Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Suatu pagi, seperti biasa, Brian dan Amayah sarapan bersama. Brian menyantap hidangan yang ada sambil memainkan ponselnya, kebiasaan yang hampir tak pernah berubah. Sementara itu, Amayah biasanya akan fokus pada makanannya, nyaris tak terganggu oleh hal lain.
Namun pagi ini berbeda.
Amayah makan sambil sesekali melirik ponselnya, senyuman manis terukir jelas di wajahnya. Dari rautnya saja, sudah terlihat bahwa ia sedang sangat bahagia.
Brian menyadari keanehan itu. Ia melirik sekilas, lalu bertanya dengan nada datar, "Mengapa kau tersenyum sendiri?"
Amayah mengangkat pandangan, senyumannya tak luntur. "Kau tidak perlu tahu."
"Baiklah," balas Brian singkat, lalu kembali menatap layar ponselnya.
Meski begitu, Amayah justru menatap Brian. Ada rasa menyesal di hatinya. Sebenarnya, ia ingin Brian tahu alasan di balik kebahagiaannya pagi ini. Ia menutup ponselnya perlahan, mengumpulkan keberanian.
"Kalau aku memberitahunya, bagaimana reaksinya ya...?" pikir Amayah.
Keraguan muncul lagi di benaknya. "Apakah dia akan peduli... atau justru bersikap dingin seperti biasa?"
Menit demi menit berlalu. Amayah terjebak dalam pikirannya sendiri. Ia ingin berbicara, tetapi takut dengan kemungkinan respons Brian.
"Ah, aku kelupaan headsetku," ujar Brian tiba-tiba sambil berdiri.
"Tapi... aku harus memberitahunya!" batin Amayah, tekadnya kembali menguat.
Ia mengangkat kepalanya setelah lama menunduk menatap piring. "Sebenarnya, hari ini aku—"
Namun Brian sudah berjalan pergi beberapa detik sebelumnya, menuju kamarnya.
Amayah terdiam. Kata-kata yang hendak diucapkannya terhenti begitu saja.
"Mungkin... lain kali saja," gumamnya pelan.
---
Di sekolah, saat jam istirahat, Brian mengantre di kantin bersama John. Keduanya berniat mencoba menu baru yang sedang populer di kalangan murid.
Namun sejak tadi, Brian merasakan sesuatu yang mengganjal. Ia merasa sedang diperhatikan dari kejauhan.
Ketika ia melirik ke sekitar, perasaannya terbukti benar—seseorang tampak buru-buru bersembunyi.
"Ada apa?" tanya John heran, melihat Brian celingukan.
"Tidak ada," jawab Brian singkat.
"Jangan-jangan kau sedang mencari ketua OSIS baru yang cantik itu ya~" goda John sambil berbisik.
Brian mendecak kesal. "Bilang saja kalau kau yang mengincarnya. Jangan menuduhku sembarangan."
Saat pelajaran olahraga, perasaan tidak nyaman itu kembali muncul. Lagi-lagi, Brian merasa ada seseorang yang menatapnya dari kejauhan.
Kali ini, ia berhasil melihat sosok tersebut. Di ujung lorong, seseorang bersembunyi, namun rambutnya terlihat jelas.
Brian mengenalinya.
"Amayah...?" pikirnya.
Namun sebelum ia bisa memastikan, sosok itu langsung berlari menjauh begitu menyadari dirinya diperhatikan.
Brian menghela napas pelan. "Apalagi ini...?"
Hal paling mengejutkan terjadi setelahnya. Di lorong, Brian dan John berjalan berdampingan menuju kelas. Dari arah berlawanan, Amayah melangkah mendekat.
Saat jarak mereka hampir dekat, Amayah tiba-tiba berhenti dan mengangkat tangannya, seolah ingin menghentikan langkah mereka.
Brian dan John ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Brian dengan ekspresi datar.
"Itu... anu..." Amayah tampak kehilangan kata-kata, seakan lupa dengan niatnya sendiri.
Detik berikutnya, ia justru berbalik dan lari begitu saja, meninggalkan kebingungan di belakangnya.
"Ada apa dengannya?" tanya John.
"Entahlah. Dia bertingkah aneh. Tidak seperti biasanya," jawab Brian.
"Memang biasanya dia bagaimana?" John penasaran.
"Dia suka mengejekku. Bersikap kasar. Kurang lebih seperti itu," jawab Brian datar.
"Hei, hei... tapi kalian sudah berdamai, kan?" tanya John dengan raut cemas.
"Tentu saja. Tapi tadi pagi dia tersenyum sambil menatap ponselnya saat sarapan. Lalu sejak di kantin, aku merasa dia terus menatapku dari kejauhan," jelas Brian.
John mengangguk pelan, mulai memahami situasinya. "Hmm... mungkin ada sesuatu yang spesial hari ini. Kau tahu apa?"
"Tidak. Aku sempat bertanya, tapi dia tidak mau menjawab."
