Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa yang kamu lakukan?
Wanita itu terengah-engah saat akhirnya berhasil mengejar Zoran. Dadanya naik turun hebat. Dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya berbicara. “Tidak… tidak ada apa-apa,” katanya sambil menenangkan diri. “Aku hanya ingin berterima kasih karena Anda sudah menolongku.”
Dia mengangkat kepalanya.
Baru saat itu dia benar-benar melihat wajah Zoran dengan jelas.
Mata wanita itu sedikit membesar.
Masih muda. “Eh… ternyata masih remaja,” batinnya terkejut. “Kukira tadi seumuran denganku.”
Zoran mengangguk singkat, tidak menunjukkan emosi apa pun. “Kalau begitu, aku pergi dulu.”
“Eh!”
Wanita itu refleks bergerak dan buru-buru memegang tangan Zoran untuk menahannya. “Tunggu, tuan!”
Zoran berhenti. Dia berbalik dengan ekspresi tidak senang. Wanita ini… sejak tadi terus saja menahannya, padahal dia sudah ingin segera pergi dari tempat ini.
“Ada apa lagi, nyonya?” tanya Zoran kesal.
Wanita itu tersentak melihat tatapan itu. Dia segera melepaskan tangan Zoran lalu berdehem canggung. “Ehem… sebagai ucapan terima kasih dariku,” katanya hati-hati, “bagaimana kalau aku mengajakmu makan bersama?”
Zoran menatapnya beberapa detik penuh kebingungan. Lalu, tanpa alasan yang jelas, dia terkekeh kecil.
“Hehehe.”
Wanita itu terdiam. Alisnya mengernyit. “Kenapa kamu tertawa?” katanya kesal.
Dalam benaknya muncul pikiran yang membuat wajahnya sedikit memanas. Apa dia mengira aku ingin membalasnya dengan tubuhku?
Zoran menghentikan tawanya. Senyum tipis yang muncul di wajahnya bukanlah senyum ramah, melainkan senyum sinis yang dingin.
Tanpa menjawab, dia berbalik. Dan berjalan pergi begitu saja. Langkahnya tidak ragu. Tidak menoleh. Tidak peduli.
Wanita itu berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Zoran yang menjauh, dengan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
Melihat senyum sinis Zoran, wanita itu mengumpat dalam hati dengan kesal.
Apa kubilang? Dia pasti berpikir aku ingin menyerahkan tubuhku padanya.
Namun meski begitu, wanita itu tetap mengejar Zoran. Dengan keras kepala, dia terus membujuk agar Zoran mau makan bersamanya.
Langkah Zoran akhirnya berhenti. Kesabarannya habis. Dengan wajah kesal, dia mengangkat tangan lalu menjitak kepala wanita itu cukup keras.
Tuk.
“Aku tidak punya uang,” ucap Zoran dingin. “Kalau kamu ingin menjual tubuhmu, cari saja yang punya banyak uang.”
Wanita itu meringis sambil memegangi kepalanya. Namun begitu kata-kata itu masuk ke telinganya, wajahnya langsung memerah karena marah.
“Sialan!” bentaknya. “Aku bukan wanita seperti itu!”
Mana mungkin ada wanita yang bisa menahan diri ketika dihina seperti itu.
Zoran terkejut sesaat melihat reaksi wanita itu. Lalu, alih-alih meminta maaf, dia malah terkekeh pelan. “Kalau begitu,” katanya santai, “apa tujuanmu mengajakku makan?”
Wanita itu mendengus keras, menahan kesal yang masih mendidih di dadanya. “Aku hanya ingin membalas kebaikanmu. Itu saja.”
Zoran terdiam. Dia menimbang beberapa detik, matanya menatap wanita itu seolah mencoba menilai apakah kata-kata itu tulus atau hanya sandiwara. Akhirnya, dia mengangguk. “Kalau begitu… aku mau.”
Selain karena memang lapar, Zoran juga merasa aneh. Wanita ini berbeda dari orang-orang yang sebelumnya dia temui, baik di pasar maupun di kota.
Ada sesuatu pada sikapnya yang tidak sepenuhnya busuk… tapi juga tidak sepenuhnya bersih.
Wanita itu mendengus pelan, lalu berbalik dan memimpin jalan tanpa menunggu persetujuan lagi.
Zoran mengikutinya.
Tak lama kemudian, Zoran menyadari bahwa wanita itu ternyata tinggal di sebuah rumah kayu kecil yang berdiri sendirian di tengah hutan, jauh dari keramaian desa maupun kota.
Zoran sedikit heran. Kenapa wanita ini memilih tinggal di tempat seperti ini, terasing dan sunyi, daripada di desa atau kota yang jelas-jelas lebih hidup, dan yang paling penting, tidak akan terasa sepi?
