Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motif kontrak darah
Malam tiba beberapa jam kemudian. Setelah kembali ke Istana Rosemaline, Rhea berpisah dengan putra mahkota begitu selesai menyerahkan pemimpin keenam Sekte Arcanic—Felix, ke penjara rahasia Istana Rosemaline.
Kemampuan penyimpanan ruang Chorna sungguh luar biasa. Ternyata, tidak seperti yang ia klaim sebelumnya, manusia masih bisa bertahan selama satu hari penuh di dalamnya.
Rhea dan putra mahkota sama-sama mendecakkan lidah ketika Felix keluar hidup-hidup dalam kondisi luka yang parah.
Pria paruh baya itu, yang telah kehilangan lengan dan kaki, masih sepenuhnya sadar dan bahkan memprovokasi keduanya begitu mata mereka beradu.
Sebagai manusia modern yang jarang terlibat pertumpahan darah, Rhea awalnya merasa kasihan dan tidak tega melihatnya. Namun setelah dibuat jengkel, yang tersisa hanyalah keinginan untuk memaksa putra mahkota agar segera membunuhnya.
“Nanti, saat putra mahkota tidak membutuhkannya lagi untuk mengorek informasi, jika Chorna ingin membunuhnya sendiri, kita akan mengalah.”
Sambil mengelus kepala naga perak kecil yang juga terpancing amarah, Rhea membuat janji padanya.
“Hmnp! Tunggu saja! Untuk saat ini, lebih baik memikirkan metode apa yang paling memuaskan untuk membunuhnya... hehehe~” ucap Chorna sambil tertawa jahat.
Jari-jari Rhea terasa gatal, ingin menutupi mulut kucing Chorna yang menyeringai lebar. Pada akhirnya, ia berhasil menahan diri. Tidak perlu mengganggu kebahagiaannya, meskipun wajah kucing yang menyeringai itu sangat mengganggu mata.
Berjalan melewati koridor istana, Rhea berpapasan dengan John dan Lily. Keduanya terlihat asyik mengobrol; salah satunya tampak memerah.
“John, Lily… selamat malam?” sapa Rhea dengan ekspresi geli.
Keduanya tersentak, tampak terkejut sesaat melihat Rhea sebelum akhirnya menjawab sapaannya dengan terlambat.
“Se-selamat malam juga, Nona Celeste!” seru mereka serentak.
“Apa yang kalian bicarakan sampai tidak memperhatikan lingkungan?” tanya Rhea, senyum menggoda terangkat di bibirnya.
“Bu-bukan apa-apa!” jawab John terbata. Wajahnya yang sudah merah kini semakin menyerupai tomat.
Alis Rhea terangkat. “Benarkah?”
“Atau kalian sedang pacaran?” lanjutnya sambil tertawa kecil. Ia berkedip ke arah keduanya.
“It-itu… bukan!” Lily berteriak sambil memasang ekspresi tegas. “Kami hanya membicarakan pekerjaan!”
“Oh, pekerjaan? Bukankah pekerjaan kalian melayaniku? Kenapa aku tidak tahu ada tugas lain?”
“Benar…” bisik John.
Rhea terkikik melihat reaksi mereka sebelum akhirnya berhenti menggoda dan menyelonong pergi.
“Lanjutkan obrolan kalian. Aku akan kembali ke kamarku,” ucapnya sambil melambaikan tangan sekali.
Belum berjalan terlalu jauh, Rhea masih bisa mendengar percakapan mereka.
Ia mendengar John mendesah. “Nyonya Celeste tampak bahagia hari ini. Kudengar dia baru keluar dari kantor raja bersama putra mahkota.”
“Mungkin raja memberinya hadiah? Putra mahkota juga terlihat dalam suasana hati yang baik saat aku melihatnya. Aneh, padahal mereka baru saja menyelinap keluar istana tanpa izin,” tebak Lily.
John membalas ragu, “Tapi ekspresi kepala pelayan yang keluar setelah mereka agak aneh. Benarkah mereka tidak mendapat hukuman?”
“Siapa tahu?” timpal Lily. “Omong-omong, kucing putih itu sangat cantik. Benar-benar duplikat Nyonya Celeste.”
Alih-alih mendengar percakapan yang ia harapkan, Rhea justru menangkap gosip tentang dirinya. Kecewa, ia mempercepat langkah untuk menjauh.
“Kakak peri! Apa kita akan tidur bersama?” seru Chorna dengan mata berbinar-binar.
