Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindari sunyi
Di ufuk timur, fajar menyentuh langit dengan malu-malu, perlahan menyapu sisa-sisa jelaga malam yang pekat. Embun pagi, kristal-kristal bening yang lahir dari dinginnya sunyi, menggelantung pasrah di ujung helai rumput, menunggu jatuh mencium bumi.
Di atas kasur putih king size berwarna grey itu. Sepasang suami istri mengerjabkan mata perlahan membuka kelopak obsidian. Siap menerima cahaya sang surya menyusup di antara sisa-sisa kantuk. Sang wanita menoleh sambil meraih ikat rambut di atas nakas. Lalu mengumpul nyawa ia mencepol rambut panjangnya keatas. Menurunkan kaki perlahan sambil menjaga keseimbangan untuk pergi ke kamar mandi. Semua sudah berubah sejak hari itu. Yang mana gelar istri dan ibu. Ia raih dalam satu hari.
Sebria Adreena Mahren.
Wanita itu menyelesaikan ritual pagi nya ke kamar mandi. Lalu menyeret langkah ke luar meninggalkan sang suami yang masih terlelap. Ayunan langkah itu tertuju pada kamar disebelahnya, tempat anak sambungnya berada. Perlahan Sebria mendorong daun pintu tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Kasurnya kosong dan menyisakan bekas tidur semalam.
"Byan, kamu di kamar mandi." Sebria memanggil tapi tidak ada sahutan. "Byan..." Tangan nya terangkat membuka pintu kamar mandi ternyata di sana juga kosong.
Ia bergegas keluar dan turun ke lantai bawah. Di ruang tengah Pak Fendy duduk menonton berita pagi sambil berhadapan dengan secangkir teh hangat di atas meja. Sebria memilih mendaratkan tubuh di samping ayahnya.
"Papa lihat Byan?"
Pak Fendy mengangguk. "Jalan pagi sama, Mama dan Keo."
"Papa tidak ikut?" Sebria menguap tipis sambil menyandarkan tubuh di sofa. Dari wajahnya masih terlihat mengantuk.
"Tidak, lutut papa agak sakit."
Sebria membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. "Periksa ke rumah sakit. Jangan di abaikan." Ucapnya penuh perhatian.
"Mama B..." Suasana cempreng melengking mengisi ruang tengah. Byan melangkah cepat menghampiri Sebria. "Mama sudah bangun, maaf ya tadi aku tidak pamit. Om Keo langsung mengajakku jalan pagi tadi."
Sebria tersenyum. "Tidak apa-apa. Jalan kemana tadi?"
"Ke taman. Ini aku beli kue." Byan meletak plastik yang berisi kue.
"Mana ada kamu yang beli. Itu yang beli, Om." Sahut Keona mendaratkan tubuhnya di sisi Sebria dan dengan manja menyandarkan kepala nya di bahu sang kakak.
"Jangan bermesraan dengan istriku, Keo!" Suara serak khas bangun tidur datang dari arah anak tangga terakhir. Disana Jehan berdiri dengan tampilan acak-acakan. Rambutnya berantakan serta masih memakai piyama.
"Istri anda ini adalah kakak saya." Tanpa menoleh dan merubah posisi Keona menyahut. "Cuci muka sana ! Bau jigong anda kemana-mana."
"Sayang, aku bau jigong?" Jehan memeluk istrinya dari belakang sofa tanpa perduli ada mertua dan tangannya yang menimpa kepala Keona.
"Tidak kok, sini duduk. Byan beli kue tadi. Dia habis jalan-jalan ke taman sama mama dan Keo." Jehan melangkah mengelilingi sofa.
"Ck ! Mau saja anda dikibuli kakak saya." Keona menarik tubuh nya bergeser di samping Byan. "Papa kamu, sok tampan ya. Padahal gantengan Om kemana-mana." Cibir Keona sambil meraih kue untuk di makan.
"Pagi, Pa." Sapa Jehan kepada mertuanya.
"Pagi, dari tadi kamu baru lihat papa duduk disini." Ujar pak Fendy ikut menikmati kue yang dibawa Byan.
"Bria, bunga-bunga disana sepertinya layu." Ibu Sandrina baru masuk setelah menyiram taman kecil di pojok halaman.
"Nanti aku lihat, aku ambil kopi buat Jehan dulu." Sebria bangkit dari posisi duduknya untuk pergi ke dapur. Setelah menikah Sebria mengurus sendiri keperluan Jehan dan Byan sambil di bantu Bi Merry kalau mereka sedang di rumah.
