Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrakan
"Ci, mau nggak nanti malam kita jalan?"
"Hmmm, malam yah dok? Sepertinya nggak bisa deh dok. Nanti anak aku siapa yang jaga? Pengasuhnya kan cuma jaga sampai sore aja dok. Apalagi kalau malam ada suami juga di rumah dok."
"Kalau kamu kebagian tugas malam berarti anak kamu suami yang jaga dong?"
"Iya dok."
"Ya udah deh kalau begitu."
Sore itu Vito dan Cici langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Seperti biasa Vito dan Ariana pulang bersama. Untung saja untuk saat ini mereka masih bekerja di shift yang sama sehingga mereka masih bisa pulang dan pergi bekerja bersama-sama.
Malam ini Vito tidak pergi keluar seperti malam sebelumnya, dia memutuskan di rumah saja.
"Sayang, kamu dari tadi aku lihat sibuk banget deh. Apa lebih menarik ponsel kamu itu dibandingkan aku yah?" Tanya Ariana yang dari tadi memperhatikan suaminya yang sedang asyik bermain ponsel.
"Memangnya kenapa kalau aku main ponsel? Lagian kamu kan juga selalu menolak aku kan? Mending aku main ponsel daripada ditolak terus," kata Vito dengan wajah cemberut.
"Kata siapa sayang? Malam ini nggak kok. Kamu lihat dulu dong ke sini."
Vito pun mengalihkan pandangannya ke arah istrinya dan mata Vito langsung segar melihat istrinya yang begitu menggoda dalam balutan lingerie berwarna merah. Langsung saja Vito meletakkan ponselnya dan mendekati istrinya.
Malam ini Vito merasa senang dan puas karena akhirnya Ariana kembali melayani dirinya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sore ini masih terlihat cerah, Silvi sudah bersiap untuk pergi ke rumah besannya untuk mengunjungi anak dan menantunya. Silvi juga berencana memberikan kado yang kemarin diberikan oleh Sophia. Silvi datang ke rumah besannya dengan mengendarai mobil milik dirinya. Suaminya tentu saja menolak untuk ikut karena suami Silvi tidak merestui pernikahan Vito dan Ariana.
Sesampainya di rumah besannya, Silvi disambut oleh Diana yang saat itu sedang bersantai di teras rumahnya menunggu suaminya pulang.
"Sore Jeng, lagi santai yah Jeng?" Sapa Silvi ketika Diana bangkit dari duduknya.
"Biasa Jeng, sore-sore begini nunggu suami pulang kerja. Jadi saat sampai rumah rasa lelah suami pasti akan hilang dengan sambutan hangat dari istrinya Jeng."
"Saya setuju dengan Jeng Diana, makanya saya baru bisa datang ke sini karena tadi nungguin suami pulang kerja," sahut Silvi sambil tersenyum.
"Kok kita malah ngobrol di teras sih. Ayo masuk dulu Jeng!"
Diana masih bersikap biasa saja kepada besannya itu. Tidak menunjukkan kalau dirinya sedang ada masalah dengan anak laki-laki besannya.
"Bentar yah Jeng, saya buatkan minum dulu."
"Nggak usah repot-repot segala Jeng."
"Nggak repot kok Jeng," sahut Diana yang langsung menuju dapur dan membuatkan minuman untuk besannya. Silvi mengedarkan pandangannya ke setiap ruang tamu rumah Diana. Ruang tamu Diana memang selalu rapi dan bersih sehingga membuat para tamu akan betah berlama-lama di rumahnya. Diana yang hanya sebagai ibu rumah tangga tentu memiliki waktu yang banyak untuk membereskan rumahnya.
"Di minum dulu Jeng, kue nya juga di makan Jeng." Diana menyuguhkan teh hangat yang lengkap dengan kuenya.
"Terima kasih yah Jeng." Balas Silvi yang kemudian meminum teh tersebut dengan perlahan.
"Vito dan Ariana belum pulang dari rumah sakit yah Jeng?" Tanya Silvi ketika tidak melihat anak dan menantunya.
