NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: PERSALINAN BERDARAH

27 Oktober 2026. Sembilan bulan telah berlalu sejak api melahap Villa Samudera, namun dendam tidak pernah mendingin. Di sebuah bunker medis rahasia yang tersembunyi di bawah pegunungan salju Hokkaido, atmosfer terasa begitu dingin hingga napas setiap orang membentuk uap putih. Kecuali di dalam Ruang Operasi Alpha. Di sana, suhu udara panas oleh keringat, darah, dan tegangan listrik dari mesin-mesin penopang hidup.

Hana Sato terbaring di meja operasi perak. Wajahnya yang biasanya datar kini terdistorsi oleh rasa sakit yang melampaui ambang batas manusia. Setiap kontraksi terasa seperti belati yang diputar di dalam perutnya. Namun, di tengah penderitaan itu, Hana tidak berteriak. Ia mencengkeram pinggiran meja logam hingga jemarinya memutih dan berdarah, matanya menatap tajam ke lampu operasi di atasnya.

"Jangan menyerah pada rasa sakitnya, Hana," suara Rena Sato terdengar dingin di sampingnya. Rena mengenakan pakaian bedah lengkap, namun di pinggangnya tetap tersampir belati taktis. "Rasa sakit ini adalah harga yang harus kau bayar untuk melahirkan senjata terhebat dalam sejarah Sato."

"Ibu..." bisik Hana, suaranya parau. "Aku merasakannya... dia mencoba keluar... tapi dia tidak ingin dilahirkan. Dia ingin menghancurkanku dari dalam."

❤️❤️❤️

Tiba-tiba, seluruh bunker bergetar. Suara dentuman frekuensi rendah merambat melalui dinding beton. Di layar monitor keamanan, terlihat sebuah siluet yang tidak asing turun dari jet pribadi yang mendarat di tengah badai salju.

Kenzo Matsuda.

Ia melangkah keluar tanpa mengenakan jaket tebal, seolah suhu di bawah nol derajat tidak mampu menyentuh kulitnya. Kenzo tampak lebih segar daripada sebelumnya. Tidak ada bekas luka di wajahnya; teknologi medis Saikou yang paling mutakhir telah menghapus setiap jejak belati Rena dari bab sebelumnya. Ia tampak seperti dewa yang turun dari langit—sempurna, angkuh, dan mutlak.

"Aktifkan Protokol Penjemputan," suara Kenzo bergema melalui interkom bunker yang berhasil ia retas. "Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku. Hana, bayiku, dan kepala ibumu."

Rena menatap kamera pengawas dengan kebencian yang murni. "Dia tidak pernah belajar, bukan? Dia pikir kesempurnaan fisiknya bisa melindunginya dari apa yang telah kita siapkan."

❤️❤️❤️

Hana mengerang saat kontraksi hebat lainnya menyerang. "Dia... dia sudah dekat, Bu!"

Rena memeriksa monitor medis. Detak jantung janin meningkat secara abnormal. "Posisi sungsang. Dia bertarung, Hana. Darah Saikou di dalamnya menolak untuk tunduk pada proses alami. Dia ingin keluar dengan caranya sendiri."

Di luar ruangan, suara tembakan mulai terdengar. Tim elit The Sentinels yang dipimpin langsung oleh Kenzo telah menembus pertahanan luar. Suara sepatu bot Kenzo yang beradu dengan lantai marmer terdengar ritmis, semakin dekat ke ruang operasi.

KLAK.

Pintu baja ruang operasi terbuka secara paksa. Kenzo Matsuda berdiri di sana. Ia tidak memegang senjata api. Ia hanya mengenakan sarung tangan kulit hitam, menatap Hana dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara obsesi ilmiah dan kegilaan yang terpendam.

"Hentikan semua ini, Rena," kata Kenzo tenang, melangkah masuk seolah-olah sedang berjalan di ruang rapatnya sendiri. "Kau hanya akan menyakiti asetku. Menjauhlah dari putriku dan biarkan tim medis profesional saya mengambil alih."

Rena mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Kenzo. "Satu langkah lagi, Kenzo, dan aku akan memastikan wajah sempurnamu ini menjadi sejarah."

Kenzo tertawa kecil, suara yang jernih namun kosong. "Kau tidak akan menembak. Jika kau membunuhku sekarang, sistem pendukung kehidupan di bunker ini akan mati, dan Hana akan mati kehabisan darah dalam hitungan menit. Aku telah menghubungkan detak jantungku dengan reaktor tempat ini."