Begitu tiba di kamarnya, naga kecil itu berjalan mengelilingi setiap sudut ruangan, tidak meninggalkan satu celah kecil pun. Setelah kelelahan, ia melompat ke arah Rhea yang tengah memejamkan mata di ranjang.
“Tidur saja di sampingku,” jawab Rhea sambil setengah membuka mata. Setelah itu, ia kembali terlelap.
Chorna buru-buru menyelinap ke sisi Rhea, menempatkan tubuhnya di samping untuk merasakan suhu tubuhnya.
Suhu tubuh naga asli itu dingin. Meskipun ilusi Rhea telah menipu hampir seluruh indra, hawa dingin tetap terpancar dari tubuhnya. Memeluknya dalam selimut terasa nyaman bagi mereka berdua.
Ini merupakan malam kedua mereka bersama, sehingga tidak ada rasa canggung sama sekali. Rhea selalu memperlakukan Chorna dengan lembut.
Di bawah cahaya bulan yang samar, mata kucing biru Chorna bersinar dengan kilatan perak halus. Ia menatap Rhea dari balik selimut cukup lama, sebelum akhirnya bergerak menuju tangan putih yang terekspos di atas selimut.
Chorna menatap jari-jari ramping itu, lalu ke arah pemiliknya yang tertidur lelap. Setelah melamun sejenak, ia membuka mulutnya dan menggigit jari kelingking Rhea dengan taringnya.
Gigitannya lemah, seolah takut membuatnya sakit dan terbangun. Luka yang muncul sangat kecil, dan darah yang keluar hanya sebesar biji wijen.
Chorna menelan sedikit darah itu. Matanya bersinar terang, energi sihir keluar dari tubuhnya, terbang menjalin hubungan ke arah lingkaran sihir Rhea, lalu menyatu menjadi sebuah keterikatan.
Simbol kontrak khasnya muncul di pelipis Rhea, bersinar dengan warna keperakan sebelum meredup dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Rhea masih tertidur lelap, tidak menyadari semua kejadian yang menimpa tubuhnya.
Melihat hal itu, Chorna tersenyum penuh kegembiraan, lalu menggosok kepalanya ke telapak tangan Rhea dengan manja.
“Sekarang aku bisa menggunakan sihir waktu ke kakak peri dengan lebih mudah,” bisik Chorna penuh kesombongan.
Chorna menggunakan sihir waktu pada Rhea bukan tanpa alasan. Dia berniat menyembuhkan ingatan Rhea yang katanya hilang.
Setelah hampir dua hari bersamanya, keterikatan Chorna pada Rhea sudah meluap penuh. Sekarang dia sudah menganggapnya sebagai keluarga, menggantikan sosok ibunya yang telah meninggal.
Karena itu, saat mengetahui Rhea kehilangan ingatan selama sembilan belas tahun hidupnya, Chorna sudah merencanakan untuk menyembuhkannya. Tentu saja bukan dengan sihir penyembuhan.
Sebagai naga yang memiliki basis sihir ruang dan waktu, Chorna hanya bisa menggunakan sihir guna menciptakan ruang di alam mimpi dan memasukkan waktu untuk mengulang kembali kejadian yang pernah dialami tubuh tersebut.
Sebuah cara yang aneh dan cukup berbahaya. Namun Chorna percaya diri. Naga pada dasarnya memiliki sifat sombong. Jadi setelah mendapatkan ide itu, dia langsung menerapkannya tanpa keraguan.
“Kakak peri, selamat tidur dan mimpi indah~”
Chorna merasakan sihirnya bekerja dengan baik dan merangkak ke pelukan Rhea dengan gembira. Dia tidur sambil membayangkan pujian dan hadiah yang akan diberikan Rhea ketika bangun besok.
Namun, keesokan harinya, Rhea tak kunjung bangun.
.
.
.
.
.
Pintu ruang belajar putra mahkota terbuka dengan keras, memperlihatkan sosok Lily, gadis pelayan Rhea, yang terengah-engah dengan wajah memerah.
“Yang Mulia!”
Azz mengerutkan kening, tetapi tidak menyuruhnya pergi atau memarahinya. Dia menutup bukunya dan berdiri dari kursi.
“Karena seorang pelayan sampai berani menerobos masuk kamarku seperti ini, pasti ada urusan mendesak,” ucap Azz tenang, lalu menunggu pelayan itu berbicara.
“Katakan apa urusanmu.”