"Berarti mungkin dia ingin memberitahumu barusan. Tapi karena malu, dia mengurungkan niatnya," ujar John santai sambil melipat tangan.
Brian terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang luput dari perhatiannya.
"Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?" gumamnya.
"Bisa saja hal sederhana," lanjut John. "Mungkin dia senang karena dikirimi sesuatu yang bernilai nostalgia. Atau barang incarannya diskon. Atau film yang sudah lama ia tunggu. Atau..."
John berhenti sejenak.
"Mungkin saja..."
Setelah mendengarnya, mata Brian sedikit membesar.
---
Sepulang sekolah, Amayah melangkah pulang dengan perasaan yang sama sekali tidak menyenangkan. Tubuhnya tampak lesu, seolah ia belum pernah merasakan makanan bergizi seharian.
Pandangannya hanya tertuju lurus ke depan. Trotoar dipenuhi para pejalan kaki, sementara suara kendaraan di jalan raya terdengar jelas dan saling bersahutan, membuat kepalanya semakin terasa penuh.
Namun langkahnya mendadak terhenti.
Amayah terkejut saat melihat Brian berjalan bersama seorang perempuan berambut merah muda. Arah langkah mereka jelas bukan menuju rumah.
Dada Amayah menghangat oleh perasaan asing. Tanpa benar-benar memikirkannya, ia pun mengikuti mereka.
Beberapa menit kemudian, Amayah tiba di sebuah mal. Ia tetap menjaga jarak, mengikuti Brian dan perempuan itu dari belakang. Mereka tampak mengobrol santai. Wajah Brian seperti biasa—datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun gadis berambut merah muda itu terlihat ramah dan ceria, bersikap akrab kepada Brian.
Entah mengapa, dada Amayah terasa sedikit sesak.
Terlebih ketika mereka berdua masuk dari satu toko ke toko lain, melihat-lihat dan memegang berbagai barang. Mereka tampak begitu dekat, seolah lupa waktu. Pemandangan itu membuat hati Amayah terasa panas, seperti terbakar perlahan.
"Sepertinya mereka ada sesuatu..." gumam Amayah pelan.
Ia menggelengkan kepala, mencoba menyangkal perasaannya sendiri. Namun kakinya tetap melangkah, menyusuri tiap toko yang mereka masuki.
Hingga akhirnya, mereka berhenti di sebuah toko pakaian. Perempuan itu mengambil dua jenis pakaian yang tampak sangat bagus, lalu mengangkatnya sambil memberi isyarat agar Brian memilih salah satu.
Brian terlihat kebingungan. Ekspresinya bahkan tampak sedikit aneh. Perempuan itu lalu mencoba mengenakan pakaian tersebut—dan hasilnya terlihat sangat cocok. Brian terdiam, seolah tak tahu harus berkata apa.
Di sisi lain, Amayah tak sanggup menatap lebih lama. Ia duduk di lantai dekat rak pakaian, menundukkan kepala.
"Sepertinya mereka memang sangat dekat..." pikirnya getir.
Rasa tak berdaya menyelimuti dirinya. Setelah beberapa saat, Amayah berdiri perlahan dan meninggalkan tempat itu. Langkahnya ringan, namun hatinya terasa hancur.
"Lagipula aku bukan siapa-siapanya. Untuk apa aku cemburu...?"
"Brian memilih perempuan itu karena itu keinginannya. Aku tidak berhak mengganggunya..."
"Mungkin saja aku memang bukan tipenya," gumam Amayah, berusaha menahan air mata—namun gagal.
Langkahnya semakin menjauh, meninggalkan mal bersama perasaan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
---
Setibanya di rumah, Brian langsung membuka pintu. Pandangannya tertuju pada Amayah yang sedang memasak di dapur. Meski tangannya sibuk, wajahnya tampak murung dan jauh dari kata bahagia.
Brian merasa heran. Pagi tadi Amayah masih terlihat ceria, namun kini suasananya berubah drastis.
"Kau baik-baik saja...?" tanya Brian akhirnya.
"Ya..." jawab Amayah pelan, jelas tidak meyakinkan.
Brian bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikannya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil dua tas belanja berukuran sedang dan menghampiri Amayah.
"Nih," kata Brian singkat.
Amayah yang tadinya diselimuti perasaan gelap, seketika seolah melihat cahaya. Namun ia menatap kedua tas itu dengan bingung.
"Apa ini...?" tanyanya datar.
"Selamat ulang tahun. Ini hadiah untukmu," jawab Brian.
Amayah terdiam. Matanya sedikit membesar. "Bagaimana... caranya...?"
Brian menjelaskan dengan nada tenang, "Aku merasa kau bertingkah aneh di sekolah tadi. Jadi aku bertanya pada ibumu. Dari situ aku tahu kalau hari ini ulang tahunmu."
Amayah menerima tas itu dan memeluknya erat. Namun sesaat kemudian ia menunduk, lalu menunjukkan ekspresi cemberut.
"Tapi kau telat mengucapkannya..."
