit bengkak, masih lembap oleh ciuman mereka, dan ada kerinduan yang membara di sana, beradu dengan rasa bersalah yang menusuk.
Wajahnya memerah, napasnya tersengal. Ini adalah pengkhianatan paling telanj4ng yang pernah ia lakukan pada sumpah dukanya, pada kenangan Luna.
Namun, sentuhan Queenora, kelembutan ciuman itu, telah membuka pintu hati yang terkunci rapat. Pintu ke sebuah ruangan yang ia kira telah lama mati. Queenora membuka matanya perlahan. Ada kebingungan di sana, bercampur dengan gairah yang sama-sama membingungkan. Ia merasakan genggaman tangan Darian, kekokohan yang anehnya terasa menenangkan. Ia menatap mata Darian, mencari jawaban atas semua perasaan campur aduk yang kini memenuhi dirinya.
“Tuan…” Queenora berbisik, suaranya serak.
Ia tidak tahu harus berkata apa, bagaimana menanggapi pengakuan pria itu, atau apa artinya ciuman yang baru saja terjadi. Segalanya terasa terlalu cepat, terlalu nyata, terlalu berbahaya. Darian menarik tangannya. Genggaman itu terlepas, meninggalkan kekosongan dingin yang langsung membuat Queenora merindukannya.
Pria itu bangkit berdiri, membersihkan celananya yang tidak kotor, gerakannya gelisah, canggung, seolah ingin melarikan diri dari momen itu, dari kebenaran yang baru saja terungkap di antara mereka. Ia berbalik membelakangi Queenora, menatap danau di depan mereka dengan pandangan kosong. Keheningan yang menyelimuti mereka kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Bukan lagi kecanggungan yang tipis, melainkan dinding tebal yang baru saja mereka bangun kembali, setelah ciuman itu meruntuhkannya. Elios menggeliat kecil di kereta dorongnya, seolah ikut merasakan pergolakan emosi di antara kedua orang dewasa itu.
“Kita harus pulang,” kata Darian akhirnya, suaranya datar, tanpa emosi. Kembali menjadi Darian yang dingin, yang profesional.
“Sudah terlalu lama di sini.” Queenora hanya mengangguk, hatinya mencelos.
Jadi, itu saja? Ciuman itu, janji itu, semua itu hanya kesalahpahaman? Sebuah momen impulsif yang akan ia sesali? Ia merasakan sakit yang tajam, lebih parah dari yang ia bayangkan.
Sebuah harapan rapuh yang baru saja mekar, kini terasa layu. Ia bangkit, mengambil alih kereta dorong Elios, dan mengikuti Darian yang berjalan cepat di depannya, menjauh dari bangku itu, menjauh dari ciuman yang terlalu berani.
***
Perasaan yang campur aduk itu terus membayangi Queenora sepanjang hari. Darian kembali mengenakan topeng dinginnya, seolah tidak pernah ada ciuman di taman, seolah tidak pernah ada janji, seolah tidak pernah ada sentuhan. Ia hanya fokus pada Elios, memberikan instruksi singkat kepada Queenora, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerjanya.
Queenora mencoba melakukan hal yang sama, membenamkan diri dalam rutinitas merawat Elios, tetapi setiap kali pandangannya bertemu dengan Darian, jantungnya berdebar kencang, dan kenangan bibir pria itu kembali terbayang.
Di sisi lain kota, di sebuah kafe mewah yang ramai, Madam Estrel duduk di seberang detektif yang ia sewa. Wajahnya tegang, cangkir teh di tangannya bergetar samar.
“Jadi, kau yakin?” tanyanya, suaranya rendah dan tajam. Detektif itu, seorang pria paruh baya dengan tatapan lelah, mengangguk.
“Saya melihatnya sendiri, Nyonya. Mereka… berciuman. Di taman kota. Di siang bolong.” Estrel menghela napas, matanya menyipit penuh amarah.
“Di siang bolong? Berani sekali dia. Wanita rendahan itu… berani-beraninya dia merayu menantu saya di tempat umum.” Ia mencengkeram cangkir tehnya lebih erat.
“Dan Darian? Dia membiarkannya?”
“Tuan Darian terlihat… ragu-ragu, Nyonya. Tapi ciuman itu terjadi,” detektif itu menambahkan.
“Saya juga melihat mereka berjalan-jalan bersama Elios seperti sebuah keluarga. Tuan Darian bahkan mendorong kereta dorongnya.” Kata-kata itu bagai belati yang menusuk hati Estrel.
