Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Penting!
Meski dengan gerakan kaku, tapi genggaman tangan Zavian terasa hangat, bahkan Ayra bisa merasakan ibu jari Zavian sesekali mengusap punggung tangannya dengan sangat perlahan. Gerakan kecil namun cukup membuat jantung Ayra berdisko.
"Mas..." panggil Ayra pelan, memecah keheningan di antara mereka.
Zavian berdehem, tapi genggamannya tidak lepas.
"Ya?"
Ayra tak menjawab, dia hanya melihat jemari mereka yang saling bertaut.
"Saya hanya tidak mau kesulitan mengimbangi langkah kamu yang pendek-pendek." Kilahnya.
Ayra mencebik sambil menahan senyum.
"Bilang aja emang pengen genggam tangan aku." Gerutunya, sangat pelan. Tapi dia yakin Zavian masih bisa mendengarnya.
"Apa sih? Kalau bicara yang jelas jangan komat kamit gitu." Balas Zavian.
Ayra mendengus sebal. Dia tahu bukan itu alasan Zavian, tapi karena gengsinya yang tinggi,
"Kenapa harus gengsi sih?" Tapi kali ini hanya diucapkan Ayra dalam hatinya saja.
Dia pun terus berjalan mengikuti langkah kecil Kenzie. Sementara tangannya ia biarkan digenggam Zavian. Semakin kuat dan semakin hangat.
"Asal kamu tahu ini pertama kalinya saya menggenggam tangan wanita lagi setelah sekian lama. Jadi... wajar kalau saya sedikit tegang."
Ucapan jujur itu justru membuat jantung Ayra semakin berdegup kencang. Kepalanya mendongak menatap wajah menawan di sampingnya. Tapi wajah itu tetap mengarah lurus ke depan.
Sesampainya di restoran, mereka memilih meja di pojok yang dekat dengan area bermain mini agar Kenzie yang aktif tetap bisa terpantau. Begitu duduk, Zavian langsung kembali ke mode "serius" nya. Ia memberikan buku menu pada Ayra.
"Kamu pilih saja makanan yang kamu suka."
Ayra menerima buku menu itu dan memperhatikannya satu-persatu.
"Kenzie mau makan apa? Nasi goreng atau pasta?" tanya Zavian sambil mengikuti langkah putranya yang berlari ke sana ke mari.
"Aku mau es krim, Papa!" seru Kenzie semangat.
"Makan dulu, sayang. Baru es krim," sahut Ayra lembut, seperti seorang ibu membujuk putranya.
"Tante juga?" tanya bocah itu polos. Ayra tersenyum lalu berdiri dari duduknya. Menghampiri Kenzie dan berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.
"Iya sayang, Tante sama Papa juga makan. Kenzie harus makan yang banyak supaya nanti mainnya nggak cepet capek. Setelah itu kita kan bisa makan es krim juga." Ucap Ayra sambil membelai lembut kepala anak itu. Kenzie pun bermanja dengan memeluk leher Ayra.
"Tapi, aku mau disuapin Tante." Rengeknya.
"Siap bos"
Ayra terkekeh dan mengangkat tangannya, menempelkan di pelipisnya membuat gerakan hormat bendera.
Zavian mengerjapkan mata. Lagi-lagi ia melihat keakraban putranya dengan wanita itu. Tak sadar bibirnya menyungging senyum.
***
Sore hari, saat Zavian mengantar Ayra pulang, Kenzie sudah tertidur pulas di kursi belakang. Suasana di depan terasa sangat intim. Begitu sampai di depan pagar rumah Ayra, Zavian mematikan mesin mobil.
Ia menoleh ke arah Ayra, tangannya kembali bergerak, meraih tangan wanita muda itu. Menatap lekat wajahnya yang cantik natural.
"Ayra... terima kasih untuk hari ini," ucap Zavian pelan.
"Saya tahu saya bukan teman bicara yang menyenangkan. Saya kaku, dan mungkin membosankan buat kamu."
Ayra menggeleng cepat, ia membalas genggaman tangan Zavian tanpa ragu.
"Siapa yang bilang membosankan? Mas Zavian itu... unik. Dan aku suka."
Wajah Ayra tiba-tiba bersemu, tapi di mata Zavian itu sangat menggemaskan.
Lelaki itu terdiam, matanya yang terbiasa dingin tanpa ekspresi, kini terlihat sangat hangat dan tulus menatap Ayra.
"Minggu depan, setelah ujianmu selesai... saya ingin mengajakmu makan malam. Tanpa Kenzie. Saya ingin bicara lebih banyak, tanpa perlu merasa diawasi oleh anak kecil itu."
Ayra tersenyum lebar, ia merasa sangat senang karena pria "es" ini akhirnya berinisiatif.
"Boleh. Aku tunggu ya, Mas."
Zavian mengangguk.
"Belajarlah yang rajin. Tapi jangan terlalu stres. Kalau butuh sesuatu, telepon saya."
"Apapun?" tanya Ayra manja.
"Apapun," jawab Zavian mantap, sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengusap puncak kepala Ayra dengan kaku namun teepancar sorot kasih sayang dari matanya yang tidak bisa berbohong.
***
Pagi itu, Liztha sudah tiba di kantor beberapa menit lebih awal dari jadwal biasanya. Ia sengaja berdiri di lobi utama berpura-pura sibuk memeriksa catatan di ponselnya, padahal matanya terus melirik ke pintu masuk gedung. Ia tahu persis jadwal kedatangan Zavian yang tidak pernah meleset. Pukul 08.00.
