NovelToon NovelToon
Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai / Masuk ke dalam novel / Menjadi NPC / Fantasi Wanita
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azalea Rhododendron

Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'

Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.

Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Selamatkan Mereka

....Happy Reading^^...

...💮...

"Hei! Lepaskan gaun Nona Azalea, anak kecil!" seru salah satu prajurit yang berjalan mendekat ke arahku dan anak kecil ini.

Aku langsung mengangkat tangan kananku memberi isyarat prajurit itu untuk berhenti.

Aku memegang pundak anak kecil yang tampak kurus itu.

"Ada apa?" aku sebisa mungkin melembutkan nada suaraku.

"Tolong bantu saya, Nona Muda yang baik hati!" seru anak kecil itu dengan suara lemah, kedua tangan kecilnya mengenggam sedikit gaun musim panasku. Hal itu membuatku mengenggam kedua tangan kecil itu dengan lembut

"Tolong apa, sayang?" aku tahu anak ini adalah seorang gadis kecil, terdengar dari suaranya. Lalu dia tampak kurus, pakaian compang camping dan kotor. Dan ada beberapa goresan luka di kulitnya yang terlihat. Tinggi anak ini juga sangat pendek dariku yang telah berusia tujuh belas tahun, tampaknya anak ini berusia setidaknya tiga belas tahun.

"Lapar dan haus...lalu adik saya, dia sakit. Tolong kami, Nona muda!" seru gadis kecil itu dengan suara pelan, bahkan aku harus berjongkok agar suaranya bisa kudengar dengan jelas.

"Baiklah, kami akan menolong kamu dan adik kamu. Ya?" wajahnya tertutup oleh poni yang cukup panjang, tapi aku merasakan bahwa dia tersenyum. Lalu dia menggenggam kedua tanganku dengan tangan-tangan kecilnya.

"Azalea!" panggilan Asher membuatku menoleh.

"Kak, kita harus bantu anak ini dan adiknya!"

"Tapi kita akan berangkat ke Pelabuhan dan untuk membantu anak ini kita perlu izin Papa. Kamu harusnya mengerti,"

Aku berdecak kesal dengan jawaban Asher.

"Kamu adalah Count Muda Lorienfield, Kak Asher! Calon Count yang menggantikan posisi Count Alder Lorienfield di masa depan! Anak ini adalah salah satu penduduk wilayah ini yang harus kamu bantu! Apa kamu tidak lihat kondisinya ini? Suaranya sangat kecil, mungkin karena dia menahan kelelahan dan juga lapar serta haus. Adiknya sakit, dia saja yang sehat seperti ini keadaannya apalagi adiknya itu!" aku tidak peduli jika harus memarahi Kakakku sendiri di depan Bibi Edel dan para bawahan. Yang pasti anak ini harus segera ditolong.

Asher menghela nafasnya. "Baiklah. Kita akan menolong dia dan adiknya,"

"Prajurit-"

"Ada apa ini?"

Belum sempat Kak Asher memberikan perintah, Papa dan Mama muncul dan langsung berjalan ke arah kami.

Begitu sudah mendekat, Papa dan Mama tampak bingung dengan kehadiran seorang anak kecil yang menggenggam kedua tanganku.

"Ada apa ini? Siapa anak kecil itu? Kenapa dia memegang tangan Putriku?"

Aku menoleh sebentar karena merasakan kedua tanganku dilepas oleh anak kecil itu. Tampaknya anak kecil itu takut dengan Papa apalagi nada bicaranya cukup keras.

"Anak ini kelaparan dan kehausan, lalu dia bilang adiknya sedang sakit. Dia butuh pertolongan Papa, Mama, jadi bolehkan kita menolong dia dan adiknya?"

Aku melihat Mama tampak menatap sendu pada anak kecil yang masih berdiri di depanku, tapi tatapannya terkunci ke kedua tangan yang saling menggenggam.

Tapi akhirnya Papa memberikan izin. "Baiklah, tolong anak kecil itu beserta adiknya. Cepat!" Papa menoleh pada dua orang yang segera mengerti maksud Papa.

Mereka lalu menjalankan perintah Papa, salah satu dari mereka mendekati gadis kecil itu untuk bertanya di mana adiknya. Lalu mereka serta gadis kecil yang prajurit itu gandeng berjalan menjauh dari mereka.

"Papa, apa anak-anak itu akan dikirimkan ke Kastil kita?" Kak Asher bertanya pada Papa.

Tapi itu akan memakan waktu yang lama? Tidak mungkin juga kita putar balik.

