Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 ~ Kehampaan Dan Kekosongan Hati
Tiga kali ketukan palu di pengadilan menjadi saksi berakhirnya pernikahan ini. Tidak ada kesedihan, kekecewaan lagi, hanya ada rasa hampa. Raina menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya, sejak awal memang cincin ini seharusnya adalah milik Amira, bukan dirinya yang harus memakainya.
Mama Sonia yang kali ini menemaninya untuk sidang, memeluknya dengan tangisan pecah. Bagaimana dia seperti tidak rela kehilangan menantu yang sepertinya. Tapi, terpaksa harus melepaskan Raina demi kebaikannya juga.
"Sudah Ma, meski semuanya berakhir, aku tidak akan pernah melupakan Mama yang begitu baik padaku"
Raina tidak menangis, air matanya tidak menetes sedikit pun ketika hakim telah memutuskan jika mereka resmi bercerai. Namun rasanya cukup hampa, ada bagian hati yang hancur, terluka, namun tak terlihat ke permukaan. Senyuman yang menutupi semua luka yang dia alami.
Saat berhadapan dengan mantan suaminya, Raina masih menunjukan senyum. Justru malah Mama Sonia yang terus menangis sampai sekarang. Raina memegang cincin yang melingkar di tangannya, sebelum melepaskan tatapan Raina cukup dalam pada cincin itu.
"Ini Kak, aku kembali cincin yang sejak awal memang tidak seharusnya untukku. Cincin yang sejak awal seharusnya hanya untuk kamu dan Kak Amira. Maaf karena sudah menghancurkan segala impian kalian"
Senyumannya sedikit memudar, namun dia meraih tangan besar Marvin dan menyimpan cincin itu di atas telapat tangannya. "Aku pergi ya Kak, semoga hidupmu akan lebih baik setelah ini. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Maaf karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik. Aku hanya menjadi istri yang tidak di inginkan"
Raina tersenyum dengan menghembuskan napas panjang. Memeluk Mama Sonia sekali lagi dan memberikan tepukan lembut di punggungnya agar Mama Sonia lebih tenang. Namun, tangisannya malah semakin menjadi.
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi Mama ya Rain. Kamu tetap anak Mama yang terbaik sampai kapanpun"
Raina mengangguk pelan, dia mengusap air mata Mama Sonia dengan lembut. "Mama harus selalu sehat ya"
Raina menatap kembali pada mantan suaminya, tersenyum tipis. "Selamat tinggal Kak, aku pergi dulu"
Raina berbalik, melangkah pergi dari hadapan Marvin. Bukan hanya dari hadapannya saja, tapi juga dari kehidupannya. Raina akan pergi tanpa kembali hadir dalam kehidupan Marvin, sesuai dengan ucapan pria itu yang inginkan Raina pergi jauh dari hidupnya dan tidak lagi muncul di hadapannya.
Saat mengendarai motor, air matanya baru berjatuhan. Mungkin masih bisa menahannya saat tadi berada di depan Marvin. Tapi sekarang, entah kenapa rasanya begitu sesak dan Raina menangis di atas motor yang dia lajukan. Suara angin yang menerpa wajahnya dan suara dari mesin kendaraan lain, menyamarkan isak tangisnya sendiri.
Dalam waktu kurang dari dua bulan, akhirnya dai resmi menjadi seorang perempuan yang gagal dalam pernikahan. Terlalu singkat sampai Raina belum bisa memaknai seperti apa sebenarnya sebuah pernikahan itu.
"Mari memulai hidup baru lagi, Raina. Kamu harus bisa bangkit dan menjalani kehidupan yang baru"
Awan mendung hari itu menjadi saksi hancurnya perasaan seorang Raina atas pernikahan yang gagal dan semua orang yang tidak lagi menginginkan kehadirannya. Hari ini bukan menjadi akhir dari segalanya, tapi adalah awal baru untuk memulai segalanya.
*
Sebuah cincin yang berukuran lebih kecil dari jarinya, sekarang berada di tangannya dan dia terus memperhatikan cincin itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Hatinya sudah tidak menentu lagi, perasaan kosong yang menyerang hatinya sejak keluar dari ruangan sidang di pengadilan tadi.