Keluarga
Elios adalah cucunya, darah daging putrinya. Dan wanita itu, ibu susu rendahan itu, berani-beraninya mengambil tempat putrinya, mengambil cucunya, mengambil menantunya? Amarahnya membuncah, mengalahkan kesedihan yang selama ini ia rasakan.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Estrel, bangkit berdiri.
“Elios adalah milikku. Darah daging Luna. Wanita itu… dia bukan siapa-siapa. Dia tidak berhak atas apapun.” Ia menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan.
“Sudah cukup. Aku akan menghentikan ini sebelum semuanya terlambat.”
***
Keesokan siangnya, suasana di rumah Darian terasa lebih suram dari biasanya. Darian baru saja selesai makan siang dengan Elios dan Queenora, makan siang yang sunyi dan penuh kecanggungan. Ia hendak kembali ke ruang kerjanya ketika teleponnya berdering. Ia melihat nama di layar, mengerutkan kening, lalu mengangkatnya.
“Halo, Pak Handoko,” sapa Darian, suaranya kembali ke nada formalitas yang biasa ia gunakan dalam urusan bisnis.
Queenora, yang sedang membereskan meja, tanpa sengaja menguping. Pak Handoko adalah pengacara keluarga Darian, orang yang sangat ia percaya. Wajah Darian langsung berubah. Kerutan di dahinya semakin dalam, matanya menyipit, dan rahangnya mengeras.
“Apa? Petisi hak asuh? Atas dasar apa?” Suaranya meninggi, ada nada tidak percaya dan kemarahan yang jelas. Queenora menegang, tangannya berhenti di udara.
“Madam Estrel… kenapa dia melakukan ini?” Darian berkata lagi, suaranya lebih pelan, tapi penuh ancaman. Ia menatap Queenora sekilas, tatapan yang begitu tajam hingga Queenora merasa seluruh tubuhnya terpaku di tempat.
“Baik, Pak. Saya akan datang sekarang. Siapkan semua berkas yang dibutuhkan.”
Darian memutuskan panggilan itu, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Queenora. Ada badai di matanya, badai yang siap menghantam siapa pun yang menghalangi jalannya. Queenora merasakan ketakutan yang dingin merayapi punggungnya.
“Estrel,” kata Darian, suaranya rendah dan penuh kemarahan yang terkontrol.
“Dia baru saja mengajukan petisi hak asuh penuh atas Elios.” Queenora terkesiap.
“Apa?”
“Dia menggunakan alasan… ketidakstabilan emosional saya pasca-kematian Luna, dan juga… statusmu, Queenora. Sebagai ‘wanita tidak bermoral’ yang tidak layak berada di dekat Elios.”
Tatapan Darian menusuknya, seolah mencari tahu seberapa banyak kebohongan yang masih ia sembunyikan. Hati Queenora mencelos. Kata-kata itu, ‘wanita tidak bermoral’, menghantamnya seperti pukulan, membawa kembali semua kenangan pahit tentang bagaimana keluarganya menyebutnya. Ia merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia menahannya.
“Saya…” Queenora mencoba membela diri, tetapi suaranya tercekat. Darian menghela napas, menggosok pelipisnya.
“Aku harus pergi menemui pengacaraku sekarang. Kau… tetap di sini bersama Elios.” Ia berbalik, hendak melangkah keluar.
“Tuan!” Queenora memanggil, suaranya sedikit bergetar. Darian berhenti, tapi tidak menoleh.
“Apa… apa yang akan terjadi pada Elios? Dan… pada saya?” Darian berbalik lagi. Kali ini, matanya lebih tenang, meskipun masih ada bayangan kemarahan di sana.
“Aku tidak akan membiarkan Estrel mengambil Elios,” katanya, suaranya tegas.
“Dan tentang dirimu… itu tergantung pada keputusan yang akan kubuat.” Ia pergi, meninggalkan Queenora sendirian di tengah ruang makan, dengan Elios yang sedang bermain di kursi makannya, tidak menyadari badai yang akan datang.
***
Beberapa jam kemudian, Darian kembali. Ia terlihat sangat lelah, tetapi ada tekad yang membara di matanya.
Queenora menunggunya di ruang tamu, dengan Elios yang tertidur di gendongannya. Ia tidak bisa tenang sejak Darian pergi. Darian melemparkan tas kerjanya ke sofa, lalu duduk di seberang Queenora, tatapannya lekat.
