Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi ini, Kenan dan keluarganya sudah duduk rapi di meja makan untuk sarapan.
Di sana hanya ada papi Bas, mami Amara, Nathan, Joe, dan Kenan. Kai masih tertidur pulas di kamar.
Hari ini, papi Bas dan mami Amara berencana menjenguk Alvian di rumah sakit milik mereka.
Kenan tampak fokus menyantap sepiring nasi goreng kesukaannya. Dibandingkan roti atau sereal, nasi goreng selalu jadi pilihan utama Kenan untuk sarapan.
“Mami sama papi jadi jenguk Alvian hari ini?” tanya Kenan sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya.
“Iya,” jawab mami Amara singkat.
“Sama kamu berangkatnya, Nat?” Kenan kembali bertanya.
“Nggak,” sela Nathan. “Nanti mami sama papi pergi bareng Malik dan Amar.”
Kenan mengangguk pelan. Ia kembali melanjutkan makannya.
“Oh ya, Ken,” ucap mami Amara sambil menatap putranya yang duduk di hadapannya.“Mami nanti bawa Kai ke sana ya.”
Kenan menghentikan gerakan tangannya sejenak. Tatapannya beralih ke sang mami.
Dalam urusan pengawasan anak, Kenan memang terkenal sangat protektif. Siapa pun bahkan maminya sendiri tetap harus izin jika ingin membawa Kai pergi.
“Iya, Mi,” jawab Kenan akhirnya. “Terserah mami. Yang penting anakku baik-baik aja.”
Lalu Kenan menambahkan, “Oh ya, Mi. Kai masih tidur di atas. Nanti tolong mandiin ya, Mi.”
Biasanya, Kai selalu mandi bersama Kenan. Tapi hari ini Kenan harus berangkat lebih pagi karena ada meeting penting di GMT Group.
“Iya. Nanti mami yang mandiin Kai,” jawab mami Amara lembut.
Kenan tersenyum kecil. Sejak Kai lahir, ia memang tidak pernah memakai jasa baby sitter. Ia ingin melihat sendiri tumbuh kembang anaknya.
Tak lama kemudian, Kenan menyelesaikan sarapannya. Ia menoleh ke arah Joe yang baru menghabiskan setengah porsi makanannya padahal Kenan datang belakangan.
“Cepetan dikit, Joe. Lelet banget jadi orang,” sindir Kenan sambil meneguk susu L-M*n kesukaannya.
Joe mendengus malas. “Ck. Sabar, Pak Kenan yang terhormat. Ini baru setengah nyawa saya yang bangun.”
Saudara nya ini memang terkenal lelet untuk masalah sarapan tapi kalau untuk makan siang Joe lah yang paling cepat makannya. Menurut Joe, penyebab ia lelet saat sarapan karena nyawa nya belum terkumpul sepenuhnya, dan menurut Kenan itu adalah salah satu pemikiran bodoh Joe.
“Jangan banyak alasan.”
Joe memutar bola matanya. “Orang sabar itu jodohnya lancar, Pak.”
“Jodoh gue emang udah lancar,” balas Kenan santai.
Joe berhenti mengunyah. Tangannya yang memegang sendok nasi mengeras.
Dalam hati ia benar-benar ingin mepretakkan centong nasi ke kepala Kenan.
“Pamer mulu,” gumam Joe kesal. “Nyari ribut pagi-pagi.”
Kenan hanya menyeringai kecil, lalu berdiri dari kursinya.
“Gue tunggu di luar,” ujar Kenan sambil meraih kunci mobilnya.
“Kedepan dulu semuanya. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab papi Bas dan mami Amara bersamaan.
Kenan pun melangkah meninggalkan meja makan dengan langkah ringan, sementara Joe kembali melanjutkan sarapannya dengan wajah masam dan dengusan pelan.
“Orang itu emang hobi bikin darah naik,” gerutu Joe.
Papi Bas terkekeh. “Kalau nggak berantem, bukan kalian namanya.”
Mami Amara ikut tersenyum. Pemandangan seperti itu sudah menjadi rutinitas pagi di rumah mereka,cara aneh Kenan dan Joe menunjukkan kedekatan yang tak pernah mereka akui terang-terangan.
...****************...
Siang ini, sekitar pukul setengah sebelas, di kamar rawat Alvian, suasana terasa lebih hidup.
Pak Bara datang menjenguk setelah mendapat kabar dari sekretaris Aru bahwa Aru izin beberapa hari karena menjaga Alvian di rumah sakit.
Selain dekat dengan Aru, Pak Aru juga sangat dekat dengan Bisma, Alvaro, dan Alvian. Ia sudah menganggap anak-anak keluarga itu seperti anaknya sendiri.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba—
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
Papi Bas dan mami Amara masuk bersama keluarga, termasuk Kai yang berjalan sambil menggenggam tangan omanya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Aru, ayah Dika, mama Yasmin, dan Pak Bara serempak.
Begitu melihat Aru, Kai langsung melepaskan pegangan tangan omanya.
