Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Ruang Makan
Setelah kepulangan dari Bali, Gavin dan Odelyn memutuskan untuk mengadakan makan malam keluarga besar untuk mengumumkan kehamilan dan rencana pernikahan mereka.
Tapi, suasana yang seharusnya hangat justru membeku seketika.
Ibu Gavin, Mrs. Danu, meletakkan sendok peraknya dengan denting yang tajam. Ia menatap perut Odelyn yang mulai terlihat, lalu menatap Odelyn dengan tatapan menghina yang sama seperti dua tahun lalu.
"Jadi... ini taktik kamu sekarang, Odelyn?" suara Mrs. Danu dingin.
"Dulu kamu pergi karena nggak level, sekarang kamu balik lagi dan 'menjebak' anak saya dengan kehamilan supaya bisa masuk ke keluarga G-Corp? Benar-benar licik."
Gavin baru saja akan membela, tapi ayah Odelyn, Mr. Wijaya, yang selama ini diam, ikut menggebrak meja.
"Cukup!" teriak Mr. Wijaya.
Ia menatap Gavin dengan kebencian mendalam.
"Kamu pikir saya sudi punya menantu yang dulu membuang anak saya seperti sampah? Saya sudah tahu semuanya, Gavin. Odelyn hampir mati gara-gara kamu dulu. Sekarang kamu mau jadi pahlawan? Saya lebih rela Odelyn jadi single parent daripada terikat sama keluarga kalian!"
Makan malam itu berubah jadi ajang saling lempar kesalahan.
Ibu Gavin merasa Odelyn adalah "wanita ambisius yang berbahaya", sementara Ayah Odelyn merasa Gavin adalah "pria tidak bertanggung jawab yang tidak layak mendapatkan kesempatan kedua".
"Gavin, kamu ikut Mama pulang sekarang!" perintah Mrs. Danu.
"Kita bisa urus anak itu secara finansial tanpa kamu harus menikahi wanita ini."
"Papa juga nggak akan pernah kasih restu!" sahut Mr. Wijaya.
"Odelyn, kemas barang kamu. Kita balik ke London atau tetap di Singapura, asal jangan sama dia!"
Odelyn merasa mualnya kembali menyerang, tapi kali ini bukan karena hormon kehamilan, melainkan karena stres yang memuncak. Ia berdiri perlahan, memegangi pinggiran meja.
Wajahnya yang tadi lembut kini kembali memancarkan aura Mastermind yang dingin.
"Cukup. Semuanya diam," suara Odelyn tidak keras, tapi sanggup membungkam ruangan itu.
Odelyn menatap Mrs. Danu dan ayahnya bergantian.
"Dengar, Mrs. Danu. Saya tidak butuh harta G-Corp. Kekayaan pribadi saya saat ini sanggup membeli setengah saham perusahaan Anda. Jadi tolong hentikan narasi 'menjebak' itu, karena itu sangat merendahkan kecerdasan saya."
Lalu ia beralih ke ayahnya.
"Dan Papa... Gavin memang salah di masa lalu. Tapi dia yang mempertaruhkan nyawa di London demi menyelamatkan aset kita. Kalau Papa mau benci dia, Papa juga harus benci saya, karena saya yang mengirim dia ke sana."
Odelyn menatap Gavin, lalu kembali ke orang tua mereka.
"Pernikahan ini akan tetap terjadi setelah anak ini lahir. Dengan atau tanpa restu kalian. Kami bukan anak kuliah yang bisa kalian atur lagi. Kami adalah partner, dalam bisnis maupun dalam hidup."
Namun, drama tidak berhenti di sana. Keesokan harinya, Ibu Gavin mulai bermain kotor.
Ia menggunakan koneksi medianya untuk menyebarkan isu "Pewaris G-Corp di Luar Nikah" untuk menjatuhkan nilai saham perusahaan Odelyn, sebagai gertakan agar Odelyn mundur.
Di saat yang sama, Ayah Odelyn memutus semua akses dukungan logistik keluarga Wijaya untuk proyek terbaru Odelyn. Mereka benar-benar dijadikan musuh oleh orang tua mereka sendiri.
Gavin berdiri di depan jendela kantor Odelyn, melihat berita-berita negatif tentang mereka di TV. Ia mendekati Odelyn dan memeluknya dari belakang.
"Lyn, maafin orang tua gue. Gue nggak nyangka nyokap bakal sejahat itu buat misahin kita," bisik Gavin penuh penyesalan.
Odelyn memejamkan mata, bersandar pada dada Gavin.
"Mereka pikir ini bakal bikin kita pecah, Vin. Mereka nggak tahu kalau kita udah ngelewatin hal yang jauh lebih parah dari sekadar omongan orang."
Gavin mencium pelipis Odelyn.