"Itu karena aku tidak tahu," jawab Brian tegas. "Seharusnya kau bilang saja padaku, daripada memendamnya sendiri."
"Ini salahmu karena tidak bertanya!" protes Amayah.
Brian mengernyit. "Kenapa jadi aku yang disalahkan?"
"Tentu saja karena kamu salah!" teriak Amayah.
Suasana mendadak hening. Keduanya terdiam, sama-sama bingung bagaimana percakapan itu bisa berubah seperti ini.
"Lalu... perempuan itu...?" tanya Amayah pelan.
"Siapa?"
"Yang bersamamu di mal tadi..."
"Kau mengikuti kami?" tanya Brian heran.
"Tidak! Aku hanya melihat kalian. Kalian terlihat dekat..."
"Dia pacar John. Namanya Julia Bianca, kelas 8-C."
Amayah merasa lega, meski masih ada sedikit rasa curiga. "Benarkah? Bukan pacarmu?"
"Bukan. Lagipula kenapa kau peduli?"
"Tidak ada! Aku hanya penasaran saja. Dia cantik, mungkin saja kau terpikat dan lupa pulang," katanya berkilah.
Brian menghela napas panjang. "Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Ia kemudian duduk di sofa dan menyalakan televisi. Amayah masih berdiri, menatap tas belanja di tangannya.
"Boleh aku membukanya?" tanyanya malu.
"Ya," jawab Brian singkat.
Amayah membuka tas itu perlahan. Isinya membuatnya terdiam.
"Boneka beruang...?"
"Aku pilih yang paling mirip denganmu. Ganas dan tidak mengenal mangsa," ujar Brian datar.
Amayah mendengus kesal, wajahnya cemberut. Ia lalu mengeluarkan benda lain.
"Celemek...?"
"Celemekmu yang lama sudah penuh noda. Aku belikan yang baru, sekalian sabun pemutihnya," jelas Brian santai.
"Kenapa warnanya merah muda? Apa karena mirip rambut Julia itu?" tanya Amayah curiga.
"Aku membayangkanmu memakainya. Kurasa cocok," jawab Brian singkat.
Pipi Amayah langsung memerah. Brian menambahkan, "Kalau kau tidak suka, tidak apa-apa."
Tanpa berkata apa-apa, Amayah melepas celemek lamanya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia lalu mengenakan celemek baru dan berdiri di hadapan Brian, menunggu reaksinya.
"Kau menyukainya?" tanya Brian.
"Tidak juga. Hanya saja... aku memang butuh yang baru," jawab Amayah sambil menunduk malu.
"Begitu ya."
"Brian..." panggil Amayah lirih.
"Ya?"
"T-terima kasih..."
"Sama-sama."
Amayah kembali ke dapur dengan senyum manis yang tidak Brian lihat.
"Oh ya, kapan ulang tahunmu?" tanya Amayah santai sambil memotong sayuran.
"Tiga hari lalu, tanggal sembilan," jawab Brian sambil menatap ponselnya.
Tangan Amayah berhenti bergerak. "Tunggu... itu berarti sudah lewat?!"
"Ya."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" protesnya.
"Karena kau tidak bertanya," jawab Brian datar. "Lagipula aku tidak merasa hari ulang tahun itu istimewa."
Amayah terdiam. Ia teringat Brian yang pergi sendirian beberapa hari lalu.
"Jangan-jangan siang itu..."
"Aku ke perusahaan dan menemui pengasuhku. Kami hanya mengobrol," jawab Brian.
Mendengarnya, Amayah merasa kecewa. Namun tiba-tiba matanya berbinar, seolah menemukan ide besar.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Satu jam kemudian, Brian duduk di meja makan dengan ekspresi terkejut. Hidangan memenuhi meja.
"Hei, siapa yang bisa menghabiskan ini semua?" tanya Brian panik kecil.
"Ini perayaan ulang tahun kita berdua. Jadi harus megah," jawab Amayah dengan senyum nakal.
"Tidak perlu semegah ini..." ujar Brian sambil mulai makan.
Akhirnya, mereka menyerah. Perut sudah terlalu kenyang.
"Lalu sisanya bagaimana?" tanya Brian.
"Habiskan saja olehmu. Biar gemuk," ejek Amayah.
Malam pun sunyi. Brian bangkit.
"Kalau begitu, selamat malam."
"Se-selamat ulang tahun, Brian..." ucap Amayah malu.
Brian berhenti. "Selamat ulang tahun, Amayah."
Hati Amayah terasa hangat. Bahkan sebelum tidur ia memeluk boneka beruang itu erat. Celemek baru yang ia kenakan seolah menjadi simbol kesehariannya bersama Brian.
Tanpa mereka sadari, perasaan di antara keduanya terus tumbuh. Butuh waktu untuk menyadarinya sepenuhnya. Untuk saat ini, Amayah memilih bersabar dan menunggu saat yang tepat.
Bersambung.
semangat terus bang!!!