Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 10-
Tidak banyak orang yang tahu tentang penangkapan kepala sekolah, para guru mengatakan kalau kepala sekolah hanya sedang dinas ke luar kota dan tidak ada di tempat untuk saat ini. Indira juga belum kembali dari dinas luar kotanya. Hingga 3 hari kemudian hasil pemeriksaan sampel yang diambil akhirnya keluar. Seperti dugaan semua orang orang yang dimakamkan atas nama Wijaya Kusuma memang bukan lah korban, melainkan orang lain yang tampaknya sengaja dihabisi untuk menutupi kasus ini. Dan kasus Yuan pun demikian, dia memang meninggal dalam kondisi hamil dan tidak ditemukan indikasi racun atau penganiayaan yang terjadi.
Bima dan Stevani secara pribadi mengirim data itu ke rumah korban dan keduanya memiliki reaksi yang hampir sama. Diawali dengan tangisan dan rasa lega namun penuh dengan kekecewaan. Keluarga Yuan meminta pertolongan untuk menyelidiki kasus ini sedangkan keluarga Wijaya Kusuma tidak mempermasalahkan jika memang putrinya tidak ditemukan.
“Pak menurutmu kenapa keluarga Wijaya Kusuma tidak menuntut keadilan?” tanya Andi pada Bima. Saat ini mereka tengah menunggu Andre dan Daniel di cafe kecil di dekat sekolah. Stefani sudah kembali ke Rumah Sakit untuk melanjutkan shift kerjanya.
“Mana aku tahu” jawab Bima malas.
“Apakah itu sifat yang dilakukan oleh seorang penyidik pak?” tanya Daniel yang baru datang bersama Andre. Dia mengambil dokumen yang diletakan di meja dan membukanya.
“Heh, itu dokumen rahasia kepolisian tidak boleh dibaca oleh sembarang orang” protes Andi. Dia berusaha mengambil dokumen itu dari Daniel.
“Sudahlah biarkan saja, mereka yang membantuku memecahkan kasus terakhir” ucap Bima menghentikan pergerakan Andi. Dia mengabaikan tatapan tidak percaya Andi dan memesan beberapa makanan ringan untuk mengganjal perut.
“Dalam dokumen penyidikan ini jelas tertulis kalau Wijaya Kusuma sebenarnya telah pergi 18 tahun yang lalu dan kembali setiap 2 tahun sekali. Pihak keluarga melaporkan kehilangan itu karena dia tidak kembali sesuai jadwal dan lost kontak. Mungkin kah pihak keluarga berpikir kalau putrinya sebenarnya masih hidup?” tanya Daniel.
“Ya mungkin keluarga berpikir seperti itu. Yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah di mana sebenarnya Wijaya Kusuma dan mengapa pihak kepolisian menutupi kasus ini dan menggunakan orang lain untuk menggantikan jasad?” bingung Bima.
“Bapak bekerja sebagai polisi, masa tidak tahu apa yang menjadi motif terbesar penyidik” ucap Daniel tanpa rasa bersalah. Ia menguap seperti kucing yang baru bangun tidur.
“Apa maksudnya apa kamu sedang menuduh kepolisian berbuat hal yang tidak baik?” tanya Andi sedikit kesal. Warga sipil di hadapannya hanya lah seorang siswa SMA bagaimana mungkin ia bisa mengatakan hal yang seenteng itu.
“Ya memang bapak tidak berpikir sampai ke situ? Faktanya memang demikian kan? Manipulasi data, kenaikan jabatan, bahkan sampai penggantian korban. Mungkin atasan bapak juga terlibat dalam kasus ini, dokter forensik yang menjadi pembedah mayat juga perlu dicurigai, mengapa ia dengan mudah bisa memanipulasi data?” jawab Daniel sekali lagi. Ia membaca sekali lagi dokumen kasus itu dan meletakkannya ke atas meja dengan sedikit keras.
“Aku tidak menyangka jika kepolisian bisa jadi tempat yang seburuk itu. Orang yang menangani kasus ini adalah Indira dan dokter forensik yang bertanggung jawab adalah atasan lama Stefani. Indira dengan kenaikan jabatannya dan dokter senior itu dengan pensiun dininya” ucap Bima kepada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk didengar oleh semua orang.
“Indira itu atasan Om Bima, lalu nama kepala sekolah itu Indra, siapa nama dokter yang mengatasi masalah itu? Mereka tampaknya mendapatkan keuntungan di saat yang sama” tanya Andre yang sejak awal diam mendengarkan.
