NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Kehidupan Yang Baru

Pagi itu, suasana di Rumah Sakit Umum tidak seperti biasanya. Saat Arslan dan Abel tiba dengan menggunakan taksi online—pemandangan yang sangat langka bagi seorang Arslan Raendra—tatapan orang-orang di lobi terasa seperti duri. Bisik-bisik tetangga rumah sakit menjalar lebih cepat daripada virus.

"Lihat, itu Dokter Arslan. Katanya dia diusir tanpa membawa sepeser pun uang."

"Kasihan ya, ternyata hartanya cuma punya bapaknya. Sekarang kabarnya status dokternya mau dicabut karena Papanya menarik semua donasi ke rumah sakit ini."

Arslan berjalan dengan punggung tegak, meskipun plester di pelipisnya dan kemeja yang sedikit kusut memperjelas bahwa badai baru saja menghantamnya. Abel berjalan tepat di sampingnya, menggenggam erat lengan Arslan seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya.

Begitu sampai di depan poli anak, langkah mereka terhenti. Pintu ruangan Arslan ditempeli kertas pengumuman: "Praktik Dokter Arslan Raendra, Sp.A Ditangguhkan Hingga Waktu yang Belum Ditentukan."

"Ini pasti kerjaan Papa," desis Arslan, rahangnya mengeras.

Tepat saat itu, Direktur Rumah Sakit keluar dengan wajah pucat, didampingi oleh Yuda Raendra Dirgantara yang berdiri angkuh dengan setelan jas mahalnya. Yuda menatap Arslan dengan pandangan menghina, lalu beralih ke Abel dengan tatapan meremehkan.

"Sudah puas bermain dokter-dokterannya, Arslan?" suara Yuda menggema di koridor. "Rumah sakit ini berdiri di atas tanah keluarga besar kita. Satu telepon saja, dan semua izin praktik mu bisa menghilang. Kamu tidak punya apa-apa tanpa nama Raendra Dirgantara."

Yuda melangkah maju, menunjuk Abel dengan tongkatnya. "Dan kamu, gadis kecil. Kamu pikir bisa menyelamatkan pangeran yang sudah jadi gelandangan ini? Tanpa uangku, Arslan bahkan tidak sanggup membelikan susu untuk anak yang bukan darah dagingnya itu."

Arslan tersentak, Papanya dengan cepat mengetahui informasi tentang Abel. ia hendak maju untuk membalas, namun Abel lebih cepat. Abel berdiri tepat di depan Yuda, menatap mata pria tua itu tanpa gentar sedikit pun.

"Tuan Dirgantara yang terhormat," suara Abel tenang namun sangat tajam. "Anda mungkin bisa membeli gedung ini, tapi Anda tidak akan pernah bisa membeli dedikasi Arslan. Anda merasa hebat karena bisa menghancurkan karier anak Anda sendiri, tapi bagi saya, Anda hanyalah pria kesepian yang ketakutan kehilangan kontrol."

Abel menoleh ke arah Arslan dan tersenyum bangga. "Arslan tidak butuh gedung mewah ini untuk jadi dokter. Dia punya tangan yang menyembuhkan dan hati yang tulus. Sesuatu yang sepertinya sudah lama mati di dalam diri Anda."

"Lancang sekali kamu! Kamu hanyalah seorang gadis yang telah memiliki anak haram!" bentak Yuda.

"Lancang? Tidak, saya hanya jujur," balas Abel. Ia meraih tangan Arslan. "Dan tentang anak yang anda ucapkan, dia bukan anak haram! Ayo, Arslan. Kita pergi dari sini. Masih banyak rumah sakit atau klinik yang butuh dokter hebat sepertimu, dan aku akan selalu ada untuk memastikan kamu tidak kekurangan apa pun."

Arslan menatap ayahnya untuk terakhir kali—bukan dengan amarah, melainkan dengan rasa kasihan. Ia lalu berbalik mengikuti Abel, meninggalkan segala kemewahan dan pengaruh Papanya demi sebuah harga diri yang baru saja ia temukan kembali.

Langkah kaki Arslan terasa jauh lebih ringan saat ia meninggalkan lobi rumah sakit yang penuh dengan tatapan menghakimi itu. Meski statusnya sebagai dokter di rumah sakit besar tersebut ditangguhkan, Arslan tidak merasa kalah. Untuk pertama kalinya, ia merasa bebas dari bayang-bayang Papanya.