Begitu sosok tinggi tegap penuh kharisma itu muncul dengan setelan jas abu-abu gelap mahal, Liztha segera mengatur langkah agar mereka bisa berpapasan.
"Pagi, Pak Zavian," sapa Liztha dengan senyum paling cerah.
"Pagi."
"Bapak terlihat sangat segar hari ini." Ucapnya kemudian, mencoba menjalin keakraban.
Zavian hanya melirik sekilas tanpa menghentikan langkah. Ia menuju ke arah lift dengan stiker emas di depannya yang bertuliskan, Executive Only.
Sementara Liztha yang nencoba membuntuti tertahan di mesin sensor karena kartunya tidak memiliki akses untuk area lift tersebut. Ia hanya bisa menatap pintu lift itu menutup, menyisakan dirinya yang berdiri di antara kerumunan karyawan biasa yang berkasak-kusuk dan menatapnya sinis.
***
Apakah kegagalan Liztha tadi pagi membuatnya menyerah?
Tentu saja tidak!
Siang itu, suasana kantor divisi keuangan mulai sepi karena sudah tiba istirahat makan siang. Namun Liztha masih berkutat di depan cermin kecil yang ia selipkan di antara tumpukan map. Ia memulas ulang gincunya, memastikan penampilannya tetap sempurna. Targetnya hari ini sudah jelas, menyerahkan berkas revisi anggaran langsung ke ruangan Zavian di lantai teratas. Padahal seharusnya ia menyerahkannya pada Rayyan selaku manajernya.
Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar suara sepatunya terdengar elegan, Liztha sampai di depan pintu jati besar ruangan Zavian. Ia menarik napas dalam, lalu mengetuk.
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.
Perlahan Liztha membuka pintu. Dilihatnya Zavian duduk di balik meja kerjanya yang luas. Dikelilingi tumpukan dokumen yang tertata sangat rapi. Ia bahkan tidak mendongak saat wanita itu masuk dan berdiri di depan meja besar Zavian, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat gugup.
"Pak Zavian, ini laporan fisik analisis kas yang saya kerjakan. Saya rasa ada beberapa grafik yang lebih jelas jika dilihat di atas kertas daripada di layar monitor," ucap Liztha, mencoba memberikan alasan yang paling cerdas.
Zavian, yang saat itu sedang menandatangani beberapa berkas, masih tidak mengangkat kepalanya. Matanya tetap tertuju pada dokumen di depannya.
"Siapa yang menyuruh kamu membawa dokumen fisik ke sini?" tanya Zavian dingin.
"Saya hanya ingin memastikan Bapak mendapatkan data yang paling akurat..."
"Tinggalkan di meja sekretaris di depan. Saya tidak menerima dokumen langsung dari staf tanpa verifikasi dari Manajer Keuangan," potong Zavian. Suaranya datar, namun penuh penekanan yang mengintimidasi.
Liztha memberanikan diri meletakkan map itu sedikit lebih dekat ke jangkauan tangan Zavian.
"Tapi Pak, saya sudah mengerjakannya sampai larut malam, ada catatan khusus di halaman terakhir yang..."
Zavian akhirnya mendongak. Bukan tatapan kagum yang didapat Liztha, melainkan tatapan tajam yang membuat lidahnya kelu.
"Efisiensi kerja dinilai dari hasil, bukan dari berapa lama kamu terjaga di malam hari. Kamu melanggar prosedur distribusi dokumen. Bawa kembali laporan ini dan letakkan dieja sekretaris saya."
Liztha mengepalkan tangannya. Bukan hanya gugup dan kecewa, tapi iapun memendam kemarahan yang tak bisa dilampiaskan. Dengan perasaan gondom, akhirnya iapun kembali mengambil berkas laporannya. Lalu pergi dari ruangan CEO sambil membawa harga dirinya yang sudah terinjak.
***
Sore harinya, Liztha melihat map laporan itu tergeletak di meja Rayyan, Manajer Keuangan. Dengan disposisi tulisan tangan Zavian sendiri.
"Instruksikan pada karyawan yang bersangkutan untuk patuh pada SOP."
Rasa malu bercampur obsesi membuat Liztha nekat menunggu Zavian di parkiran VIP. Saat Zavian muncul, Liztha berdiri di samping mobil pria itu.
"Pak, soal laporan tadi, apa ada bagian yang Bapak kurang suka?" tanya Liztha, mencoba mencari celah pembicaraan.
Zavian berhenti tepat di depan pintu mobilnya. Ia menatap Liztha seolah wanita itu adalah gangguan teknis yang tidak kunjung selesai.
"Saya bahkan tidak membacanya. Saya tidak membaca dokumen yang datang dari jalur yang salah," ujar Zavian sambil membuka pintu mobil.
"Tapi saya hanya ingin membantu Bapak..."
"Bantu saya dengan tetap berada di meja kerjamu dan berhenti mencari alasan untuk naik ke lantai atas. Itu mengganggu waktu saya," jawab Zavian tegas tapi tanpa emosi.
Ia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan segera melaju pergi. Liztha berdiri mematung di area parkir, menyadari bahwa kerja kerasnya membuat laporan itu sama sekali tidak dianggap, bukan karena isinya, tapi karena bagi Zavian, Liztha tidak cukup penting untuk diberi waktu walau hanya satu menit.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"