"Sial, kenapa dia terlihat baik-baik saja dan seolah senang dengan perpisahan ini"
Melihat senyuman Raina saat memberikan cincin pernikahan mereka pada Marvin, entah kenapa hatinya kesal, marah, dan yang lebih dia rasakan sekarang, adalah kehampaan. Semua ini adalah yang dia inginkan, perceraian dengan Raina adalah hal yang menjadi keputusannya. Tapi, hati seolah tidak rela melihat Raina berjalan menjauh darinya dan mungkin tidak akan kembali lagi padanya.
"Dia terlihat lebih tenang dan santai menerima perceraian ini. Tapi kenapa aku malah seolah tidak suka"
Entah pertanyaan apa yang tiba-tiba dia ucapkan. Seharusnya dirinya yang paling senang dan tenang atas perceraian yang sudah resmi. Tapi, kehampaan dan kekosongan dalam hatinya malah semakin terasa.
Kaca jendela besar menunjukan pemandangan sore hari Kota yang sedang hiruk pikuk oleh orang-orang. Marvin duduk di sofa tunggal disana, hanya diam dengan menatap cincin di tangannya. Lalu dia melepaskan cincin yang masih dia pakai di jari manis. Menyatukan dua cincin berbeda ukuran itu, tatapannya lekat, namun seperti menyimpan sebuah tanya yang dalam.
"Kenapa kau terus menatap cincin pernikahanmu?" Bayu masuk ke dalam ruangan Marvin dan berdiri di dekat meja kerjanya, menatap sahabatnya yang duduk termenung sendirian disana dan terus menatap cincin pernikahannya yang sudah kandas ini. "Bukankah ini yang kau mau, seharusnya kau menunjukan wajah bahagia karena akhirnya bisa terbebas dari pernikahan ini"
Marvin mengenggam dua cincin itu dalam tangannya, lalu menoleh dan menatap Bayu. "Aku bahagia, karena akhirnya tidak mengikat lagi dia dalam pernikahan ini. Sebenarnya dia juga butuh kebebasan 'kan?"
Bayu tersenyum sedikit mengejek pada sahabatnya ini, meski cara bicara Marvin masih tetap arogan seperti biasa, tapi tatapan mata seolah tidak bisa bohong.
"Mungkin Raina sudah mendapatkan kebebasan sekarang. Tapi kau yang akan mulai terbelenggu perasaanmu sendiri"
Setelah mengucapkan itu, Bayu berlalu keluar dari ruangan Marvin setelah mengatakan kalimat yang semakin membuat pria di dalam ruangan itu terus merenung kebingungan.
Terbelenggu perasaanku? Apa maksudnya?
Marvin berdiri dari duduknya, berjalan ke arah tempat sampah. Sudah menginjak tempat sampah itu dan terbuka, tangannya sudah hampir membuang sepasang cincin pernikahan itu. Tapi, tiba-tiba urung begitu saja. Kembali menatap cincin di tangannya, dan dia malah memasukannya ke dalam saku jas.
Ada apa dengan Marvin, kenapa dirinya bahkan tidak tega untuk membuang cincin pernikahan yang sudah berakhir ini. Sejak keluar dari ruangan sidang, dia hanya merasakan kehampaan dalam hatinya. Padahal ini adalah hal yang sebenarnya dia inginkan.
"Dia tidak mungkin langsung pergi, pasti pulang dulu ke rumah untuk mengambil barang-barangnya. Aku harus pulang sekarang"
Muncul sebuah semangat di wajahnya, mengambil kunci mobil di atas meja kerja dan segera pergi. Dia pulang ke rumah dan langsung mencari keberadaan Raina. Menganggap jika mantan istrinya itu pasti akan pulang untuk membawa barang-barangnya dulu.
"Dimana Raina?"
Mbak Eni yang di tanya seperti itu, malah mengerutkan keningnya bingung. "Loh, Nona sudah pergi. Bukannya Tuan dan Nona sudah resmi berpisah ya"
"Iya, tapi dia pulang dulu 'kan untuk mengambil barang-barangnya?"
Mbak Eni menggeleng pelan, masih cukup bingung dengan sikap Marvin, tapi dia mencoba menjelaskan. "Nona sudah membawa barang-barangnya sejak kemarin. Jadi pagi tadi dia juga sudah langsung berpamitan pada saya, dan tidak kembali lagi kesini sejak pergi ke pengadilan tadi"
Deg... Seketika kaki Marvin lemas, kepalanya pusing dan mual yang tak menentu. Dia berpegangan pada sisi sofa untuk tetap menyeimbangkan tubuhnya.
"Tuan kenapa? Tuan?"
Bersambung