❤️❤️❤️

Hana berteriak keras—teriakan pertama yang pecah sejak persalinan dimulai. Air ketuban yang bercampur darah membanjiri meja operasi. Di tengah kebuntuan antara Rena dan Kenzo, alam mengambil alih.

"Ibu! Sekarang!" seru Hana.

Rena terpaksa menurunkan senjatanya. Ia berbalik dan fokus pada proses persalinan darurat. Kenzo berdiri di ujung meja, memperhatikan dengan mata yang berbinar. Ia tidak membantu; ia hanya menonton seolah sedang menyaksikan keajaiban teknologi yang ia ciptakan.

"Tekan, Hana! Jangan biarkan darah Matsuda memenangkan pertarungan ini!" perintah Rena.

Dengan satu dorongan terakhir yang memecahkan pembuluh darah di matanya, Hana merasakan kekosongan yang tiba-tiba. Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Tidak ada tangisan bayi. Hanya suara detak jantung mekanis dari monitor.

Rena mengangkat sosok mungil yang bersimbah darah. Bayi itu diam, matanya terbuka—mata yang tajam dan jernih, persis seperti mata Kenzo, namun dengan kedalaman yang gelap seperti milik Rena. Setelah beberapa detik yang mencekam, bayi itu mengeluarkan suara—bukan tangisan, melainkan geraman rendah yang aneh.

"Dia lahir," bisik Rena, suaranya mengandung nada ngeri yang jarang terdengar.

❤️❤️❤️

Kenzo melangkah maju, tangannya terulur. "Berikan padaku. Dia adalah puncak dari evolusi manusia. Dia adalah Saikou yang sesungguhnya."

Rena memeluk bayi itu erat, darah membasahi seragam bedahnya. "Dia adalah seorang Aishi, Kenzo. Dia lahir dari rasa sakit yang kau tanam. Dia bukan masa depanmu; dia adalah algojumu."

Hana, yang masih terengah-engah dan lemah, meraih lengan baju Rena. "Ibu... berikan padanya..."

Rena terkejut. "Apa?!"

Hana menatap Kenzo dengan senyum pucat yang sangat mengerikan. "Berikan bayi itu padanya, Ibu. Biarkan dia membawa 'aset' ini. Biarkan dia membesarkannya di istana emasnya."

Kenzo tersenyum puas. "Kau selalu menjadi gadis yang pintar, Hana."

Hana melanjutkan, suaranya dingin seperti es. "Tapi ingatlah ini, Kenzo. Setiap malam saat kau melihatnya tidur, kau akan bertanya-tanya... kapan dia akan bangun dan merobek tenggorokanmu? Aku telah membisikkan satu hal ke telinganya sebelum dia keluar: Ayahmu adalah mangsamu."

Wajah Kenzo yang sempurna sedikit menegang. Untuk pertama kalinya, kepercayaan dirinya yang mutlak goyah.

❤️❤️❤️

Kenzo mengambil bayi itu dari tangan Rena. Bayi itu tidak menangis saat disentuh oleh ayahnya yang sosiopat. Malahan, tangan mungil bayi itu mencengkeram jari Kenzo begitu kuat hingga kuku kecilnya menembus kulit sarung tangan Kenzo.

"Kalian boleh pergi," kata Kenzo tanpa menoleh pada Hana atau Rena. Ia terpaku pada bayi di lengannya. "Aku memiliki apa yang aku butuhkan. Pulau ini akan meledak dalam sepuluh menit. Larilah jika kalian bisa."

Kenzo berbalik dan keluar dari ruangan, dikelilingi oleh pengawalnya, membawa sang 'Embrio Kegelapan' menuju helikopter yang menanti.

Di meja operasi, Rena membantu Hana berdiri. Mereka tidak kalah. Mereka baru saja menanamkan bom waktu di jantung kerajaan Matsuda.

"Apakah kita akan mengambilnya kembali nanti, Bu?" tanya Hana sambil menahan sakit di perutnya.

Rena menatap ke arah langit yang gelap di mana lampu helikopter Kenzo menghilang. "Tidak perlu mengambilnya, Hana. Dia yang akan datang mencari kita setelah dia selesai menghancurkan ayahnya."

Fajar menyingsing di Hokkaido, menyinari salju yang kini merah oleh sisa-sisa persalinan. Sebuah dinasti baru telah lahir, bukan melalui cinta, melainkan melalui pengkhianatan dan darah yang tak akan pernah kering.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!