“Inara” jawab Bima tanpa minat.
Namun setelah mengatakan nama itu Bima dan Andi saling pandang. Seolah ada sebuah kabel putus yang akhirnya ditemukan sambungannya, tanpa diminta Andi segera mengambil laptop yang ia letakan di mobil. Ia membuka web yang menampilkan data kependudukan dan memasukan data orang-orang yang mereka bicarakan. Data ke-tiga orang ini telah masuk ke daftar kepolisian jadi hal yang mudah mendapatkan data pribadi mereka.
“Pak, menurut data kependudukan mereka ber-tiga tadinya memiliki satu Kartu Keluarga yang sama dan terpecah begitu menikah. Namun dalam data terakhir Indra Hermawan tidak tercatat pernah menikah tapi dia punya seorang anak yang bernama Vito Hermawan” ucap Andi setelah mendapatkan beberapa data.
“Dan Vito Hermawan itu adalah siswa yang ditangkap karena kasus pembunuhan di halaman belakang sekolah itu kan?” Tanya Bima pada Andre.
“Iya, gosip di sekolah juga bilang kalau dia adalah anak kandung kepala sekolah. Makanya kami heran mengapa kepala sekolah masih menjabat setelah kelakuan anaknya diketahui” jawab Andre.
“Pak coba perhatikan foto Vito Hermawan ini, apakah Bapak tidak pernah melihat wajah yang mirip seperti dia?” Sela Daniel bertaya.
Bima memperhatikan foto Vito yang terpampang dalam laptop Andi dengan seksama. Sepertinya ia memang pernah melihat wajah anak ini, tapi dimana? Bukan kembar hanya mirip, seperti keturunan. Matanya berkedut dan mengambil dokumen yang tadi di lempar Daniel. Ia membuka bagian yang menampilkan foto Wijaya Kusuma dan mencocokkannya dengan foto Vito. Mereka punya senyum yang identik dengan mata yang cerah, hidung yang mancung dan berambut lurus berwarna coklat gelap.
“Mereka sangat mirip” ucap Andi kaget.
“Ya meski begitu kita tidak bisa memastikan juga, Wijaya Kusuma belum ditemukan. Bagaimana caranya tes DNA dilakukan?” Tanya Bima kehilangan semangat.
“Pak Bima tidak ingin memastikan apakah Vito itu benar-benar anak kepala sekolah atau bukan? Lalu apakah bapak sudah menggeledah kantor kepala sekolah? Mungkin saja ada yang akan Bapak temukan disana, beberapa waktu yang lalu kami menemukan suatu kejanggalan di kantor kepala sekolah. Bau yang tidak sedap bercampur dengan aroma kopi dan bunga sedap malam keluar dari ruangan itu, itu membuatku sedikit curiga” ucap Daniel.
“Ah, aku juga ingat. Saat perkemahan kemarin memang ada bau aneh berasal dari ruang kepala sekolah. Seperti bangkai yang sudah lama membusuk, tapi aku ingat ada tikus mati di dalam sana” sambung Andre.
“Tikus mati di ruang kepala sekolah, sedikit aneh. Lingkungan sekolah kalian bersih dan aku tidak menjumpai selokan yang kotor darimana asalnya tikus itu?” jawab Andi menganalisis.
“Sudah tidak usah memperpanjang analisis, Andi segera bawa beberapa orang untuk menggeledah kantor kepala sekolah dan segera laporkan kepadaku, aku perlu memberi tahu mereka tentang kasus yang mereka minta” perintah Bima. Sebenarnya ia sedang mengusir Andi.
Andi segera menjalankan tugasnya dan kembali ke sekolah. Meninggalkan Bima dan 2 orang siswa SMA yang penuh dengan semangat. Mungkin hanya Andre yang bersemangat, Daniel sudah menguap sejak tadi.
“Jadi bagaimana hasil pemeriksaan teman kami?” tanya Andre.
“Seperti apa yang kalian duga sebelumnya, dia memang benar-benar sedang hamil. Kami tidak melakukan otopsi dan menurut sample yang diteliti tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam kematiannya. Itu murni kecelakaan” jawab Bima sambil menunjukkan map berisi dokumen hasil pengecekan sampel.
“Apakah pelakunya bisa diketahui?” Tanya Andre lagi.