Namun dia tidak bertanya.
Manusia, pada dasarnya, selalu punya pilihan masing-masing. Dan setiap pilihan biasanya datang bersama masalahnya sendiri. Mungkin wanita ini punya alasan yang tidak ingin dia ceritakan.
Lagipula, setelah melihat orang-orang di dunia ini, rasanya tidak aneh jika seseorang memilih hidup jauh dari siapa pun.
“Ngomong-ngomong,” wanita itu berbicara sambil berjalan, “siapa namamu?”
Zoran menoleh sedikit. “Namaku Zoran. Kamu bisa memanggilku begitu.”
Wanita itu mengangguk ringan. “Baiklah, Zoran. Kamu juga bisa memanggilku Heilan saja.”
“Apa kamu tinggal sendirian di sini?” tanya Zoran.
Heilan mengangguk tanpa ragu. Begitu tiba di depan rumah kayu kecil itu, dia membuka pintu lalu berkata dengan nada ringan, seolah tidak ada yang perlu disembunyikan.
“Selamat datang di rumahku. Maaf kalau tempatnya kecil dan kotor.”
Zoran mengangguk lalu masuk mengikutinya.
Di dalam rumah, Zoran mengamati sekeliling.
Tidak ada apa-apa yang istimewa.
Hanya sebuah ranjang sederhana, tempat memasak dari tanah dan batu, tumpukan kayu bakar, serta sebuah meja makan tua yang terlihat sudah digunakan bertahun-tahun.
Semua itu berada dalam satu ruangan tanpa sekat sedikit pun.
“Kamu bisa duduk dulu,” ucap Heilan sambil mengambil kayu untuk memasak.
Zoran yang masih berdiri merasa tidak enak jika hanya duduk sementara Heilan bekerja sendiri. Dia mendekat lalu berjongkok di dekat perapian, membantu menata kayu dan menyalakan api.
“Biar aku bantu.”
Heilan tersentak melihat Zoran tiba-tiba berada begitu dekat.
“Keparat!”
Tanpa berpikir panjang, dia mengayunkan kayu di tangannya dan memukul kepala Zoran dengan keras.
Duk.
Kepala Zoran tertunduk karena pukulan itu. Beberapa detik dia diam, lalu perlahan mengangkat kepalanya.
“Apa yang kamu lakukan?” ucapnya pelan, menahan amarah.
Heilan yang sudah panik mundur selangkah, lalu dengan cepat meraih pisau di atas meja dan menodongkannya ke arah Zoran. Tangannya gemetar, tapi matanya penuh kewaspadaan.
“Aku dari awal sudah curiga padamu!” bentaknya. “Ternyata aku benar. Coba saja kamu memaksaku melakukan hal itu, aku pasti akan membunuhmu!”
Zoran terdiam. Wajahnya berubah-ubah sebelum akhirnya mengeras. Ternyata… wanita ini mengira dirinya berniat memperkosanya.
Dengan nada dingin dan kesal, Zoran berkata,
“Aku hanya ingin membantu. Apa kamu pikir aku punya pikiran serendah itu?”
Heilan tertawa dingin. “Hahaha. Kamu pikir aku akan percaya pada ucapan yang keluar dari mulut bajingan sepertimu?” Tatapannya penuh jijik. “Kalau aku percaya begitu saja, berarti aku ini anak anjing.”
Zoran menarik napas panjang, berusaha menekan bara emosi di dadanya. Suaranya keluar rendah dan terkendali. “Kalau aku memang menginginkan tubuhmu,” katanya pelan, “bukankah lebih baik aku mengambilnya sejak awal?”
Heilan terdiam.
Ucapan itu… masuk akal.
Jika Zoran berniat memperkosanya, sejak di gang atau sejak di rumah ini, kesempatan sudah terbuka lebar. Tidak perlu berpura-pura menolong. Tidak perlu ikut makan. Tidak perlu repot-repot berbasa-basi.
Namun logika tidak serta-merta memadamkan ketakutan.
“Omonɡ kosong!” bentak Heilan keras.
Zoran mendengus singkat. “Kalau kamu tidak percaya, ya sudah,” ucapnya datar. “Aku juga tidak memintamu percaya padaku.”
Dia berbalik, membungkuk, lalu kembali menata kayu dan meniup api yang hampir padam.
Sikap itu justru membuat Heilan semakin marah. Dia melangkah mendekat, pisau di tangannya teracung.
“Kalau begitu,” katanya dengan suara bergetar tapi penuh tekad, “aku akan menusukmu supaya aku bisa percaya.”