"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Kiandra menatap Dexter yang sedang fokus menyetir. "Maaf sudah melibatkan kalian," kata Kiandra.
"Tidak masalah," kata Dexter tanpa menoleh ke arah Kiandra. "Kita sudah menjadi pasangan suami istri, masalahmu juga masalahku," tambah Dexter.
"Tapi bagaimana dengan mama? Aku khawatir mama ...."
"Jangan khawatir, mama juga sepertimu," potong Dexter.
Kiandra membulatkan matanya mendengar perkataan Dexter. Dia pun bertanya, "apa kamu sudah tahu siapa aku?"
Dexter menoleh lalu tersenyum. Kemudian ia kembali fokus ke depan tanpa menjawab pertanyaan Kiandra.
"Boleh tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Em, apa kamu tidak kecewa, karena Wilona menolak mu?"
Dexter menggeleng. "Yang ingin aku nikahi itu kamu. Itu sebabnya aku menyamar sebagai pria tua dan lumpuh."
"Jadi?"
"Sudahlah, masalah itu kita bahas nanti. Intinya, aku sudah selidiki kamu sebelum kamu kenal aku."
Lagi-lagi Kiandra membulatkan matanya. Sungguh. Dia cukup terkejut dengan pria yang ada di dekatnya ini.
Apalagi ketika Dexter mengatakan, jika dirinya sudah tahu latar belakang Kiandra dan masa lalu Kiandra.
Kiandra tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Identitasnya ternyata sudah diketahui oleh Dexter. Untung saja, Dexter kini sudah menjadi suaminya.
"Kamu sendiri bagaimana? Kenapa kamu tidak menolak sewaktu aku ingin menikahi mu?" tanya Dexter.
"Karena aku berpikir, kamu orangnya kaya. Jadi aku bisa menjadikan mu sandaran," jawab Kiandra tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Mobil terus melaju, hingga akhirnya mereka tiba di tempat yang di tuju. Dexter menghentikan mobilnya sekitar seratus meter dari tempat itu.
Mereka melihat, dua kubu sedang bertarung. Dexter mengeluarkan senjatanya, lalu meminta Kiandra untuk memilih senjata yang dia inginkan.
Kiandra cukup kagum dengan senjata berupa pistol. Yang dia tahu, senjata seperti itu cukup mahal harganya. Tapi Dexter memilikinya.
"Aku pernah melihat senjata seperti itu, tapi dimiliki oleh ketua dunia bawah. Apa mungkin Dexter ketua itu?" batin Kiandra.
"Itu senjata rakitan sendiri," kata Dexter.
Kiandra tidak menjawab, dia semakin yakin jika Dexter juga dari dunia bawah. Namun Kiandra tidak mungkin menanyakan tentang itu.
Zio dan Arsy juga sudah siap dengan senjata mereka masing-masing. Melihat pertarungan yang sedang berlangsung, mereka pun dengan cepat dan ikut bergabung.
Sebelumnya Kiandra sudah memberitahu, jika kelompoknya bertato kalajengking di lengannya. Sebagai tanda kelompok mereka.
Karena hanya memakai baju lengan pendek, jadi tato tersebut mudah terlihat. Sementara Kiandra tidak memiliki tato.
Andai saja dia memiliki tato, sudah pasti identitasnya akan segera terungkap. Jadi, semua orang mengira, jika Kiandra itu adalah gadis yang lemah.
Kiandra, Dexter, Arsy, dan Zio langsung maju untuk membantu. Mereka hanya menggunakan tangan kosong melawan mereka.
"Boss." Asisten Kiandra merasa senang karena bos nya sudah datang.
Setidaknya ada bantuan walaupun cuma bertambah satu orang. Namun di luar dugaan, ternyata yang datang lebih dari satu orang.
Kiandra dan Dexter dikepung oleh beberapa orang musuhnya. Keduanya saling membelakangi dan menjaga satu sama lain.
Sementara Arsy dan Zio sudah langsung bertarung melawan musuh dari klan yang dipimpin oleh Kiandra.
Kiandra sempat melirik sebentar, dia cukup takjub, ternyata ibu mertuanya cukup tangguh dalam bertarung.
"Hati-hati," kata Dexter berbisik. Kiandra mengangguk. Kemudian mereka berpencar melawan musuhnya masing-masing.
Dexter tersenyum tipis melihat Kiandra yang begitu cekatan dalam bertarung. Dia merasa, memang tidak salah memilih Kiandra sebagai pasangan.
Seperti gayung bersambut, rencana Dexter berhasil dengan sempurna. Bahkan Kiandra sendiri tidak menolak untuk menikah dengannya.