“Ma-maaf, Yang Mulia...” Lily masih berusaha mengatur napasnya sambil menarik udara dalam-dalam.
Melirik ke arah jendela, Azz melihat bintang-bintang menggantung tinggi, menerangi langit malam. Matahari telah lama terbenam dan ia belum makan malam.
Sambil menunggu penjelasan Lily, Azz berniat meminta kue dari gurunya sebelum dikejutkan oleh kata-kata Lily.
“Yang Mulia, ada yang salah dengan Nyonya Celeste. Dari kemarin malam sampai sekarang, Nyonya belum bangun dari tidurnya!” ucap Lily dengan suara gemetar.
Wajah Azz mengeras. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyuruh Lily mengantarnya ke kamar Rhea.
Di kamar Rhea sudah ada John yang mondar-mandir sambil menggendong seekor kucing putih yang mengeong, serta kakek John—dokter tua yang merawat Rhea.
“Apa yang terjadi?” Azz melangkah cepat dengan kaki pendeknya dan menghampiri sisi ranjang.
Di sana Rhea berbaring dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya memperlihatkan wajah seputih salju dan rambut putih keperakannya yang terurai berantakan.
Sedikit rona merah terlihat di pipinya. Napasnya tampak stabil, ekspresinya damai. Dilihat dari sudut mana pun, dia hanya terlihat seperti sedang tidur.
“Bisa jelaskan Guru kenapa?” Azz menyilangkan lengannya dan menatap ketiga orang—termasuk kucing di ruangan itu dengan tenang.
Matanya memang menunjukkan bahwa Rhea hanya tertidur, tetapi dia merasa ada sesuatu yang salah. Meskipun sudah mendengar cerita Lily bahwa gurunya tidak bangun sejak kemarin, dia masih ragu dan membutuhkan penjelasan logis dari yang lain.
Dokter tua itu membuka suara mewakili yang lain.
“Menurut John dan Lily, Nyonya Celeste belum bangun sejak kemarin malam. Dengan kata lain, dia hampir tidur seharian.”
Tangannya menunjuk ke arah kepalanya sendiri. “Hasil pemeriksaan saya menyimpulkan bahwa ada aktivitas otak yang kompleks dan terus-menerus pada Nyonya Celeste, sehingga dia tampak tenggelam dalam mimpi.”
“Kemungkinan ini merupakan serangan sihir musuh. Kemungkinan lainnya adalah akibat pemulihan ingatannya,” ungkap dokter tua itu sambil meneguk ludah.
John dan Lily tersentak ke belakang. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi rumit, karena dari dua kemungkinan itu, tidak ada satu pun yang baik bagi mereka.
Azz pun ikut termenung sambil mengerutkan kening.
Hal ini wajar. Apabila kemungkinan pertama yang benar, berarti ada seorang archmage lingkaran sembilan yang bersembunyi di dalam istana. Padahal, archmage lingkaran sembilan di Kekaisaran Arcana hanya ada tujuh orang. Enam merupakan Dewan Kekaisaran Sihir, dan satu lainnya adalah kaisar.
Jika mereka sampai melakukan hal itu di wilayah kerajaannya, berarti ada sesuatu yang sangat salah, dan tidak ada masa depan lagi bagi mereka.
Adapun opsi kedua, hal itu sama menakutkannya dengan yang pertama. Karena sebelum ingatannya hilang, Rhea Celeste baru mencapai lingkaran tujuh dan sudah mengacaukan istana. Sekarang jika tingkatannya naik dan masa lalu terulang kembali, kekacauan yang timbul akan jauh lebih parah.
John sudah ingin mundur seolah teringat sesuatu yang buruk, tetapi diseret kembali oleh Lily dengan mantap.
Dokter tua itu menelan ludah dan diam, menunggu komentar putra mahkota.
Akhirnya, setelah beberapa menit, Azz berbicara, “Kalian bisa keluar. Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”
Setelah suara kelegaan keluar dari diri mereka, Azz menambahkan, “Untuk kucing putih itu, kalian bisa tinggalkan di sini.”
John tidak memiliki keraguan saat meletakkan kucing itu perlahan ke lantai, lalu langsung pergi setelahnya.
Sementara itu, kucing putih tersebut—alias naga perak kecil Chorna—bertatapan dengan mata putra mahkota yang mengancam.
Chorna kehilangan ketenangannya. Kesombongan semalam runtuh seketika.
“Wah! Aku salah! Ini salahku!”