Di masa lalu, Sheng Long adalah Kaisar Iblis Kuno terkuat yang pernah ada. Kekuatannya begitu mengerikan hingga seluruh ras bersatu hanya untuk satu tujuan—menyegelnya selamanya.
Menolak tunduk pada takdir, Sheng Long membelah jiwanya dan bereinkarnasi demi menghindari segel tersebut. Ia terlahir kembali sebagai putra Keluarga Shen, namun dengan harga yang kejam. Kekuatan masa lalunya tersegel, tubuhnya lemah, dan ia dicap sebagai tuan muda sampah yang sakit-sakitan.
Menganggap keberadaannya sebagai aib, keluarganya menikahkannya dengan seorang gadis sederhana yang tak memiliki latar belakang apa pun. Namun justru dari gadis itulah, Shen Long merasakan kehangatan dan ketulusan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan arti kebahagiaan.
Sayangnya, kebahagiaan itu menjadi dosa di mata keluarganya.
Didorong oleh iri dan kebencian, mereka merebut gadis itu dari hidupnya. Tindakan kejam tersebut menghancurkan segel yang membelenggu jiwa Sheng Long. Kaisar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Penghapusan jejak
Suasana di lapangan utama Sekte Pedang Langit menjadi mencekam. Tiga Tetua Agung yang biasanya dihormati seperti dewa oleh para murid, kini bersujud gemetar di kaki Lei Zu yang terkapar. Pengkhianatan ini menjadi jelas; sekte ini hanyalah topeng bagi operasi gelap Ras Dewa di Alam Kedua.
"Bantu aku! Bunuh dia!" raung Lei Zu sambil memuntahkan darah emas.
Shen Long menatap pemandangan itu dengan sorot mata yang mengerikan. "Jadi, sekte yang selama ini dianggap suci oleh ribuan murid hanyalah kandang bagi anjing-anjing Dewa? Menyedihkan."
"Berhenti, Iblis!" salah satu Tetua Agung bangkit, mencoba menyerang dengan pedang cahayanya. "Kau telah menodai tempat suci ini!"
Shen Long bahkan tidak menoleh. Ia hanya mengibaskan tangan kirinya. Sebuah gelombang energi hitam berbentuk sabit melesat, memotong tubuh ketiga tetua itu menjadi potongan-potongan kecil dalam sekejap. Darah mereka menyirami lapangan, membasahi sepatu para murid yang terpaku dalam horor.
"Long... hentikan..."
Suara gemetar Mu Rong terdengar di antara isak tangisnya. Ia berjalan mendekat dengan langkah limbung, matanya menatap Shen Long dengan penuh luka. "Siapa kau sebenarnya? Di mana Long yang kukenal? Orang yang baru saja kau bunuh adalah guruku... kenapa kau melakukan ini?!"
Shen Long perlahan menoleh. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kehangatan atau kesedihan. Hanya ada kekosongan yang dingin.
"Long yang kau kenal tidak pernah ada, Mu Rong," suara Shen Long datar, tanpa emosi sedikit pun. "Dia hanyalah topeng kayu yang kupakai untuk bernapas di tempat sampah ini. Kau tidak mencintai seorang pelayan, kau mencintai sebuah kebohongan."
"Tidak! Kau berbohong!" jerit Mu Rong, air matanya tumpah. "Perhatianmu, puisi itu... itu tidak mungkin palsu!"
Shen Long berjalan melewati Mu Rong seolah gadis itu hanyalah udara. Ia berdiri di depan Lei Zu yang sedang merangkak kabur. Tanpa kata, Shen Long menghujamkan pedang Pembantai Surga tepat ke punggung sang Jenderal Dewa, menembus jantungnya hingga ke tanah.
"AAARRGGHHH!" Lei Zu menjerit untuk terakhir kalinya sebelum jiwanya dihisap habis oleh pedang itu.
Setelah menghabisi musuh kunonya, Shen Long berbalik menghadap ribuan murid sekte yang masih gemetar. "Kalian semua telah melihat apa yang tidak seharusnya dilihat. Kalian telah menghirup udara yang sama dengan pengkhianat."
Ia mengangkat tangannya ke langit. Awan hitam raksasa mulai berputar di atas sekte, melepaskan petir-petir hitam yang menghantam setiap bangunan. Satu per satu murid sekte meledak menjadi debu saat terkena tekanan aura Jiwa Sejati milik Shen Long. Ia melakukan pembantaian massal dengan efisiensi yang menakutkan, tanpa sedikit pun keraguan.
Mu Rong bersimpuh di tengah mayat-mayat rekannya, menatap Shen Long dengan tatapan hancur. "Bunuh aku juga... jika kau memang monster, bunuh aku sekarang!"
Shen Long berdiri di depannya. Ia menatap Mu Rong, namun bukan dengan benci, melainkan dengan ketidakpedulian yang jauh lebih menyakitkan daripada kebencian.
"Membunuhmu adalah pemborosan energi," ucap Shen Long dingin. "Tapi membiarkanmu membawa ingatan tentangku adalah ancaman bagi perjalananku."
Shen Long mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya di dahi Mu Rong.
"Tidak! Jangan!" Mu Rong mencoba berontak, namun tubuhnya kaku di bawah tekanan gravitasi Shen Long.
"Seni Iblis: Penghapusan Esensi Memori."
Cahaya hitam masuk ke dalam mata Mu Rong. Shen Long menarik paksa setiap detik kenangan tentang dirinya dari jiwa Mu Rong—mulai dari pertemuan di hutan, momen di perpustakaan, hingga pernyataan cinta itu. Ia menghapus keberadaan Long dari garis hidup gadis itu tanpa sisa.
Mata Mu Rong perlahan menjadi kosong. Ia jatuh pingsan di atas tanah yang berlumuran darah.
"Anggap saja sebagai tanda terima kasih dariku karena kau telah membantunya."
Shen Long berdiri, menarik kembali auranya. Di sekelilingnya, Sekte Pedang Langit kini hanyalah puing-puing yang terbakar. Ribuan nyawa telah hilang dalam hitungan menit.
Ia melihat jepit rambut Lin Er di sakunya, lalu menatap tubuh Mu Rong yang tergeletak untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa cinta. Hanya ada satu tujuan: Puncak Abadi.
"Satu musuh jatuh, ribuan lainnya menunggu di Alam Kedua ini." gumam Shen Long. Tubuhnya perlahan menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan kehancuran total di belakangnya.
Beberapa jam kemudian, Mu Rong terbangun di tengah reruntuhan. Ia melihat sekeliling dengan bingung. Ia ingat sektenya diserang, tapi ia tidak ingat oleh siapa. Ia merasa ada lubang besar di hatinya, sesuatu yang sangat berharga telah hilang, tapi ia tidak tahu apa itu.
Sementara itu, di sebuah istana terapung di pusat Alam Kedua, seorang pria berjubah naga perak membuka matanya. "Lei Zu telah tewas... Iblis itu telah sampai di sini."