Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Penangkapan
Wu Lian melesat keluar kamar seperti bayangan hitam yang membelah kabut pagi. Qinqin tidak membuang waktu; ia menyambar jubah luarnya, mengikat rambut emasnya dengan sepotong kain perca, dan menyelipkan belati perak di pinggangnya.
Langkah kaki Qinqin sangat gesit. Ia tidak lewat jalur utama, melainkan melompati pagar pembatas paviliun untuk mengambil jalan pintas menuju penjara bawah tanah. Saat sampai di area terbuka, pemandangan kacau menyambutnya. Asap mengepul dari pintu penjara yang sudah jebol.
Wu Lian sedang bertarung di tengah lingkaran lima orang penyerang berbaju hitam. Gerakan sang Jenderal sangat efisien, setiap tebasan pedangnya menjatuhkan satu lawan. Namun, Qinqin menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Tunggu, mereka tidak berniat membunuh," gumam Qinqin sambil bersembunyi di balik pilar batu.
Matanya yang tajam mengamati gerak-gerik para penyerang. Mereka hanya mencoba menahan Wu Lian agar tetap di sana, sementara dua orang lainnya tampak sedang mengawal seseorang keluar dari pintu rahasia di samping gudang garam.
Qinqin segera berlari memutar. Ia bergerak tanpa suara, memanfaatkan bayangan pohon dan bangunan. Benar saja, ia melihat Nyonya Bai sedang dipapah oleh seorang pria yang sangat ia kenal.
"Paman Agung?" Qinqin membeku sesaat.
Pria tua yang kemarin tampak sangat bijaksana di pengadilan keluarga, kini memegang kunci penjara dan sebilah pedang berdarah. Dia adalah tetua paling senior yang dipercayai ayahnya untuk menjaga keamanan rumah.
"Cepat, Nyonya! Kuda sudah siap di luar tembok belakang!" bisik Paman Agung dengan suara terburu-buru.
"Bagus. Begitu aku sampai di markas keluarga Bai, aku akan memastikan Menteri Xu dan jalang kecil itu membusuk!" balas Nyonya Bai dengan wajah penuh dendam.
"Aku akan memberi mu uang sisa korupsi keluarga Bai. Terimakasih atas bantuan mu membayar para pembunuh baya--" sebelum wanita itu menyelesaikan kalimat nya. Qinqin sudah menampak an diri dengan nakal.
"Halo Nyonya Bai. sayang sekali, tiket perjalanan kalian sudah hangus," suara Qinqin terdengar dingin dari atas tembok.
Keduanya tersentak. Paman Agung langsung memasang posisi menyerang. "Qinqin? Berani sekali kau menghalangi jalan tetuamu!"
"Tetua?" Qinqin melompat turun dengan sangat ringan, mendarat tepat di depan mereka. Otaknya begitu cepat meneliti kejadian satu per satu. "Tetua yang menjual keluarganya sendiri demi emas keluarga Bai? Kau menjijikkan, Paman. Selama setahun aku di Barat, kau yang memalsukan laporan keuangan Ayah agar Nyonya Bai bisa mengirim uang pada pembunuh bayaran, kan? Pantas saja kelakuan wanita itu tidak pernah terendus bahkan saat catatan keuangan nya mencurigakan! Ternyata gara gara kau yah!"
Paman Agung tidak banyak bicara lagi. Ia langsung menerjang Qinqin. Meski sudah tua, gerakannya sangat terlatih. Pedangnya mengarah tepat ke leher Qinqin.
Namun, Qinqin lebih gesit. Ia merunduk rendah hingga perutnya hampir menyentuh tanah, lalu dengan gerakan berputar, ia menendang pergelangan kaki Paman Agung hingga pria itu limbung.
SLING!
Belati perak Qinqin berkilat di bawah sinar matahari pagi. Ia tidak menusuk, melainkan menggunakan gagang belatinya untuk menghantam titik saraf di leher Paman Agung. Pria itu langsung ambruk, tak sadarkan diri.
Nyonya Bai menjerit ketakutan. Ia mencoba lari, tapi Qinqin sudah lebih dulu menarik kerah bajunya dan membantingnya ke dinding.
"Kau pikir bisa lari setelah mengacaukan rumahku?" Qinqin mencengkeram rahang Nyonya Bai. "Pengkhianatan Paman Agung adalah bukti terakhir yang aku butuhkan untuk membersihkan seluruh silsilah keluarga ini dari orang-orang seperti kalian."
Tiba-tiba, sebuah pedang besar menancap tepat di samping kepala Nyonya Bai, membuat wanita itu pingsan karena ketakutan. Wu Lian telah tiba, napasnya sedikit memburu, zirah putihnya ternoda sedikit darah musuh.
Wu Lian menatap Paman Agung yang tergeletak, lalu menatap Qinqin yang masih memegang belati dengan tangan stabil. "Kau sudah tahu pelakunya adalah dia?"
"Hanya tebakan yang terbukti benar," sahut Qinqin sambil menyeka debu di bajunya.
Wu Lian menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa hormat yang mendalam di balik wajah kakunya. "Kau... kau lebih berbahaya dari intelijen militerku, Xu Qinqin."
"Terima kasih atas pujiannya, Menantu Wu," Qinqin tersenyum tipis, lalu mendekati Wu Lian. Ia menyentuh lengan Wu Lian yang sedikit tergores. "Lihat, kau terluka lagi karena melindungiku tadi di depan kamar."
Wu Lian menarik lengannya, kembali ke sifat aslinya yang sulit mengaku. "Ini bukan apa-apa. Sekarang, urus pengkhianat ini. Aku akan memanggil prajurit bayangan untuk mengangkut mereka ke penjara pusat kekaisaran. Tidak ada lagi kesempatan kedua."
Sore harinya, setelah semua kerusuhan mereda, Qinqin duduk di paviliun sambil memandang matahari terbenam. Paman Agung dan Nyonya Bai sudah dibawa pergi. Ayahnya sudah tahu semuanya dan sedang memulihkan diri dari kekecewaan karena dikhianati saudara sendiri.
Wu Lian datang menghampiri, berdiri di sampingnya. "Besok kita berangkat kembali ke Barat. Urusan di sini sudah selesai."
Qinqin mendongak. "Apa kau akan mengurungku lagi di kediamanmu?"
Wu Lian terdiam lama, memandang cakrawala yang mulai gelap. "Tidakkah kau sadar? Sejak kita berangkat ke Timur, tidak ada seorang pun yang bisa mengurungmu, Xu Qinqin. Bahkan aku pun tidak bisa."
Ia kemudian meletakkan tangannya di atas kepala Qinqin, mengusap rambut emas itu dengan sangat canggung dan kasar, namun ada kehangatan di sana. "Kemasi barangmu. Jangan sampai ada yang tertinggal, terutama bantal sutramu itu."
Qinqin tertawa lepas. "Kenapa? Apa kau mulai ketagihan berbagi ranjang denganku, Mr. Jenderal yang harga diri nya setinggi langit?"
Wu Lian tidak menjawab, ia langsung berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang tak sengaja muncul di bibirnya.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