NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

"Lo nyari apa, Kak? Kunci? Nih!"

Araluna menyeringai lebar sambil memutar-mutar kunci cadangan pintu depan di telunjuknya. Arsen, yang tadi sempat panik meraba saku jaketnya karena mengira kunci rumah tertinggal di basecamp, langsung mengembuskan napas panjang. Wajah kakunya tampak sedikit lega, namun tetap terlihat gusar karena lagi-lagi ia dikerjai oleh adik tirinya ini.

"Kenapa kuncinya ada di lo, Araluna?" tanya Arsen dengan nada rendah yang menuntut penjelasan.

"Sengaja gue ambil pas lo lagi sibuk ngopi sama Kak Rian tadi. Gue tahu lo bakal pikun kalau udah ketemu gerombolan lo itu," jawab Luna santai sambil melempar kunci itu ke arah dada Arsen. Arsen menangkapnya dengan sigap, meski matanya tetap menatap Luna dengan tajam.

Begitu pintu terbuka, suasana rumah sudah gelap gulita. Papa Arga dan Bunda pasti sudah terlelap. Namun, alih-alih membiarkan Arsen masuk ke kamarnya sendiri, Luna justru mencengkeram lengan jaket Arsen dengan kuat.

"Kak, karena lo udah culik gue ke basecamp dan bikin jam tidur gue berantakan, sekarang gue mau lo tanggung jawab!" bisik Luna dengan penekanan yang tidak bisa dibantah. "Lo harus temenin gue nonton Dracin sampe pagi. Nggak mau tahu!"

"Luna, ini udah jam dua pagi—"

"Nggak ada tapi-tapi! Ayok!"

Luna menggeret tangan Arsen, memaksa cowok berbadan tegap itu mengikuti langkahnya menuju kamar Luna. Begitu mereka masuk, Luna langsung menendang pintu hingga tertutup rapat dan... KLIK! Suara kunci pintu yang diputar Luna terdengar begitu nyaring di keheningan malam itu.

Arsen membeku di tengah ruangan. "Luna, kenapa lo kunci? Kalau Papa denger gimana?"

"Biar lo nggak kabur, Kakak Sayang," sahut Luna dengan senyum "cegil" andalannya. Ia segera melompat ke atas tempat tidur, menyalakan proyektor mini yang langsung menembakkan gambar ke dinding kamarnya yang putih bersih.

Maraton Dracin dan Jantung yang Berpacu

Luna memutar drama China berjudul Speed and Love. Ia mengatur bantal-bantal besar sedemikian rupa agar mereka bisa duduk bersandar dengan nyaman. Arsen, yang merasa terjebak, akhirnya hanya bisa pasrah. Ia melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos hitam polos yang membungkus otot lengannya dengan sempurna. Ia duduk di pinggir ranjang, menjaga jarak sekitar tiga puluh senti dari Luna.

"Sini deketan, Kak! Nanti lo nggak kelihatan subtitlenya," pancing Luna sambil menarik kaos Arsen agar mendekat.

Arsen mendengus, namun ia akhirnya mengalah dan duduk bersandar tepat di samping Luna. Suasana kamar yang dingin karena AC bercampur dengan aroma parfum stroberi Luna dan aroma maskulin dari tubuh Arsen yang baru saja terkena angin malam.

Awalnya, Araluna tampak sangat tenang. Ia memeluk sebuah bantal guling, matanya fokus menatap layar. Namun, begitu adegan di drama itu masuk ke bagian balapan mobil yang intens dan penuh bumbu romansa antara sang pembalap dan kekasihnya, jiwa ekspresif Luna mulai keluar.

"GILAAAA! Gila banget, Kak! Liat matanya, ya ampun... itu tatapannya kayak mau makan orang!" teriak Luna kecil sambil memukul-mukul paha Arsen karena gemas.

Arsen tersentak, bukan karena dramanya, tapi karena telapak tangan Luna yang mendarat di paha kerasnya. "Luna, bisa nggak lo diem? Suara lo kedengeran sampe kamar Papa nanti."

"Abisnya ganteng banget, Kak! Pembalapnya mirip lo kalau lagi naik motor, tapi dia lebih... lebih agresif gitu," bisik Luna sambil menoleh, menatap profil samping wajah Arsen yang terkena pantulan cahaya proyektor.

Arsen tidak menoleh. Ia tetap menatap layar, namun Luna bisa melihat jakun Arsen naik turun—tanda bahwa cowok kaku ini sebenarnya sedang gugup setengah mati berada di kamar tertutup dengan Luna dalam kondisi seperti ini.

Semakin larut, drama itu semakin menunjukkan adegan-adegan yang memicu adrenalin. Saat adegan sang pemeran utama pria menarik wanita itu ke dalam pelukan setelah memenangkan balapan, Luna tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Arsen.

"Kak... lo kalau menang balap di basecamp bakal ngelakuin itu juga nggak ke cewek lo?" tanya Luna pelan, jarinya mulai bermain-main di punggung tangan Arsen.

Arsen terdiam sejenak. Suara di TV terdengar samar, namun suara napas mereka berdua justru terdengar sangat nyata. "Gue nggak punya cewek, Luna. Lo tahu itu."

"Kalau Clarissa?"

"Gue udah bilang, dia bukan siapa-siapa," jawab Arsen tegas. Ia akhirnya menoleh, menatap Luna yang sedang menatapnya dengan mata sayu penuh godaan.

Luna semakin berani. Ia mematikan suara TV menggunakan remote, membuat kamar itu seketika menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan visual drama yang terus berjalan di dinding. Ia mengubah posisinya, kini berlutut di atas kasur agar tingginya sejajar dengan Arsen yang sedang duduk bersandar.

"Gue nggak suka lo liat cewek lain, Kak. Gue benci pas Clarissa nyariin lo. Gue benci pas cewek pirang di basecamp tadi mau duduk di samping lo," bisik Luna. Tangannya kini merangkup wajah Arsen, ibu jarinya mengusap bibir bawah Arsen yang kaku.

Arsen mencengkeram pergelangan tangan Luna. "Luna, kita udah janji tadi sore buat nggak kelewat batas lagi di rumah."

"Batas itu lo yang buat, Kak. Bukan gue," balas Luna. Ia mencondongkan tubuhnya, menekan dada Arsen hingga cowok itu terpaksa bersandar sepenuhnya ke kepala ranjang. "Dan lo tahu kan, gue hobi banget ngelanggar aturan?"

Arsen menatap Luna dengan sorot mata yang menggelap—tatapan yang sama seperti saat mereka di sofa ruang tamu tadi malam. Sifat kakunya hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya. Ia tidak bisa lagi berbohong bahwa kehadiran Araluna di kamarnya, dengan piyama tipis dan tatapan menantang seperti ini, adalah godaan paling berat yang pernah ia hadapi.

"Lo bener-bener mau gue kasih pelajaran lagi?" suara Arsen berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.

Luna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menunduk, mencium sudut bibir Arsen dengan sangat lembut namun lama. "Kasih gue pelajaran yang paling susah, Kak. Biar gue nggak pernah lupa kalau gue itu cuma punya lo."

Malam itu, drama China di dinding hanya menjadi saksi bisu. Maraton film yang direncanakan Luna berubah menjadi maraton perasaan yang jauh lebih panas. Di dalam kamar yang terkunci itu, di hari tanggal merah yang seharusnya tenang, Araluna dan Arsen kembali tenggelam dalam api yang mereka ciptakan sendiri, mengabaikan fakta bahwa esok pagi mereka harus kembali berakting sebagai kakak-adik yang kaku di depan meja makan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!