NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Hak Akses Sang Anomali

Ruangan putih itu luasnya nggak masuk akal. Nggak ada dinding, nggak ada langit-langit, cuma hamparan botol-botol kaca yang melayang sejauh mata memandang.

Setiap botol isinya adalah potongan kehidupan manusia yang udah "dipanen" sama mereka. Ada botol yang isinya hiruk-pikuk kota London, ada yang isinya ketenangan sawah di Jawa Tengah, dan tepat di depan Adrian, melayang botol yang paling indah: Malabar.

Tapi di antara mereka dan Malabar, berdiri sesosok raksasa cahaya. Dia nggak punya wajah, nggak punya baju, cuma siluet putih yang silaunya minta ampun. Di tangannya ada sebuah palu besar yang kelihatannya berat banget, terbuat dari kode-kode digital yang terus mengalir.

"Berhenti, Subjek 17.4," suara Raksasa Cahaya itu datar, tanpa emosi, kayak suara robot pembaca navigasi tapi versi yang bikin bulu kuduk berdiri. "Kamu telah memasuki area otoritas System Administrator. Kamu adalah limbah yang seharusnya sudah dibuang ke The Flush. Keberadaanmu di sini adalah pelanggaran protokol tingkat tinggi."

Adrian berdiri tegak. Zirah emas-hitamnya berpendar kuat, matanya yang emas natap lurus ke arah siluet itu. Dia nggak kelihatan gentar sedikit pun. Wibawanya sekarang bener-bener kayak seorang raja yang baru aja dapet mahkotanya balik.

"Gua bukan lagi subjek, dan gua bukan limbah," jawab Adrian, suaranya berat dan penuh penekanan. "Gua adalah pemilik sah dari setiap memori yang lu botolin di sini. Dan gua ke sini buat ngambil semuanya balik."

Raksasa Cahaya itu ngangkat palunya sedikit. "Kamu tidak punya hak akses. Kamu hanyalah anomali, sebuah kesalahan dalam algoritma kami. Dan algoritma selalu punya cara untuk menghapus kesalahan."

Perang Otoritas

Raksasa Cahaya itu nggak nyerang pake otot. Dia ngehentakin palunya ke lantai putih, dan seketika ribuan garis kode merah muncul di bawah kaki Adrian, mencoba buat ngerantai dan ngebekuin gerakan zirahnya.

"Aris! Sekar! Jauh-jauh dari gua!" teriak Adrian.

Adrian nancepin tangannya ke udara kosong. Tiba-tiba, dari ujung jari-jarinya, keluar ribuan akar emas yang langsung beradu sama kode merah itu. Ini bukan cuma berantem fisik, ini adalah perang "Hak Akses". Adrian lagi nyoba nge-hack sistem si Admin pake keberadaannya sendiri sebagai anomali.

"Lu bilang gua kesalahan?" Adrian geram, dia narik akarnya dan maksa sistem itu buat tunduk. "Kesalahan ini yang punya kunci buat ngebuka semua botol ini. Karena gua punya apa yang nggak lu punya: Kehendak Bebas!"

ZRRRAAAAP!

Percikan energi terjadi di antara mereka. Adrian bener-bener tangguh. Setiap kali si Admin nyoba buat nge-reset keberadaan Adrian, zirah emas Adrian malah makin terang. Dia nyerap logika dingin alien itu dan ngerubahnya jadi energi emosi yang panas.

Tapi si Admin punya kartu as yang lebih licik. Dia mindahin palunya ke arah botol-botol yang melayang.

"Kamu ingin menyelamatkan mereka?" suara si Admin menggema. "Lihatlah. Sistem ini saling terhubung secara paralel. Jika kamu paksa mengambil botol Malabar ini, maka keseimbangan energi akan goyah. Untuk satu botol yang kamu selamatkan, seribu botol lainnya Jakarta, New York, Tokyo akan pecah dan isinya akan musnah selamanya."

Palu raksasa itu sekarang melayang tepat di atas botol Jakarta yang padat sama gedung pencakar langit, siap buat ngehancurin semuanya kalau Adrian maju selangkah lagi.

Dilema Sang Raja

Adrian mematung. Tangannya yang udah siap buat narik botol Malabar mendadak kaku.

"Jangan dengerin dia, Dri! Dia cuma gertak!" Aris teriak dari balik bunker yang terparkir nggak jauh di sana.