Kiandra menghindar ketika salah seorang dari musuhnya menendang nya. Kiandra memutar tubuhnya, kemudian berbalik menyerang.
Lawannya ternyata cukup tangguh. Kiandra pun merasa mendapatkan lawan yang seimbang dengannya.
Sementara Dexter dengan mudah menumbangkan dua orang musuh. Kemudian dia menyerang lagi musuh yang lain.
Sedangkan Arsy, dia cukup terkesan dengan Kiandra. Sejak awal melihat Kiandra, Arsy sudah yakin, jika pilihan putranya bukan orang sembarangan.
"Hati-hati sayang, jangan sampai lengah," kata Zio disela-sela pertarungan.
"Aku tahu Hubby," kata Arsy.
Disaat mereka sedang bertarung, tiba-tiba ada lagi sekelompok orang yang datang menyerang. Mereka langsung menebaki mereka yang sedang bertarung.
Mereka yang sedang bertarung pun terpaksa berhenti untuk menyelamatkan diri masing-masing. Mereka juga mengeluarkan senjata api yang sudah mereka persiapkan.
"Siapa mereka?" tanya Kiandra.
"Anak buah ku," jawab Dexter.
Kiandra membulatkan matanya menatap Dexter. Dexter malah terpesona dengan tatapan Kiandra. Padahal Kiandra bukan untuk menggodanya.
Akhirnya baku tembak pun terjadi. Anak buah Kiandra pun membalas tembakan tersebut, karena mereka tidak tahu, jika sekolompok orang yang datang adalah teman.
"Aku harus memberitahu anak buah ku," kata Kiandra.
Kiandra kemudian menghubungi Louis. Deringan pertama tidak dijawab, setelah beberapa kali barulah dijawab.
"Katakan pada anak buah kita, mereka yang baru datang adalah teman."
"Siap Boss."
Telepon pun terputus, Louis pun segera memberitahu yang lain apa yang disampaikan oleh Kiandra.
Namun Louis dan anak buahnya pun kembali menyerang musuhnya. Terdengar suara tembakan saling sahut-sahutan.
Dexter memberitahu anak buahnya untuk menghentikan tembakan. Sebaliknya Dexter meminta anak buahnya untuk mengepung kubu lawan.
Karena kalah jumlah, pihak lawan pun akhirnya kalah dan menyerah. Kini keadaan pun sudah mulai aman.
"James, urus mereka yang masih hidup. Sementara yang sudah meninggal akan diurus di sini," kata Dexter memerintahkan James.
"Siap Tuan," ucap James.
"Kapan kamu menghubungi anak buah mu?" tanya Kiandra.
"Tidak perlu dihubungi, cukup aktifkan sinyal darurat, mereka akan datang ke lokasi kejadian," jawab Dexter. "Nanti aku akan buatkan juga untuk kamu dan anak buah mu," imbuh Dexter.
"Iya aku mau, nanti aku akan bayar sesuai harga," kata Kiandra.
Arsy menghampiri Kiandra dan menanyakan keadaannya. Walaupun Kiandra terlihat baik-baik, tapi Arsy tetap bertanya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Arsy pada Kiandra.
"Tidak Ma. Aku tidak kenapa-kenapa," jawab Kiandra.
Arsy tersenyum, kemudian memeluk Kiandra. Dia merasa cocok dengan gadis itu. Kedua menantunya memiliki kemampuan masing-masing, jadi Arsy merasa senang dengan keduanya.
"Louis, urus mereka yang terluka. Obati dan berikan kompensasi untuk mereka," kata Kiandra.
"Siap Boss, saya akan melaksanakannya segera," kata Louis.
"Dexter, cepat bawa pulang Kiandra," kata Arsy.
"Baik Ma, ayo." Dexter dengan santainya menggandeng tangan Kiandra. Kiandra merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu.
Karena mereka baru saja menikah, Kiandra masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Kiandra. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. "Aku merasa kamu bukan orang biasa," tambah Kiandra.
"Aku? Hmm, cari tahu saja sendiri," jawab Dexter.
Kiandra terdiam. Dia berpikir, jika suaminya tidak ingin identitasnya terbongkar. Walaupun mereka pasangan suami istri, Kiandra sadar, dia tidak ingin terlalu ikut campur urusan suaminya.
"Aku juga sama sepertimu," kata Dexter akhirnya.
Kiandra menatap wajah Dexter cukup lama. Walaupun dia sudah menduga, namun dia tetap terkejut mendengarnya.