"Kita harus buktiin ke mereka, Lyn. Kita bakal bikin pernikahan ini bukan cuma soal cinta, tapi soal kekuatan yang nggak bisa mereka sentuh."
Media di Singapura dan London sedang hiruk-pikuk memberitakan isu "Kehamilan di Luar Nikah" Odelyn. Saham Odelyn Global Corp sempat goyang akibat ulah Ibu Gavin. Namun, Odelyn tidak bersembunyi.
Ia justru mengundang seluruh media ke sebuah acara pertunangan mewah yang ia rancang sendiri dalam waktu 24 jam.
Di tengah acara yang disiarkan langsung itu, Odelyn berdiri di panggung dengan gaun satin merah yang mempertegas kehamilannya. Ia tidak terlihat malu; ia terlihat seperti dewi.
"Banyak yang bertanya soal moralitas dan restu," ucap Odelyn dingin ke arah kamera.
"Tapi bagi saya, keberanian untuk bertanggung jawab jauh lebih mulia daripada kemunafikan yang dibungkus restu. Malam ini, saya tidak hanya mengumumkan pertunangan saya dengan Gavin, tapi saya juga mengumumkan kolaborasi baru."
Tiba-tiba, layar besar di belakang Odelyn menyala. Grandmother Vandermere muncul melalui panggilan video dari London.
"Saya, sebagai kepala keluarga Vandermere, memberikan dukungan penuh dan proteksi finansial bagi Odelyn dan calon cicit angkat saya," ucap sang Nenek dengan otoritas yang membuat Ibu Gavin di barisan depan pucat pasi.
"Siapa pun yang menyerang Odelyn, berarti menyerang Vandermere."
Ibu Gavin dan Ayah Odelyn terduduk kaku. Mereka tidak menyangka Odelyn memiliki "kartu as" sehebat keluarga konglomerat Eropa tersebut.
Namun, kemenangan di atas panggung itu harus dibayar mahal.
Begitu lampu kamera mati dan mereka masuk ke belakang panggung, pertahanan fisik Odelyn runtuh. Stres berhari-hari, serangan media, dan tekanan dari orang tua akhirnya membuat tubuhnya menyerah.
"Gavin... perut gue..." gumam Odelyn pelan. Wajahnya mendadak seputih kertas.
Gavin dengan sigap menangkap tubuh Odelyn yang limbung. Ia melihat bercak darah di lantai.
"Lyn! Dokter! Panggil dokter sekarang!" teriak Gavin histeris.
Odelyn dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Di ruang tunggu, terjadi pemandangan yang memilukan.
Gavin berdiri di depan ibunya dan ayah Odelyn dengan mata yang menyala karena amarah dan air mata.
"Puas?!" bentak Gavin.
"Ini yang kalian mau? Kalian mau bunuh anak gue dan wanita yang gue cintai cuma demi ego dan nama baik?! Kalau terjadi sesuatu sama mereka, gue bersumpah... gue nggak akan pernah anggap kalian orang tua gue lagi!"
Melihat Gavin yang begitu hancur dan Odelyn yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang operasi, keangkuhan Ibu Gavin dan Ayah Odelyn perlahan luruh.
Mereka sadar bahwa kebencian mereka hampir saja merenggut nyawa keturunan mereka sendiri.
Tiga jam yang mencekam berlalu. Dokter keluar dengan wajah lelah namun lega.
"Ms. Odelyn dan bayinya berhasil diselamatkan. Tapi dia harus bedrest total sampai persalinan. Tidak boleh ada stres sedikit pun."
Ibu Gavin mendekati pintu kaca ICU, melihat Odelyn yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis. Ia kemudian menatap Gavin yang duduk di lantai sambil menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya, Mrs. Danu menyadari bahwa Gavin benar-benar telah berubah menjadi pria yang tulus.
Esok paginya, saat Odelyn mulai sadar, ia menemukan ayahnya dan Mrs. Danu berdiri di ujung ranjang dengan wajah penuh penyesalan.
"Odelyn..." Ayah Odelyn memegang tangan putrinya.
"Papa minta maaf. Papa terlalu fokus pada luka lama sampai lupa kalau kamu berhak bahagia dengan pilihan kamu sendiri."
Ibu Gavin pun melangkah maju, ia meletakkan sebuah kotak perhiasan kuno milik keluarga Danu di meja samping tempat tidur.
"Saya nggak akan bilang saya setuju dengan semua cara kamu, Odelyn. Tapi kamu sudah membuktikan kalau kamu punya nyali yang lebih besar dari saya. Jaga anak itu. Dia... cucu pertama saya."
Odelyn hanya tersenyum tipis, matanya beralih ke Gavin yang sedang menggenggam tangannya yang lain.
"Kita menang, Vin," bisiknya lirih.
Gavin mencium dahi Odelyn lama sekali.
"Kita menang, sayang. Dan kali ini, nggak akan ada lagi yang bisa ganggu kita."