"Dia nggak bohong, Ris," bisik Adrian. Lewat mata emasnya, Adrian bisa liat jaring-jaring energi tipis yang ngebentuk sistem interdependency di antara botol-botol itu. Semuanya saling mengunci. Kalau Malabar ditarik paksa tanpa izin sistem, getarannya bakal ngehancurin botol-botol tetangganya.

Ini adalah ujian terakhir buat Adrian. Sisi The Shark-nya dulu mungkin bakal bilang, "Persetan sama Jakarta, yang penting rumah gua selamet." Tapi Adrian yang sekarang... Adrian yang udah nyatu sama jiwanya yang murni... dia nggak bisa ngelakuin itu.

"Dri..." Sekar nyamperin Adrian, dia megang lengan zirah Adrian. "Gua tau apa yang ada di pikiran lu. Malabar emang segalanya buat kita, tapi di dalem botol Jakarta itu... ada jutaan orang yang sama kayak kita. Mereka punya rumah, punya keluarga, punya kenangan yang pengen mereka jaga."

Adrian nengok ke Sekar. Dia liat ketulusan di mata cewek itu. "Kalau gua nggak ambil Malabar sekarang, si Admin ini bakal hapus kita semua, Kar. Tapi kalau gua ambil, gua jadi pembunuh massal."

Si Admin cahaya itu ketawa suara tawanya dingin kayak es. "Pilihlah, Anomali. Jadilah egois seperti penciptamu, atau jadilah pahlawan yang hancur bersama rumahnya."

Nutrisi untuk Memori

Di tengah kebuntuan itu, Sekar nggak tinggal diem. Dia inget Jantung Emas yang dia bawa. Benda itu masih punya sisa energi dari penyatuan Adrian tadi. Dia dapet ide gila.

"Ris! Bantu gua!" Sekar lari nuju ke arah botol-botol yang mulai retak gara-gara tekanan energi si Admin.

"Ngapain, Kar?!"

"Kita kasih mereka 'nutrisi'! Kalau botol-botol ini cukup kuat buat nahan getaran, Adrian bisa narik semuanya barengan!"

Sekar nempelkan Jantung Emas ke botol terdekat. Dia merem, nyoba ngalirkan semua rasa cintanya pada kehidupan, bukan cuma pada teh. Aris juga ikut ngebantu pake alat sensornya, dia nyuntikkin frekuensi stabilitas ke jaring-jaring energi di antara botol.

"Ayo... ayo... dikit lagi!" Aris keringetan, dia nahan kabel yang mulai panas membara.

Ajaibnya, botol-botol yang tadinya mulai retak itu mulai bersinar biru tenang. Energi dari Jantung Emas yang udah dimurnikan sama Sekar ternyata bisa jadi semen organik buat sistem alien ini.

Si Admin kaget. "Apa yang dilakukan organisme rendah itu? Mereka memberi makan memori-memori mati?!"

Pilihan Sang Penjaga

Adrian ngelihat apa yang dilakuin Sekar dan Aris. Dia ngerasa dadanya sesak karena bangga. Dia sadar, dia nggak perlu milih. Dia adalah The Singularity. Dia adalah pusat dari semua ini.

"Lu bener, Admin," ucap Adrian pelan, tapi makin lama suaranya makin kenceng sampai ngeterinn seluruh ruangan putih itu. "Gua nggak bakal cuma ambil Malabar."

Adrian ngebuka kedua tangannya lebar-lebar. Zirahnya pecah, bukan karena hancur, tapi karena dia ngelepasin semua energinya buat nutupin seluruh ruangan itu. Akar-akar emasnya bukan lagi cuma puluhan, tapi jutaan, melesat ke setiap botol yang ada di sana.

"Gua ambil semuanya!" teriak Adrian.

"TIDAK MUNGKIN! Kapasitas datamu tidak akan sanggup!" si Admin panik, dia ngehantemin palunya berkali-kali ke lantai buat nge-reset ruangan, tapi Adrian udah jadi bagian dari sistem itu sekarang.

Adrian ngerasain jutaan nyawa, jutaan tawa, dan jutaan tangisan masuk ke dalem kesadarannya. Rasanya kayak kepalanya mau meledak, tapi dia tetep bertahan. Dia gunain badannya sebagai server penampung sementara buat semua botol itu.

"Ris! Sekar! Masuk ke bunker sekarang! Buka pintu palka!" perintah Adrian.

"Lu mau apa, Dri?!"

"Gua bakal narik gudang ini keluar dari dimensi mereka! Kita bawa bumi balik ke tempatnya!"

