Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Panca di buat tak konsentrasi bekerja. Berkali - kali ia mencoba menghubungi kekasihnya tapi hanya operator yang menjawab.
"Kamu di mana Lidia, kenapa nomor kamu ga bisa di hubungi? Apa ada sesuatu ya?" gumam Panca sambil melihat foto kekasihnya di layar ponselnya.
Panca membatalkan pertemuanya dengan klien sore ini. Hatinya terasa tak tenang karna takut terjadi apa - apa. Panca memacu kendaraanya secepat yang ia bisa menuju apartemen kekasihnya.
Jalanan yang sedikit macet membua ia mengomel sendiri. " Buruan, lama amat." gerutu Panca kesal, tanganya memukul stir meluapkan kekesalannya. Hampir tiga puluh menit akhirnya gedung apartemen Lidia nampak menjulang. Perlahan kendaran Panca berbelok menuju parkiran. Dengan tak sabar lelaki itu berjalan secepat mungkin menuju lift yang akan membawanya ke unit Lidia.
Panca kaget saat ia mencoba membuka pintu unit Lidia dengan kode yang biasa tapi selalu di tolak. Dengan putus asa lelaki itu memencet bel beberapa kali dan tak lama pintu terbuka.
"Kok lama am....at" ucapan Panca terputus saat melihat wajah asing yang membuka pintu. " Kamu siapa? Kenapa kamu yang membukakan pintu? Lidia mana?" pertanyaan beruntun meluncur begitu saja dari bibir Panca saking kagetnya.
"Maaf anda siapa? Saya penghuni unit ini." jawab seorang wanita paruh baya sopan.
"Pemilik yang lama kemana?" tanya Panca penasaran.
"Kalau masalah itu saya tidak tau, saya menyewa unit ini melalui pengelola. Mungkin bapak tanya saja pada bagian pengelolaan apartemen." jawab wanita itu.
"Baik, bu. Terimakasih. Maaf menganggu." pamit Panca dengan wajah sendu. Kemudian ia pergi menuju bagian pengelola apartemen.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya seorang wanita dengan ramah.
"Saya mau tanya unit 406, pemiliknya kemana?" tanya Panca to the point.
"Bu Lidia?"
"Hmm...." angguk Lidia.
"Kemana saya tidak tau pak."
"Kamu jangan bohong sama saya." Panca nampak marah pada Wanita itu karna menyembunyikan Lidia.
"Beneran pak, saya ga bohong. Bu Lidia cuma menitipkan unitnya untuk di carikan penyewa dan kami menemukan orang yang kebetulan mau." jawab wanita jujur tapi dengan tubuh bergetar karna takut melihat pelototan mata dari Panca.
"Awas saja kalau kamu bohongi saya, saya tidak akan melepaskan kamu dan yang lainya." Panca yang tengah tersulut emosinya mengancam wanita itu dan juga karyawan lain yang kebetulan ada di sana.
Semuanya memilih diam karna kalau ikut campur takutnya Panca akan membaut onar. Lalu datang seorang lelaki yang sepertinya jabatannya lebih tinggi dari yang lain.
"Maaf pak, ini ada apa? Mari kita bicara keruangan saya." lelaki itu mengarah Panca agar mengikutinya dan menjelaskan semuanya. Panca nampak malu kecewa mendengar penjelasan lelaki itu. Dengan langkah gontai lelaki itu terpaksa pergi meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian Panca lelaki itu langsung menghubungi nomor baru Lidia yang sudah di tinggalkan wanita itu.
"Ada apa, pak?" tanya Lidia saat menerima panggilan dari pengelolaan apartemen.
"Tadi ada yang mencari bu Lidia dan memaksa saya untuk meminta nomor baru bu Lidia."
"Tapi ga bapak kasihkan?" tanya Lidia ketakutan.
"Tenang saja, bu. Kami menjaga rahasia klien kami."
"Bagus kalau begitu. Ada sabar apa lagi pak?" tanya Lidia dengan perasan lega.
"Untuk saat ini hanya itu saja, bu. Nanti kalau ada kabar terbaru kamu kabari lagi."
"Baik pak, terimaksih." Komunikasi langsung terputus. Lidia bernafas lega karna Panca tidak akan mengganggu dirinya untuk sementara waktu.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih atas dukungannya.
Di tunggu saran dan masukannya, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya😘👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?