“Pengacaraku bilang, Estrel punya kasus yang cukup kuat,” Darian memulai, suaranya berat.
“Dia punya bukti dari detektif yang menunjukkan bahwa aku… belum sepenuhnya pulih. Dan dia menggunakan laporan tentang masa lalumu, Queenora. Laporan yang dia dapat dari keluargamu.” Queenora merasakan darahnya berdesir dingin.
“Laporan apa, Tuan?”
“Tentang kehamilanmu, keguguranmu… yang disajikan sebagai bukti bahwa kau wanita murahan yang tidak punya moral,” kata Darian, nada suaranya tidak menghakimi, melainkan penuh kemarahan terhadap Estrel.
“Dia bahkan punya saksi yang siap bersaksi tentang keburukanmu.”
Queenora menunduk, pipinya memanas karena malu. Rasa takut yang selama ini ia kubur dalam-dalam, kini kembali menyeruak. Ia tahu Estrel akan kejam, tetapi ia tidak menyangka akan sekejam ini.
“Jadi, Tuan… Anda akan memecat saya?” Queenora berbisik, suaranya hampir tak terdengar.
Queenora menatap Elios di gendongannya, memeluk bayi itu lebih erat. Ini adalah ketakutan terbesarnya kehilangan Elios.
Darian terdiam. Ia menatap Queenora, lalu beralih ke Elios yang tertidur damai. Sebuah perjuangan batin yang hebat terlihat jelas di wajahnya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk memenangkan kasus ini dengan mudah melepaskan Queenora, membuktikan bahwa ia tidak ada hubungannya dengan ‘wanita tidak bermoral’ itu.
Tapi pikiran itu… terasa salah. Sangat salah.
“Tidak,” kata Darian, suaranya tegas dan jelas.
“Aku tidak akan memecatmu.”
Queenora mendongak, matanya lebar karena terkejut.
“Aku akan melawan Estrel,” lanjut Darian, ekspresinya kini mengeras penuh tekad.
“Aku akan membela Elios. Dan aku akan membela… kau.”
Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan sedikit ragu, tetapi maknanya begitu besar hingga membuat napas Queenora tercekat. Ia membela dirinya? Setelah semua kebohongan yang ia katakan? Setelah semua yang Estrel katakan?
“Tapi, Tuan… jika Anda membela saya, Nyonya Estrel akan semakin…”
“Aku tidak peduli,” potong Darian, bangkit berdiri dan mendekati Queenora.
Ia berlutut di depannya, menatapnya lurus-lurus. Matanya memancarkan kejujuran yang menakutkan, sebuah komitmen yang baru saja ia putuskan.
“Aku tidak peduli apa yang Estrel katakan. Aku tidak peduli apa yang dunia pikirkan. Elios membutuhkanmu, Queenora. Dan aku… aku tidak bisa lagi membiarkanmu menghadapi semua ini sendirian.” Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sesaat, lalu menyentuh pipi Queenora. Sentuhan itu kini tidak lagi canggung, melainkan penuh kelembutan yang dalam.
Queenora merasakan air matanya tumpah ruah, bukan karena kesedihan, melainkan karena kelegaan dan rasa syukur yang luar biasa. Selama ini, ia selalu merasa sendiri, selalu berjuang sendirian. Tapi sekarang… ada Darian.
“Tapi, Tuan… bagaimana caranya?” Queenora bertanya, suaranya bergetar.
“Nyonya Estrel punya banyak uang, banyak koneksi. Dan saya… saya tidak punya apa-apa.”
Darian menggelengkan kepalanya.
“Kau punya Elios. Kau punya kebenaran. Dan kau punya aku.” Ia menarik Queenora ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. Itu adalah pelukan yang kokoh, tanpa keraguan, tanpa rasa bersalah.
Pelukan yang terasa seperti rumah, seperti tempat berlindung dari segala badai. Queenora membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Darian, merasakan detak jantung pria itu yang kuat dan stabil.
Setelah beberapa saat, Darian menarik diri sedikit, tetapi tangannya masih melingkari Queenora. Ia menatapnya dengan tatapan yang intens, tatapan yang menuntut jawaban, menuntut kejujuran.
“Sekarang, aku harus tahu semuanya, Queenora,” bisiknya, suaranya serak.
“Kenapa bayimu meninggal? Jika kita ingin melawan Estrel, aku butuh kebenaranmu.”