Cahaya keemasan menyelinap malu-malu melalui celah gorden, membasuh ruang keluarga dengan kehangatan yang lembut. Di atas karpet bulu yang empuk sisa dingin malam perlahan luruh, digantikan oleh aroma kopi yang baru diseduh dan harum kue yang di beli dari taman.
Ruang keluarga ini bukan sekadar kumpulan furnitur, melainkan tempat di mana waktu seolah melambat. Tidak ada hiruk-pikuk yang terburu-buru, hanya ada percakapan ringan dan tawa kecil yang mengisi udara, menciptakan memori sederhana namun berharga dalam balutan pagi yang damai.
...----------------...
Al Deric Zeviro
Bagi pria itu, jam dinding hanyalah hiasan yang kehilangan fungsinya. Ketika matahari terbenam dan lampu-lampu kota mulai meredup, ia justru baru memulai "hidupnya" di balik tumpukan berkas dan pendar cahaya monitor.
Deric tidak sedang mengejar ambisi atau jabatan. Bekerja baginya adalah sebuah mekanisme pertahanan. Ia sadar bahwa jika ia berhenti sejenak saja, keheningan di apartemennya akan mulai berbisik, mengingatkannya pada kursi kosong di meja makan dan ponsel yang jarang berdering.
Setiap baris kode atau laporan yang ia selesaikan adalah bata yang ia susun untuk membangun benteng melawan rasa sepi. Dengan menyibukkan diri hingga kelelahan yang ekstrem, ia berhasil membungkam pikiran-pikiran melankolis. Ia lebih memilih mata yang perih karena menatap layar daripada mata yang panas karena menahan rindu atau penyesalan.
Dalam dunia kerja, ia adalah pahlawan yang tak kenal lelah. Namun di balik itu, ia hanyalah seorang pria yang sedang bersembunyi dalam produktivitas, karena baginya, lelahnya raga jauh lebih mudah ditanggung daripada kosongnya jiwa.
"Kamu belum pulang?" Kanaga menatap lamat sepupunya itu. Tadi di perjalanan pulang. Ia melewati gedung kantor Deric. Lantai tiga puluh dua itu terlihat lampunya masih menyala. Saat perjalanan ke atas Kanaga sudah melihat keadaan sepi.
"Sedikit lagi."
Kanaga melonggarkan dasi nya lalu mendaratkan tubuh di sofa. "Sudah jam sepuluh malam, kamu butuh istirahat." Sunyi tidak ada sahutan. Ruangan itu terasa dingin hanya diisi oleh suara pena di atas kertas. "Mabuk kemarin, kenapa?" Kanaga belum sempat menanyakan itu.
"Tidak ada, hanya ingin minum." Suara deep voice itu terdengar berat.
"Ric..." Bisik Kanaga serius. "Aku ingin bertanya, apa kamu tidak berniat menikah lagi?"
Pergerakan tangan Deric terhenti tapi tidak merubah posisi. "Kenapa?"
"Sebria sudah menikah beberapa minggu lalu. Jehan sebenarnya mengundangku tapi si kembar kurang sehat kemarin."
"Urusannya denganku apa?"
Kanaga terdiam. Lalu menghela nafas panjang. "Mama kamu sering mengeluh karena kamu belum menikah lagi."
"Istri mu sudah menunggu, lebih baik kamu pulang, Ga. Aku akan pulang nanti."
Kanaga sekali lagi menghembuskan nafas panjang. Lalu bangkit dari sofa. "Jangan terlalu malam, cepat pulang."
Suara pintu tertutup menggiring tubuh Kanaga yang menghilang. Deric melepas pena dari tangannya lalu memutar kursi sambil mematikan lampu ruangan dengan remot hanya menyisakan pendar cahaya monitor. Manik matanya menerobos dinding kaca yang tidak tertutup tirai.
Baginya, langit malam adalah cermin yang jujur. Luas, gelap, dan tak berujung—persis seperti kekosongan yang ia coba tutupi dengan tumpukan lembur. Deric merasa lebih aman berada di sini, dikelilingi dokumen dan angka, daripada harus pulang dan menghadapi gema langkah kakinya sendiri di lorong rumah yang sepi. Di kursi kerja ini, ia merasa memiliki kendali, meski ia tahu bahwa ia hanyalah seorang nahkoda di atas kapal yang tak memiliki tujuan selain menghindari sunyi.
Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