“BUNDAAAA!” teriak Kai kencang.
Ia berlari kecil lalu memeluk Aru yang sudah berjongkok menyambutnya.
Grep
“Kai kangen bunda,” keluh Kai manja dengan suara khas cadelnya.
“Iya, sayang, Bunda juga kangen sama Kai. ” jawab Aru sambil memeluk erat.“Maafin bunda ya, belum bisa ketemu kamu beberapa hari ini.”
Semua orang tersenyum melihat pemandangan itu.
Alvian yang terbaring di ranjang pun ikut tersenyum tipis melihat senyuman di wajah Aru.
“Kai, pelukannya jangan terlalu kenceng. Bunda kamu bisa sesak,” tegur mami Amara lembut.
Kai langsung mengendurkan pelukannya.
“Ayo salim dulu,” lanjut mami Amara.
“Sama kakek, nenek, opa Bara, sama om Alvian.”
“Iya, Nekna.”
Kai menyalami satu per satu dengan sopan, lalu terakhir mencium tangan Alvian.
“Anak baik,” gumam Alvian sambil tersenyum.
“Kamu juga ke sini, Bas?” tanya Pak Bara sambil bersalaman.
“Iya,” jawab papi Bas sambil tersenyum.“Sekalian jenguk calon mantu.”bisiknya
Pak Bara tertawa kecil mendengarnya.
“Bagaimana kabarmu, Dika?” tanya papi Bas.
“Alhamdulillah sehat, Bas. Bagaimana dengan mu? ” jawab ayah Dika.
"Alhamdulillah, saya juga sehat."
Setelah semua bersalaman, papi Bas dan mami Amara mendekati Alvian yang sedang diperiksa Nathan.
“Gimana keadaan kamu, Vian?” tanya papi Bas.
“Udah jauh lebih baik, Om,” jawab Alvian.
“Masih ada yang sakit?” tanya mami Amara lembut.
“Nggak ada, Tante.”
“Istirahat yang cukup ya, Nak,” ucap mami Amara sambil mengelus kaki Alvian.
"Makasih om, tante. " ucap Alvian terseo kaku.
Papi Bas dan Mami Amara mengangguk. "Iya ,sama-sama nak. "
Setelah itu, mereka bergabung kembali ke sofa.
“Kok kamu bisa ke sini, Bara?” tanya papi Bas.
“Ya jelas bisa lah, kan teleportasi kesininya,” jawab Pak Bara santai.Papi Bas mendengus kesal, membuat semua orang tertawa.
“Sahabat macam apa ini,” gumam papi Bas kesal.
“Sahabat terbaik,” jawab ayah Dika sambil tersenyum.
Tak lama, Nathan masuk,
"Permisi semunya," sapa Nathan sopan. "Nat,mau periksa bang Vian dulu." ucapnya.
"Silahkan,Nak." ucap Ayah Dika.
Nathan segera memeriksa kondisi Alvian. Tak butuh waktu lama ia selesai memeriksa Alvian.
“Secara kondisi, Bang Vian sudah membaik,” jelas Nathan pada Aru dan yang lainnya.
“Tinggal jaga pola makan dan istirahat yang cukup. Dua atau tiga hari lagi sudah bisa pulang.”
Semua orang mengangguk Paham.
“Terima kasih, Nat,” ucap Aru lega.
“Sama-sama, Kak. Ini tanggung jawab Nat sebagai dokter.”
“Kalau gitu, Nat mau pamit dulu. Soalnya masih ada pasien yang harus diperiksa."
"Iya,Nak. Makasih ya. " ucap Mama Yasmine
"Iya,sama-sama tante. " Kemudian Nathan menoleh pada Kedua orang tuanya.
"Kalau mami sama papi mau pulang, mampir dulu ke ruanganku dulu ya,” pinta Nathan.
“Iya,” jawab mami Amara.
Nathan menoleh ke Kai.
“Uncle pergi dulu. Jangan nakal.”ucap Nathan sambi mencubit keci hidung Kai.
“Iya, Uncle,” jawab Kai patuh.
Nathan pun keluar dari ruangan itu. Setelah Nathan pergi, Aru menyuapi Alvian makan dan memberinya obat. Sementara para orang tua sedang mengobrol ringan.
Tak lama, Alvian tertidur.
Aru lalu duduk di sofa dekat mami Amara.
Kai langsung mendekat dan memeluknya.
“Bunda… aku lapar,” ucap Kai pelan.
“Kamu belum makan?” tanya Aru kaget.
Kai menggeleng. “Aku mau makan sama bunda.”
"Dia nggak mau sarapan dirumah,nak.” ujar mami Amara sambil tersenyum.
Aru menatap Kai dengan haru.
“Ya sudah, bunda pesanin makan dulu ya.”
Aru pun memesan beberapa makanan.
Kai tetap duduk menempel di sisi Aru, tak mau jauh.
Semua orang kembali mengobrol, sementara Aru sesekali mengusap kepala Kai dengan penuh kasih.
Bersambung.................