“Jika kau menemukan kekasih atau mantannya kita bisa melakukannya pengecekan DNA dan akan tahu apakah salah satu pelakunya adalah mereka atau bukan” jawab Daniel malas. Ia sudah hampir tertidur di kursinya.
“Sebenarnya kami sudah melakukan pengecekan pada 3 orang yang terakhir terlibat dengan Yuan, orang tuanya telah memberi kami akses. Namun semua hasilnya tidak cocok. Kau bisa membaca 3 halaman terakhir dari dokumen itu, jangan menjadi pemalas” ucap Bima sedikit kesal.
“Hah, yang benar saja Om?” Teriak Andre kaget. Ia dengan segera membuka dokumen itu dan membuka halaman terakhir. Benar saja 3 nama mantan kekasih Yuan yang mereka kenal tertera di halaman itu dan hasilnya memang tidak cocok.
“Jadi Arfian bukan pelakunya?” gumam Andre.
“Mungkin kakaknya Yuan hanya curiga dan tidak tahu kebenaran, Pak boleh kita minta dokumen ini untuk diserahkan pada pihak keluarga?” tanya Daniel sedikit lebih bersemangat.
“Kami sudah membicarakan hal ini pada keluarganya dan hasilnya mereka tidak mempercayai apa yang kami katakan” jawab Bima kesal.
“Arwah Yuan tidak akan tenang jika keluarganya masih menganggap pelakunya adalah mantan kekasih Yuan karena memang bukan mereka pelakunya. Yuan seperti memang menjebak orang itu agar mau menjadi pasangannya, dan kebetulan saja kecelakaan itu terjadi” ucap Daniel sekali lagi menguap. Ia mengeliatkan badannya seperti kucing yang baru bangun tidur. Mengaburkan gambaran pewaris kaya yang selama ini digambarkan semua orang.
“Bagaimana kau tahu itu?” Tanya Andre ragu.
Daniel tidak menjawab, ia membuka tasnya dan mengambil sebuah buku tulis berwarna merah muda bertuliskan buku Bahasa Indonesia.
“Aku mendapatkan buku itu dari guru Bahasa Indonesia, tugas terakhir kalian di kelas 10 adalah membuat novel, tapi novel yang Yuan tulis itu rencana besarnya. Dia tidak ingin menuntut keadilan karena sebenarnya ia lah pelaku utamanya. Itu lah penyebab utama mengapa arwahnya begitu pemalu, ia ingin keluarganya berhenti menuduh orang lain atas kesalahannya” jelas Daniel.
Andre merasa fakta ini begitu berat diterima. Dia tidak menyangka kelakuan temannya ini begitu di luar nalar. Kelakuan benar-benar tidak mencerminkan anak SMA.
“Ndre kamu ketua kelas saat itu, mungkin keluarga Yuan akan lebih mempercayai kata-kata mu” ucap Bima sambil meminum kopi di cangkirnya.
“Kenapa harus aku?” Tanya Andre keras.
Bima belum sempat menjawab pertanyaan Andre, saat teleponnya berbunyi dengan suara nyaring. Andi menelfonnya dalam waktu yang singkat, apa dia sudah menemukan sesuatu?
“Halo, apa kau menemukan sesuatu disana?” Tanya Bima keras
“Pak, ditemukan mayat manusia di ruang kepala sekolah. Jika dilihat dari kebaya yang dipakai oleh korban kmungkinan besar itu adalah mayat Wijaya Kusuma” lapor Andi tegas.
Hanya kalimat itu yang sampai ke telinga Bima, ia tidak lagi mendengarkan laporan Andi selanjutnya. Daniel yang mendengar sekilas suara laporan itu menyeringai kecil.
“Sepertinya bapak harus bersiap dianggap pengkhianat jika kasus ini terungkap ke publik” ucap Daniel serius.
“Apa maksudnya?” Tanya Andre ketika melihat Bima hanya diam.
“Kau ingat kasus ibunya Vito yang diduga hilang?” ucap Daniel balik bertanya.
“Ya” jawab Andre bingung.
“Pak Bima juga menyelidiki kasus orang hilang bernama Wijaya Kusuma, dan dianggap selesai setelah kasusnya berpindah tangan. Aku benarkan Pak Bima?” Tanya Daniel lagi.
“Ya” jawab Bima sambil mengusap wajahnya.