Rahasia Sang Arsitek

Di tengah kekacauan itu, saat Adrian lagi berjuang nahan jutaan botol, tiba-tiba sebuah suara familiar kedengeran. Tapi suaranya nggak dateng dari Admin, melainkan dari sebuah botol kecil yang warnanya beda sendiri di pojokan. Botol itu isinya cuma asap perak yang muter-muter.

"Adrian... jangan terlalu sombong..."

Sekar menoleh. Dia liat botol itu bergetar hebat, dan sosok The Architect muncul di dalemnya tapi ukurannya cuma sekecil tikus.

"Ibu?" bisik Sekar kaget.

"Aku bukan ibunya,"suara The Architect terdengar pahit. "Aku hanyalah produk gagal lainnya, Adrian. Aku dulu sepertimu, anomali yang mencoba melawan. Tapi lihat aku sekarang? Aku cuma ditaruh di sini sebagai 'Anti-Virus' yang dipaksa bekerja untuk mereka. Kamu pikir kamu bisa menang? Kamu hanya sedang masuk ke level eksperimen yang lebih dalam!"

Adrian terdiam sebentar, tapi dia tetep nahan botol-botol itu. "Kalau gitu, gua bakal ancurin laboratoriumnya, bukan cuma lari dari eksperimennya!"

Tiba-tiba, ruangan putih itu mulai berguncang hebat. Bukan karena Adrian, tapi karena ada sesuatu yang jauh lebih gede lagi yang lagi "melihat" ke arah mereka dari atas.

Lantai putih itu mendadak jadi transparan, dan di bawah mereka, Sekar liat ribuan ruangan yang sama persis kayak gudang ini. Ada jutaan "Admin" cahaya lainnya yang lagi ngurusin jutaan planet lainnya. Bumi cuma satu titik kecil di dalem pabrik memori galaksi yang nggak ada ujungnya.

"Gila... kita bukan cuma satu-satunya," Aris melongo, dia hampir jatuh dari tangga bunker.

Detik-Detik Penentuan

Si Admin cahaya yang tadi, sekarang kelihatan kecil dibandingin bayangan raksasa yang mulai muncul dari "atas" ruangan itu. Bayangan itu bentuknya kayak tangan yang mau nutup botol laboratorium.

"WAKTUNYA HABIS!" teriak Adrian. "PEGANGAN!"

Adrian narik semua akar emasnya, dan dalam satu hentakan dahsyat, dia ngebawa semua botol kaca itu masuk ke dalem portal yang baru aja dia buat pake sisa energinya. Mereka meluncur keluar dari gudang data, nembus lapisan realitas yang makin lama makin kacau warnanya.

Tapi, tepat sebelum mereka benar-benar keluar, palu si Admin cahaya sempet ngehantem salah satu botol yang paling deket sama Adrian. Botol itu bukan botol Jakarta atau Malabar.

Itu adalah botol yang isinya raga asli Adrian yang masih ada di bumi.

PRANGGG!

Botol itu pecah, dan asap perak di dalemnya mulai menguap ilang.

"ADRIAN! RAGA LU!" Sekar teriak histeris.

Adrian ngerasain badannya yang berupa cahaya mulai pudar. Tanpa raga di bumi buat "mendarat", jiwa dia nggak punya tempat buat pulang. Dia bakal melayang selamanya di antara dimensi sebagai kode tanpa nama.

"Kar... jaga Malabar buat gua..." bisik Adrian, suaranya mulai putus-putus.

Bunker Aris melesat keluar dari gudang data, membawa jutaan botol memori bumi lainnya, tapi Adrian tertinggal di tengah kegelapan, perlahan-lahan mulai berubah jadi partikel debu emas.

Apakah raga fisik Adrian di bumi benar-benar hancur selamanya, membiarkan jiwanya terkatung-katung di ruang antar-dimensi tanpa jalan pulang?

Bagaimana nasib jutaan botol memori bumi yang sekarang dibawa oleh Sekar dan Aris di dalam bunker "Akar Sejati"?

Dan siapakah entitas yang jauh lebih besar dari para Admin, yang mengawasi jutaan gudang data planet lain, yang kini mulai mengarahkan perhatiannya pada "pelarian" mereka?

Di tengah keputusasaan itu, sebuah sinyal tua tiba-tiba muncul di layar bunker Aris, berasal dari koordinat yang seharusnya sudah musnah: perkebunan teh Malabar.

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!