"Tidak! Kita akan membawa mereka bersama kita untuk pergi ke Pelabuhan. Terlebih Edel ada bersama kita, biar anak-anak itu dirawat Edel di Klinik dekat Pelabuhan,"

"Benar apa yang dikatakan Papa kalian. Takutnya juga Liliana tidak ada di Kastil, bukan? Lebih baik dia ikut bersama kita saja," Mama menyetujui ucapan Papa.

"Lalu kita juga harus memikirkan kereta kuda," Papa menatap dua kereta kuda yang terletak tidak jauh dari kami.

"Kereta kuda?" tanyaku pada Papa membuat dia menatap ke arahku.

"Ya, kita hanya punya dua kereta kuda di sini. Akan memakan waktu lama jika kita menunggu kereta kuda tambahan,"

"Tidak masalah bukan, Edel?" keningku berkerut karena bingung apa maksud Papa. Belum lagi Bibi Edel dengan wajah santainya berkata. "Tidak masalah,"

"Tunggu! Apa maksudnya ini?" aku menatap Papa dan Bibi Edel bahkan Mama dan Kak Asher.

Kak Asher yang justru menjawab pertanyaanku. "Kedua anak itu akan bersama Bibi Edel di kereta kuda kedua. Tidak mungkin kita membiarkan mereka yang sakit justru berada di atas kereta kuda bersama prajurit. Dan seperti kata Papa, akan butuh waktu lama jika kita memanggil kereta kuda lain dari Kastil. Lalu kita berempat duduk di kereta kuda pertama," jadi maksudnya aku sama mama pindah kereta kuda ke yang pertama, sementara Bibi Edel akan duduk bersama kedua anak itu.

"Kamu dan Mamamu Daisy akan ikut kereta kuda pertama bersamaku dan Asher. Sementara Edel akan bersama kedua anak itu untuk memeriksa dan sedikit mengobati anak itu dengan sihir penyembuhnya," ternyata ucapan Papa sesuai dengan pemikiran yang terlintas di kepalaku.

Lalu datanglah dua prajurit yang diperintahkan Papa tadi. Satu prajurit memegang tangan gadis kecil yang meminta tolong tadi, lalu satu prajurit lagi menggendong seorang gadis kecil yang tengah tidak sadarkan diri.

Tampaknya itu adik yang dimaksud gadis kecil tadi, adiknya yang tengah sakit.

Namun aku merasakan hal aneh yang tidak asing pada gadis kecil yang tidak sadarkan diri itu.

"Kami sudah berhasil membawanya. Tuan Count!"

"Bagus, sekarang bawa mereka berdua ke kereta kuda kedua bersama Edelweiss. Kedua anak itu akan diperiksa dan diobati sementara oleh Edel!"

Kedua prajurit itu menganggukkan kepalanya.

Mataku masih terpaku pada gadis kecil yang berada dalam gendongan salah satu prajurit. Bahkan ketiga prajurit itu membawa gadis kecil itu melewatiku menuju kereta kuda kedua.

"Azalea! Ayo!" seru Mama sambil menarikku lembut menuju kereta kuda pertama. Kereta yang berjalan di depan kereta kuda kedua yang ditempati oleh Bibi Edel dan kedua gadis kecil itu.

Papa memberikan tangannya pada Mama dan diriku, membantu kami naik satu persatu ke kereta kuda. Ini adalah sikap wajib yang dimiliki seorang laki-laki kepada perempuan yang ingin naik maupun turun kereta, sikap wajib yang dimiliki bangsawan maupun pelayan bangsawan itu sendiri.

Posisi dalam kereta kuda itu adalah Papa dan kak Asher bersebelahan dekat dengan Kusir kereta. Lalu aku dan Mama duduk bersebelahan, di mana aku menghadap Kak Asher dan Mama berhadapan dengan Papa di sebelah kiri.

Seorang prajurit tampak memberikan isyarat bahwa semuanya sudah masuk ke dalam kereta. Lalu Papa membuka sebuah penutup lubang di dekatnya yang menghubungkan dirinya dan kusir kereta kuda.

"Jalan!" perintah Papa. Lalu kusir itu menjalankan kereta kuda.

Tapi dalam perjalanan ini, aku masih merasa aneh dengan gadis yang pingsan dalam gendongan prajurit itu. Seperti tidak asing di matanya.

...💮...

...Bersambung....

...Thanks For Reading My Story^^...

...Dipublikasikan pada tanggal 6 Febuari 2026....

1
Alishe
masi kaku dia wkwk menanti gebrakannya deh😘
Azalea Rhododendron: oke siap^^
total 1 replies
Alishe
w demen nih kluarga bucin bontot gini🤣🤣🤣
Azalea Rhododendron: iya, nantikan terus keluarga cemara ini ya^^
total 1 replies
Alishe
mampirrr
Azalea Rhododendron: Terima kasih sudah menyempatkan ke cerita ini😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!