“Wijaya Kusuma dan ibunya Vito itu satu orang yang sama dan jasadnya ditemukan di ruang kepala sekolah saat ini, itu adalah arwah yang aku ceritakan tempo hari” ucap Daniel tenang.
“Dan, kau membuatku bingung apa kaitannya? Dan tunggu apa, mayat di rumah kepala sekolah yang benar saja?” Tanya Andre heboh.
“Wijaya Kusuma itu Ibu Vito dan aku curiga kepala sekolah tidak menikahinya secara sah. Jika dilihat dari umur Vito yang sudah 17 tahun dan umur Wijaya Kusuma yang masih 32 tahun, itu artinya dia hamil saat usianya 15 tahun. Jika perkiraanku tidak salah Wijaya Kusuma sudah meninggal saat kasus hilangnya dirinya mencuat, dan pelakunya adalah kepala sekolah. Kepala sekolah tidak ingin terkena pasal berlapis akhirnya meminta pertolongan dari 2 saudara perempuanya yang kebetulan adalah polisi dan dokter forensik. Itu yang membuat kasusnya lepas dari tangan Pak Bima. Jika perkiraanku tidak salah maka polisi itu seharusnya sudah menjadi atasan Pak Bima saat ini” jelas Daniel. Ia memperhatikan Bima dan Andre yang mendengarkan sambil berpikir.
“Itu benar, Indira saat ini menjadi atasanku. Dokter forensik itu juga sudah pensiun dini setelah menerima kompensasi terakhir” ucap Bima lelah. Ia mengingat Andi yang mendapat surat perintah dari Pak Sigit bukan Indira, mungkin jika saat itu Indira tidak melakukan pekerjaan dinas kasus ini tidak akan pernah terkuak. Dengan kesal ia mengebrak meja kafe dengan tinjunya, mengabaikan begitu banyak orang yang melihatnya.
“Dan, maksudmu kepala sekolah berada satu kantor dengan mayat selama 6 bulan?” tanya Andre ngeri.
“Ya, bau busuk yang ditutupi dengan bunga sedap malam dan kopi saat perkemahan itu bukan berasal dari bangkai tikus, tapi jasad itu karena mati listrik AC dalam ruangan mati dan yang membuat penguapan udara lebih cepat. Dan kau ingat cerita Ilyas yang mendengar pertengkaran antara kepala sekolah dan Vito saat motormu hancur, kepala sekolah bilang ‘kau lihat anakmu sungguh keterlaluan’ dia sedang berbicara dengan mayat itu” jawab Daniel lagi.
“Itu menjijikan, pantas saja aku selalu merinding setiap kali masuk ke ruangan itu” ucap Andre merinding.
“Kepala sekolah ini, dia sudah terkena pasal berlapis, menghamili anak dibawah umur, pengimpor utama rokok ilegal, pembunuhan berencana, lalu upaya menutupi kejahatan untuk mengacaukan penyidikan. Yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah, mengapa ia harus repot-repot menyimpan mayatnya? Dokter forensik itu adalah saudaranya dia tidak akan mengungkapkan data aslinya” ujar Bima kesal.
“Karena kepala sekolah sebenarnya tidak ingin kehilangan Wijaya Kusuma, dengan menempatkan jasadnya di ruang kerjanya ia akan selalu merasa kesayangannya ada didekatnya” jawab Daniel, mengabaikan keterkejutan Bima dan Andre.
“Itu gila, wanita itu sudah menjadi mayat dan dia sendiri yang menjadi pembunuhnya” ujar Andre keras.
“Aku tidak tahu, coba saja periksa kejiwaan kepala sekolah. Mungkin kalian akan menemukan sesuatu yang penting” jawab Daniel sambil kembali menguap.
Bima hanya diam mendengarkan kedua siswa SMA ini berdebat. Saat ini otaknya hanya terisi oleh sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan. Betapa bobroknya kepolisian sebenarnya, bisa-bisanya Indira melakukan hal sekeji itu hanya untuk naik jabatan? Menyadari sesuatu yang penting ia dengan segera menelfon Andi.
“Cari seorang reporter surat kabar untuk mengungkap fakta ini setelah semuanya lengkap!” perintah Bima
“Tapi pak jika berita ini terungkap masyarakat tidak akan lagi mempercayai kepolisian” keluh Andi di seberang telepon.
“Aku tidak peduli, ini adalah kebenaran, biarkan orang-orang yang bersalah menerima hukuman yang setimpal” teriak Bima keras.