Berkat bantuan Reno yang mulai luluh melihat kegigihan adiknya, Arslan kini menempati sebuah meja praktik di klinik kecil milik kenalan lama Reno di pinggiran kota. Klinik itu jauh dari kata mewah; dindingnya bercat putih pucat yang sudah sedikit mengelupas di sudutnya, dan ruang tunggunya hanya berisi beberapa kursi besi. Namun, di sini, Arslan menemukan apa yang selama ini hilang: ketenangan.

Siang itu, cuaca cukup terik. Arslan baru saja selesai memeriksa seorang pasien anak dari keluarga buruh pabrik di sekitar sana. Ia mengusap keringat di dahinya, lalu tersenyum saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenal berjalan masuk ke klinik sambil menenteng tas bekal dan menggendong Farel.

"Dokter sibuk sekali ya?" goda Abel sambil meletakkan tas kain di atas meja kayu Arslan yang kecil.

"Pasien tidak berhenti datang sejak pagi, Bel. Tapi melihatmu datang, capeknya langsung hilang separuh," balas Arslan sambil mencuci tangannya di wastafel sudut ruangan.

"Hmm... Bahasanya lembut sekali sekarang ya."

Arslan tersenyum menatap Abel. Senyuman yang paling tulus dan terlihat manis.

Abel mengeluarkan kotak makan berisi nasi, ayam bumbu kuning, dan sayur bening. "Hari ini aku masak sendiri lho. Ya, meski di bantu sedikit sama Mbok di rumah. Kak Reno tadi pesan, katanya kalau kamu masih malas makan, aku disuruh lapor biar dia bisa seret kamu pulang ke rumah."

Arslan tertawa kecil. "Serem juga ya. Aku jadi gak bisa ngapa-ngapain ntar."

"Maksudnya apa, nih?" Abel menatap Arslan penuh curiga.

"Gak apa-apa, Bel. Aku cuma bercanda."

Arslan duduk di kursi kerjanya dan mulai makan dengan lahap. Tidak ada lagi steak mahal atau restoran berbintang; masakan sederhana Abel terasa jauh lebih nikmat.

"Kamu tahu, Bel? Di sini tidak ada yang peduli apakah aku seorang keturunan ' Raendra Dirgantara' atau bukan. Mereka hanya tahu aku adalah Dokter Arslan yang mau mendengarkan keluhan anak-anak mereka," ucap Arslan dengan binar mata yang kembali hidup.

"Terus kamu merasa tidak senang karena tidak di kenali orang-orang?" Tanya Abel yang masih memberikan lauk pauk ke piring Arslan.

"Enggak, bukan gitu maksudnya..."

Tiba-tiba, percakapan mereka terhenti oleh ketukan di pintu. Seorang suster masuk dengan wajah ragu.

"Dokter Arslan, ada tamu yang ingin bertemu. Dia tidak membawa pasien, tapi memaksa ingin masuk."

Belum sempat Arslan menjawab, pintu terbuka. Bukan Papanya yang muncul, melainkan Mamanya. Beliau berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang jauh lebih sederhana, tanpa perhiasan mencolok seperti biasanya. Matanya berkaca-kaca menatap ruangan sempit tempat anaknya bekerja.

"Ma?" Arslan berdiri dengan kaget.

Mamanya mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh lengan Arslan. Ia lalu beralih menatap Abel dan Farel yang ada di sana.

"Mama sengaja pergi dari rumah karena ingin bertemu dengan mu, Arslan," bisik Mamanya parau. "Mama tidak bisa lagi diam melihat Papa mu menghancurkan hidupmu seperti dia menghancurkan kenangan tentang Via. Mama membawa ini..."

Beliau menyerahkan sebuah amplop cokelat besar. "Ini tabungan pribadi Mama dan surat-surat tanah atas nama Mama yang tidak bisa diganggu gugat oleh Papamu. Gunakan ini untuk membangun klinik mu sendiri. Mama ingin kamu menjadi dokter yang kamu impikan, tanpa harus takut pada siapa pun."

Arslan terpaku. Ia memeluk Mamanya erat, sebuah pelukan yang selama empat belas tahun ini terasa sangat kaku, kini kembali terasa hangat dan penuh perlindungan. Abel yang melihat pemandangan itu ikut menitikkan air mata sambil memeluk Farel lebih erat.

"Mama minta maaf karena selama ini Mama sering mengabadikan mu. Kamu pasti terluka karena sikap Mama, ya? Mama tidak ingin kamu semakin menderita karena tekanan dari Papamu. Mama sungguh minta maaf, Arslan."

Mereka kini saling berpelukan menumpahkan segala kerinduan yang tertahan selama empat belas tahun lalu karena rasa bersalah masing-masing.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!