"Jeng belum dikasih tahu sama Ariana dan Vito kalau mereka sekarang udah nggak tinggal di sini lagi Jeng. Vito dan Ariana memutuskan buat ngontrak, katanya mereka mau hidup mandiri. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung di manapun mereka akan tinggal Jeng. Sebenarnya saya lebih senang kalau mereka tinggal di sini bersama kami, tapi mereka kukuh buat hidup mandiri dengan tinggal di kontrakan."
"Saya baru tahu loh Jeng. Vito ataupun Ariana nggak ada ngomong apa-apa sama saya Jeng."
"Mungkin mereka belum sempat mengunjungi Jeng Silvi, kalau ngomong lewat ponsel tentunya kurang leluasa Jeng. Kita sebagai orang tua sangat maklum dengan profesi mereka yang memang sangat sibuk."
"Mungkin iya Jeng. Saya minta alamat kontrakan mereka dong Jeng. Biar saya bisa ke sana langsung. Saya juga udah rindu dengan mereka."
"Boleh Jeng, bentar yah."
Untung saja sebelum Ariana keluar dari rumahnya dia sempat meninggalkan alamat kontrakannya bersama suaminya.
"Ini Jeng alamatnya."
"Makasih Jeng." Kata Silvi yang langsung menerima alamatnya dan menyimpannya ke dalam tas milik dirinya.
Diana dan Silvi mengobrol banyak hal. Setelah puas mengobrol, Silvi pun pamit ke rumah Vito dan Ariana.
"Kalau begitu saya pamit dulu Jeng." Silvi pun meninggalkan rumah Diana dan melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Diana.
"Apakah ini kontrakannya yah?" Gumam Silvi ketika melihat gerbang kontrakan yang tertara di kertas yang berada di tangannya.
Silvi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan menanyakan alamat yang dia cari kepada satpam yang sedang bertugas.
"Permisi Pak, saya mau bertanya alamat ini." Ucap Silvi sambil memberikan secarik kertas yang diberikan oleh Diana tadi kepada satpam tersebut.
"Ini memang kontrakannya Bu. Kalau boleh saya tahu ibu mau mencari siapa?"
"Saya sedang mencari kontrakan anak dan menantu saya Pak."
"Kalau begitu silakan masuk saja ke dalam Bu, mobilnya bisa masuk ke dalam kok Bu."
"Terima kasih Pak." Silvi kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya memasuki kawasan kontrakan milik Ariana itu.
"Nah ini rumahnya, ya itu kan mobilnya Vito." Silvi memarkirkan mobilnya di belakang mobil Vito.
Silvi keluar dari mobilnya dan membawa kado yang dititipkan oleh Sophia.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Mama."
Vito tentu saja terkejut dengan kedatangan mamanya yang tiba-tiba.
"Kok mama nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini? Terus mama dapat alamat kontrakan kami dari mana?"
"Nggak disuruh masuk nih Mama?" Tanya Silvi membuka sepatunya dan masuk ke dalam rumah kontrakan petak anaknya. Kontrakan Vito dan Ariana memang ukurannya yang paling kecil. Kontrakan Perlita ini memiliki tiga ukuran rumah yang berbeda. Mulai dari yang satu kamar, dua kamar sampai dengan tiga kamar. Vito sengaja mengambil yang satu kamar saja karena menyesuaikan dengan keuangannya.
Silvi masuk ke dalam kontrakan Vito dan Ariana. Dia menelusuri semua bagian ruang tamu mungil Vito dan Ariana yang hanya beralasan tikar plastik saja.
"Duduk dulu Ma!"
Silvi dengan terpaksa duduk di tikar plastik tersebut.
"Kenapa kalian tinggal di sini sih? Lihatlah ukuran rumahnya sangat sempit begini. Mana nggak ada perabotan apa-apa lagi di dalamnya. Kalau sampai keluarga kita dan teman sosialita Mama tahu kamu tinggal di sini bersama Ariana, maka bisa malu Mama Vit. Ariana mana?" Tanya Silvi karena tidak melihat keberadaan menantunya di rumah itu.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu