Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
“Iya, aku mau. Tapi, jangan paksa cepet, ya. Kita jalani dulu. Karena ngubah status dari temen lama ke pacar itu kalo untuk aku pribadi agak susah. Walaupun aku tau kamu luar dalam. Yang pasti ada rasa canggung sedikit.”
Sesaat David tersenyum senang, ada rasa bahagia yang berusaha ia tahan setelah dua kali menyatakan perasaannya pada Echa setelah lima tahun mereka berteman.
“Janji, Cha. Aku janji bakalan jadi yang terbaik buatmu,” ujar David riang.
“Jangan janji apapun. Cukup tunjukkan aja. Aku tau kamu sayang banget sama aku. Makasih, ya,” ujar Echa tulus, “walaupun sebenernya aku gak percaya kamu bisa seberjuang ini buatku diantara cewe-cewe yang mau sama kamu. Apalagi aku tau, mereka bahkan lebih unggul dari segi penampilan maupun harta.”
“Realistis aja, sih, Cha. Kamu terang. Intinya itu. Mereka cantik tapi, gak seksi. Mereka cantik tapi, merasa unggul.”
“Kamu suka badanku?” tanya Echa tak percaya.
“Cha, pukul kepalaku kalo aku gak tertarik sama badanmu. Porsi badanmu pas. Sama kaya cewe yang kalo apa-apa pasti liat fisik. Aku pun gitu. Enam puluh persen aku liat fisik, sisanya aku mau yang tulus. Karena gimanapun, senakal apapun cowo, dia pasti mau nyari yang baik. Tuhan ciptakan kita berpasangan jadi, entah kamu nganggap diri kamu gak cantik tapi, kalo Tuhan bikin di mataku kamu cantik, ya, kamu cantik. Gak pake kompromi.”
Diam, Echa sedikitpun tidak menyanggah pernyataan David karena walau bagaimanapun, David termasuk orang yang jujur. Dia suka sisi itu. Sisi yang membuatnya semangat dan lebih percaya diri, karena darinya, dia jadi tahu harus bersikap yang baik seperti apa walaupun diawal ucapannya sangat menyakitkan.
“Tapi, kita LDR dulu gak apa-apa, kan, Cha?” tanya David ragu.
“Iya, gak apa-apa. Yang penting kabarin aku terus.”
“Siap!” ujar David seraya memberi hormat dan membuat Echa tertawa geli.
Kadang, Tuhan memberi kebahagian sampai makhluk itu lupa kalau kita diciptakan juga untuk merasakan kesedihan…
“Maaa…Mamaaa…Mamaaa…tolong, Ma. David, Ma. David…huhuhuuu…”
Siang itu, kenangan buruk yang terukir untuk pertama kalinya dalam hidupku serta seluruh keluarga yang menunggu kepulangan kami. Tepat, di hari Jumat, 15 Maret 2013. Adik, sahabat, anak kesayangan semua orang menghembuskan napas terakhirnya di meja operasi.
Dari : Dave
Cha, mungkin abis ini, agak sulit buat km hubungi aku.
Aku cuma mau instrospeksi diri soal hbngn kita.
Jantung Echa berdebar kencang saat melihat isi pesan David. Dia yang mulai memiliki perasaan padanya pun merasa gelisah, apalagi setelah dengan berani, David yang sebenarnya tidak diperbolehkan pulang ke Indonesia karena terikat kontrak beasiswanya di Korea, nekat mendatangi orangtua Echa dan melangsungkan pertunangan dalam waktu yang sangat amat singkat yaitu, tiga hari. Dan setelah itu, David kembali melanjutkan studinya.
Ke : Dave
Mksd km gmana? Km mau putus?
“Ko, aku udah mutusin Echa.”
Sontak kopi yang diminum Garra pun tersembur.
“Apa pula?!” sahut Garra setengah berteriak.
“Aku mau nyari jantung baru. Mudahan bulan tiga udah ketemu.”
Sempat kalimat itu dianggap remeh Garra, sampai tepat bulan tiga yang disebut David itu pun tiba.
“Ko, semangat.”
Garra yang baru tiba di rumah sakit setengah jam sebelum David masuk ke ruang operasi pun hanya bisa terdiam. Sama sekali tidak ada terbesit dalam benaknya jika yang diucapkan Sang Adik lima bulan lalu adalah hal yang serius. Dan saat pintu ruang operasi tertutup, kegelisahan Garra semakin bertambah besar. Dia sontak menghubungi Siryl dan menjelaskan semuanya.
“Astaga, jadi, sudah masuk?”
“Iya, Ce. Aku juga kaget. Sung Jae ngehubungin aku pas dua jam sebelum masuk. Dia bilang, kemaren mau nginep tempat Sung Jae karena ada proyek.”
“Terus, Sung Jae-nya di sana pas kamu dateng?”
“Gak, Ce. Sung Jae betulan ada proyek dan dia dinas luar dari lusa. Dia ceritain semuanya karena gak enak David sendirian selama ngejalanin ini. Dia tau semua dari awal rencana Titi. A, aku juga tau. Lima bulan lalu dia bilang mau nyari jantung baru setelah mutusin Echa. Aku kira cuma becanda. Aku kira dia kecantol cewe sini. Tapi, ternyata beneran jantung baru, Ce.”
“Lah? Mereka udah tunangan. Kenapa pula dia mutusin Echa?”
“Dia mau ngasi kejutan, Ce. Dia mau bener-bener sehat. Ce, kalo Titi kenapa-kenapa aku mesti kaya apa, Ce?”
“Haaa…” Siryl hanya menghela napas pelan, “udah. Tenang. Banyak-banyak doa. Jam berapa dia masuk tadi? Kira-kira berapa jam selesainya?”
“Jam sembilan barusan dia masuk. Kalo gak ada halangan, selesai jam lima sore. Tapi, betulan perasaanku gak enak, Ce. Tolong, Ce. Aku takut.”
“Berdoa yang banyak. Tuhan jaga dia. Jadi, Om, Tante, Ce Jeje gak tau soal ini?”
“Gak ada, Ce. Betul-betul dia kerjain semua sendiri.”
Lagi, diantara kegelisahan Garra yang hampir menangis, Siryl pun menghela napas pelan.
“Udah. Banyak-banyak doa. Matikan dulu teleponnya. Biar Cece jelasin sama orang rumah. Kamu yang tenang.”
Dan untuk seluruh hal yang terlihat sangat amat sempurna dari rencana manusia, akhirnya semua hanya menyisakan kesedihan mendalam bagi beberapa orang… 20 Desember 2016.
“Apa ini, Gar?”
“Hadiah tipis-tipis karena udah lulus.”
Segera, Echa membuka tas yang berukuran cukup besar yang Garra berikan padanya. Ada boneka pinguin biru, binder ungu dan seperangkat alat tulis bercorak bintang.
“Kamu suka nulis. Aku cuma bisa kasih itu. Mudahan gak terlalu berlebihan dan kamu suka.”
Sesaat, Echa tersenyum.
“Aku denger kamu mau nikah,” tegur Garra lagi.
“Itu cuma desakan Mama,” sahut Echa melemah, “tapi, kalo aku ketemu yang cocok. Gak ada salahnya buka hati lagi.”
Senyum tipis yang terukir di wajah Echa membuat Garra sesaat terdiam dengan rasa iba. Cukup lama mereka saling diam menikmati hidangan masing-masing. Sesekali Echa memperhatikan sekitarnya sementara, Garra tetap memperhatikannya walau ada masa di mana dia mengalihkan pandangan agar gadis di depannya tidak mengetahui tindakannya.
“Istrimu gak marah kalo ketemuan sama aku?”
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Garra seketika mengerjap cepat tatkala dibalik perhatian yang ia berikan sedari tadi ada airmata yang telah terkumpul di pelupuknya.
“Oh! Gak. Aku udah izin tadi,” sahut Garra yang berusaha mengalihkan pandangan dan meneguk habis jus jeruknya, “mau pulang sekarang?”
Melihat reaksi Garra yang tiba-tiba berdiri dari duduknya membuat Echa juga bergegas menyedot habis minumannya. Dan dengan terburu-buru mereka menuju ke parkiran.
“Aku gak antar ya, Cha. Maaf.”
Mereka yang sudah menaiki motor masing-masing pun tampak saling menyimpan kebingungan dan Echa hanya mengiyakan pernyataan Garra. Namun, beberapa menit setelah Echa meninggalkannya, Garra menghela napas pelan dan tanpa sepengetahuannya, dia mengiringi Echa. Memastikan gadis itu sampai ke kontarakannya dengan selamat.